Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. KEUTAMAAN BERSILATURRAHIM KEPADA ORANG TUA

    KEUTAMAAN BERSILATURRAHIM KEPADA ORANG TUA

    • Agung Nurcholis
    Rate this post

    Terkadang kita lupa, bahwa orang yang berhak pertama kali untuk kita sambung silaturrahimnya adalah orang tua -ayah dan ibu. Ketika hari raya Iedul Fitri, di mana pada saat itu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu seluruh masyarakat muslim seantero bumi untuk kembali menyambung silaturrahim yang sempat putus atau menguatkan silah yang telah ada, tidak sedikit masyarakat modern yang lebih memprioritaskan silaturrahim dan komunikasi mereka terhadap kolega, partner kerja, rekan bisnis atau atasan mereka. Seolah lupa bahwa nun jauh di sana ada dua orang yang dengan setianya menunggu mereka untuk mencium tangan penuh takzim, atau sekedar mendengar sapa salam dari anak-anaknya.

    Menela’ah kembali perintah silaturrahim pada orang tua

    Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan perintah yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dalam surat Al-Isra ayat 23 Allah Swt. menyatakan bahwa wa qadha Rabbuka berarti suatu perintah yang tsabit tidak bisa ditawar-tawar lagi dan alla ta’budu illa iyyahu berarti perintah ibadah yang bersifat individu. Dalam ayat ini Allah menghubungkan ibadah kepada-Nya dengan wa bil waalidayni ihsaana, atau berbuat baik kepada orang tua. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dan betapa tingginya derajat berbuat baik kepada orang di sisi Allah Swt.

    Dengan fitrah yang diberikan oleh Allah, orang tua dengan sepenuh hati merelakan segala sesuatunya demi tercapainya kebahagiaan anak, walaupun terkadang sikap anak merepotkan dan menyulitkan mereka. Dan ironinya, betapa cepat seorang anak melupakan peras keringat bahkan tumpah darah orang tuanya, hanya karna disibukkan dengan isteri dan anaknya. Pun itu juga tidak menyurutkan kasih sayang orang tua kepada anak yang telah mereka besarkan itu. Berbagai kesulitan dihabiskan untuk mereka serta mengorbankan segala yang ada demi kesenangan dan kebahagiaan mereka tanpa mempedulikan akan datangnya masa lelah dan letih. Maka sekali lagi, berbakti kepada kedua orang tua adalah ketetapan mutlak dari Allah dan merupakan ibadah yang menempati derajat yang tinggi setelah beribadah kepada Allah.

    Buat orang tua merasa dimuliakan

    Ayat tersebut kemudian dilanjutkan dengan: “jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu”. Kibar di sini artinya berusia lanjut, yaitu ketika kulit telah mulai keriput, mata sudah mulai rabun, rambut telah memutih, daya dan upaya mulai melemah. Sedangkan ‘Indaka berarti perlindungan atau juga berarti menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh. Allah Swt. berfirman: “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka”. Melalui ayat ini Allah menegaskan kepada manusia bahwa tanggungjawab penjagaan dan pemeliharaan orang tua pada masa usia lanjutnya adalah jatuh kepada anak mereka. Sekaligus juga sebagai penegasan atas perintah untuk berlemah lembut kepada orang tua. Dengan tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua.

    Lalu Allah Swt. berfirman: “dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. Ini merupakan ultimatum yang lebih tinggi lagi yaitu kewajiban bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan menunjukan sikap hormat serta menghargai. Allah Swt. dalam ayat berikutnya berfirman:  “dan rendahkanlah sayapmu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang”. Allah menggunakan metafora sayap yang merendah sebagai sikap rendah diri yang benar-benar sejati, karna pada hakikatnya sayap adalah sarana untuk terbang tinggi melangit, sayap adalah lambang kebanggaan, tetapi ketika berhadapan kepada orang tua, manusia harus merendahkan sayapnya, merunduk patuh sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya.

    Memohon rahmat Allah untuk orang tua

    Ayat tersebut dilanjutkan dengan firman Allah Swt: “dan ucapkanlah: “wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Al-Isra’: 24). Penyebutan kondisi masa kecil yang mengindikasikan ketidakberdayaan dan selalu membutuhkan perlindungan dari kedua orang tua mengingatkan kepada kita atas kondisi yang sama yang akan dialami orang tua kelak tatkala menginjak lanjut usia yang selalu membutuhkan kasih sayang dan perawatan serupa.

    Maka hendaklah seorang anak memohon kepada Allah agar selalu memberi belaskasih kepada mereka berdua sebagai pengakuan atas kekurangan dan ketidakmampuan dalam memberi kasihsayang secara sempurna.  Karna hanya Allahlah yang bisa memberi kasihsayang atau perawatan yang sangat sempurna, dan hanya Dialah yang mampu membalas semua kebaikan dengan sempurna yang tidak mungkin bagi anak untuk melakukannya. Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ” Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Belum! Walaupun secuil”.

    Tetap bersilaturrahim walaupun orang tua tidak seiman

    Walaupun kedua orang tua tidak seiman dengan anak, kewajiban untuk tetap menyambung silaturrahim kepada mereka tidaklah batal. Bahkan Allah Swt. memerintahkan manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada orang tua mereka yang musyrik tersebut, asalkan mereka tidak mengajukan permintaan yang melanggar kaidah halal-haram dan permintaan yang menyebabkan batalnya keimanan seorang hamba kepada Allah Swt: “dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya”. (Al-Ankabut: 8).

    Kebaikan dan pengorbanan orang tua bukan hanya berupa benda-benda dalam bentuk materil tetapi juga berupa jiwa, raga dan kekuatan yang tak terhitung tanpa berkeluh kesah. Dengan fitrah saja sudah cukup bagi orang tua untuk mendorong mereka bersikap demikian, tanpa iming-iming balasan dari sang anak. Adapun anak harus selalu diingatkan akan jasa-jasa orang yang selama ini telah mengerahkan segenap jiwa dan raganya dalam membesarkan dan mendidiknya. Apalagi selama mengandung, seorang ibu mengalami banyak beban berat sebagaimana firman Allah Swt. “dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.” (Luqman : 14). Alangkah beratnya penderitaan yang dialami seorang ibu, baik ketika hamil, melahirkan dan juga ketika dalam masa-masa perawatan bayinya. Tidak ada yang bisa merasakan payahnya semua itu kecuali seorang ibu.

    Begitu sengitnya pengorbanan yang dilakukan orang tua demi anak, bahkan Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah pernah ditanya tentang masalah sikapnya terhadap anak, maka beliau menjawab: “Anak adalah buah hati, belahan jiwa dan tulang punggung. Kita rela terhina bagaikan bumi rela diinjak demi mereka dan bagaikan langit yang siap menaungi hidup mereka dan kita siap menjadi senjata pelindung bagi mereka dalam menghadapi marabahaya. Jika mereka minta sesuatu kabulkanlah dan bila marah cari sesuatu yang menyenangkan hatinya, mereka akan membalas kasih sayangmu dan berterimakasih atas setiap pemberianmu. Janganlah kamu merasa berat dan terbebani oleh anak kalian, walau mereka mengacuhkan hidupmu dan menghendaki kematianmu serta segan mendekatimu.”

    Di riwayat lain dari Jabir bin Abdullah diceritakan bahwa seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai harta dan anak, dan bapak saya menginginkan hartaku. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu”. (Muttafaq ‘alaih). Maka tidak ada alasan apapun bagi anak untuk tidak bersilaturrahim serta berbakti kepada orang tuanya, bahkan walaupun jika orang tua mereka adalah non-muslim.

    Silaturrahim adalah bentuk bakti pada orang tua

    Dari pembahasan singkat tersebut kita akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan sederhana bahwa apabila orang tua menempatkan anak ke dalam kedudukan yang sangat utama dalam hidupnya, yang bahkan melebihi dari hidupnya sendiri, maka sudah seyogyanya anak menempatkan orang tua pada posisi yang sama. Menghormati, menghargai dan memuliakan mereka sebagai pengakuan atas kebaikan yang sudah orang tua mereka berikan. Tetap melestarikan kewajiban silaturrahim kepada mereka berdua sesuai ketentuan Kitabullah. Juga mengutamakan mereka sebelum orang lain dalam bersilaturrahim. Serta tidak lupa juga untuk mendoakan mereka. Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa salah satu doa yang pasti dikabulkan adalah doa orang tua kepada anaknya dan sebaliknya.

    Menjaga dan memelihara orang tua yang sudah lanjut usia juga merupakan amal ibadah yang sangat utama. Bahkan dalam suatu riwayat juga diceritakan bahwa Rasulullah Saw. mengatakan bahwa menjaga orang tua juga termasuk jihad yang tidak kalah tinggi nilainya dengan jihad berperang mengangkat senjata. Betapa indahnya bila seluruh umat senantiasa menempatkan orang tua mereka dalam posisi utama dalam silaturrahim.