Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Seni Lukis dalam Perspektif Islam

    Seni Lukis dalam Perspektif Islam

    • Hadi
    • LiputanIslam.com
    Seni Lukis dalam Perspektif Islam
    3.7 (73.33%) 3 vote[s]

    Menilik kepada perkembangan kesenian Islam yang telah tumbuh sejak awal kekuasaan dinasti Umayyah (622-750 M), kemudian berlanjut pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyah (750-1258 M), dan seterusnya masa pemerintahan Fatimiyah, Ayyubi dan Mamluk di Mesir (969-1517 M), raja-raja Saljuk di Persia (1037-1194 M), dinasti Ottoman di Turki (1300-1924 M), Raja-raja Safavid di Persia (1502-1736 M) dan Raja-raja Moghul di India (1500-1800 M), adalah merupakan masa-masa terpanjang dalam pertumbuhan serta perkembangan kesenian Islam termasuk di antaranya pertumbuhan dan perkembangan seni lukis.

    Seni lukis sebagai cabang seni rupa Islam berkembang sejajar dengan hasil-hasil seni rupa lainnya seperti seni bangunan (arsitektur), seni kerajinan, seni kaligrafi maupun seni hias atau seni dekorasi. Tetapi apabila ditelusuri tentang perkembangan seni lukis Islam, tidaklah sesubur perkembangan hasil seni rupa lainnya. Umumnya hasil-hasil seni lukis Islam benar-benar tumbuh dan berkembang adalah awal-awal abad ke- 11 M sampai abad ke-18 M.

    Kemungkinan yang menjadikan pertumbuhan serta perkembangan seni lukis tidak demikian subur dalam kesenian Islam, adalah karena kurangnya perhatian para seniman Islam akan mempelajari seni lukis; dan lebih banyak perhatian dicurahkan pada bidang-bidang seni lain, misalnya seni bangunan, seni kaligrafi, seni hias maupun seni kerajinan.

    Apakah hal-hal yang menjadi penghambat seni lukis kurang berkembang dalam seni rupa Islam?

    Berbicara masalah lukisan dalam kesenian Islam, tidaklah semudah membicarakan bentuk seni bangunan maupun seni kaligrafi. Bidang seni lukis banyak mendapat pembahasan dari para ahli hukum Islam, tentang boleh tidaknya atau halal dan haramnya melukiskan makhluk-makhluk bernyawa sebagai objek lukisan. Berbagai macam pendapat dan pembahasan bermunculan dari para ulama dan pakar Islam, boleh tidaknya melukis atau menggambar makhluk bernyawa (tashwir), seperti pelukisan atau penggambaran manusia atau binatang.

    Dari beberapa hadis yang sahih ditemukan beberapa hadis yang memberi petunjuk tentang adanya larangan tentang tashwir. Di mana disebutkan Rasulullah saw melarang pembuatan gambar (shuwar) dan patung (tamatsil), karena dapat memberi mudharat (perbuatan dosa besar) karena dapat menyekutukan Allah sebagai Maha Pencipta. Dan setiap orang yang menciptakan gambar atau lukisan makhluk hidup, Allah akan menuntut penciptanya untuk memberi nyawa kepada benda ciptaannya.

    Dikatakan bahwa Rasululah saw bersabda, “Malaikat Rahmat tidak akan masuk ke dalam rumah yang berisi gambar-gambar (shurah) atau anjing.”

    Tidak hanya itu, terdapat hadis-hadis larangan dan ancaman bagi penciptaan pelukisan atau gambar-gambar makhluk bernyawa, berikut ini :

    “Orang-orang yang membuat gambar-gambar ini, nanti di hari kiamat akan dikatakan kepada mereka itu hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu.” (H.R. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)
    “Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya, lalu berkata, “sesungguhnya akulah yang menggambar gambar-gambar tersebut.” Lalu ia berkata, “Setiap orang yang menggambar berada di neraka yang akan dijadikan untuknya tiap-tiap gambar yang ia buat itu (dalam bentuk) jiwa yang akan menyiksanya di neraka. Oleh karena itu jika engkau tetap akan melakukannya, maka buatlah (gambar) pohon dan sesuatu yang tidak bernyawa.” (H.R. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
    “Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw, “Jibril pernah datang kepadaku lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku datang kepadamu malam ini, sedang tidak ada satu pun yang menghalang-halangi aku untuk masuk ke dalam rumah yang engkau diami itu, melainkan karena sesungguhnya di rumah itu ada patung seorang laki-laki, dan dalam rumah itu pula ada tabir—yaitu tabir yang bergambar—dan dalam dalam rumah itu juga ada seekor anjing. Oleh karena itu perintahkanlah patung yang ada dalam rumah itu supaya dipotong, sehingga menjadi seperti keadaan pohon, dan perintahkan tabir itu supaya dipotong lalu dibuat dua bantal yang terpisah keduanya untuk diinjak, dan perintahkan anjing itu supaya dikeluarkan. Lalu Rasulullah saw mengerjakannya…” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

    Demikianlah bunyi hadis tentang hukum menggambar dan melukiskan makhluk-makhluk bernyawa. Dan ini tentunya merupakan alasan kuat sebagian kaum ulama yang memberikan fatwanya tentang pelarangan (pengharaman) setiap usaha penciptaan atau penggambaran makhluk bernyawa, baik dalam bentuk lukisan atau gambar. Hal ini misalnya tercermin dalam penegasan Imam Nawawi berikut ini :

    “Telah berkata rekan-rekan kami dan lain-lain dari kalangan para ulama bahwa menggambar gambar binatang itu adalah keharaman, dan haramnya itu sangat, bahkan termasuk sebagian dari dosa-dosa besar, karena diancam dengan ancaman yang keras seperti disebutkan dalam hadis, baik ia buatnya itu karena untuk menghinanya atau untuk yang lain. Wal hasil membuatnya itu untuk apapun hukumnya haram, karena padanya terdapat unsur menyamai ciptaan Allah; dan hukum itu berlaku sama, baik di pakaian, tikar, dirham, dinar, uang, bejana, tembok, ataupun lainnya. Adapun menggambar gambar pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lain, yang tidak terdampar gambar binatang, maka tidaklah haram.” (Nailul Authar 1, hal. 410)

    Dengan adanya larangan ini, sangat menghambat pertumbuhan dan perkembangan seni lukis Islam; karena banyak di antara seniman Islam merasa segan untuk mencipta karya-karya seni lukis dengan objek manusia dan binatang.