Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. article

    3. Terbitnya Penerus Mentari Keadilan

    Terbitnya Penerus Mentari Keadilan

    • Irib
    • IRIB Indonesia
    Rate this post

    Kesyahidan Imam Hasan Askari (as) cucu suci Rasulullah pada tahun 260 Hijriah, adalah berita duka besar bagi umat Islam, namun kepemimpinan Imam Mahdi as, putra beliau dan hujjah terakhir Allah Swt di muka bumi, tak ayal merendam hati umat dalam kegembiraan dan harapan. Oleh karena itu, hari ini yang bertepatan dengan dimulainya kepemimpinan Imam Mahdi as, diperingati sebagai hari raya berbahagia.

    Kepemimpinan Imam Hasan Askari as, berlangsung di masa sangat sensitif dan sulit dalam sejarah Ahlul Bait as. Mu’tamid, khalifah Bani Abbasiyah, bersandarkan pada berbagai hadis dari Rasulullah Saw dan para imam maksum, mengetahui bahwa hujjah terakhir Allah Swt, yang menjadi pembalas kejahatan para penguasa zalim  dan pelindung orang-orang papa, serta akan menegakkan pemerintahan yang adil dan tauhid, akan dilahirkan di rumah Imam Hasan Askari as. Oleh karena itu, dia mengawasi dengan ketat rumah Imam Hasan as untuk mencegah terealisasinya janji Allah Swt ini. Namun karena kehendak Allah Swt, Imam Mahdi as terlahir ke dunia tanpa sepengetahuan musuh-musuh Ahlul Bait. Sebelum kepemimpinannya, kejahilan, kelalaian dan tidak terima kasih masyarakat, telah membuat Imam Hasan Askari as, gugur syahid dalam kondisi sangat terasing. Mungkin oleh sebab itu pula, kelahiran sang mentari dan hujjah terakhir Allah Swt di muka bumi ini tersembunyi dari pandangan masyarakat.

    Ahmad bin Ishaq, salah satu sahabat Imam Hasan Askari as mengatakan, “Pada suatu hari aku menghadap Imam Askari dan bertanya: ‘Wahai putra Rasulullah! Siapa imam dan penggantimu?’ beliau masuk ke rumah dan kembali bersama seorang anak laki-laki berusia tiga tahun yang wajahnya bersinar cerah seperti bulan dan berkata: ‘Wahai Ahmad bin Ishaq! Jika kau tidak terhormat di sisi Allah Swt dan para hujjah-Nya, aku tidak akan menunjukan putraku kepadamu. Sesungguhnya namanya sama seperti panggilan Rasulullah dan dia yang akan memenuhi bumi dengan keadilan’. Aku berkata: ‘Wahai pemimpinku! Apakah ada tanda-tanda yang akan menenangkan hatiku?’ Saat itu, anak laki-laki itu berkata, ‘Aku adalah Baqiyyatullah di muka bumi dan aku akan membalas kepada para musuh Allah Swt. Wahai Ahmad! Setelah kau melihatku dengan mata kepalamu sendiri, maka jangan mencari tanda-tanda.”

    Salah satu di antara yang disaksikan Rasulullah Saw di malam mi’raj adalah, menyaksikan cahaya para pemimpin maksum dan pemimpin terakhir penggantinya. Rasulullah Saw bersabda: … aku berkata: Ya Allah! Siapa mereka ini? Allah Swt berfirman: “Mereka adalah para pemimpin dan ini adalah sang Qaim (Imam Mahdi as); Dia yang akan menghalalkan apa yang Aku halalkan dan mengharamkan apa yang Aku haramkan dan akan membalas kepada para musuh-Ku. Wahai Muhammad! Cintailah dia. Maka sesungguhnya Aku mencintainya dan Aku akan mencintai siapa saja yang mencintainya…”

    Manusia selalu mencari hakikat, akan tetapi terkadang terjebak dalam pilihan yang keliru dan oleh karena itu, manusia memerlukan pembimbing, penunjuk jalan dan pemimpin. Dalam agama Islam disebutkan janji Allah Swt bahwa bumi tidak pernah kosong dari hujjah Allah Swt dan bahwa bumi akan dikuasai oleh orang-orang saleh dan beriman.

    Janji ini bukan hanya tercatat dalam al-Quran melainkan juga telah terekam dalam kitab langit yang dibawa oleh para nabi sebelum Rasulullah Saw. Pada hakikatnya, agama-agama langit lain juga menanti kemunculan sang juru penyelamat yang akan menghapus kezaliman dengan keadilan dan kebebasan. Semuanya berpendapat bahwa akan datang satu masa di mana kezaliman dan kesewenang-wenangan telah merajalela, dan akan muncul sang juru selamat yang akan memperbaiki dunia. Dalam Islam, sang juru selamat itu adalah Imam Mahdi as. Ibn Abi al-Hadid, seorang ulama terkemuka Ahlussunnah mengatakan, “Di antara semua mazhab Islam disepakati bahwa usia dunia tidak berakhir kecuali setelah kemunculan Imam Mahdi as.”

    Peringatan hari dimulainya periode kepemimpinan hujjah terakhir Allah Swt di muka bumi ini merupakan kesempatan terbaik bagi para pecinta dan penantinya untuk memperbarui baiat kesetiaan kepadanya. Menyiapkan diri, menyucikan diri terlebih dahulu dan kemudian masyarakat serta meningkatkan keimanan umat termasuk dalam masalah kepemimpinan Imam Mahdi dan hubungan umat dengan imam, adalah di antara persiapan yang harus dilakukan bagi manusia-manusia yang menanti kemunculan Imam Mahdi as.

    Pada sebagian doa Ahd yang berkaitan dengan Imam Mahdi as, kita membaca: “Ya Allah masukkan aku dalam golongan sahabat dan kelompok Imam Mahdi (as), masukkan aku di antara mereka yang mendukungnya dan yang berlomba untuk melaksanakan perintahnya serta melaksanakan permintaannya secepat-cepatnya dan jadikan aku di antara para syuhada dari kelompoknya.”

    Dengan demikian, para sahabat Imam Mahdi as adalah mereka yang berjuang melawan kezaliman dan kemunkaran di muka bumi serta para penguasa zalim. Dalam hal ini, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, “Jika dunia akan diterangi matahari, ini bukan berarti bahwa kita harus diam di kegelapan sampai datangnya matahari… Kita menanti… berarti kita memiliki harapan bahwa dengan upaya dan perjuangan, pada suatu hari kita mampu mengubah dunia ini yang oleh musuh Allah dan para setan telah dipenuhi dengan kezaliman dan kemunkaran… menjadi sebuah dunia yang di dalamnya, kemanusiaan dan prinsip-prinsip insani dihormati serta para manusia zalim dan munkar tidak berkesempatan atau tidak punya tempat untuk melakukan keinginan munkar mereka.”

    Dengan dimulainya periode kepemimpin Imam Mahdi as, dunia akan dipenuhi dengan keadilan dan kebajikan. Dia adalah Imam yang akan mengubah dunia sejernih air dan seterang matahari. Kita semua tengah menanti hari itu tiba.

    Tag: , ,