Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Mencari Menantu dan Memilih Pasangan

    Mencari Menantu dan Memilih Pasangan

    • Oleh: Amina Al Sadr*
    • Islamindonesia.co.id
    Mencari Menantu dan Memilih Pasangan
    1 (20%) 1 vote[s]
    Begitu melihat ibunya sedang enak hati, Ahmad segera duduk di dekatnya dan berkata, “Ibu, saya punya ide yang bakal membawa banyak sukacita untuk ibu.”

    Dengan penuh semangat ibunya menjawab, “Anakku, semua yang kau beri membuat aku bahagia. Apa yang kau pikirkan?”

    “Ibu tahu,” katanya, “Aku sudah selesaikan studi dan mampu membangun sebuah keluarga. Aku memutuskan ingin menikah.”

    Seketika senyum merekah di wajah ibunya. “Ini berita sangat baik! Aku sudah lama menunggu hari seperti itu,” katanya. “Betapa sering aku berharap kau akan menikah dengan salah satu sepupumu. Segala puji bagi Allah karena kau membuat keputusan ini sebelum terlambat!”

    Ahmad buru-buru menyela. “Sebelum terlambat? Maksud Ibu?”

    “Sepupumu Maryam kini sudah cukup umur untuk menikah. Setiap hari ada orang mengunjungi rumahnya, melamarnya.”

    Ahmad terdiam sejenak dan berkata, “Lalu kenapa kita harus mempedulikan pelamar-pelamarnya?”

    “Apa maksudmu, Ahmad?” tanya ibunya. Nadanya kecewa.

    “Sepupuku Maryam tidak cocok untukku.”

    “Kenapa tidak? Tidak begitu anakku, kau keliru. Aku akan pergi dan mencari tahu peluang pertunanganmu besok,” kata ibunya.

    Ahmad mengerutkan kening dan berkata, “Tidak, ibu. Tolong jangan lakukan hal itu. Saya tidak akan menyetujui ini.”

    “Saat dia jadi tunanganmu, kau akan jatuh cinta padanya. Buang ketakutanmu. Maryam cantik dan dia punya pekerjaan terhormat.”

    Ahmad tidak setuju, “Tidak. Ini tidak menarik perhatianku.”

    Ibu Ahmad berpikir sejenak dan berkata, “Kalau kau tak suka Maryam, masih ada anak kakakku. Dia secantik Maryam dan mewarisi banyak kekayaan ayahnya.”

    “Ibu, tolong pikirkan hal ini dari sudut pandangku. Aku perlu seseorang untuk berbagi hidup, bukan mitra bisnis.”

    Ibunya marah dan bertanya tajam, “Apa yang salah dengan keponakanku? Kenapa dia tak cukup baik untuk menjadi istrimu?”

    Ahmad menjawab, “Dia bukan Muslim. Saya ingin istri Muslim. ”

    Ibu tertawa sinis dan berkata, “Kau berbicara seolah-olah kau malaikat yang hanya bisa menikah dengan malaikat lain. Kenapa kau tak menghentikan omong kosong seperti itu, anakku? Kau ini seorang pemuda berpendidikan, kau harus mengubur cita-cita mustahilmu itu.”

    “Aku bukan malaikat dan tidak mencari orang suci untuk dijadikan istri. Aku sangat percaya seorang Muslim pasti mencari seorang gadis yang juga percaya pada Islam,” jawab Ahmad.

    Separuh bergumam, Ibu menimpali, “Aku tidak tahu apa ada gadis yang seperti kau cita-citakan itu.”

    Ahmad, dengan sepenuh keyakinan, menawarkan kepastian.  “Aku tahu seseorang yang sesuai dengan harapanku.”

    Terkejut oleh pengakuan ini, ibu bertanya, “Kau kenal seseorang? Siapa dia? Sejak kapan kau mulai dekat dengan gadis-gadis?”

    Ahmad menjawab dengan cepat, “Maksudku, aku tak mengenalnha secara pribadi, tapi aku tahu dia.”

    “Oh begitu,” kata ibu Ahmad. “Kau sudah memilih calon istrimu. Siapa gadis beruntung ini?”

    “Ibu, tolong pahami. Kuharap Ibu berpihak padaku dan membujuk ayah untuk menyetujui pilihanku.”

    Permohonan ini membuat ibu Ahmad melunak, dan dia berkata, “Aku bersumpah kalau aku hanya memikirkan kebahagiaanmu. Aku akan membantumu. Katakan padaku, apa kualifikasi gadis ini?”

    Ahmad mengatakan, “Tak ada yang lebih penting selain aspek agama. Ia Muslim, dan memakai jilbab lengkap.”

    “Oh, berarti dia tidak berpendidikan!”

    “Tidak, dia mengecap pendidikan tinggi dan pengetahuan agamanya luas.”

    Ibunya bertanya lagi, “Ia dari keluarga seperti apa? Apakah aku mengenal mereka? ”

    “Dia dari keluarga yang terkenal dengan kesalehannya,” kata Ahmad. “Apa gunanya sebuah keluarga terkenal jika seorang gadis tak bermoral Islam?” Ahmad diam-diam memohon Allah memberinya kesabaran untuk menghadapi penentangan ibunya. “Sebuah pernikahan yang bahagia tidak tergantung pada ketenaran atau kekayaan. Kebahagiaan berasal dari kedekatan spiritual dan saling pengertian.”

    Dengan nada berbeda dari sebelumnya, ibu Ahmad bertanya, “Apa pekerjaan ayahnya?”

    “Dia punya toko kelontong,” jawab Ahmad.

    “Sebuah toko kelontong?!” serunya.

    “Iya. Ayahnya pemilik toko kelontong dan orang yang sangat jujur. Dia kepala keluarga bahagia dan berbudi luhur.”

    Ibu Ahmad memotong, “Kamu anak orang kaya; dengan gelar sarjana, kau ingin menikahi putri seorang pemilik toko kelontong? Memalukan! Lalu kau minta aku membantumu! Jika aku sudah memilih putri pedagang perhiasan, apa yang akan kau rasakan?”

    Ibunya meneruskan, “Ada perbedaan besar antara perhiasan dan toko kelontong.”

    “Satu-satunya perbedaan terletak pada substansi. Yang pertama menjual cincin dan yang terakhir menjual gula. Keduanya sama-sama bekerja untuk mendapatkan uang, “jawab Ahmad.

    Ibunya seperti larut dalam penyesalan. “Bayangkan reaksi ayahmu jika tahu hal ini!”

    Dengan tegas Ahmad berkata, “Ini keinginanku, Ibu membantuku atau tidak, aku akan melakukannya sendiri.”

    Ahmad berbicara begitu serius. Ibunya tertawa mengejek dan berkata, “Apa ini perlu upaya besar? Dengan langkah terkecil apapun yang kau ambil, mereka akan menyerahkan putri mereka padamu dengan senang hati.”

    Ahmad menggeleng ragu dan berkata, “Tunggu dan lihat saja!”

    “Sungguh aneh! Aku tengah menyerahkan anakku pada seorang perempuan anak pemilik toko kelontong? Apa keindahan gadis ini hingga membuatmu buta terhadap pertimbangan lain?”

    “Aku belum pernah melihatnya,” kata Ahmad.

    “Lalu bagaimana kau tahu ia tidak jelek?” tanya ibunya.

    “Aku tahu ia tidak jelek. Sejauh perilakunya baik, kecantikan fisik tidaklah begitu penting.”

    “Oh Ahmad, aku sangat takjub.”

    Esok pagi, Ahmad menyampaikan niatnya pada ayah. Meski Ayahnya marah, Ahmad tetap bertekad  menikahi wanita pilihannya. Akhirnya ayah setuju. Ahmad meminta ibunya mengunjungi rumah sang gadis untuk melamarnya.

    * * *

    Sore hari, bersama putri sulung, ibu Ahmad pergi ke rumah sang gadis. Di tengah jalan, kakak Ahmad bertanya pada ibunya siapa nama gadis itu. Ibunya menjawab, “Aku lupa bertanya padanya!”

    Mereka mengetuk pintu rumah dan terkejut kala seorang gadis muda nan cantik membuka pintu. Gadis itu terkejut melihat dua wanita asing, tapi ia mengajak mereka masuk ke ruang tamu dan memberitahu ibunya kalau ada tamu. Ibunya menyambut para tamu dan menanyakan alasan kunjungan mereka.

    Setelah bertukar salam, ibu Ahmad bertanya siapa gadis muda yang membuka pintu tadi.

    “Itu anak saya, Zaynab,” jawabnya.

    “Apakah Anda punya anak perempuan lain?” tanya ibu Ahmad.

    “Tidak, ia satu-satunya anak saya,” jawab ibu itu.

    Ibu dan adik Ahmad merasa senang lepas tahu gadis cantik itu bernama Zainab. Tiba-tiba Zaynab masuk dengan membawa senampan kopi. Dia lalu duduk di samping adik Ahmad dan dalam sekejap mereka terlibat dalam pembicaraan. Lalu ia mengumpulkan cangkir kopi kosong dan meninggalkan ruangan.

    Ibu Ahmad mulai angkat bicara, “Kami datang dengan tujuan mulia. Kami akan senang menjadikan anak Anda, Zaynab, sebagai istri anak saya.” Dia kemudian memuji kecerdasan, ketampanan dan kekayaan Ahamd. Tapi ia lupa menyebutkan keislaman Ahmad, yang ternyata begitu penting bagi ibu Zainab.

    Karena itu, ibu Ahmad tertegun ketika ibu Zainab menggeleng pelan dan berkata, “Saya sangat menyesal. Sulit bagi saya untuk menyetujui lamaran ini; pada kenyataannya, itu tidak mungkin.

    Dengan sangat terkejut, ibu Ahmad bertanya, “Apa yang tidak mungkin?”

    “Anak saya masih muda. Saya yakin anak Anda dapat menemukan gadis yang cocok untuknya.”

    Ibu Ahmad protes, “Tapi Zainab sangat cocok untuknya! Apakah Anda bisa menjelaskan kenapa Anda menolak?”

    “Saya hanya punya satu anak perempuan, dan saya harus yakin atas kehidupan pernikahannya.”

    “Tapi Ahmad sangat baik secara finansial,” kata ibunya. “Dia seorang insinyur!”

    Ibu Zainab menjawab, “Zainab tidak akan menikah dengan seseorang karena ia kaya atau bergelar sarjana.”

    Ibu Ahmad kehabisan kata. “Lalu apa yang akan menjamin kebahagiaan dan persetujuan anak Anda?”

    “Ketika seorang ibu mencari seorang istri untuk anaknya, ia harus menyebutkan perilaku anaknya,” kata ibu Zainab. “Putri saya seorang Muslim yang komitmen. Dia ingin seorang suami Muslim. Dan ingat…putri saya memakai jilbab, dan anak Anda mungkin ingin istri modern, yang berpakaian seperti ibu dan adiknya.”

    Ibu Ahmad tertawa lega dan berkata, “Anda benar. Saya tidak sebutkan perilakunya. Saya tadinya berpikir bahwa aspek-aspek lain karakternya lebih penting. Anak saya seorang Muslim setia. Pada kenyataannya, ia mencari istri yang berjilbab. Yakinlah bahwa penampilan saya ini (tanpa hijab) tidak sesuai dengan selera Ahmad.”

    Ibu Zainab juga tersenyum dan berkata, “Harusnya Anda mengatakan sebelumnya pada saya! Tolong beri kami alamat Anda hingga kami bisa mengunjungi Anda dan mempelajari lebih lanjut tentang anak Anda.”

    “Kami harap Anda bisa datang awal pekan depan,” kata ibu Ahmad.

    Di rumah, Ahmad menanti ibunya dengan cemas. Segera setelah ibu dan kakaknya kembali ke rumah ia bertanya, “Jadi  ibu, bagaimana kunjungan Anda?”

    “Sangat aneh,” jawab ibunya.

    “Apa yang aneh?” tanyanya. “Apakah sesuatu yang buruk terjadi?”

    “Oh tidak, Ahmad. Tapi aku tidak pernah menduga hal seperti itu,” jawabnya.

    “Jadi mereka menolak?” tanya ayah Ahmad. “Bagaimana mungkin seorang putri pemilik toko kelontong menolak seorang pemuda kaya?”

    Ibu Ahmad beralih ke suaminya dan berkata, “Pada kenyataannya, mereka menolak …”

    “Apa! Mereka menolak?” sela ayah.

    “Aku berbicara tentang kualitas bagus Ahmad tapi aku tak menyebutkan moral Islamnya. Penampilanku juga membuat ia menolak lamaran karena putrinya seorang Muslim yang sangat taat. Ketika aku menyadari keberatan mereka, aku katakan bahwa kau [Ahmad] seorang Muslim sejati juga. Aku jadi sangat mengormati mereka. Mereka tidak peduli pada status atau kekayaan. ”

    “Apa kau melihat gadis itu?” tanya ayah Ahmad.

    “Ya, ia cantik dan sopan. Ahmad pria beruntung karena sudah memilihnya.”

    Minggu berikutnya, keluarga Zainab mengunjungi rumah Ahmad. Rencana pernikahan pun dirancang.

    Ahmad dan Zainab segera menikah dan meraih begitu banyak sukacita.

    * Amina Haydar Al Sadr, dikenal sebagai Bint Al Huda, adalah guru dan aktivis politik yang dihukum mati oleh rezim Saddam bersama saudaranya, Mohammad Baqir Al Sadr pada tahun 1980.

    Terlahir tahun 1938 di Kazimiyah, Amina termasuk salah satu perempuan yang mampu membangkitkan kesadaran Islam di kalangan perempuan Irak.