Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Al-Masih, Hamba dan Pembawa Pesan Tauhid

    Al-Masih, Hamba dan Pembawa Pesan Tauhid

    Rate this post

    Al-Masih, Hamba dan Pembawa Pesan Tauhid

     

    Hari ini dimuliakan dengan kelahiran al-Masih as dari seorang perempuan suci seperti Sayidah Maryam as. Di hari kelahiran utusan Allah yang memberi kabar gembira tentang cinta dan keadilan bagi seluruh dunia. Nabi Isa as berbicara ketika masih bayi, “Berkata Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 30-33)

     

    Nabi Isa as merupakan salah satu nabi besar ilahi yang begitu dimuliakan dalam al-Quran. Al-Quran dalam banyak ayat memperkenalkan Nabi Isa as memiliki posisi yang tinggi dan perannya sebagai seorang Nabi Ulul Azmi, yang memiliki Kitab dan Syariat. Kelahiran Nabi Isa as sendiri merupakan peristiwa luar biasa yang telah disinggung dalam al-Quran. Nabi Isa as lahir tanpa seorang ayah. Beliau lahir dari ibu yang suci bernama Maryam yang tidak punya suami. Allah Swt dalam al-Quran berbicara tentang Maryam anak Imran sebagai seorang perempuan terhormat dan bertakwa. Perempuan mulia ini sejak kecil telah mencapai derajatspiritual yang tinggi lewatpenghambaan dan mensucikan diri, sehingga beliau mendapatkan hidangan dari langit.

     

    Suatu hari Sayidah Maryam tengah melakukan ibadah dan munajat kepada Allah, tiba-tiba Malaikat Jibril mendatanginya sambil membawa kabar gembira tentang kelahiran anak laki-laki dari rahimnya. Allah Swt dalam surat Maryam ayat 16-21 mengisahkan masalah ini. Al-Quran sendiri selain membenarkan Nabi Isa as dan Injil, kitab yang diturunkan kepadanya, menafikan sebagian keyakinan yang jamak dalam agama Kristen saat ini seperti Trinitas dan prinsipnya.

     

    Trinitas dalam bahasa berarti tiga bagian dari sesuatu. Dalam teologi Kristen saat ini, Trinitas merupakan prinsip ajaran yang berdasarkan ketuhanan tiga; Bapak, Anak dan Ruh al-Qudus. Teori Trinitas merupakan model dari pengenalan terhadap Tuhan sebagai satu hakikat yang tiga. Berdasarkan akidah ini, keberadaan dan zat Allah adalah Esa, tapi manifestasinya ada pada tiga pribadi berbeda; Bapak, Anak dan Ruh al-Qudus. Ketiganya ini sekalipun berbeda, tapi memiliki zat yangsatu dan tidak terpisah dari yang lain. Dalam keyakinan Trinitas, Isa adalah Zat Ilahi yang muncul dalam badan manusia dan lahir lewat rahim suci Maryam.

     

    Kenyataannya tidak pernah ada singgungan tentang Trinitas dalam Injil yang empat itu. Itulah mengapa para peneliti Kristen punya keyakinan bahwa akidah Trinitas tidak punya sumber yang jelas dalam Injil. Sebagaimana sejarawan menulis bahwa para pemeluk Kristen pertama tidak punya keyakinan tentang ini. Masalah Trinitas mulai populer sekitar abad ketiga. Pada hakikatnya ini merupakan bidah akibat berlebih-lebihan terkait Nabi Isa as ditambah ajaran bangsa lain yang memasuki agama Kristen.

     

    Apa yang ada dalam Perjanjian Baru tentang prinsip Trinitas adalah surat-surat Paulus. Rasul Paulus dipengaruhi pemikiran dan pendapat Yunani kuno dan menggabungkannya dengan ajaran Nabi Isa as. Pemikiran Paulus dan pengaruh yang diterimanya dari pendapat orang yang menyimpang dari jalan yang benar telah diingatkan oleh al-Quran soal Ahlul Kitab. “Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Maidah: 77)

     

    Dalam teologi Kristen telah dijelaskan mengenai keesaan Allah, tapi keesaan ini dalam kesatuan tiga zat yang membuat teori Trinitas mengalami kontradiksi dan sulit dipahami. Cara pandang ini akhirnya dibakukan sebagai satu rahasia suci dan urusan metafisik yang berasal dari keterbatasan akal manusia untuk memahaminya. Para pemikir non Kristen percaya bahwa bukan hanya konsep Trinitas tidak dapat dibuktikan, tapi juga dalam Perjanjian Lama ada ungkapan yang menolak akar prinsip ini. Termasuk dari argumentasi itu adalah ucapan Nabi Isa as yang dikutip bertentangan secara transparan dengan pandangan Trinitas. Sebagai contoh, dalam Injil disebutkan, “Mengatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenai Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Isa Al-Masih yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17: 3)

     

    Sesuai dengan penjelasan ini, disebutkan bahwa kehidupan kekal adalah mengenal Allah yang Esa dan mengenal Isa al-Masih sebagai utusan Allah. Hal ini tentu saja bertentangan dengan keyakinan Trinitas. Karena Nabi Isa as tidak mengatakan bahwa kehidupan kekal adalah mengenai Trinitas, atau tidak mengatakan bahwa Isa al-Masih adalah Tuhan yang menjadi manusia, tapi mengakui dirinya sebagai utusan Allah.

     

    Selain itu, mereka yang meyakini akan Trinitas percaya bahwa Isa al-Masih memiliki kekuatan luar biasa dari dirinya sendiri dalam melakukan mukjizat. Padahal dalam Injil Yohanes disebutkan bahwa saat Isa al-Masih as melakukan mukjizat, beliau mengangkat tangannya dan meminta kepada Allah agar membantunya. Bila Isa al-Masih memiliki independensi dalam berbuat, maka ia tidak perlu untuk berdoa. Sementara al-Quran juga menyebut Nabi Isa as melakukan mukjizat, tapi apa yang dilakukannya itu tergantung kepada izin Allah Swt. Dalam surat al-Maidah ayat 110 disebutkan, “…dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku…

     

    Ada banyak ayat al-Quran yang mengargumentasikan keberadaan Allah Swt yang Esa dan mengingkari pengertian Trinitas, secara umum menolak anak bagi Allah. Al-Quran secara transparan menyebut Nabi Isa as adalah makhluk dan ciptaan Allah dan menilai penciptaannya sama seperti penciptaan Nabi Adam as. Yakni, Nabi Adam as yang lahir dengan kehendak Allah tidak memiliki bapak dan ibu, tapi Nabi Isa masih memiliki ibu dan yang tidak dimilikinya hanya bapak. Bila penciptaan manusia terjadi tidak seperti biasanya, bukan berarti ia adalah Tuhan. Bila Nabi Isa as dianggap Tuhan karena tidak memiliki ayah, maka Nabi Adam as lebih layak, karena tidak memiliki ayah dan ibu.

     

    Sejumlah ayat yang lain dari al-Quran secara lantang menyebut ciri khas Nabi Isa al-Masih. Ayat-ayat ini menggambarkannya sebagai manusia biasa dan tidak sesuai dengan ketuhanan, bahkan menafikan posisi lebih tinggi dari seorang rasul dan utusan Allah. Di sebutkan dalam ayat 75 surat al-Maidah, “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan...”

     

    Al-Quran juga menjelaskan semua mukjizat seperti menghidupkan orang mati hanya dapat dilakukan dengan izin ilahi. Dengan demikian, Nabi Isa as tidak pernah melakukan itu dengan kekuatannya sendiri. Semua mukjizat Nabi Isa bukan hanya tidak bisa menjadi dalil akan ketuhanannya, bahkan sebaliknya menjadi tanda penghambaannya dihadapan Allah dan menjadi utusan-Nya. Menurut logika al-Quran, manusia yang dipilih dari sisi Allah sebagai utusan-Nya untuk membimbing manusia dan tidak pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan. Karena manusia yang dididik oleh Allah tidak akan pernah mengaku hal yang seperti itu.

     

    Allah Swt dalam ayat 172 surat an-Nisa berfirman, “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” [Islamic-Sources/IRIB Indonesia]