Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Kematian Bagaimana yang Anda Pilih?‏

    Kematian Bagaimana yang Anda Pilih?‏

    Rate this post

    Kematian Bagaimana yang Anda Pilih?

     

     

    Saya menimpali cerita tentang keadaan orang yang menemui kematian dengan berbagai keadaan dan aku yakin ada malaikat yang menjemput mereka untuk berpindah alam (barzah) dan menanti datangnya kiamat.

     

    Dalam kisah Nabi Isa as. Suatu hari Nabi Isa as diminta membutktikan mukjizat oleh umatnya. Beliau mendatangi sebuah makam kuno. Digali kemudian ditepuk mayat yang ada di depannya sambil diseru: “bangunlah!” Tiba-tiba bangun. Seolah ia baru bangun dari tidur. Ia bertanya-tanya: “inikah saatnya yang dinantikan?” Nabi Isa as menjawab: “bukan.”

     

    “Kalau begitu masih menunggu. Padahal rasa sakit saat diambil nyawa masih terasa sampai saat ini,” ujarnya. Kemudian Nabi Isa as berseru lagi: “kembalilah!” Orang itu kembali seperti keadaan sebelumnya (mati).

     

    Orang yang dibangunkan dari kubur oleh Nabi Isa as adalah Sam bin Nuh (Sam putra Nabi Nuh as). Jarak dari Nabi Nuh as ke Nabi Isa as sangat jauh. Sekian puluh ribu atau jutaan tahun lalu manusia yang wafat dan berada dalam barzah (kubur) dari zaman Nabi Adam as sampai sekarang menantikan kehadiran Kiamat. Dalam Biharul Anwar disebutkan orang yang dibangkitkan adalah temannya dan masih tetap hidup kedua kalinya hingga 20 tahun, mendapat rizki dan juga mendapat anak.[1]

     

    Saya tertegun. Kemudian saya takbir. Dalam shalat wajib, sempat terlintas cerita tentang cara kematian orang-orang yang pernah saya dengar dan baca. Selesai salam akhir shalat, saya teringat pada kisah Nabi Musa as yang sakarul mautnya paling ringan. Hanya mengisap bau jeruk langsung mengembuskan nafas yang terakhir: wafat. Dalam hadis Rasulullah saw, ada riwayat yang mengabarkan rasa kematian yang dialami Nabi Musa as: “Sangat sakit…”

     

    Kemudian ada riwayat pula bahwa kematian yang dialami Rasulullah saw yang paling ringan dan tidak menyakitkan. Namun, dalam hadis disebutkan Nabi Muhammad saw badannya sempat tegang dan meringis menahan rasa sakit. Malaikat Jibril yang senantiasa menemani pun tidak tega melihatnya sehingga menjauh dari saat-saat sakaratul maut Nabi Muhammad saw.

     

    Saya teringat pula pada cuplikan kamera di internet: Seorang pemain bola yang meloncat jumpalikan dengan kepala membentur-bentur tanah lapang dan kemudian meninggal dunia; seorang ustad yang saat ceramah kemudian wafat. Dari buku ada kisah Nabi Sulaiman as yang wafat dalam keadaan memegang tongkat. Baru ketahuan wafat saat tongkatnya dimakan rayap. Saya juga pernah baca koran: seorang kakek hari jumat mati saat berada di atas badan pelacur.

     

    Dari ragam kematian tersebut, dalam hati bertanya-tanya: kematian bagaimana yang akan terjadi pada saya? Saya tidak dapat jawab. Saya tertengun. Saya terdiam dan kembali teringat pada cerita di atas. Bulu kuduk saya merinding: Tangan dan badan saya gemetar: Takut kalau kematian menimpa saya dalam kondisi tidak baik atau saat melakukan perbuatan dosa atau hal-hal yang buruk. Saya termenung dan sedikit-sedikit air mata saya meleleh dan turun ke pipi.

     

     [1] بحارالأنوار: ج 14 ص 233 ح 3.

    [Islamic-sources/Ahmads-page]