Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Ali Sosok Penolong Pertama Rasulullah

    Ali Sosok Penolong Pertama Rasulullah

    Rate this post

    Ali Sosok Penolong Pertama Rasulullah

     

    قال الله تعالى: وَ إِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَ بِالْمُؤْمِنِينَ

    Allah Swt berfirman: “Jika mereka berupaya untuk memperdayaimu, maka sesungguhnya Allah cukup bagimu. Dialah yang mendukungmu dengan pertolongan-N ya dan orang-orang  mukminin”. (Surah Al-Anfal, 62).

    Inti pembahasan Ayat

    Ayat di atas yang terkadang disebut dengan nama ayat Nusrat atau pertolongan merupakan salah ayat-ayat yang mengungkap keutamaan Amirul mukminin Ali a.s.

    Akan tetapi ada satu pertanyaan yang harus dijawab, Tema kajian ayat tadi berkaitan dengan wilayah atau kepemimpinan Imam, lalu apa kaitan ayat-ayat keutamaan beliau dengan wilayah?

    Sebelum menjawab pertanyaan di atas perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa ayat-ayat yang mengungkapkan kepemimpinan secara langsung Amirul mukminin Ali a.s. setelah Rasulullah Saw terbagi dalam dua kelompok:

    Pertama, ayat-ayat yang secara langsung menjelaskan dengan tegas kepemimpinan beliau, seperti ayat Ikmaluddin, ayat Wilayah dan ayat-ayat yang lainnya.

    Kedua, ayat-ayat yang secara langsung  tidak menunjukkan kepemimpinan beliau, akan tetapi ayat-ayat itu menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau yang tidak dimiliki oleh orang lain. Hanya saja dengan satu mukadimah, ayat-ayat tersebut secara tidak langsung dapat digunakan untuk menetapkan kepemimpinan beliau. Di antara kelompok ayat-ayat semacam ini ayat Nusrat bisa dimasukkan di dalamnya.

    Penjelasan dan tafsir

    Persiapan dengan segala kekuatan

    Untuk lebih memperjelas penafsiran ayat ini, lazim dijelaskan pula dua ayat sebelumnya dan satu ayat setelahnya (jadi kita harus membahas ayat enam puluh hingga enam puluh tiga surah ini).

    وَ أَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَ مِنْ رِباطِ الْخَيْلِ

    Ayat ini merupakan pemberi ilham dalam setiap waktu dan tempat, dan di belahan negeri manapun; karena ayat ini tidak membicarakan persenjataan khusus sehingga dengan berlalunya sang masa senjata itu tidak dapat digunakan lagi. Akan tetapi sebagaimana kita lihat dalam ayat tersebut, Allah Swt menggunakan kata Quwwah yang berarti kekuatan, kemampuan dan arti yang sepadan. Dengan demikian setiap muslim di mana saja dan kapan saja hendaknya mempersiapkan segala hal dalam menjaga eksisitensinya dengan senjata kontemporer; mereka harus memiliki peralatan perang yang paling canggih dan mutakhir. Kata Quwwah digunakan juga untuk senjata-senjata non militer; seperti sarana informasi yang digunakan untuk menghancurkan musuh. Sebagaimana kata ini dipakai juga untuk masalah ekonomi, moral, sosial dan lainnya. Yang penting setiap hal yang dapat digunakan untuk melawan dan melumpuhkan musuh  atau berfaedah dalam menahan serangan mereka, termasuk dalam misdaq atau personifikasi dari ayat ini.

    تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَ عَدُوَّكُمْ وَ آخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

    Penggalan ayat ini, telah menjelaskan tujuan persiapan kekuatan dan persenjataan militer; tujuan dari persiapan ini adalah bukan untuk membasmi nyawa-nyawa tak berdosa, penguasaan dunia, pembunuhan massal atau perampasan hak-hak orang-orang tertindas! Akan tetapi tujuannya adalah perlawanan yang logis dan legal. Semua kekuatan harus dimiliki supaya para musuh tidak memiliki keberanian untuk menyerang, bahkan lebih jauh dari itu, kita harus membuat mereka untuk tidak bermimpi mau menyerang, karena sebagaimana terjadi negara yang zalim senantiasa menyerang negara atau orang-orang yang lemah. Selain itu, kekuatan dan power merupakan hal yang dapat menghentikan ulah mereka dalam rangka mengobok-obok dunia. Meningkatkan kemampuan militer berguna untuk menakut-nakuti musuh; musuh Allah atau musuh kita, musuh luar maupun dalam, dan musuh yang tampak atau yang tersembunyi. Oleh karena itu, tujuan peningkatan kemampuan militer hendaknya berlandaskan pada upaya melawan musuh pada batas yang logis dan legal saat terjadi penyerangan yang dimungkinkan.

    وَ ما تُنْفِقُوا مِنْ شَيْ‏ءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَ أَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

    Tanpa diragukan pengokohan struktur pertahanan agama Islam dan peningkatan kemampuan militer beserta pemanfaatan senjata-senjata militer, ekonomi, informasi, etika, sosial dan yang lainnya memerlukan dana dan anggaran yang sangat besar di mana kaum muslim yang harus menyediakannya. Akan tetapi saat anggaran dana digunakan di jalan Allah maka Allah sendiri yang akan membalasnya secara utuh dan tidak perlu diragukan dalam transaksi semacam ini kalian tidak akan merugi.

    وَ إِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَها وَ تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Kendati kaum muslimin memiliki tugas untuk menggunakan segala kemampuan dan dayanya dan dituntut untuk mengembangkan struktur militer yang dimiliki, akan tetapi para musuh mengulurkan tangan persahabatannya maka dengan hangat kaum muslimin akan menjabat tangan tersebut dan begitu juga jika mereka meminta untuk berdamai maka kaum muslimin tidak akan bersikukuh untuk melakukan peperangan. Ayat yang mulia ini merupakan jawaban yang cocok bagi mereka yang bersikeras ingin mengenalkan kepada semua pihak bahwa Islam adalah agama yang ganas dan haus perang, karena jika Islam merupakan agama kekerasan dan agama ini berdiri tegak dengan pedang tidak mungkin akan menyeru pada perdamaian dan tangan yang diulurkan untuk perdamaian tidak akan pernah dijabat dan disambut. Kemudian ayat selanjutnya memberikan peringatan kepada kaum muslimin:

    وَ إِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَ بِالْمُؤْمِنِينَ

    Kendati Islam menyeru kepada perdamaian dan menyambut baik seruan musuh untuk melakukan gencatan senjata. Akan tetapi Islam memperingatkan kaum muslimin untuk mewaspadai tipu daya dan konspirasi musuh bahkan saat perdamaian terjadi hendaknya kemampuan militer dan sarana pertahanan senantiasa dijaga secara baik sehingga jika ternyata para musuh melakukan tipu daya mereka tidak lengah. Seperi musuh yang berada pada kondisi lemah demi untuk memperkokoh kembali kemampuan militer yang dimiliki dan tatanan kekuatan baru mereka mengajukan perdamaian semu dan beberapa waktu mereka sibukkan kaum muslimin dengan dialog sehingga saat mereka sudah untuk kembali mereka mengadakan penyerangan kepada kaum muslimin oleh karena itu kaum muslimin hendaknya menjaga kemampuan militernya bahkan saat terjadinya gencatan senjata agar supaya mereka tidak lengah terhadap konspirasi musuh. Imam Ali a.s. saat memberi nasihat kepada gubernur beliau yang pemberani yaitu Malik al-Asytar untuk selalu menggunakan kesempatan berdamai dan pada saat semacam itu  beliau juga memperingati untuk selalu waspada terhadap tipu daya musuh.[1]

    Kemudian, di akhir ayat ini Allah Swt berfirman: “jika mereka menginginkan untuk memperdayaimu maka cukuplah Allah bagimu; Dialah Dzat yang telah mendukungmu dengan pertolongan-Nya dan orang-orang mukmin”.

    وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ ما فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً ما أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَ لكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    “Wahai nabi kami! Allah mengayommu telah mempersatukan hati di antara kalian di mana saat itu satu sama lain hati-hati saling berpisah di mana jika semua kekayaan yang ada di bumi dibelanjakan untuk menyatukannya maka hati-hati itu tidak akan bersatu akan tetapi Allah-lah yang mempersatukan di antara mereka sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana”.

    Empat ayat di atas memiliki pembahasan yang begitu banyak akan tetapi kita cukupkan segitu saja dan kita bahas pembahasan yang lebih penting.

    Siapakah orang-orang mukmin itu?

    Soal: Berkenaan dengan siapakah ayat Nusrat yang mulia ini turun? Dan siapa yang dimaksud dengan mukminin dalam ayat tersebut?

    Jawab: Dalam hal ini terdapat riwayat yang begitu banyak di mana riwayat-riwayat tersebut dapat dijumpai dalam kitab al-Ghadir, karya Allamah Amini dan kitab Ihqaqul Hak. Riwayat-riwayat tersebut terbagi pada dua kelompok:

    Pertama, riwayat-riwayat yang mengatakan: sahabat dan penolong Rasulullah Saw yang pertama adalah Amirul Mukminin Ali a.s., di mana ayat Nusrat menjelaskan hal tersebut.

    Kedua, riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang pertolongan imam Ali a.s., akan tetapi riwayat-riwayat tersebur tidak menjelaskan bahwa ayat Nusrat berkaitan dengan beliau. Dari setiap kelompok riwayat-riwayat tersebut cukup kami bawakan satu riwayat dari masing-masing:

    Ibnu Asakir, penulis kitab Tarikh Damaskus meriwayatkan riwayat di bawah ini dari Abu Hurairah[2]: “Tertulis di Aras tiada tuhan selain Aku Yang Esa, tiada sekutu bagi-Ku, Muhammad hamba[3] dan utusan-Ku Aku telah dukung dia dengan Ali a.s. dan itulah firmannya: “Dialah Dzat yang telah mendukungmu dengan pertolongan-Nya dan orang-orang mukmin.”[4]

    Perlu disampaikan beberapa poin penting dalam hal ini :

    Pertama, kendati secara jelas Abu Hurairah tidak menisbatkan riwayat ini kepada Rasulullah Saw, namun merujuk kepada ungkapan tertulis di atas aras ungkapan yang mengatakan dapat dipahami bahwa riwayat itu dia dengar dari Rasulullah Saw; karena dia tidak bisa untuk mengklaim hal tersebut.

    Kedua, kondisi turunnya ayat-ayat al-Quran dapat dikelompokkan dalam dua bagian:

    Pertama, Sya’ne nuzul yang berkaitan dengan seorang saja seperti yang terjadi dalam ayat Ikmaluddin dan ayat Wilayah di mana kondisi turunnya ayat tersebut berkenaan dengan Ali a.s. dan tidak berkaitan dengan seorangpun.

    Kedua, sya’ne nuzul yang tidak berkaitan dengan seseorang tertentu dan mencakup orang-orang yang lain akan tetapi ada seorang yang lebih menonjol dan menjadi misdaq yang paling sempurna dari ayat tersebut, seperti ayat Nusrat di mana ayat ini tidak khusus berkenaan dengan Ali a.s.; akan tetapi beliaulah misdaq paling sempurna adan pribadi paling menonjol dari kata mukminin dalam ayat tersebut.

    Ketiga, selain Ibnu Asakir ada perawi-perawi lain yang menukil ayat tersebut di antaranya:

    a. Muhibuddin Thabari dalm kitab Ar-Riyadh.[5]

    b. Suyuti dalam Ad-Durul Mantsur.[6]

    c. Qanduzi dalam Yanabi’ul Mawaddah.[7]

    d. Allamah Ganji dalam Kifayatuth Thalib.[8]

    2. Marhum Allamah Amini juga menukil riwayat yang begitu banyak dari perawi lain yang menyebutkan bahwa Ali a.s. sahabat dan penolong pertama Rasulullah Saw, akan tetapi secara gamblang tidak dijelaskan kalau maksud dari ayat yang mulia di atas adalah Ali bin Abi Thalib a.s. Salah satu dari hadis di atas adalah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik saat dia menukil sabda Rasulullah Saw yang berbunyi:

    Ketika aku mi’raj aku melihat di bawah Arasy tertulis: “La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah, Aku dukung dia dengan Ali a.s. dan aku tolong dia dengannya”.[9]

    Hadis di atas dapat dijumpai di kitab-kitab ulama Ahli sunah, di antaranya: Dakhaiirul ‘Uqba,[10] Manaqib,Kharazmi,[11] Faraid Hammuyi,[12] Khashaish Al-Kubra,[13] Suyuti dan kitab-kitab yang lain.[14]

    Dari ungkapan bahwa di bawah aras telah tertulis sesustu merupakan gambaran pentingnya masalah tersebut. Dan saat di samping nama Allah dan rasul-Nya disebutkan nama Ali a.s. itu juga merupakan cerminan bahwa beliau dari sisi pertolongan yang diberikan kepada Rasulullah Saw paling baik dari orang-orang muslim yang lain. Dan sangat wajar jika Allah Swt ingin melantik pelanjut risalah setelahnya pasti akan memilih orang yang terbaik di antara mereka. Dan jika umat juga menginginkan seorang pemimpin akal sehat mereka akan menyuruh mereka untuk memilih orang seperti di atas.

    Pesan-pesan Ayat

    Membela Islam Dengan segala daya

    Dalam ayat-ayat yang telah dipaparkan tadi telah kita perhatikan bahwa keunggulan Ali a.s. terletak pada pertolongannya terhadap Rasulullah Saw. Amirul mukminin mendapatkan posisi yang sangat luhur ini berkata penganyomannya terhadap pemimpin umat Islam. Di saat islam berada di ujung tanduk dan di tepi bukit terjal, beliau selalu membela islam. Contohnya pada perang Uhud di mana para tentara Islam lari tunggang langgang hanya beliau yang tinggal sendiri untuk membela dan berperang. Beliau tidak tahu kondisi yang menimpa Rasulullah Saw tapi beliau yakin betul bahwa Rasul bukan seorang pribadi yang harus lari dari medan peperangan. Di tengah kecamuk perang beliau mencari Rasulullah yang terjerembab di sebuah sudut dalam keadaan gigi beliau patah dan darah segar mengalir dari dahi mulia beliau. Bagai tameng raksasa beliau melindungi Rasulullah Saw dan seorang diri membela Rasul dan ajaran Islam yang dibawanya. Sehingga tak heran beliau memikul luka yang tidak sedikit. Oleh karena itu mereka yang mengaku pengikut beliau hendaknya membela Islam dengan jiwa raga, harta benda, etika, pergaulan yang baik, cinta, ilmu pengetahuan dan sains pokoknya semua kekuatan dan potensi yang dimiliki. Sehingga Insya Allah pada satu saat nanti di hari kelak mereka bangga dan tidak tertunduk saat bertemu dengan Rasulullah Saw dan Ali a.s.

    [1] Pada bagian akhir dari surat politik yang diterima oleh Malik al-Asytar kita membaca: sekali-kali janganlah engkau menolak perdamaian yang diajukan oleh musuhmu jika – memang – di dalamnya terdapat kerelaan Allah Swt… Akan tetapi waspadalah! Waspadalah! Terhadap musuhmu setelah (perdamaian) itu, karena terkadang musuh ingin berdamai untuk memperdayaimu. Oleh karena itu berpikirlah sedalam-dalamnya dan jauhkanlah prasangka baik dalam hal ini!(Nahjul Blaghah, surat ke53)

    [2] Perawi riwayat ini buka hanya Abu Hurairah akan tetapi terdapat sahabat-sahabat lain seperti Ibnu Abbas dan Anas.

    [3] Masalah Ubudiyah dan penghambaan begitu penting sehingga pada riwayat ini disebutkan sebelum risalah. Sebagaimana kaum muslimin pada saat tasyahud (ketika salat) sebelum bersaksi terhadap risalah Rasulullah terlebih dahulu mereka bersaksi atas kehambaan beliau Saw.

    [4] Sesuai penukilan kitab Ihqaqul Haq, jilid ke-3 hal 194.

    [5] Ar-Riyadh, jilid 2, halaman 172. menurut penukilan Al-Ghadir, jilid 2, halaman 50.

    [6] Ad-Durul Mantsur, jilid 3, hal 199.  menurut penukilan Ihqaqul hak, jilid 3, hal 194.

    [7] Yanabi’ul Mawaddah, menurut penukilan Ihqaqul hak, jilid 3, hal 194.

    [8] Kifayatuth Thalib, hal 110. menurut penukilan Ihqaqul hak, jilid 3, hal 194.

    [9]  Tarikh Baghdad, jilid 11 halaman 173. Menurut penukilan Al-Ghadir, jilid 2, halaman 50.

    [10] Dakhaiirul ‘Uqba, hal 69. Menurut penukilan Al-Ghadir, jilid 2, halaman 50.

    [11] Manaqib,Kharazmi, hal 254. Menurut penukilan Al-Ghadir, jilid 2, halaman 50.

    [12] Faraid Hammuyi, bab 46. Menurut penukilan Al-Ghadir, jilid 2, halaman 50.

    [13] Khashaish Al-Kubra, jilid 1, hal 7. Menurut penukilan Al-Ghadir, jilid 2, halaman 50.

    [14] Lihat Al-Ghadir, jilid 2, hal 50-51. [http://quran.al-shia.org]