Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Loper Cilik

    Loper Cilik

    Loper Cilik
    Rate this post

    Loper Cilik

     

     

    Setiap hari Minggu aku selalu membantu ibuku mengantarkan koran ke rumah pelanggan yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Ya, aku adalah anak seorang loper koran di kotaku. Usiaku kini genap 12 tahun. Ayahku sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Setiap hari Minggu aku selalu membantu Ibu mengantar koran ke pelanggan koran di sekitar rumahku. Dari kecil orangtuaku mengajarkan aku untuk selalu bekerja keras dan tidak pernah putus asa.

     

    Awalnya, aku malu dengan pekerjaan orangtuaku yang mengantarkan koran tiap pagi kepada pelanggan-pelanggannya. Tapi sekarang aku tahu, pekerjaan orangtuaku halal. Dan tidak merepotkan orang lain.

     

    “Rachma, tolong antarkan koran ini ke rumah Pak Hendro dan Pak Jaka ya” pinta Ibu kepadaku.
    “Baik Bu.”

     

    Rachma pun mengambil 2 buah koran dan sepedanya kemudian mengayuhnya dengan cepat menyusuri jalan setapak menuju rumah Pak Hendro dan Pak Jaka yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

     

    “Rachma, terimakasih ya. Bapak sudah menunggu koranmu hari ini. Bapak penasaran ada berita apa hari ini.” kata Pak Hendro dengan ramah.
    “Sama-sama Pak, maaf agak terlambat. Korannya datang agak siang. Jadi baru saya antarkan sekarang”.
    “Tidak apa-apa Rachma. Mari mampir dulu, nanti Bapak buatkan kamu es teh manis”.
    “Terimakasih Pak, masih ada koran yang harus saya antar ke rumah pelanggan lain. Pasti mereka sudah menunggu”.
    “Baiklah, hati-hati di jalan. Bersepeda di tepi ya.”
    “Siap Pak, sampai ketemu besok.” Kata Rachma sambil melambaikan tangan ke arah Pak Hendro.
    “Kini menuju rumah Pak Jaka dan ini adalah koran terakhir yang harus aku antar. Dan setelah itu aku bisa minum es teh manis buatan ibu yang segar.” batinku dalam hati.

     

    Beberapa saat kemudian tiba di rumah Pak Jaka.
    “Permisi Pak Jaka, korannya datang.”
    “Jam berapa ini!!! Koran baru datang! Ini koran sekarang atau koran kemarin?!” kata Pak Jaka marah-marah dengan muka yang merah padam.
    “Ma… maaf pak, korannya datang siang. Jadi baru saya antar sekarang” ujarku dengan suara gemetar dan wajah menunduk takut.
    “Bapak tidak mau ini terulang lagi. Lain kali antar korannya lebih awal lagi. Kalau datangnya begini saya rugi.”
    “Baik Pak, maafkan saya. Kalau korannya datang pagi pasti akan diantar pagi juga.”
    “Ya sudah, sebaiknya kamu pulang. Hari sangat panas. Hati-hati di jalan.” nasehat Pak Jaka.
    “Terimakasih, saya permisi Pak.”

     

    Di jalan, aku menangis sesenggukan sambil mengayuh sepeda miniku. Aku marah, takut dan juga menyesal karena aku tidak membela diri di depan Pak Jaka. Kenapa aku hanya bisa menunduk di depannya. Kenapa aku hanya bisa gemetar melihat wajahnya. Bodohnya aku. Dan semua bayangan Rachma tentang es teh manis yang segar pun hilang sudah.

     

    Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamar dan menangis tanpa menghiraukan teriakan Ibu memanggilku. Sepeda aku letakkan begitu saja di teras depan rumah.
    “Rachma, kamu kenapa? kok sepedanya tidak kamu masukkan?”
    “Mulai besok Rachma nggak mau lagi anterin koran. Rachma takut dimarahin lagi. Pokoknya Rachma ngga mau. Titik!” kata Rachma sambil menutup pintu dengan keras.
    Ibu bingung melihat tingkah Rachma yang aneh hari itu. Pelan-pelan ibu membujuk Rachma agar mau keluar kamar dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. “Rachma sayang, cerita ya sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa bantu Rachma” bujuk Ibu.
    rahma pun membuka pintu kamarnya, dan mulai bercerita sambil menangis sesenggukan.
    “Tadi Rachma dimarahin Bu sama Pak Jaka karena korannya datang siang. Rachma udah jelasin ke Pak Jaka kalau korannya emang datang siang. Tapi Pak Jaka tetep marah-marah. Rachma takut Bu, Rachma engga mau lagi nganterin koran ke Pak Jaka. Dia jahat! Rachma sebel sama dia” kata Rachma panjang lebar sambil menangis.
    “Sini sayang, dengar Ibu ya. Orang hidup itu memang banyak cobaannya. Mungkin sekarang Rachma sedang diberi cobaan oleh Allah. Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan manusianya. Setiap orang juga mempunyai sifat masing-masing. Ada yang sabar, ada juga yang pemarah. Sekarang Rachma sudah harus belajar memahami sifat orang, Rachma juga harus sabar ya. Mungkin Pak Jaka sedang banyak pikiran, jadi gampang marah. Nah, sekarang Rachma tidak boleh ngambek lagi. Senyum dulu dong bidadari Ibu yang cantik. Engga boleh cemberut lagi.”
    Rachma pun tersenyum setelah mendengar nasehat dari Ibunya.
    “Ok Bu, Rachma janji dech enggak ngambek lagi enggak nangis lagi. Rachma juga janji mau bantu Ibu buat antar koran ke pelanggan Ibu” janiji Rachma sambil tersenyum manis dan mengusap sisa airmatanya.
    Ibu pun tersenyum sambil mengusap lembut rambut Rachma sembari memeluknya hangat.

     

    Sekarang Rachma tahu betapa susahnya mencari uang dan sekarang lebih menghargai pekerjaan setiap orang. Dia juga semakin menghargai kerja keras yang dilakukan oleh Ibunya untuk membesarkan dirinya, ternyata banyak rintangan yang harus dilalui untuk mendapat sesuap nasi. Jadi jangan sampai kita menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting. Satu lagi, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain.

     

    “Maafkan Rachma ya Bu, Rachma janji akan selalu membantu dan menjaga Ibu sampai kapanpun. Rachma sayang Ibu.” kata Rachma dalam hati saat memeluk Ibunya sambil meneteskan air mata.

     

    Cerpen Karangan: Nurvita Rachmadania Winanti

    [islamic-sources/cerpenmu]