Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Penyimpangan-penyimpangan pada Mystisme Dalam Pandangan Quran dan Hadis

    Penyimpangan-penyimpangan pada Mystisme Dalam Pandangan Quran dan Hadis

    • Prof. Dr. Seyed Mofid Hosseini Kaohsari
    • icas.ac.id
    Rate this post

    Untuk memahami Mistisisme Islam (disebut Tasawuf atau irfan) lebih mendalam, kita membutuhkan dua hal: pengetahuan tentang substansi Mistisisme  Islam yang asli dan kedua pengetahuan tentang penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam aliran-aliran mistisisme,  baik yang terjadi di masa lalu ataupun  di era modern saat ini. Mistisisme Islam yang murni tentulah bersih dari segala jenis penyimpangan. Namun dalam kesempatan ini kita akan lebih banyak menjelaskan tentang penyimpangan dan bagaimana penyimpangan  tersebut terjadi terjadi dalam mistisisme,  sehingga dengan hal tersebut kita dapat memahami mistisisme Islam yang sejati.

    Penyimpangan tersebut terjadi baik dalam dunia mistisisme  Islam itu sendiri atau variasi mistisisme sebenarnya bukanlah dari Islam laysa minal Islam dan itu yang patut kita perhatikan dengan seksama. Selain itu juga ada kalanya  kesalahfahaman itu terjadi pemahaman kaum muslimin sendiri terhadap mistisisme dengan mengikuti  aktifitas-aktifitas mistisisme  yang menyimpang.

    Sebagai contoh atas hal ini adalah agama. Ada agama yang menyimpang ada agama yang benar, untuk melakukan indentifikasi terhadap kebenaran agama kadang kita harus menganalisa agama tersebut melalui dasar atau akar dari agama tersebut sendiri, adakalanya terhadap   penyimpangan interpretasi yang dilakukan sekalipun agama tersebut adalah agama yang benar (Haq) , sehingga muncul hal-hal yangmenyebabkan kesalahpahaman orang terhadap agama tersebut. Kedua jenis analisa ini menuntut sebuah pengetahuan/kajian tentang penyimpangan-penyimpangan dalam agama (patologi agama).

    Pendekatan yang saya lakukan dalam makalah ini adalah atas dasar usaha  ilmiah  untuk meneliti atau mengidentifikasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam mistisisme Islam, (irfan atau Tasawuf)  secara ilmiah, logis dan merujuk kepada wahyu. Saya tidak memiliki niat untuk menjatuhkan kelompok, aliran, atau trend manapun. Kami juga bukan kaum ‘Takfiri’ yang sering menghujat aliran-aliran yang berbeda. Yang akan kami lakukan adalah  melakukan telaah ilmiah seraya memberikan kritik ilmiah atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi  dalam Mistisisme secara umum dan Mistisime Islam Islam secara khusus.

    Ada sebagian kelompok yang langsung memvonis Mistisisme dan segala jenisnya sebagai aliran sesat, hanya karena menyimak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh oknum tertentu. Kelompok ini langsung bangkit untuk memerangi seluruh aliran mistisisme. Padahal mistisisme yang hakiki adalah  adalah kedudukan ruhaniah  (maqam) paling mulia yang mungkin dicapai oleh seorang manusia. Mistisisme hakiki identik dengan makrifatullah, kedekatan (qurb) dengan Allah. Mistisisme  adalah dimensi esoteris (batin) dari Islam itu sendiri,  bersumber dari al-Quran, sunnah Rasulullah saw serta para imam yang suci.

    Jadi kritik atas mistisisme bukanlah usaha menolak substansi mistisisme sebagaimana pembelaan atas mistisisme juga tidak berarti bahwa seluruh aliran mistisisme itu valid. Jadi mungkin dapat dipetakan dua kelompok yang saling berbeda posisi; pertama kelompok yang memusuhi mistisisme secara total dan kedua yang membela mistisisme secara total.

    Jenis-jenis Mistisisme Menyimpang

    Mistisisme  yang ada di dunia memiliki aliran dan bentuk yang bervariasi dan juga pada saat yang sama memberikan jalan bagi pelbagai penyimpangan. Saya ingin menyebutkan sebagian penyimpangan-penyimpangan tersebut  dan aliran tertentu akan dijelaskan secara terperinci.  Tentu saja tipe –tipe yang menyimpang ini tidak layak disebut dengan mistisisme karena  mistisisme adalah makrifatullah,  kita bisa menyebutnya dengan pseudo mistisisme; yaitu mistisisme yang keliru. Di makalah ini tipe-tipe  yang menyimpang tetap disebut mistisisme karena sebagian orang tetap menganggapnya sebagai  mistisisme

    Mistisisme tanpa Tuhan

    Hal yang fundamental dalam mistisisme atau spiritualis adalah keyakinan tentang Tuhan karena menurut kami bahwa esensi mistisisme adalah keyakinan terhadap Tuhan dan pengabdian atau penyembahan terhadap Tuhan.  Aliran yang menyebut dirinya sebagai mistisisme  tapi tidak memiliki keyakinan terhadap Tuhan adalah mistisisme yang dusta. Masuk pada kategori ini juga Mistisisme yang meskipun meyakini Tuhan tapi dalam perspektif yang salah. Kelompok spiritual atau mazhab mistisisme yang telah kehilangan iman terhadap Tuhan berarti telah kehilangan fondasinya atau justifikasinya.

    Mistisisme Natural  (Thabi’i)

    Salah satu aliran Mistisisme tanpa Tuhan adalah Mistisisme Thabi’i,  bagi kelompok ini alam adalah pengganti bagi Tuhan. Tujuan final yang sangat mereka cintai dan dambakan adalah alam itu sendiri. Mereka menyenandung puja-pujian untuk alam. Mereka menyakini jiwa mereka sangat terikat dengan alam  dan akan fana dalam alam. Kelompok ini banyak berbicara tentang kesatuan dengan alam, kembali pada alam. Aliran seperti ini mungkin saja tidak ada di dunia Timur, tapi di Barat kelompok-kelompok ini berkembang dengan pesat  yang kadang-kadang juga membawa pengaruh pada timur, seperti yang tampak dalam syair-syair, film dan novel-novel.

    Munculnya kelompok-kelompok atau aliran seperti ini untuk menggambarkan tentang hasrat terdalam manusia yaitu haus akan spiritual. Tapi sayangnya kadang-kadang mereka tidak mempedulikan apakah air yang akan direguk itu air yang kotor atau air bersih yang bersumber dari mata air pengetahuan yang benar.

    Mistisisme Pantheisme

    Yaitu Misitisisme yang tidak memisahkan antara Tuhan dan Makhluk. Alam adalah tunggal, yang dalam satu perspektif (i’tibar) adalah Tuhan dan dalam perspektif lain (i’tibar) lain adalah makhluk. Kadang-kadang faham ini juga disebut dengan Monism. Aliran ini mengatakan seluruh alam adalah Tuhan, keduanya adalah satu. Alam = Tuhan dan Tuhan = Alam.  Menurut mereka, walaupun secara lahiriah  Alam itu bukan Tuhan tapi jika kalian menempuh perjalanan spiritual  dan mendalaminya  kalian akan memahami bahwa  Alam ini adalah Tuhan itu sendiri.  Sebagian Mistisisme Timur memiliki keyakinan seperti ini.

    Pantheisme memiliki berbagai variasi dan bentuk, tapi yang paling terkenal adalah yang mengatakan seperti tadi di atas; yaitu Alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah Alam. Dalam  sejarah filsafat barat orang yang pertama kali mencetuskan gagasan seperti ini adalah Spinoza. Sebagian menyamakan pantheisme dengan wahdatul wujud.

    Anda mungkin saja meyakini adanya kesatuan atau ketunggalan pada alam ini, begitu pula kaum sufi, bahkan juga mistisisme hakiki meyakini ketunggalan,  tapi keyakinan yang tidak memisahkan antara Tuhan dan Alam adalah tidak sesuai dengan Islam; karena dalam realitas ada Tuhan, ada makhluk  dan ada juga alam, sehingga distingsi itu tidak bisa ditolak.

    Mistisisme Non-Tauhid

    Mistisisme  yang meyakini Tuhanpun bisa sajamengalami penyimpangan, akibat dari apa yang mereka yakini tentang Tuhan sebenarnya bukanlah Tuhan yang sejati, seperti kaum Masehi yang meyakini tuhan namun Tuhan dalam arti Trinitas. Mistisisme Masehi memang telah melakukan langkah besar namun juga harus ada pembersihan yang besar dari keyakinan mereka.  Karena Trinitas itu mengandung unsur kemusyrikan. Kitapun yang  meyakini keesaan tuhan tetap perlu mencermati tentang keesaan ini, karena dalam ranah Teologi ada masalah antar Zat dan Sifat Tuhan. Bagaimana menisbatkan Sifat-sifat Tuhan yang banyak itu kepada Zat-Nya, yang tunggal, basith (tidak berkomposisi). Mereka terjebak dalam kesulitan menjelaskan Sifat dan Zat atau karena mungkin mereka jauh dari ajaran-ajaran Rasulullah dan para imam. Seperti yang terekam dalam polemik yang terjadi antara kaum Muktazilah dan Asy’ariyah. Sebagian meyakini adanya Qudama Sab’ah (tujuh yang qadim) yaitu  adanya sifat-sifat yang azali seperti Zat, tapi berada pada Zat (qaim bi Zat al-Haq). Anggapan ini dikritik karena akan meniscayakan Tuhan menjadi banyak.

    Berkat ajaran Rasulullah saw dan ahlubaitnya masalah sifat dan Zat ini menjadi terurai dengan jelas.  Karena ketunggalan Zat itu bisa selaras dengan sifat-sifat-Nya yang banyak. Seluruh sifat yang banyak ini  ada dalam satu  Zat yang tunggal  (Tauhid Sifati). Sifat identik dengan Zat. Sifat-sifat itu hanya berbeda mafhum-nya saja, misalnya Alim, berbeda dengan al-Qadir tapi di luar itu menyatu dalam Zat yang tunggal.

    Dalam Tauhid Ibadi, Mistisisme (irfan) seperti ini juga mungkin mengalami kemusykilan yaitu ketika dalam sayr wa suluk, seorang arif menjadi menduakan Tuhannya. Sampai saat ini ada kelompok sufi yang mendewa-dewakan seseorang, mursyid sehingga menggantikan posisi Tuhan. Mursyid adalah wajib ditaati, dikatakan, Qutb berada di atas syariat.  Menurut mereka, ketika berzikir maka wajah sang mursyid harus membayang dalam pikiran. Jika kita mencermati maka  penyelewengan dalam mistisisme seperti ini, yang pernah terjadi dan akan terjadi kemudian. dan kita harus banyak melakukan Muthala’ah dan penelitian untuk menyelesaikan kemuskilan-kemuskilan seperti ini.

    Mistisisme yang asli adalah Mistisisme yang menjadikan Tuhan sebagai porosnya.  Tuhan bukan hanya poros alam ini tapi juga poros tawajuh. Ketaatan dan ibadah hanya khusus untuk Tuhan, meskipun kita harus taat kepada Rasul tapi itu juga karena diperintahkan oleh AllahSWT. Setiap mubalig yang menyeru kepada Tuhan itu adalah Muwahid tapi yang menyeru pada dirinya itulah Fir’aun.

    Namun disini juga perlu diperhatikan, karena ada sebagian sufi yang hanya memperhatikan Tuhan saja dan mengabaikan Rasulullah SAW dan Imam-imam Ahlulbait. Bahkan sebagian menuduh mencintai para Imam dan Wali-wali Allah adalah musyrik. Mereka tidak memahami bahwa Islam memerintahkan agar kita mencari wasilah. Karena kita tidak bisa melakukan kontak langsung dengan Tuhan untuk mendapatkan taklif. Rasulullah dan para Imam hanyalah wasilah saja, namun begitu kita perlu kepada bimbingan mereka dan ketaatan kepada mereka juga sama dengan ketaatan kepada AllahSWT.  Tapi mungkin saja ada kelompok ekstrem yang melupakan Tauhid dan tenggelam dalam wasilah. Orang-orang awam banyak yang menjadikan tujuan akhir mereka hanya wasilah  dan ini juga bentuk kelemahan dalam makrifat. Lantaran sesungguhnya puncak yang tertinggi yang sangat dibanggakan para Nabi dan para Wali adalah menjadi hamba AllahSWT. Jika  Tuhan tidak menjadi poros maka Mistisisme seperti ini akan tergelincir dalam penyelewengan-penyelewengan. Allah swt mengatakan:

     

    Katakanlah (Ya Muhammad): “Sesungguhnya Aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan Aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. (Qs al-Mukmin : 66).  

    Mistisisme  tanpa Agama (Deisme)

    Ini adalah tren mistisisme  yang mungkin saja meyakini Tuhan yang esa tapi mereka sama sekali tidak komitmen dengan wahyu, al-Quran dan sunnah.  Mereka umumnya mengingkari kenabian dan hanya meyakini akal saja sebagai instrumen untuk memilah yang maslahat dari yang mafsadat. Menurut faham Deisme setelah Tuhan menciptakan alam ini kemudian Tuhan membiarkan alam ini. Nasib alam setelah itu hanya bergantung pada hukum alam itu sendiri.  Faham ini berkembang luas di Barat. Yang menjadi benih-benih kemunculanya karena banyak agama-agama yang menyimpang. Kelompok ini banyak mengkritik agama-agama Kristen, Yahudi dsb.  Mereka memperhatikan bahwa agama-agama ini menyuarakan hal-hal yang tidak logis.  Ketika mereka merasa lebih memahami agama, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa akal ternyata lebih baik dari agama. Dengan demikian, tidak perlu lagi terus-terusan mengikuti agama kristen. Bukti yang paling nyata adalah seperti yang dilakukan Plotinus, dimana ketika agama kristen berkembang pesat di zaman itu ia adalah seorang yang meyakini tuhan tapi  bukan penganut kristen.

     

    Mistisisme tanpa Wilayah

    Sebagian aliran mistisisme Islam telah memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di atas kecuali wilayah terhadap para ma’shumin. Pilar mistisisme yang paling penting adalah wilayah yaitu menyambungkan pada wali-wali yang wajib ditaati  yang harus suci (ma’shum). Tidak sedikit aliran sufi yang keliru dalam memahami dan menentukan wilayah mereka.  Mistisisme tanpa wilayah pada imam yang suci adalah minus dan juga akan melahirkan penyimpangan-penyimpangan. Wali-wali Allah  adalah yang menjadi penghidup wilayah Ilahi seperti yang ditegaskan oleh ayat  :

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ

    Taatlah kepada Allah, kepada Rasul dan Ulil Amri kalian. (QS 4:59)    

    Mistisisme tanpa Syariat dan Fikih

    Sebagian kelompok sufi meyakini Tuhan, Kenabian dan Hari Kebangkitan namun mereka tidak terlalu memperhatikan beberapa aspek agama, lalai atau sama sekali tidak memiliki pemahaman yang lurus tentang aspek tertentu dari agama. Kelompok ini cenderung mengabaikan syariat dan fikih. Menurut mereka syariat dan fikih hanya untuk orang awam saja, adapun kaum khawas tidak perlu lagi direpotkan lagi dengan syariat  dan fikih.

    Mistisisme tanpa Akal

    Menurut kelompok ini, akal tidak sejalan dengan mistisisme, sebab mistisisme di atas akal (beyond ratio). Mistisisme yang sesungguhnya tidak anti akal tapi menghargai nilai akal. Mistisisme yang sejati memahami keterbatasan-keterbatasan akal. Menurut mistisisme sejati, ada jalan yang lebih baik dari akal yaitu syuhud dan kasyaf (pengetahuan tanpa mediasi), yang dicapai dengan tahdzib al-Nafs, dan cinta kepada Allah swt. Akalah yang dapat menjustifikasi kebenaran mistisisme, akal tidak hanya bernilai tapi juga sangat penting, karena tanpa akal tidak akan tercapai pengetahuan.  Namun sebagian mengira bahwa akal itu pada dasarnya adalah batil yang harus dihindari, padahal al-Quran dan sunnah sangat menghargai akal.

    Mistisisme tanpa Kehidupan

    Sebagian para pengikut jalan mistisisme mengabaikan kehidupan mereka. Mereka mengisolasi hidup mereka dari lingkungan sosialnya.  Ini adalah bentuk penyelewengan dari mistisisme Islam

    Mistisisme tanpa Akhlak

    Ini adalah faham yang hanya mendahulukan hubungan vertikal semata-mata dan menghancurkan hubungan horizontal dengan sesama. Ia berpikir hanya dirinya dan tuhan yang ada. Mistisisme seperti hanya ingin meningkatkan kualitas hubungan dengan Tuhan dan tidak berusaha menyempurnakan hubungan dengan sesama.

    Mistisisme tanpa Politik

    Sebagian sufi tidak mau terlibat dalam urusan politik dan sosial.  Ini adalah pandangan yang keliru karena tidak sesuai dengan ajaran yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para Imam Mashum as.  Imam khomeini adalah seorang arif dan juga seorang politikus  ulung, tokoh dan arsitek Revolusi Islam  di abad ke 20.  Ia mengajarkan dalam hidupnya bahwa mistisisme itu sesuai dengan politik dan menurutnya politik sejati adalah politik yang dibimbing oleh mistisisme.

     

    Akhirul Kalam

                Di akhir saya patut menambahkan bahwa tipe ini tidak mewakili keseluruh penyimpangan mistisisme. Yang saya tulis hanya yang penting saja. Di luar sana banyak sekali hal-hal yang menyimpang, cacat, lemah dibandingkan dengan yang asli dan hakiki. Banyak sekali tema yang terkait dengan karakteristik Irfan Hakiki dan Islami tapi saya hanya mencukupkan sebagian saja. Untuk memahami lebih mendalam tentang Mistisisme Islam, silahkan anda menelaah  tafsir-tafsir al-Quran, doa-doa dan munajat yang diriwayatkan dari para  mashumin, khususnya do’a Shahifah Sajaddiyah, Doa Kumayl (doa Nabi Khidir), doa Abu Hamzah ats-Tsumali, Munajat Sya’baniyah, Doa Imam Husain as di padang Arafah.