Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Ayat-ayat Khilafah Dan Kepemimpinan Ahul bait as

    Ayat-ayat Khilafah Dan Kepemimpinan Ahul bait as

    Rate this post

    Ayat-ayat Khilafah Dan Kepemimpinan Ahul bait as

     

     

    Sesuai hadis Tsaqalain, Al-Quran dan Ahlu bait merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, keduanya adalah pusaka nabi saw yang diwariskan kepada para umatnya, pusaka yang sanggup menjaga umat akhir zaman dari berbagai bahaya yang datang menghadang, baik bahaya ideology, budaya, atau yang lain yang dilancarkan musuh-musuh pengikut agama yang benar.

     

    Dari riwayat Tsaqalin dapat dipahami bahwa  keduanya Al-Quran dan Al-Itrah memberikan andil yang sama dalam memberikan petunjuk kepada manusia, keduanya lentera dan lampu yang menerangi jalan manusia guna menggapai tujuan penciptaannya, menuju dan mendekat kepada sang kekasih sejati.

     

    Al-Quran adalah Imam yang shamit, diam dan tak bicara, sedang Imam adalah Quran yang natiq dan berbicara. Atas dasar ini, sangat aneh jika satu dengan yang lain tidak memperekanalkan rekan dan teman sejatinya.

     

    Para imam adalah mufasir sejati Al-quran mereka telah mensosialisasikan dan menjelaskan kandungan dan isi al-Quran, sebagaimana sebaliknya kitab suci ini juga memuat banyak ayat yang menjelaskan tentang Imamah? apa keutamaan mereka? Apakah pelantikan dan pemilihan mereka hak seluruh manusia?, dan berbagai soal lain yang bertalian dengan hal tersebut.

     

    Dalam kesempatan ini kita akan membahas ayat Tablig.

     

    Allah SWT  berfirman:

     

    يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكافِرِينَ

     

    Artinya:”wahai Rasul sampaikanlah apa yang yang telah diturunkan oleh tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukannya, maka kamu tidak menyampaikan risalahNya,(apa yang engkau sampaikan sebelumnya sia-sia belaka), dan Allah akan menjagamu dari (ulah) manusia sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk orang-orang kafir”. (Surat Maidah, ayat 67).

     

    Pembahasan Ayat

     

    Ayat yang dikenal dengan nama ayat tablig ini, menjelaskan permasalahan paling penting dalam dunia Islam setelah permasalahan kenabian. Dan dengan penegasan yang tak sedikit telah memerintahkan Rasulullah Saw di akhir-akhir kehidupan beliau untuk memaparkan secara tegas kepada seluruh umat manusia tentang permasalahan kepemimpinan setelah beliau yang secara tidak langsung menjelaskan tugas mereka sebagai umat. Para ulama Syi’ah dan Ahli sunah  memiliki banyak kajian serta perbedaan yang begitu tajam dalam menafsirkan ayat ini.

     

    Penjelasan Dan Tafsir

     

    Pemilihan Seorang pengganti, Finis Risalah

     

    يا أَيُّهَا الرَّسُولُ  wahai Rasulullah yang mulia! Baginda nabi Saw telah diseru oleh Allah SWT dengan pelbagai panggilan, di antaranya:

     

    ياايها المزمل   wahai orang yang berselimut![1]

     

    ياايهاالمدثرwahai orang yang Berselimut![2]

     

    ياايهاالنبي wahai nabi Saw![3]

     

    ياايها الرسول wahai Rasulullah

     

    Khitab pertama dan kedua berkaitan dengan kondisi lahiriah Rasulullah, sedang khitab ketiga dan keempat menjelaskan kondisi spiritual dan posisi ilahiah beliau. ياايهاالنبي  berkali-kali terulang di dalam al-Quran.

     

    Sedang khitab   ياايها الرسولhanya disebutkan dalam dua ayat saja. Pertama ayat yang sedang dibahas sedang yang lainnya terdapat dalam ayat Maidah ayat ke-48 yang sangat serasi dengan ayat ini. Khitab ini menunjukkan pentingnya pembahasan yang oleh karenanya beliau diseru oleh Allah.

     

    بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ  (wahai Rasulullah kita) sampaikan tugas dan perintah khusus yang engkau emban dari tuhanmu.

     

    Tugas dan perintah ini tak lain adalah penentuan pengganti setelah beliau Saw.

     

    وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ  tugas dan perintah ini teramat penting, sehingga jika engkau tidak melaksanakannya dan tidak engkau sampaikan kepada masyarakat maka seakan-akan engkau tidak (pernah) menyampaikan risalah tuhan dan jerih payah dirimu selama dua puluh tiga tahun tidak akan pernah rampung.

     

    Akan tetapi jelas, Rasulullah akan menyampaikan hal-hal yang telah diturunkan kepada beliau serta tidak ketinggalan beliau juga menjelaskannya. Akan tetapi ungkapan ayat ini disebut demikian agar umat manusia dapat memahami pentingnya kandungan ayat ini.

     

    وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ  mengingat ayat ini begitu sensitif dan maha penting, dimungkinkan munculnya reaksi baik terselubung maupun tidak dari orang-orang yang lemah imannya atau kaum munafik. Oleh karena itu Allah SWT menjamin keselamatan jiwa Rasulullah di tengah-tengah bahaya yang dapat terjadi.

     

    إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكافِرِينَ  kendati Allah SWT  setiap orang akan diliputi hidayah-Nya, namun mereka yang keras kepala dan senantiasa memaksakan akidah dan asumsinya tidak akan pernah mencicipi manisnya hidayah.

     

    Dengan merenungkan isi dan kandungan ayat tadi, kita akan mendapati bahwa ayat itu telah mengabarkan kepada kita sebuah berita yang teramat penting; hal ini kita tangkap dari banyaknya penekanan di dalamnya:

     

    1) Ayat dimulai dengan khitab  ياايها الرسول, sebagaimana telah dijelaskan khitab ini menunjukkan pentingnya  dan keistimewaan topik yang karenanya beliau menjadi lawan bicara Allah SWT.

     

    2) kata بَلِّغْ  merupakan bukti lain akan pentingnya ayat di atas, karena:

     

    a. Kata ini hanya sekali disebutkan di dalam al-Quran dan tidak disebut di tempat lain.

     

    b. Menurut penuturan Râgib Isfahani, kata ini lebih memiliki arti lebih dari pada kata ابلغ  , karena kendati ayat ini hanya sekali saja disebut di dalam al-Quran,[4] akan tetapi dalam kata بلغ  selain memberikan penekanan juga menunjukkan pengulangan. Artinya, wahai nabi masalah ini begitu penting dan harus engkau sampaikan kepada umat  serta ulangilah.[5]

     

    c. Kalimat  وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ  merupakan bukti lain akan ciri khusus ayat ini, masalah yang ditugaskan kepada Rasulullah untuk disampaikan adalah masalah pokok dan pilar dari kenabian beliau; karena jika Rasulullah tidak menyampaikannya seakan-akan beliau tidak melaksanakan tugas kenabian yang telah beliau laksanakan.

     

    d. Jaminan keselamatan jiwa Rasulullah yang dijanjikan oleh Allah SWT dari berbagai bahaya yang dimungkinkan, merupakan salah satu tanda lain dari pentingnya kandungan ayat ini,

     

    Muatan tugas Rasulullah Saw sangat penting dan menentukan, di mana dimungkinkan akan munculnya rintangan dan bahaya jiwa serta terjadinya reaksi beragam. Akan tetapi Allah SWT telah menjaga dan menjamin keselamatan nabi-Nya dari berbagai bahaya yang akan muncul.

     

    Lalu, pertanyaannya sekarang adalah apakah masalah penting yang dikabarkan oleh ayat Tablig  tersebut?

     

    Tugas Rasulullah Saw yang manakah yang butuh jaminan ilahi secara tekstual? Masalah apakah yang harus disampaikan oleh Rasulullah Saw yang penyampaiannya sama seperti penyampaian semua risalah kenabian? Hal apakah yang dinginkan oleh Allah SWT  yang pada satu sisi ada ancaman dan di sisi lain janji penjagaan keselamatan jiwa Rasulullah?

     

    Konklusinya, apakah topik ayat ini yang dipenuhi oleh berbagai penekanan yang luar biasa banyaknya?

     

    Untuk sampai kepada jawaban pertanyaan ini ada dua jalan yang dapat ditempuh:

     

    Pertama, tafakur, merenungkan secara mendalam kandungan ayat ini dengan tanpa melihat riwayat-riwayat yang datang dalam referensi-referensi standar hadis baik di kalangan Syi’ah dan Ahli sunah. Dan tanpa merujuk kepada sejarah dan ungkapan para mufasir.

     

    Kedua, menafsirkan ayat tersebut dengan merujuk kepada hadis-hadis dan riwayat yang menjelaskan kondisi turunnya ayat mulia ini.

     

    Metode Pertama: Menafsirkan Ayat Dengan Tanpa Melihat Bukti-bukti Lain

     

    Dengan berpikir dan merenungkan secara seksama ayat yang mulia ini dan dengan tanpa meminta bantuan dari hal-hal lain, jawaban dari semua pertanyaan itu akan tampak jelas. Akan tetapi dengan sebuah sarat yaitu menjauhi fanatisme dalam mengambil sebuah keputusan. Karena:

     

    Ayat yang sedang kita bahas adalah ayat 67 surat Maidah, sedang surat ini merupakan surat terakhir yang turun kepada Rasulullah Saw,[6] atau surat ini termasuk salah satu dari surat-surat yang terakhir yang turun. Artinya ayat ini turun pada tahun 10 bi’sah pada akhir-akhir kehidupan beliau dan setelah 23 tahun tablig.

     

    Sebuah pertanyaan, hal apakah yang belum disampaikan selama kurun waktu 23 tahun masa tablig Rasulullah Saw dan masih tersisa pada akhir-akhir  kehidupan beliau?

     

    Apakah  masalah penting ini berkaitan dengan shalat, sedang kaum muslim sudah melaksanakannya selama 20 tahun lebih?

     

    Apakah masalah itu berkaitan dengan puasa, padahal kewajiban itu sudah dijalankan sekitar 13 tahun?

     

    Apakah hal tersebut berkaitan dengan pensyariatan jihad, sedang kewajiban ini sudah ada sejak tahun kedua hijriah?

     

    Apakah berkaitan dengan haji?

     

    Jawabnya, tidak. Ayat yang sedang kita bahas tidak ada kaitannya dengan hal-hal di atas. Perlu diperhatikan masalah penting apa yang masih tersisa setelah tugas berat Rasulullah selama 23 tahun?

     

    Dari ayat ini dipahami bahwa kandungannya sangat penting sehingga dianggap senilai dengan kenabian itu sendiri. Kemungkinan-kemungkinan yang dilontarkan oleh sebagian pemikir dan hal-hal yang disebutkan di atas walaupun sangat penting akan tetapi tidak bisa kita samakan dengan seluruh kenabian Rasulullah Saw. Perlu dicari apakah hal penting yang sesuai dengan risalah kenabian yang belum tersampaikan selama kurun waktu 23 tahun?

    Ciri lain dari tugas ini adalah sebagai kalangan menentang kandungan tugas tersebut. Penentangan mereka begitu serius dan kerasnya sehingga mereka siap untuk melenyapkan Rasulullah Saw. Kaum muslim tidak menentang shalat, puasa, jihad dan kewajiban lain, dengan demikian permasalahan ini berkaitan dengan politik yang membuat sekelompok orang siap untuk menentangnya habis-habisan di hadapan Rasulullah Saw.

     

    Setelah kita melihat secara seksama semu hal ini, dan tanpa melihat hal-hal lain serta tanpa fanatisme dan keras kepala kita mengambil sebuah hasil, maka kita tidak akan sampai kepada sebuah hal selain masalah wilayah dan kepemimpinan imam Ali as setelah Rasulullah Saw, yang telah diresmikan secara umum di Ghadir Khum.

     

    Iya, hal yang tersisa hingga akhir usia Rasulullah Saw  yang belum dijelaskan secara resmi dan sepenting kenabian penghulu para nabi dan sekelompok orang telah bersumpah untuk menentangnya terealisasinya hal tersebut serta Allah SWT telah menjamin keselamatan jiwa Rasulullah dalam menjalankan tugas tersebut adalah masalah penting dan menentukan yang tak lain adalah masalah suksesi dan kepemimpinan setelah beliau. Karena, kendati masalah kepemimpinan Ali as sudah beliau jelaskan berkali-kali, akan tetapi belum beliau jelaskan secara resmi dan di hadapan seluruh. Sehingga tugas penting dan akbar ini dilaksanakan saat kembali dari haji Wada’  dan di padang sahara Ghadir Khum dengan cara yang sangat sempurna dan Rasulullah Saw dengan melantik imam Ali as sebagai pengganti setelah beliau sudah menyempurnakan risalah dan tugas yang diemban.

     

    [1] Surah Muzamil, ayat pertama.

     

    [2] Surah Mudatsir, ayat pertama.

     

    [3] Khitab ini lebih dari sepuluh kali diulang di dalam al-Quran.

     

    [4] Surah Taubah, ayat ke-6.

     

    [5] Rasulullah Saw juga telah melakukannya, beliau sejak awal Islam hingga wafat beliau telah memberitahukan masalah kepemimpinan imam Ali as setelah beliau.

     

    [6]  Menurut sebuah riwayat, seluruh ayat surat  ini turun pada haji Wada’  (haji terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah Saw) di tengah perjalanan antara Mekkah  dan Madinah. (Al-Manar, jild 6, halaman 116) [Islamic-sources/quran.al-shia.org]