Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Hati-hati Rasa Cemas Berlebihan

    Hati-hati Rasa Cemas Berlebihan

    Hati-hati Rasa Cemas Berlebihan
    3.5 (70%) 4 vote[s]

    Hati-hati Rasa Cemas Berlebihan

     
    Sebagai manusia yang normal pasti kita semua pernah mengalami rasa cemas bukan? Cemas saat akan menghadapi ujian atau putusnya hubungan yang sangat penting dengan seseorang atau juga ketika berada dalam situasi yang mengancam jiwa. Akan tetapi, saat cemas pernahkah anda merasakan kesulitan berkonsentrasi, menjadi sangat mudah lelah, tidaksabaran, mudah tersinggung, dan ketegangan otot yang amat singkat? Atau jantung berdetak lebih keras, perut tidak enak, diare, tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, dan sesak nafas? Bisa jadi anda mengalami Gangguan Anxietas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder).

    Gangguan Anxietas Menyeluruh yaitu terus menerus merasa cemas, sering kali tentang hal-hal kecil. Penderita yang menderita GAD memiliki kekhawatiran yang kronis. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan banyak hal dan menganggap kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Kekhawatiran yang paling sering dirasakan oleh penderita GAD adalah kesehatan mereka dan masalah sehari-hari, seperti terlambat menghadiri pertemuan atau terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kekhawatiran yang bersifat tidak dapat dikendalikan pada penderita GAD dikonfirmasi oleh self report dan data laboratorium (Becker dkk., 1998; Craske dkk., 1989).

    Jika merujuk pada DSM IV-TR sebuah buku panduan psikologi mengenai gangguan, GAD memiliki kriteria sebagai berikut ; terlalu banyak cemas dan merasa khawatir terhadap beberapa kejadian atau aktivitas dalam keseharian kurang lebih dalam waktu enam bulan terakhir, orang tersebut juga memiliki kesulitan untuk menguasai rasa cemasnya, dia kesulitan mengontrol agar dirinya tidak cemas. Selain ciri di atas kecemasan juga diikuti oleh beberapa simptom seperti, kegelisahan atau merasa tegang, sangat mudah lelah, sering merasa kesal dan terganggu, ketegangan di otot, dan gangguan tidur pada aktivitas keseharian kita, jika muncul paling tidak tiga simptom yang telah disebutkan sebelumnya, patut dicurigai bahwa orang tersebut mengalami GAD.

    Rasa cemas yang terus-menerus pada orang dengan GAD membuat mereka terus-menerus kesal, merasa tidak nyaman, dan berkecil hati. Dalam satu penelitian, sumber kecemasan yang paling umum adalah, keluarga, pekerjaan, keuangan, dan kesehatan pribadi. Tidak hanya membuat mereka sulit untuk mengambil keputusan, tetapi setelah mereka mengambil keputusan, mereka khawatir terhadap keputusan yang sudah mereka ambil, mereka khawatir terus-menerus bahkan ketika mereka pergi untuk tidur, mereka khawatir akan kesalah yang mungkin terjadi dan hal-hal yang tidak bisa diramalkan yang akan membuktikan bahwa pilihan mereka salah dan menjadi bencana bagi mereka.

    GAD umumnya mulai dialami pada pertengahan masa remaja, walaupun banyak orang yang menderita gangguan anxietas menyeluruh menuturkan bahwa mereka mengalami masalah tersebut sepanjang hidupnya (Barlow dkk., 1986). Percaya atau tidak gangguan ini terjadi dua kali lebih banyak pada perempuan dibanding dengan laki-laki, dan memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan gangguan anxietas lain dan dengan gangguan mood (Brown dkk., 2001). Dalam suatu studi tindak lanjut selama lima tahun, hanya 18% pasien yang tidak lagi mengalami simtom-simton gangguan tersebut (Woodman dkk., 1999) walaupun angka tersebut memiliki kemungkinan meningkat seiring dengan lebih banyak penggunaan terapi kognitif-behavioral.

    Faktor Penyebab Psikososial, Berdasarkan dari sudut pandang ini, generalized anxiety disorder adalah hasil dari konflik tidak sadar antara ego dan dorongan impuls yang tidak bisa dihadapi secara memadai karena mekanisme pertahanan orang tersebut rusak atau bahkan tidak pernah berkembang. Freud percaya bahwa hal ini terjadi karena dorongan seksual dan agresi tertahan, atau dihukum jika di ekspresikan, hal ini bisa mengarah pada kecemasan yang tergeneralisasi.

    Peran dari kejadian yang tidak terduga dan tidak terkontrol, lebih membuat stress jika dibandingkan dengan kejadian yang terduga dan bisa terkontrol sehingga kejadian seperti akan bisa dihindari, jadi tidak heran jika kejadian yang tidak terduga dan tidak terkontrol akan menyebabkan lebih banyak ketakutan dan kecemasan (Barlow, 2002a; Craske & Waters, 2005; Mineka, 185a; Mineka & Zinbarg, 1996).

    Bias kognitif mengenai informasi yang mengancam, tidak hanya orang yang GAD sering memiliki pikiran yang menakutkan, mereka juga memproses informasi yang mengancam secara bias. Banyak penelitian menemukan bahwa orang yang cemas cenderung lebih sering mengalokasikan perhatiannya pada isyarat-isyarat yang mengancam dibanding dengan isyarat yang tidak mengancam ketika keduanya diberikan oleh lingkungan. Lebih lanjut, kewaspadaan untuk isyarat yang mengancam terjadi di tahap paling awal pemprosesan informasi, bahkan sebelum informasi itu masuk ke kesadaran seseorang.

    Faktor Penyebab Biologis, Faktor genetik, bukti kuat meningkat bahwa GAD dipengaruhi genetik ketika ditemukan bahwa GAD dan major depressive disorder memiliki predisposisi genetik yang sama. Hasil terbesar dan terbaru dari penelitian genetik terhadap GAD adalah, penelitian dari anak kembar menunjukan bahwa GAD diturunkan dengan kemungkinan sebesar 15%-20%.

    Menurunnya fungsi GABA (gamma aminobutryc acid), pada tahun 1950an obat yang disebut benzodiazepines ditemukan dan berfungsi untuk mengurangi kecemasan. Penemuan selanjutnya pada tahun 1970an ditemukan bahwa obat itu mungkin meningkatkan fungsi GABA, sebuah neurotransmiter yang sekarang sedang diimplikasikan dengan GAD (Barlow, 2002a; Davis, 2002;, LeDoux, 2002.) Dari sini terlihat bahwa orang yang cemas mungkin adalah orang yang fungsi GABA-nya menurun, yang berfungsi untuk menghambat kecemasan di otak ketika di hadapkan dengan situasi stress.

    Sekarang, mari kita lihat pandangan dari beberapa teori psikologi mengenai Gangguan Anxietas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder) :

    Pandangan Psikoanalisis, menurut teori ini berpendapat bahwa sumber kecemasan menyeluruh adalah konflik yang tidak disadari antara ego dan impuls-impuls id. Impuls-impuls tersebut yang biasanya bersifat seksual atau agresif berusaha untuk mengekspresikan diri, namun ego tidak membiarkannya karena tanpa disadari ia merasa takut terhadap hukuman yang akan diterima. Sumber kecamasan yana sebenarnya, yaitu hasrat-hasrat yang berhubungan dengan impuls-impuls id yang ditekan dan berjuang untuk mengekspresikan diri selalu hadir. Dengan kata lain, tidak ada cara untuk menghindari kecemasan, jika seseorang meninggalkan id ia tidak lagi hidup.

    Pandangan Kognitif–Behavioral, pandangan utama teori Kognitif-Behavioral tentang GAD adalah gangguan tersebut disebabkan oleh proses-proses berfikir yang menyimpang. Orang-orang yang menderita GAD seringkali salah mempersepsi kejadian-kejadian biasa, seperti menyebrang jalan sebagai hal yang mangancam, dan kognisi mereka terfokus pada antisipasi berbagai bencana pada masa mendatang (Back dkk., 1987; Ingram & Kendall, 1989). Dengan demikian, melalui rasa khawatir, orang-orang yang menderita GAD menghindari berbagai citra yang tidak mengenakan dan sebagai konsekuensinya kecemasan yang mereka rasakan terhadap berbagai citra tersebut tidak akan hilang. Salah satu citra yang memicu kecemasan berasal dari data yang menunjukan bahwa para penderita GAD menuturkan mengalami banyak pascatrauma yang mencakup kematian, cedera, atau penyakit (a.l., Borkovec & Newman, 1998; Borkovec, Roemer, & Kinyon, 1995).

    Tidak ada jalan yang jelas untuk memprediksi apa yang bisa menyebabkan seseorang mengembangkan GAD. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir karena kita bisa mengambil langkah untuk mengurangi dampak dari simptom, kita bisa melakukan beberapa cara seperti Cepat mencari pertolongan, Kecemasan, seperti kondisi mental yang lain, akan sangat sulit diobati jika kita menunggu hingga kondisi ini bertambah parah. Membuat jurnal, Merekam jejak kehidupan pribadi kita bisa membantu kita dan orang yang menangani kesehatan mental kita untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang sebenarnya menjadikan kita strees dan apa yang bisa menolong kita jadi lebih baik. Memprioritaskan kehidupan kita. Kita bisa mengurangi kecemasan dengan berhati-hati dalam mengatur waktu dan tenaga. Menghindari penggunaan zat-zat yang tidak sehat, penggunaan alkohol dan obat-obatan atau bahkan kafein dan nikotin bisa memperburuk kecemasan. Jika kita kecanduan salah satu dari zat ini, berusaha berhenti mungkin akan menyebabkan kecemasan. Jika kita tidak dapat berhenti sendiri, kita bisa memnita pertolongan dari doktor atau ahli.

    Selain cara pencegahan diatas jika kita merasa cemas dan kita didiagnosis sebagai penderita GAD, para ahli sudah menyiapkan intervensi agar GAD yang dialami oleh seseorang tidak menjuadi lebih parah atau yang sering disebut dengan prevensi sekunder. Yuk kita intip langkah apa saja yang bisa dilakukan :

    1. Pendekatan Psikoanalisa. Satu studi tanpa kontrol menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflik interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini, sama dengan para terapis kognitif behavioral mendorong penyelesaian masalah sosial (cf. Hlm. 582).

    2. Pendekatan Behavioral. Para ahli klinis behavioral menangani kecemasan menyeluruh dengan berbagai cara. Terjadi kesulitan untuk menemukan sebab spesifik kecemasan yang diderita pasien GAD. Kesulitan ini memicu para ahli klinis behavioral untuk memberikan penanganan yang lebih umum, seperti training relaksasi intensif, dengan harapan bahwa belajar untuk rileks ketika merasa tegang seiring mereka menjalani hidup akan mencegah kecemasan berkembang tanpa kendali (Barlow dkk., 1084; Borkevec & Mathews, 1988; Ost, 1987b). Para pasien diajarkan untuk melepaskan ketegangan tingkat rendah, merespon kecemasan yang baru muncul dengan relaksasi daripada dengan kepanikan (Goldfried, 1971; Suinn & Richardson, 1971).

    3. Pendekatan Kognitif. Data hasil uji klinis terkontrol sejauh ini konsisten dalam menunjukkan bahwa berbagai pendekatan kognitif-behavioral lebih berpengaruh dibanding terapi placebo atau terapi-terapi alternatif seperti terapi Rogerian (Barlow dkk., 1998; Borkovec, Newman, Pincus, & Lytle, di media; Brown dkk., 2001) . jika dibandingkan dengan terapi benzodiazepine, terapi kognitif perilaku tampak lebih unggul; memang, bila dikombinasikan dengan terapi obat, hasilnya lebih buruk dibandingkan bila digunakan tanpa dikombinasikan (Power dkk., 1990). Terapi ini di lakukan dengan cara relaksasi, dan di kombinasikan teknik rekonstruksi kognitif yang bisa mengurangi bias terhadap informasi seorang dengan GAD.

    4. Pendekatan Biologis. Anxiolitic, seperti jenis yang disebutkan untuk menangani fobia dan gangguan panik, mungkin merupakan penanganan yang paling banyak digunakan bagi pasien GAD. Obat-obatan, terutama benzoniazepin, seperti Valium dan Xanax, juga buspirone, seringkali digunakan karena pervasivitas gangguan. Setelah diminum, obat-obatan tersebut akan bekerja selama beberapa jam dalam berbagai situasi yang dihadapi. Sebuah studi doble blind menegasskan bahwa obat-obatan tersebut memberi lebih banyak manfaat bagi para pasien GAD dibanding placebo (Apter & Allen, 199

    Contoh Kasus

    Seorang mekanik berusia 24 tahun, dirujuk oleh dokternya untuk menjalani psikoterapi. Ia sering berkonsultasi dengan dokter karena sering merasa pusing dan sulit tidur. Ia terlihat cukup menderita selama wawancara awal, menelan ludah berbicara, berkeringat, selalu bergerak gelisah di kursinya. Ia berulang kali meminta air minum untuk menghilangkan rasa haus yang tampaknya terus menerus dirasakan yang juga mengindikasikan kecemasannya yang ekstrem. Walaupun pada awalnya ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi fisiknya, suatu gambaran yang lebih umum tentang kecemasan menetap segera terlihat. Dia bertutur bahwa ia sering merasa tegang. Ia tampak khawatir terhadap segala hal. Dia cemas akan bencana yang dapat menimpanya ketika ia bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Ia menuturkan riwayat kesulitan yang panjang dalam hubungan interpersonal, yang membuat ia diberhentikan dari beberapa pekerjaan sebelumnya. Seperti yang dikatakannya, “saya menyukai orang lain dan mencoba bergaul dengan mereka, tapi tampaknya saya sangat mudah lepas kendali. Hal-hal kecil yang mereka lakukan membuat saya sangat kesal. Saya tidak dapat mengatasinya, kecuali semua hal berjalan dengan benar.[Islamic-sources/kompasiana/Rizka Ulfah]

    Daftar Pustaka

    Davison, Gerald C., John M. Neale., & Ann M. Kring (2006). Psikologi Abnormal Edisi Ke-9. Jakarta: Penerbit PT Raja Grafindo Persada

    Butcher, J.N. Susan Mineka. Jill M. Hooley. 2008. Abnormal Psychology Core Concepts. Pearson Education, Inc.