Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Perempuan Ulama Dalam Panggung Sejarah (2-selesai)

    Perempuan Ulama Dalam Panggung Sejarah (2-selesai)

    • KH Husein Muhammad
    • liputanislam.com
    Perempuan Ulama Dalam Panggung Sejarah (2-selesai)
    2.7 (53.33%) 3 vote[s]

                     Sejarah orang-orang besar adalah sejarah perempuan-perempuan. Mereka dilahirkan dan dididik oleh seorang perempuan. Sebagian para perempuan itu adalah ulama. Keulamaan perempuan dan peran mereka sebagai guru para ulama laki-laki telah hadir sejak awal sejarah Islam. Sebagianmereka menjadi guru para sahabat laki-laki. Antara lain :

                      Aisyah bint Abu Bakar. Ia disebut sebagai “A’lam al-Nas wa Afqah al-Nas wa Ahsan al-Nas Ra’yan fi al-‘Ammah” (orang paling pandai, paling faqih dan paling baik di antara semua orang). Al-Dzahabi dalam “Siyar A’lam al-Nubala”(riwayat hidup ulama-ulama cerdas)mengatakan: “tidak kurang dari 160 sahabat laki-laki mengaji pada Siti Aisyah”. Sebagian ahli hadits lain menyebut : murid-murid Aisyah ada 299 orang: 67 perempuan dan 232 laki-laki. Umm Salamah binti Abi Umayyah mengajar 101 orang : 23 perempuan dan 78 laki-laki. Hafshah binti Umar : 20 murid: 3 perempuan dan 17 laki-laki. Hujaimiyah al-Washabiyyah : 22 murid laki-laki. Fatimah binti Qais : 11 murid laki-laki.

    Pada periode berikutnya sejarah mencatat nama-nama perempuan ulama yang cemerlang. Beberapa di antaranya adalah Sayyyidah Nafisah (w. 208 H), cicit Nabi. Namanya dikenal sebagai perempuan cerdas, sumber pengetahuan keislaman (Nafisah al-‘Ilm), pemberani, sekaligus ‘abidah zahidah (tekun menjalani ritual dan asketis). Sebagian orang bahkan mengkategorikannya sebagai Waliyullah perempuan dengan sejumlah keramat. Ia adalah guru Imam al-Syafi’I dan kemudian Imam ahmad bin Hanbal.Imam al-Syafi’i adalah “ulama yang paling sering bersamanya dan mengaji kepadanya, padahal ia seorang ahli fiqh besar (Aktsar al-Ulama Julusan ilaiha wa Akhdzan ‘anha fi al-Waqt al-Ladzi balagha fihi  min al Imamah fi al-Fiqh Makanan ‘Azhiman). Pada bulan Ramadan al-Syafi’i juga acap salat Tarawih bersama Nafisah di masjid perempuan ulama ini.(Kana Yushalli biha al-Tarawih fi Masjidiha fi Syahri Ramadhan).

    Ibn Arabi, adalah sufi terbesar, (al-Syekh al-Akbar) sepanjang zaman. Kebesarannya diperolah antara lain dari paling tidak tiga orang perempuan ulama. Ia banyak menimba ilmu dari mereka. Pertama, Fakhr al-Nisa. Perempuan ini adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Kepadanya dia mengaji kitab hadits  “Sunan al-Tirmidzîy”. Kedua, Qurrah al-Ain. Pertemuannya dengan perempuan ini terjadi ketika Ibn Arabi tengah asyik tawaf, memutari Ka’bah. Katanya, “Hubunganku dengannya sangat dekat. Aku mengaji kepadanya. Aku memandang dia seorang perempuan yang sangat kaya pengetahuan ketuhanan”. Perempuan ketiga adalah Sayyidah Nizham (Lady Nizham). Ia biasa dipanggil “Ain al-Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al-Haramain” (Guru Besar untuk wilayah Makkah dan Madinah). Ibn Arabi mengatakan : “Ia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan. Wajahnya jelita, tutur bahasanya lembut, otaknya sangat cemerlang, kata-katanya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun. Jika dia bicara semua yang ada menjadi bisu”.

    Ibnu Asakir, sejarawan Damaskus terkemuka dan bergelar “Hafizh al-Ummah” adalah murid/mahasiswa dari banyak ulama, delapan puluh lebih di antaranya adalah perempuan.   Syuhdaaah bin al-Abri, perempuan ulama, guru sejumlah ulama besar, antara lain Ibn al-Jauzi dan Ibn Qudamah al-Hanbali. Umma Habibah al-Ashbihani, adalah salah seorang guru al-Hafiz Ibn Mundzir. Fathimah bin ‘Ala al-Din al Samarqandi adalah faqihah jalilah, ahli fiqh besar, suami Syeikh Ala al-Kasani, penulis buku “Al-Badai’ al-Shanai’”.

    Tokok cemerlang lain dalam dunia keilmuan Islam dan mujtahid besar adalah Ibn Hazm dari Andalusia. Pengetahuannya diperoleh pertama-tama dari kaum perempuan. Dari mereka ia belajar membaca al-Qur’an sekaligus mengafalnya, menulis, dan memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan dasar. Dalam bukunya “Thauq al-Hamamah” (Kalung Merpati), ia menceritakan :

    لقد شاهدت النساء وعلمت من اسرارهن ما لا يكاد يعلمه غيرى لانى ربيت فى حجورهن ونشأت بين أيديهن ولم أعرف غيرهن ولا جالست الرجال الا وأنا فى حد الشباب وحين تفيل وجهى . وهن علمننى القرآن ورويننى كثيرا من الاشعار ودربننى فى الخط “

    “Aku sering bertatap muka dengan para perempuan dan aku mengetahui banyak rahasia-rahasia mereka, karena aku dididik di pangkuan mereka. Aku tumbuh besar di tangan mereka. Aku tak mengenal laki-laki kecuali setelah aku menjadi dewasa. Para perempuanlah yang mengajari aku Al-Qur’an, puisi-puisi dan kaligrafi”.

    Perempuan-Perempuan Termarginalkan Dari Panggung Sejarah

    Demikianlah beberapa saja ulama besar yang belajar dan berguru kepada para perempuan ulama.  Sayangnya, sejarah kaum muslimin sesudah itu, memasukkan kembali kaum perempuan ke dalam kerangkeng-kerangkeng rumahnya. Aktivitas intelektual dibatasi, kerja sosial-politik mereka dipasung. Perempuan-perempuan Islam tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan dan dipinggirkan (al-muhammasyat) dari dialektika social-kebudayaan-politik. Sistem sosial patriarkhis kembali begitu dominan. Konon itu dilakukan atas nama kasih sayang, perlindungan dan penghormatan terhadap perempuan. Dengan kata lain, sikap dan tindakan tersebut dilakukan agar mereka tidak menjadi sumber “fitnah” (kekacauan sosial). Dr. Muhammad al-Habasy, sarjana Suriah, dalam bukunya : “Al-Mar’ah Baina al-Syari’ah wa al-Hayah” mengatakan bahwa peminggiran kaum perempuan itu didasarkan pada argument prinsip “Sadd al-Dzari’ah” (menutup pintu kerusakan). Keikutsertaan atau keterlibatan kaum perempuan dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, baik sebagai pelajar maupun guru, dipandang mereka dapat menimbulkan “fitnah” dan “inhiraf” (penyimpangan) moral. Pandangan ini muncul menyusul kehancuran peradaban kaum muslimin akibat serbuan tentara Mongol ke wilayah-wilayah kekuasaan Islam, tahun 1256 M. Kehancuran di wilayah kekuasan Islam ini diikuti oleh kehancuran peradaban Islam di Andalusia tahun 1492 M. Akan tetapi sejumlah peneliti berpendapat bahwa peminggiran kaum perempuan dari ruang publik dan dalam dunia ilmu pengetahun secara khusus, sesungguhnya lebih disebabkan oleh pembekuan aktivitas intelektual dan kebebasan berpikir serta hilangnya kritisisme terhadap kekuasaan. Keadaan ini berlangsung berabad-abad.

    Fajar Baru : Ulama Perempuan Hari ini

    Sejak awal abad 20 sampai hari ini kita menyaksikan upaya-upaya baru yang menggugat keterpinggiran perempuan. Rifa’ah Rafi’ al-Thahthawi (1801-1873 M)adalah orang pertama yang membawa pembaruan pemikiran Islam sekaligus tokoh yang mengkritik pandangan-pandangan konservatif yang merendahkan dan memarjinalkan kaum perempuan.Ia mengkampanyekan kesetaraan dan keadilan gender serta menyerukan dibukanya akses pendidikan yang sama bagi kaum perempuan. Ia menuliskan gagasan dan kritik-kritik ini dalam bukunya yang terkenal ; “Takhlish al-Ibriz fi Talkish Paris” dan “al-Mursyid al-Amin li al-Banat wa al-Banin”.  Tokoh inilah yang kemudian memengaruhi pikiran para cendikiawan muslim progresif sesudahnya, antara lain Muhammad Abduh. Tetapi tokoh paling menonjol dan controversial dalam isu-isu perempuan adalah Qasim Amin. Tahun 1899, ia menulis bukunya yang terkenal; “Tahrir al-Mar’ah” (pembebasan perempuan), dan “al-Mar’ah al-Jadiddah” (Perempuan Baru).

    Dari mereka kemudian lahirlah para ulama dan aktifis perempuan di banyak negara muslim.Tidak sedikit para ulama perempuan tampil kembali ke panggung sejarah. Pengetahuan mereka dalam bidang ilmu-ilmu agama (Islam) sangat mendalam dan luas. Beberapa di antaranya adalah Huda Sya’rawi, Aisyah Taymuriyah, Batsinah, Nabawiyah Musa, Zainab al-Ghazali, Aisyah Abdurrahman bint Syathi, Aminah Wadud dan lain-lain. Seorang perempuan ulama lain yang menarik hati saya adalah Nazhirah Zainuddin (1908-1976). Dia, dengan beranimelancarkan kritik terhadap pemikiran keagamaan konservatif yang memasung hak-hak kaum perempuan. Nazhirah menulis sebuah buku “al-Sufur wa al-Hijab”. Melalui buku ini Nazhirah mengkritik keras pandangan ulama pada masanya, terutama para ulama besar al Azhar, tentang Hijab, Jilbab dan isu-isu perempuan yang lain. Argumen-argumennya mengambil sumber-sumber otoritatif Islam; Al Qur-an dan hadits nabi saw. sambil melakukan kajian atas kitab-kitab Tafsir klasik seperti tafsir Baidhawi, Khazin, Nasafi, Thabari, kitab-kitab fiqh klasik dan lain-lain. Ulama perempuan kelahiran Aleppo ini juga banyak mengutip sekaligus menganalisis pikiran-pikiran tokoh besar lainnya seperti Muhyiddin ibnu Arabi. Kemampuannya memahami kitab-kitab klasik tersebut tidak diragukan lagi. Dia mengajak para ulama untuk melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi atas wacana keagamaannya dengan melihat fakta-fakta perkembangan dan perubahan sosial, budaya dan politik yang tidak bisa dilawan.

    Nabawiyah Musa, ulama perempuan Mesir, juga menarik. Ia menuntut dibukanya akses pendidikan bagi kaum perempuan negerinya. Dalam sebuah ceramahnya dia mengatakan :

    أريد ان تحيا المصريات حياة حقيقية . فيقبلن على العلم ويسعين سعيا متواصلا . فلا يمضى زمان حتى أرى فى هذه الدار مائة من السيدات

    “Uridu an Tahya al Mishriyyat Hayah Haqiqiyyah. Fayaqbalna ‘ala al ‘Ilm wa Yas’ayanna Sa’yan Mutawashilan. Fa La Yamdhi Zaman Hatta Ara fi Hadzihi al Dar Mi-at min al Sayyidat”(Aku berharap kaum perempuan Mesir bisa hidup dengan baik, mengapresiasi ilmu pengetahuan dan bekerja keras tanpa henti, sampai tiba masanya aku dapat melihat lahirnya ratusan tokoh/pemimpin perempuan dalam negeri tercinta ini).

    Di Indonesia, kita juga mengenal sejumlah ulama perempuan, antara lain yang popular adalah Rahmah el-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri, Padang Panjang. Dia memeroleh gelar doctor honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo.

    Hari ini kita semua sangat membutuhkan lahirnya para ulama perempuan dengan seluruh makna keulamaanya. Mereka dibutuhkan untuk bersama kaum laki-laki membangun negara dan bangsa ini demi terwujudnya cita-cita bersama : keadilan, kemajuan dan kesejahteraan. Mereka dibutuhkan untuk memberi makna-makna baru atas keadilan dan kemanusiaan.

    Abu Bakar al Razi (w. 865 M), salah seorang pemikir besar Islam abad pertengahan menyatakan : “Tujuan tertinggi untuk apa kita diciptakan dan kemana kita diarahkan bukanlah kegembiraan atas kesenangan-kesenangan fisik. Akan tetapi pencapaian ilmu pengetahuan dan praktik keadilan”. Keadilan adalah kebajikan tertinggi. Bila kehidupan kita hari ini masih belum mau melihat dengan jujur bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk mengubah dunia, dan jika kita masih terus mengabaikan bahkan mengingkari fakta bahwa sebagian perempuan lebih unggul daripada sebagian laki-laki, secara intelektual maupun spiritual, maka sesungguhnya kita sedang melakukan ketidakadilan.

    Indonesia adalah negara yang sedang menghadapi sejuta problem kehidupan ; kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Lebih dari separoh bangsa ini adalah perempuan. Negara ini mengarapkan lahirnya banyak cendekiawan dan ulama perempuan untuk memberikan kontribusi, bersama laki-laki, bagi upaya-upaya memecahkan problem-problem besar tersebut. Pengalaman negara bangsa yang sejahtera di sejumlah negara maju menunjukkan bahwa negara-negara tersebut dikelola oleh banyak perempuan cerdas,terpelajar, intelektual atau “ulama”. Lebih dari itu perempuan-perempuan Indonesia tengah mengalami problem besar : kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam berbagai bentuknya, dan berlangsung hampir di semua ruang dan waktu kehidupan. Mereka harus dibebaskan dan dicerdaskan. Kehadiran banyak ulama perempuan niscaya akan memberikan dampak positif bukan hanya bagi kehidupan mereka saja, melainkan dan dengan sendirinya juga bangsa, Negara dan dunia. Terbukanya akses pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan dan kehidupan demokrasi yang berkembang sehat akan membuka ruang bagi kaum perempuan untuk meraih kemajuan, keadilan dan kesejahteraan bersama. Saya sangat optimis akan terwujudnya harapan-harapan ini di masa depan. Semoga.