Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Meredam Kemelut di Pusaran Sanksi

    Meredam Kemelut di Pusaran Sanksi

    Meredam Kemelut di Pusaran Sanksi
    5 (100%) 1 vote[s]

    Kapal terbang kertas berbentuk dollar dan euro berhamburan menembus angkasanan biru. Di kiri atas tertulis “Perang mata uang !” Inilah bunyi headline dan cover story sebuah situs majalah ekonomi Iran, Eghtesad Iran, Rabu (5/12).

    Di Iran, kurs dollar dan euro atas rial hingga kini masih membumbung tinggi. Pada hari Kamis (6/12) kurs dollar bertengger di level 29.300 rial, sedangkan euro senilai 39.000 rial. Bahkan puncaknya, kurs dollar sempat menembus 37.000 rial dalam beberapa pekan lalu.

    Kepala BPK Iran, Mostafa Pour-Mohammadi menyatakan lonjakan kurs valuta asing sejak awal Musim Panas 1391 Hs (21 Juni 2012) telah mencapai 2,3 kali lipat dari sebelumnya. Padahal, sekitar enam bulan lalu tidak bergeser terlampau jauh dari harga resmi yang dipatok pemerintah Iran. Ketika itu kurs dollar ditetapkan sebesar 12.260 rial, dan euro senilai 15.110 rial.

    Para pengamat menilai kenaikan drastis itu dipicu oleh sanksi AS dan Uni Eropa terhadap sektor finansial Iran.Terutama, setelah para menteri luar negeri Uni Eropa (UE) menyetujui putaran baru sanksi terhadap Iran atas program energi nuklirnya pada Senin (15/10). Sekitar sepekan sebelum sanksi ini meluncur, Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengingatkandampak eskalasi sanksi Barat terhadap mata pencaharian rakyat Iran.

    Imbas sanksi yang paling terasa bagi orang Iran adalah meroketnya harga barang-barang impor. “Akibat sanksi, saya tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan life style. Kini, barang-barang branded tidak terjangkau lagi,” kata seorang anak muda trendy yang saya temui di busway Valiasr, dekat bilangan Mirdamad Teheran. Meski demikian, harga-harga komoditas pokok produksi lokal terlihat relatif stabil. Ada kenaikan kecil, tapi tidak terlampau besar dan masih wajar.

    Tampaknya, hambatan mentransfer uang melalui bank akibat sanksi AS dan Uni Eropa telah mempersulit berbagai komoditas pokok termasuk pasokan obat-obatan tertentu ke Iran,sehingga mengancam kehidupan jutaan pasien yang menderita penyakit khusus seperti, talasemia, hemofilia, hepatitis, multiple sclerosis, diabetes dan banyak lainnya.

    Nuklir, Sebuah Alasan

    Gelombang deras sanksi internasional terhadap Teheran dilancarkan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikatdemi menghentikan program nuklir Iran yang dicurigai mengarah pada tujuan militer. Awal Desember lalu, Menlu AS menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman serius bagi negara tetangga Tehran dan dunia.

    Mark Fitzpatrick, Direktur Program Non-Proliferasi dan Perlucutan pada The International Institute for Strategic Studies (IISS) mengungkapkan bahwa pabrik Fordo Iran memproduksi uranium yang diperkaya melebihi yang ditetapkan. Mantan deputi asisten menteri Luar negeri AS itu menegaskan urgensi tekanan diplomatik lebih keras untuk memaksaTehran menghentikan program nuklirnya.

    Sementara itu, Iran membantah berbagai tuduhan Barat tersebut. Sebagai penandatangan berkomitmen untuk traktat Non-Proliferasi nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran merasa berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

    Iran mengakui telah melakukan pengayaan uranium hingga 20 persen demi memenuhi kebutuhan reaktor riset Teheran. Tindakan itu diambil Iran setelah negara-negara Barat dengan berbagai alasan enggan memberikannya kepada Iran. Merasa ditekan terus-menerus, pemerintah Teheran akhirnya mengembangkan sendiri pengayaan uranium hingga dua puluh persen untuk memenuhi kebutuhan reaktor riset Teheran. Selama ini reaktor riset tersebut digunakan untuk memproduksi obat-obatan seperti radio isotop bagi pengobatan kanker dan penyakit kronis lainnya.

    Diserbu tudingan bertubi-tubi, Teheran balik menyerang Washington mempolitisasi isu nuklir Iran demi melanggengkan hegemoni Amerika di dunia. Tidak hanya itu, Iran juga mendesak Washington menghentikan pengembangan program senjata nuklirnya, sekaligus mengakhiri dukungan terhadap Israel yang memproduksi hulu ledak nuklir, yang dilansir Russia Today Rabu (5/12) melebihi 400 buah. Dua tahun lalu Iran menegaskan komitmennya terhadap traktat NPT dengan menggelar konferensi internasional pertama “Energi Nuklir untuk Semua, Senjata Nuklir Tidak untuk Siapapun” pada 17 dan 18 April 2010.

    Pada tanggal 22 Februari lalu, Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei mengeluarkan fatwa bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan “dosa besar” dari pandangan logika dan agama.

    “Sekarang, musuh kita memperluas sanksi. Sanksi bukan masalah kemarin atau hari ini. Sanksi telah ada sejak awal (kemenangan Revolusi Islam), mereka mengintensifkan sanksi, yang tidak efektif. Mereka meningkatkannya lagi, ini juga tidak akan berhasil, “kata Ayatullah Khamenei dalam pidatonya di hadapan puluhan ribu warga di Provinsi Khorasan Utara Rabu (10/10).

    Orang nomor satu di Iran itu memandang AS dan sejumlah negara Eropa berusaha menghubungkan sanksi dengan program energi nuklir Iran.”Tapi alasan utama di balik sanksi anti-Iran bukan masalah nuklir, melainkan perlawanan bangsa Iran terhadap hegemoni global, ” tegas sang Ayatullah.

    Meredam Kemelut Sanksi

    Selama lebih dari tiga dekade sejak kemenangan revolusi Islam tahun 1979 setiap tahunnya AS menggelontorkan dana besar-besaran untuk melumpuhkan pemerintahan Iran. Berbagai cara ditempuh Washington mulai dari operasi militer Eagle Claw, meminjam tangan Saddam Hussein hingga mendanai dan mempersenjatai oposisi semacam MKO. Semuanya kandas membentur dinding. Kini, AS lebih fokus pada embargo ekonomi.

    Menlu AS menyebut sanksi sebagai cara paling efektif bagi AS dan Eropa untuk menekan Iran di tengah panasnya provokasi agresi militer atas Iran yang digulirkan Netanyahu.

    “Eskalasi sanksi anti-Iran bukti nyata keberhasilan kerjasama Washington dan Uni Eropa di luar koridor NATO, “tutur Clinton di The Brookings Institution awal Desember lalu.

    Ditinjau dari utilitas relatif (relative utility), AS menilai sanksi sebagai sarana yang paling efektif dibandingkan cara lain, bahkan melampaui pendekatan militer yang begitu ambisius diteriakkan perdana menteri Israel. Sanksi akan melemahkan dukungan rakyat terhadap pemerintah Iran. Bersama lemahnya identitas kebangsaan dan kenegaraan akibat rongrongan dampak sanksi, kekuatan luar akan mendukung penuh oposisi dalam negeri untuk menggulingkan rezim. Tapi, Iran punya strategi jitu menghadapinya.

    Pertama, eskalasi embargo ekonomi belakangan ini telah diprediksi jauh-jauh hari oleh Ayatullah Khamenei. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran iniselama empat tahun berturut-turuttelah menetapkan kebijakan “Siaga Ekonomi Nasional” untuk menghadapi tsunami embargo tersebut, antara lain: “Tahun Reformasi Pola Konsumsi”, “Tahun Kerja Ekstra, “Tahun Jihad Ekonomi”, dan tahun ini dicanangkan sebagai “Tahun Produksi Nasional: Mendukung Kerja dan Modal Iran”.

    Kedua, pemerintah Iran berupaya menjadikan sanksi sebagai peluanguntuk melepaskan ketergantungan terhadap pendapatan minyak mentah. Ayatullah Khamenei mengungkapkan, “..ketergantungan ini merupakan warisan ratusan tahun ekonomi kita. Dan sanksi dari sisi ini harus dijadikan peluang saat ini. Kita harus mencari pengganti minyak sebagai sumber aktivitas ekonomis…”

    Tampaknya, program ini bukan sekedar isapan jempol belaka. Iran terus-menerus mengurangi ketergantungannya terhadap minyak dengan menggenjot produksi non minyak. Data terbaru yang dirilis oleh petugas bea cukai Iran menunjukkan total volume perdagangan luar negeri negara ini selama delapan bulan pertama tahun kalender Iran saat ini (mulai 20 Maret 2012) mencapai $65.326 miliar.

    Ketiga, secara sosiologis masyarakat Iran adalah kaum Bazaari, masyarakat pedagang, yang punya seribu cara untuk menciptakan dan memanfaatkan peluang, bahkan di pusaran sanksi sekalipun. Ketika sanksi membatasi akses transaksi perbankan internasional, Iran menggunakan emas, barter dan optimalisasi mata uang lokal sebagai alat transaksi perdagangan antarnegara. Reuters, Kamis (29/11) melaporkan Iran menggunakan emas dalam berbagai transaksi internasional termasuk dengan tetangganya Turki. Sebelumnya, cara serupa dilakukan Iran dengan India dan sejumlah negara lain. Dengan strategi ini Iran sekaligus melancarkan perlawanan terhadap dominasi dollar dan euro sebagai mata uang standar internasional.

    Sejatinya, semakin deras gelombang sanksi menerjang Iran, kian teguh Teheran memperkokoh program nuklirnya. Bagi pemerintah Teheran dan rakyat Iran kebanyakan, program nuklir Iran bagian dari martabat bangsa. “Ini harga mati” yang tidak bisa ditawar meski harus ditebus dengan sebuah resiko yang tidak kecil. *) Dimuat di majalah mingguan Sindo edisi 41,13-19 Desember 2012.

    Oleh: Purkon Hidayat

    http://www.ahlulbaitindonesia.org