Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. ‘Asyura Seberkas Cahaya Ilahi

    ‘Asyura Seberkas Cahaya Ilahi

    Rate this post

    ‘Asyura Seberkas Cahaya Ilahi

    by Ustadz Husein Alkaff

     

    Dari tahun ke tahun kita selalu dan akan terus diingatkan oleh tradisi Tasyayyu’ tentang sebuah peristiwa sejarah kemanusiaan yang agung dan suci; asyura’ atau karbala. Peristiwa ini seharusnya menghentak jiwa dan pikiran kita untuk selalu melihat diri kita dan perjalanan kita menuju kesempurnaan Ilahi. Apa yang telah kita lakukan untuk datang menjumpai Allah yang Maha Besar? atau, Apakah jalan yang kita tempuh untuk sampai kepadaNya benar atau salah?.

     

    Mengingat perjalanan ini bukan perjalanan materiil, tetapi perjalanan akal dan spiritual (sayr aqly wa ruhy). Perjalanan yang luas dan dalam, lebih luas dari tujuh langit dan bumi, dan lebih dalam dari lautan (Ali Imran: 133), bahkan lebih luas dan lebih dalam dari kata ” luas ” dan ” dalam ” yang kita pahami itu sendiri. Namun, ini tidak berarti bahwa Allah itu jauh; Ia Maha Dekat, lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri (Qaaf: 16). Ia dekat dengan setiap makhlukNya karena Ia penegak keberadaan semua yang ada selainNya (al Qayyum), dan semua yang ada selainNya berada padaNya, kalau tidak demikian, maka semuanya tidak ada.

     

    Oleh karena itu, manusia membutuhkan cahaya (nur) yang akan membantunya mengetahui jalan yang harus ditempuh, dan menuntunnya bergerak di atas perjalanan menuju Allah swt. di tengah kegelapan-kegelapan alam materi (dunya) yang berlapis-lapis; kegelapan yang ada dalam diri manusia itu sendiri maupun kegelapan yang ada di sekelilingnya. Dua kegelapan ini, yang satu lebih gelap dari yang lain. Tanpa cahaya, manusia tidak akan mengetahui jalan dan tidak akan dapat bergerak Allah berfirman, “Apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan untuknya cahaya yang ia berjalan dengannya di tengah manusia seperti orang yang berada dalam kegelapan-kegelapan sementara ia tidak bisa keluar darinya? “.(al Ana’m:122).

     

    Gerangan apa cahaya itu ?.Cahaya itu adalah Allah, Pencipta segala sesuatu, Maha Awwal dan Maha Akhir dari segala sesuatu. Dialah cahaya langit dan bumi (al Nur: 35).

     

    Lalu cahaya ini menyebar menjadi cahaya-cahaya. Cahaya-cahaya ini pada haqiqatnya, merupakan bagian dari cahaya yang pertama itu, mempunyai fungsi dan peranan yang sama, yakni membantu manusia untuk mengetahui jalan yang lurus dan benar, dan menuntunnya untuk sampai ke kesempurnaan.

     

    Kitab-kitab Allah dan para nabi adalah cahaya-cahaya Ilahi yang menyinari kegelapan-kegelapan diri manusia dan dunia. Allah ta’ala berfirman,

    “Sungguh telah datang kepada kalian dari Allah cahaya dan kitab yang jelas”.(al Maidah: 15)

    “Dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang jelas”.(al Nisa’: 174)

     

    Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang yang dekat dengannya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah “.( Maryam 44 ).

     

    Demikian pula Ahlul bait Nabi saww. sebagai cahaya-cahaya Ilahi, karena mereka, sebagaimana dalam hadist “al Tsaqalain” adalah pendamping Qur’an dan penentu keselamatan umat manusia dari kesesatan dan perselisihan, dan mereka adalah penerus (khalifah) Rasulullah saww. Tanpa mengikuti mereka berarti tidak mengikuti Qur’an, dan mengikuti mereka sama dengan mengikuti Rasulullah saww.

     

    Hadis-hadis tentang masalah ini sangat banyak dan tidak perlu dituangkan disini semuanya. Karena bagaimanapun juga, umat manusia pada setiap zaman membutuhkan cahaya Ilahi yang menyinari jalan kehidupan mereka. Oleh karena itu kehadiran seorang yang berperan sebagai cahaya Ilahi senantiasa harus ada, tanpa kehadirannya maka pencapaian ke kesempurnaan tidak akan terealisasi.

     

    Cahaya Ilahi di manapun dan kapanpun mempunyai fungsi dan peranan yang tetap dan tidak berubah, yakni menyinari dan menyingkirkan kegelapan. Namun kegelapan, meskipun sesuatu yang berlawanan dengan cahaya, muncul dalam berbagai bentuk dan entitas. Oleh karena itu, dalam Qur’an kata “kegelapan” selalu disebut dalam bentuk jama’ (dzulumaat), sebaliknya, kata “cahaya” selalu disebut dalam bentuk tunggal (nuur).

     

    Oleh karena cahaya berfungsi tunggal (menyinari dan menyingkirkan kegelapan), maka tugas dan fungsi para nabi dan Ahlul bait nabi sama dan satu. Sikap dan bentuk perjuangan mereka yang sekilas berbeda itu hanya karena perbedaan bentuk kegelapan yang mereka hadapi. Jadi perbedaan yang ada antara mereka bukan karena perbedaan entitas mereka, namun karena kegelapan-kegelapan yang mereka hadapi itu berbeda-beda.

     

    Pola juang Imam al Hasan as. yang berdamai dengan Muawiyah berbeda dengan pola juang Imam al Husain as. yang mengangkat pedang melawan Yazid itu dikarenakan perbedaan bentuk kegelapan yang mereka tonjolkan. Sementara perjuangan kedua Imam itu bertujuan menyingkirkan kegelapan yang mewujud dalam diri Muawiyah dan Yazid. Demikian pula halnya dengan pola juang imam-imam Ahlul bait yang lainnya.

     

    Ahlul Bait as. Mercusuar Umat Manusia

    Ahlul Bait as. sebagai penerus Nabi saww. dan pelaksana Qur’an merupakan cahaya yang menjelaskan kepada umat manusia jalan yang benar dan lurus, dan pada saat yang sama mereka juga menunjukkan pergerakan yang harus ditempuh demi mencapai kesempurnaan Ilahi. Dua hal ini berbeda. Mengetahui jalan yang benar dan lurus adalah sebuah realitas, dan berjalan untuk mencapai kesempurnaan adalah realitas yang lain. Banyak manusia yang mengetahui bahwa Ahlul Bait adalah benar, tetapi tidak sedikit orang yang enggan mengikuti dan berjalan bersama mereka untuk mencapai kesempurnaan.

     

    Kebenaran Ahlul Bait as. sudah lebih jelas untuk diungkapkan dalam tulisan ini, dan hadist al Tsaqalain sudah cukup menjadi bukti dan hujjah yang kuat atas kebenaran mereka. Namun, disini kami ingin mengutip beberapa pernyataan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib as. sehubungan dengan kedudukan Ahlul Bait as. dan beliau sendiri sebagai salah satu Imam Ahlul Bait as.

     

    “Dengan kami kalian mendapatkan petunjuk dalam kegelapan dan menaiki kedudukan yang tinggi, dan dengan kami kalian meluncur dari kegelapan”.(Khutbah 4, Nahj al Balaghah)

     

    “Tidak seorangpun dari umat ini yang bisa dibandingkan dengan keluarga Muhammad saww. dan juga sama sekali tidak bisa disamakan dengan mereka seorang yang jasa mereka telah mengalir kepadanya. Mereka adalah fondasi agama dan pilar keyakinan. Kepada mereka dikembalikan orang yang melampuai batas dan dengan mereka disusulkan orang yang akan datang. Mereka mempunyai kriteria-kriteria untuk menjadi pemimpin dan untuk mereka wasiat dan warisan”.(Khutbah 2, Nahj al Balaghah).

     

    “Perumpamaanku di tengah kalian seperti mercusuar dalam kegelapan, orang yang memasuki kegelapan itu akan mendapatkan cahaya darinya”. (Khutbah 185, Nahj al Balaghah)

     

    “Mereka adalah penghidup keilmuan dan pembunuh kebodohan. Kebijakan mereka memberitakan kepada kalian akan pengetahuan mereka, lahiriah mereka mengungkapan batiniah mereka dan diam mereka menyatakan kebijakan-kebijakan ucapan mereka. Mereka tidak akan menyalahi kebenaran dan tidak pula mereka berselisih di dalamnya. Mereka adalah tonggak-tonggak Islam dan tali-tali persatuan. Dengan mereka kebenaran kembali ke tempatnya dan kebatilan tersingkir dari tempatnya serta terputus lisannya. Mereka memahami agama dengan pemahaman yang penuh kesadaran dan pemeliharaaan, bukan pemahaman yang melintas ke telinga dan mulut . Sungguh banyak orang yang menghafal ilmu, namun sedikit yang memeliharanya”. (Khutbah 237, Nahj al Balaghah)

     

    “Pada merekalah kemuliaan-kemuliaan Qur’an dan mereka adalah kekayaan-kekayaan Rahman. Jika mereka berbicara, maka benar, dan jika mereka diam, maka mereka tidak akan terdahului”. (Khutbah 152, Nahj al Balaghah)

     

    “Kami adalah pohon kenabian, persinggahan kerasulan, tempat kunjungan para malaikat, sumber ilmu dan mata air hukum. Orang yang menolong dan mencintai kami menantikan rahmat, sedangkan orang yang memusuhi dan membenci kami menunggu siksaan”. (Khutbah 107, Nahj al Balaghah)

     

    Ahlul Bait as. tidak hanya dikenal sebagai lambang dan simbol kebenaran saja, tetapi mereka juga harus diikuti dan diteladani. Kalau mereka hanya untuk dikenal dan dicintai saja, maka semua orang yang berakal dan berhati bersih pasti mencintai mereka, karena mereka adalah kebenaran, keindahan dan kebaikan, dan tidak sedikitpun mempunyai kekurangan dan cacat. Tidak ada satupun celah keburukan dan kenistaan dari pribadi mereka yang layak dibenci. Kebencian para musuh Ahlul Bait as. bukan karena kekurangan yang ada pada diri Ahlul Bait as., tetapi karena kehadiran Ahlul Bait as. yang mengancam kepentingan mereka. Simaklah komentar Muawiyah, musuh utama Imam Ali bin Abi Thalib as., tentang latar belakang kebencian dan permusuhannya kepada beliau,

    “Ibnu Qutaibah berkata, “Abdullah bin Mihjan datang menghadap Mu’awiyah dan berkata, ” Hai Amirul mukminin, sesungguhnya aku telah datang dari seorang yang dungu, penakut dan kikir “. (maksudnya, Ali bin Abi Thalib ) Kemudian Mu’awiyah berkata, ” Allah, tahukah kamu apa yang kamu katakan tadi ?. Adapun perkataanmu bahwa ia seorang dungu, demi Allah, jika mulut-mulut manusia dikumpulkan dan dijadikan satu mulut, maka itu sama dengan mulut Ali, dan perkataanmu bahwa ia seorang penakut – semoga Allah melaknatmu -, maka tidak ada satupun jagoan yang kamu lihat kecuali mati ditangannya, serta perkataanmu bahwa ia seorang kikir, demi Allah, jika dia mempunyai dua rumah, yang satu terbuat dari tanah dan yang lain terbuat dari jerami, niscaya ia akan berikan yang terbuat dari tanah sebelum yang terbuat dari jerami “.

    Lalu al Tsaqafi bertanya, ” Kalau begitu, mengapa anda memeranginya? “. Mua’wiyah menjawab, ” Karena darah Utsman “. (Mutiara Akhlak Nabi 61-62)

     

    Ahlul Bait as. selain harus dicintai, juga harus diikuti, karena tanpa itu, manusia tidak akan sampai kepada kesempurnaan dirinya. Berkenaan dengan ini, Allah swt. berfirman,

    “Katakanlah (hai Muhammad), apa yang aku minta dari kalian berupa upah (timbal balik) hanya (dari) orang yang berkehendak untuk membuat jalan menuju Tuhannya “. (al Furqan: 57)

     

    Imam Ali Zainal A’bidin as. berkata,

    “Tidak ada hijab antara Allah dan hujjahNya dan juga tidak ada penghalang yang menghalangi Allah dari hujjahNya. Kami adalah pintu-pintu Allah. Kami adalah shiraat mustaqim”. (Tafsir al Mizan jilid 1/41)

     

    Meneladani dan mengikuti langkah-langkah Ahlul Bait as. sebenarnya konsekwensi praktis dari cinta kepada mereka. Orang yang benar-benar mencintai Ahlul Bait as. pasti mengikuti mereka, dan ketika mengikuti mereka akan mendapatkan berbagai ujian dan cobaan dari Allah Swt. Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata,

    “Barang siapa mencintai kami, Ahlul Bait, maka bersiap-siaplah berlindung dari kefakiran dan ujian”. (Hikmah 112, Nahj al Balaghah)

     

    ‘Asyura’ Jalan Menuju Allah Swt

    Imam al Husain as. salah satu dari rangkaian imam-imam Ahlul Bait as. Pada zamannya, beliau adalah cahaya Ilahi yang menunjukkan jalan kebenaran dan sekaligus figur teladan yang berjalan menuju kesempurnaan. Beliau tidak hanya menjelaskan kebenaran dan mengajak kaum muslimin ke kebenaran, tetapi beliau juga menunjukkan cara yang benar untuk sampai kepada Allah swt.

     

    Pada waktu itu, kaum muslimin sudah mengetahui secara pasti bahwa al Husain bin Ali seorang yang benar. Bayangan wajah Rasulullah saww. menjelma dihadapan mata mereka ketika melihat wajah al Husain. Ucapan Rasulullah saww.

     

    “Husain dariku dan aku dari Husain” masih terngiang-ngiang di telinga mereka. Ciuman dan pelukan kasih sayang Rasulullah saww. terhadap al Husain as.terpatri kuat dalam benak mereka. Dan bahwasanya al Husain as. itu benar tidak perlu dibuktikan lagi oleh apapun, bahkan kebenaran itu sendiri diketahui melalui sikap dan perbuatan beliau. Tentang beliau as, Rasulullah saww. bersabda,

    “Al Husain adalah mercusuar petunjuk dan bahtera keselamatan”.

     

    Namun pengetahuan mereka tentang kebenaran al Husain as. tidak cukup untuk mendorong mereka bergabung dengan kafilah beliau menuju kesempurnaan insani, karena bergabung dengan beliau membutuhkan kecintaan yang tulus dan kesetiaan yang penuh, tidak sekadar ucapan cinta yang menghiasi bibir dan pengetahuan yang memadati otak semata. Oleh karena itu, dari ribuan kaum muslimin yang mendengarkan keberangkatan beliau melawan pemerintahan yang zhalim, Yazid bin Mu’awiyah dan yang bersama beliau di padang Arafah hanya tujuh puluh tiga orang saja yang ikut bergabung bersama beliau menyongsong syahadah . Beliau mengajak mereka untuk melawan Yazid, karena, pada waktu itu, hanya dengan melawan Yazid , seseorang dapat meraih kesempurnaan dirinya. Beliau sangat sadar bahwa kekuatan beliau tidak imbang dengan kekuatan pasukan Yazid. Logika yang beliau pakai bukan logika kalah-menang, beliau semata-mata melaksanakan tugas Allah yang suci dan keinginannya mencapai kesempurnaan, dan beliaupun mengetahui secara pasti bahwa melaksanakan tugas suci itu akan mengantarkan beliau ke syahadah, dan bahwa keinginannya mencapai kesempurnaan harus melalui tetesan darah. Rasulullah saww. pernah bersabda kepada Imam Husain as.,

    “Sungguh Allah telah berkehendak menyaksikanmu terbunuh”

     

    Mengikuti jejak beliau pada waktu itu sangat berat sekali, demikian pula pada waktu-waktu setelahnya. Para pengikut Ahlul Bait as. dikejar-kejar, disiksa dan dibunuh. Yang bisa menyelamatkan nyawa mereka adalah memutuskan hubungan dengan para Imam Ahlul Bait as. atau pergi jauh dari pusat pemerintahan kaum muslimin. Kenyataan ini merupakan resiko dan konsekwensi mengikuti Ahlul Bait as.dan sebagai jalan yang lurus (shirooth mustaqiim) menuju Allah swt. dan sebagai upaya mencapai kesempurnaan insani.

     

    Sebaliknya kaum muslimin yang tidak mengikuti Ahlul Bait menjalankan kehidupannya dalam suasana yang damai dan tenang, bahkan tidak sedikit dari ulama mereka justru menyalahkan Ahlul Bait dan mendukung pemerintahan Bani Umayyah dan Bani Abbas.

     

    Sepanjang zaman sampai hari akhir nanti, dua kelompok kaum muslimin itu akan selalu ada; yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait as. dengan segala konsekuensi dan resikonya, dan yang mencintai tanpa mengikuti mereka dengan segala ketenangan dan kedamaian yang dirasakan.[islamic-sources/aljawad]

     

    Salam sejahtera atasmu, ya Abu Abdillah al Husain

    dan atas nyawa-nyawa

    yang berjatuhan di haribaanmu.

    Atas kalian semua dariku salamullah selamanya,

    selagi aku ada dan selama malam dan siang silih berganti.

    Salam sejahtera atas al Husain

    Salam sejahtera atas Ali bin al Husain

    Salam sejahtera atas putra-putri al Husain

    Salam sejahtera atas sahabat-sahabat setia al Husain.