Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Kedamaian di Hari Natal

    Kedamaian di Hari Natal

    Rate this post

    Kedamaian di Hari Natal

     

     

    Umat Kristiani hari Selasa malam berbondong-bondong menuju gereja untuk mengikuti misa Natal. Di malam istimewa mereka menyampaikan doa untuk merayakan hari kelahiran Nabi Isa AS yang jatuh pada tanggal 25 Desember.

    Oleh karena tujuan yang mulia, tentu kita harus menciptakan suasana yang tenang. Kita harus ikut membantu agar umat Kristiani bisa menjalankan ibadahnya dengan baik.

    Suasana menjelang perayaan Natal kali ini agak terganggu oleh tindakan sekelompok orang yang berencana untuk melakukan keonaran. Polisi mencium adanya gerakan dari kelompok tertentu yang ingin menggunakan momentum Hari Natal untuk menciptakan rasa permusuhan.

    Kita mengapresiasi langkah yang ditempuh polisi untuk melakukan tindakan pencegahan. Polisi menangkap tiga orang yang diduga akan melakukan aksi yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

    Tidak keliru apabila semua pihak lalu meningkatkan kewaspadaan. Semua gereja yang akan menyelenggarakan misa Natal melakukan pemeriksaan yang lebih ketat untuk mencegah terjadinya hal yang tidak kita inginkan.

    Aksi yang dilakukan kelompok teror tidak ada kaitannya dengan kelompok agama tertentu. Mereka melakukan teror kepada semua kelompok agama. Yang mereka inginkan adalah suasana yang chaos dan munculnya suasana saling curiga di antara masyarakat.

    Oleh karena itulah kita memang tidak boleh terpengaruh oleh aksi yang dilakukan kelompok yang tidak bertanggung jawab itu. Kita justru harus merapatkan barisan dan membangun sikap saling melindungi agar kita tidak mudah untuk diadu domba.

    Kita harus menyadari bahwa negeri ini dibangun oleh kelompok nasionalis-religius. Para Bapak Bangsa adalah sosok-sosok yang kuat rasa cintanya kepada Tanah Air, tetapi secara bersamaan mereka adalah orang-orang yang sangat percaya kepada Yang Maha Kuasa.

    Yang luar biasa dari cara pandang Bapak Bangsa kita adalah sikapnya yang inklusif dan wawasan yang luas. Mereka tidak pernah berpikiran kerdil, tetapi selalu muncul dengan gagasan besar bagi kepentingan seluruh warga bangsa.

    Berbeda dengan sosok pemimpin yang hadir sekarang. Mereka cenderung mendikotomi kelompok nasionalis dan kelompok religius. Bahkan yang lebih memprihatinkan mereka melemparkan gagasan yang ekstrem entah itu menjadi ultra nasionalis maupun fundamentalis religius.

    Ini sungguh merupakan sebuah kemunduran, karena memecah-mecah bangsa ini. Kita cenderung menjadi kelompok-kelompok yang eksklusif dan menempatkan kepentingan kelompok berada di atas kepentingan bangsa dan negara.

    Koreksi inilah yang harus kita lakukan. Kita kembali ke jati diri dari bangsa ini seperti dulu digagas oleh Bapak Bangsa. Perbedaan keyakinan tidak pernah membuat mereka bermusuhan, tetapi justru merayut kebersamaan untuk menciptakan Indonesia yang maju.

    Sikap untuk saling memberi dan menerima membuat mereka menjadi satu saudara. Sebagai sesama warga bangsa, kita saling melindungi. Kita memberi kesempatan kepada saudara-saudara kita untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaan dan agama masing-masing, karena kita menginginkan seluruh warga bangsa ini percaya kepada Tuhan dan selalu melakukan kewajiban untuk menyembah kepada Yang Maha Esa.

    Perayaan Hari Natal harus menciptakan kedamaian di antara kita. Sesuai dengan semangat Natal, kita harus berbagi kasih dan membuat rasa kemanusiaan ditempatkan pada posisi yang paling tinggi.

    Kita harus berupaya untuk menciptakan agar semua warga merasakan kebahagiaan. Pada hari yang baik ini semua bisa tersenyum dan merayakan Hari Natal dengaan penuh suka cita.

    Selamat Hari Natal 2013. Semoga kedamaian selalu menyertai kehidupan warga bangsa ini baik sekarang maupun  di hari-hari mendatang.[Islamic-sources/Irib Indonesia]