Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. book

    3. Ali bin Abi Thalib masih tetap sendiri

    Ali bin Abi Thalib masih tetap sendiri

    Ali bin Abi Thalib masih tetap sendiri
    5 (100%) 1 vote
    description book specs comment

    Dengan nama Tuhannya Muhammad saw, Tuhannya Ali (a.s) dan keadilan, Tuhannya Fatimah (a.s) serta rumah mungilnya dimana seluruh harapan kita tertumpu dalam rumah mungil ini, dimana luasnya seluas alam semesta ini.

    Ali! Apa yang bisa kami katakan tentangnya, gerangan siapakah dia? Setiap kali sampai kepadanya, maka pena inipun gemetar, dimana seseorang yang seharusnya ada namun tiada.

    Saya ingin menuliskan tentang seseorang, dimana semua generasi muda kita sangat membutuhkan sekali kepadanya dan kepada pengetahuan yang benar dari dirinya. Dari Rab Jenis Keadilan.

    Setiap dari kita sudah pasti mengenal seklumit tentang diri Ali (a.s) dan dengan seukuran takaran diri kita, kita mendapatkan manfaat dari samudra ilmu dan keutamaan ini. Dan tujuan dari penulisan paragraf-paragraf ini kebanyakan adalah mengenang beografi kehidupan seseorang yang menuntun syi’ahnya. Kita menginginkannya sampai masa dimana tidak membahayakan jiwa kita atau harta benda kita. Dan dalam maqom syi’ar kita menjadikan dirinya sebagai tebusan, sewaktu mengamalkan septitisme, dengan premis mayor dan minor, mewarnai perbuatannya dengan corak dan keharuman Islam. Kita jauh dari dirinya dan tujuannya. Syi’ah tidak hanya sekedar berartikan kecintaan terhadap Ali (a.s), atau mengenal Ali (a.s) saja, karena kecintaan adalah sebuah ihsas (feeling, perasaan) dan pengenalan adalah perkara akal. Sementara Tasayyu’ dengan arti mengikuti dalam kebenaran adalah sebuah amal (perbuatan).

    Dengan jujur apakah kita ingin menjadi seperti Ali (a.s) dan mengikuti sunnah dan perangainya serta sebagai cermin Ali (a.s), meskipun gelap dan suram?. Apakah kita bersedia meniru seperti Abu Dzar Al-Ghifari, yang berani menimbukkan tulang-tulang onta diatas kepala orang-orang seperti Ka’ab Al-Ahbar?

    Dalam makalah dan kesempatan yang singkat ini, saya ingin menuliskan tentang seseorang, dimana para penentang politik, demokrasi, liberalisme serta hak-hak asasi manusia dunia dihadapan perangainya merasa malu dan menjadikan Ali (a.s) sebagai satu-satunya demokrat, yang menghendaki keadilan dan reformer. Namun sesungguhnya Ali (a.s) lebih dari itu semua. Sesuai dengan perkataan Doktor Jor Jordak (seorang penulis Masehi, Shaut Al-Adalah, Suara Keadilan): dimanakah mereka para penulis hak-hak asasi manusia memahami hak-hak manusia dalam amal perbuatan, tidak dalam ceramah dan khotbah serta acara-acara organisasi international dan Unesco dimana kesemuanya adalah dusta. Saya ingin berbicara tentang pembela Islam. Ya, berbicara mengenai seseorang yang memberikan pedangnya kepada tangan musuhnya dan memakai baju perang yang tidak ada punggungnya. Atau orang yang tidur di tempat tidurnya Rasul Saw. dan menunggu syahadah. Dengan tangan sucinya sendiri dia menjahit sepatu dan memberikan zakat dalam keadaan ruku’, berbicara mengenai laki-laki pertama yang memeluk Islam, berbicara mengenai sang jawara yang kuat dimana gelarnya Tuhan, ilmu dan pedang, dianugerahkan kepadanya. Berbicara mengenai seseorang dimana Jibril a.s menyerukan kepada Nabi-Nya Muhammad Saw: La Fata Illa Ali, La Syaifa Illa Dzul fiqar, tidak ada pemuda kecuali Ali, dan tidak ada pedang kecuali Dzul fiqar. Berbicara mengenai Ali bin Abi Thalib a.s. orang yang selalu menjadi musuhnya orang zalim dan penolong orang-orang yang mazlum (tertindas), paling besarnya pembela Rasul Saw. Orang yang selama 23 tahun, demi ajaran suci terus berjihad, memilih diam selama 25 tahun demi persatuan dan berjuang dan berusaha selama lima tahun demi menegakkan keadilan. Dan dikarenakan keadilan inilah beliau di mihrab cinta meneguk cawan syahadah. Beliau adalah orang yang dikarenakan keadilan kejujuran perkataanya, maka tidak tersisakan lagi seorang teman dan seorang penolong baginya. Dan sungguh indah sekali apa yang telah beliau ucapkan: jika seandainya gunung mencintaiku, maka akan runtuh.

    Beliau adalah Rab nau’nya usaha, Rab naunya’ jerih payah dan bekerja, Rab Naunya’ kesetiaan, Rab Nau’nya diam, Rab Nau’nya teriakan, Rab Nau’nya keadilan, Ali (a.s) adalah satu-satunya orang yang seumur hidupnya, meski sekali, tidak pernah gentar. Ali adalah seseorang yang mana dadanya dipenuhi dengan ilmu dan makrifah, namun menangis di tengah keheningan malam dan dadanya pun terasa sesak dan pergi mengayup ke kebun korma yang ada dipinggiran kota dan di tengah kesunyian malam beliau meluapkan rasa sakit, taajjub dan takut dihadapan malakut, keagungan wujud yang indah dan menarik serta mengungkapkan kehinaan dan kebutuhannya sehingga Ali (a.s) tak sadarkan diri.

    Beliau adalah orang yang pertama yang memberikan tauladan kepada para pe-sujud dan orang-orang yang mengenal Allah Swt. dan sujud di hadapan-Nya, beliau adalah orang yang berbicara mengenai tauhid, memuji Dzat la yazal dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

    Ya, beliau adalah orang yang tidak rela melihat orang yang menyembah dirinya dihadapannya. Ya, Ali (a.s) adalah yang menggembleng se isi rumah dan seluruh anggota keluarga, dimana kesemuanya merupakan contoh dan tauladan insaniah. Seperti Hasan dan perdamaian, Husain dalam jihad dan syahadah, Zainab dalam paling beratnya risalah keadilan sosial, dan Fatimah dalam kewanitaan dan Ali dalam segala hal, ini semua dimana merupakan putera-puteri beliau, beliau gembleng dan beliau kumpulkan dalam sebuah kamar tiga perempat, dimana kesemuanya adalah suri tauladan. Dan ini dikarenakan tarbiah yang benar yang telah diberikan oleh Ali, Singa Allah dan Sayyidah Nisa’i Al-’Alamin, Fatimah Az-Zahra (a.s) kepada putera-puterinya. Ali merupakan paling jelas dan paling nyatanya maktab yang telah menjelma dalam bentuk wujud manusia. Ali (a.s) Rab Al-Nau’ jenis segala keagungan, kesucian dan keindahan dimana manusia selalu memiliki ketakutan dan ingin menyembahnya. Dan tidak akan pernah melihat dan diyakininya dimana tidak mugkin akan dapat dilihat diatas muka bumi ini. Dan dalam batasan ini,tidak mungkin akan terealisasikan pada sosok seseorang.

    Ya, Ali (a.s) adalah satu-satunya jawara dalam dimensi yang beraneka ragam dan bahkan kontradiksi yang tidak akan mungkin terkumpul dalam satu orang. Beliau disamping juga seperti seorang pekerja yang sederhana, dimana melumurkan tanah dengan tangan dan siku mubaroknya, dan dengan tanpa sarana yang memadai, beliau mengalirkan (membuat aliran air) di tanah yang kering yang tandus tersebut, juga seperti seorang hakim yang berfikir, juga mencintai sebagaimana seorang pecinta ulung dan seorang arif terkemuka, juga seperti seorang kesatria ahli pedang, juga memimpin seperti seorang politikus, juga seperti seorang guru akhlak dimana merupakan manifestasi dan sumber fadhilah manusia untuk sebuah masyarakat, juga seperti seorang ayah, seorang teman yang sangat setia dan juga seorang suami tauladan…, dalam perang pertumpahan darah beliau memperlihatkan tanpa rasa kenal takut dan keberanian dimana mengenyangkan kebutuhan-kebutuhan manusia dengan kemenangan. Dan di gang-gang dihadapan orang-orang yatim, dalam bentuk lembaran-lembaran beliau telihat sangat lemah dan sangat gemetar dimana lebih lembut dari perasaannya seorang ibu. Dalam berperang dengan musuh, beliau sangat tidak mengenal rasa takut dan sangat murka dimana merupakan manifestasi dari kemurkaan dan pedangnya merupakan manifestasi kemenangan, manifestasi pertumpahan darah dan manifestasi tanpa kenal ampun terhadap musuh dan di dalam rumah, tidak terlihat seorangpun yang lebih lembut dan yang lebih sabar yang lebih memaafkan dari Ali (a.s).

    Ali (a.s) tidak hanya sekedar seorang zuhud dan suci bahkan paling kesatrianya panglima perang, paling ulungnya orator masyarakat, seorang arif, alim dan seorang hakim yang profesional. Suara keadilan manusia, Imam kebenaran, seorang pemimpin dan seorang pengatur umat. Beliau adalah samudera ilmu, antropolog dan godly serta sebuah gunung yang penuh dengan kapasitas kesabaran. Beliau membagikan makanan (roti) nya kepada para pekerja dan para buruh. Dengan kecintaan terhadap keluarga dan umat, beliau pun tidak melalaikan tugas dan pekerjaan yang lainnya dan beliau menselaraskan takwa dengan penerimaan terhadap tanggung jawab serta mencari penghidupan yang halal. Ali (a.s) adalah peliput semua sifat dan individu manusia ideal, serta merupakan manifestasi Islam.

    Ali (a.s) dimasa hidupnya merupakan manifestasi dan seorang imam bagi tingkatan orang-orang mazlum yang teraniaya. Dan setelah hidupnya, beliau pun juga merupakan suri tauladan, seorang Imam, merupakan manifestasi semua rasa sakit dan kebutuhan serta kesukaran orang-orang yang terhukum dan teraniaya.

    Ali (a.s), tidak hanya dengan pemikiran dan perkataannya saja, bahkan dengan wujud dan kehidupannya menjawab semua rasa sakit dan kebutuhan-kebutuhan beberapa macam manusia dalam semua masa.

    Ya, Ali (a.s) adalah seorang Imam yang terkadang berbicara dengan perkataannya dan terkadang juga dengan kebungkamannya. Terkadang memberikan pelajaran dengan kemenangannya dan terkadang juga dengan kegagalannya. Perkataannya kepada kita dan risalah kita juga jelas yaitu mengenal pelajaran-pelajaran ini, membaca perkataan-perkataan ini, dan mendengarkan kebungkaman-kebungkaman ini….Ya, oh sungguh sangat menyakitkan sekali. Ali (as) sendirian? Ditengah-tengah para syi’ahnya beliau pun masih tetap sendiri? Ali (as.) lebih tersendiri dari Rasul Saw!! Rasul Muhammad Saw. mempunyai Salman, namun Ali (a.s) sampai akhir hayatnya masih tetap sendiri. Diantara teman-teman syi’ahnya, beliau tidak memiliki seorang pun kecuali sebuah sumur (galian) yang ada di Madinah. Terus terang manusia seperti apakah ini dimana sudah tidak ada manusia lagi lainnya, manusia seperti apakah ini dimana dalam maqom insaniyyah hanya satu dan berdiri sendiri serta tidak menerima keserupaan (syabih) disisinya?

    Jorj Jordak (penulis Masihi kitab Saut Al-Adalah Al-Insaniyyah/Suara Keadilan) merasa terkesima dan sangat terpesona sekali dengan kata-kata Nahjul Balaghah, sampai-sampai dia menelaah sebanyak 200 kali. Pertama-tama dia mengetahui keagungan Maula Al-Muttaqin Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (a.s), kemudian dia menyesalkan dan menyayangkan dirinya dan orang-orang sepertinya. Dan tanpa disadari tiba-tiba dia mengingat sebuah hadits dari Rasul yang kandungannya adalah demikian; jangan sampai orang lain mendahuluimu dalam mengamalkan hukum-hukum Islam. Saya katakan kepada diri saya sendiri: kenapa disamping menelaah kitab-kitab yang lain, saya tidak menelaah juga kitab Nahjul Balaghah yang mana disitu berbaur dengan politik, seni, ilmu dan iman, malah menurut sebagian orang adalah saudaranya Al-Qur’an? Apakah kita sudah menelaah ayat-ayat muhkamnya Al-Qur’an itu sendiri? Kenapa dapat menjawab poin-poin yang samar yang tidak jelas dan keprihatinan ketakutan pemikiran dll? Kenapa kita menginginkan orang lain supaya menjawab keprihatinan dan ketakutan-ketakutan kita?

    Bertahun-tahun hati meminta cermin (cermin khayalan yang dapat memaparkan peristiwa-peristiwa alam)

    Apa yang dipunya, namun mengharap dari orang lain

    Imam Ali (a.s) lahir pada hari jum’at, 13 Rajab tahun 30 tahun Gajah didalam sebuah peristiwa yang tidak pernah ada sebelumnya, di dalam Ka’bah. Ayah handa beliau adalah Abu Thalib putera Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abd Manaf, dan ibunda beliau adalah Sayyidah Aminah puteri Asab bin Hasyim. Dengan demikian, kedua nasab beliau berujung pada Hasyimi.

    Dikarenakan Abu Thalib adalah seorang alim, begitu juga Rasul Saw. semenjak kecil sudah yatim, maka setelah meninggalnya Abdul Mutthalib beliau berada dalam asuhan Abu Thalib dan Sayyidah Fatimah binti Asad (ibunda Amirul Mukminin Ali a.s) pun mengasuh dan merawat beliau layaknya seorang ibu yang sangat sayang sekali, dan juga untuk membalas dan berterimakasih kepada pamannya sehingga dapat membantu kepada paman terkasihnya, maka Ali (a.s) pun dirawat dan diasuhnya dan dengan inilah sebagaimana Rasul Saw. hidup dalam naungan dan perlindungan Abu Thalib dan Sayyidah Aminah, Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah pun laksana seorang ayah dan seorang ibu yang penyayang.

    Dengan cara inilah Ali (a.s) berada dalam tarbiah dan kehangatan Muhammadi (saw) dan bahkan setelah kembalinya ke keluarganya, beliau pun masih terkesima dengan Rasul Saw sehingga beliau banyak melewatkan waktunya disisi Rasul Saw. dan ajaran dan tarbiah inilah yang menyebabkan Ali (a.s) lebih dahulu mengucapkan labbaika dihadapan seruan beliau ketimbang selainnya dan di umur sepuluh beliau dikategorikan sebagai paling pertamanya seorang (laki-laki) yang beriman, dimana Rasul Saw bersabda: ya Ali (a.s)! kamu termasuk orang-orang mukmin, kamu adalah orang yang pertama beriman, kamu termasuk orang-orang muslim, kamu adalah orang yang memilih Islam dan kedudukanmu disisiku seperti kedudukan Harun (a.s) disisi Musa (a.s). dikarenakan turun ayat, wa andzir asyirotaka Al-Aqrabi, dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu, maka Rasul Saw. pun mengumpulkan sanak familinya dalam satu rumah, dan setelah makan siang, maka beliau diajak untuk menyembah Allah Swt dan berkata: “barang siapa yang menolong saya dalam risalahku, dan berdiri, maka dia adalah saudara, washi, wazir dan pengganti setelahku.”

    Dan setelah mengulanginya sebanyak tiga kali, tidak ada seorangpun yang memberikan jawaban positif dan menyambut ajakan tersebut kecuali hanya Ali (a.s), dan diantara orang-orang ini terdapat Abu Lahab yang mencemooh mereka. Semenjak hari itu, Rasul Saw. menghadapi penentangan-penentangan dari Quraisy dan banyak sekali mendapatkan rintangan dan siksaan, dan sampai pada tahun 13  bi’tsah dimana beliau berada di Makkah, beliau tidak terluput dan tidak aman dari gangguan dan siksaan-siksaan Quraisy, bahkan dari sanak kerabat dekatnya sendiri (Abu Lahab). Dan hanya Ali (a.s) inilah yang mengaku sebagai teman dan musuh setianya orang-orang yang memushui Rasul Saw dan dalam semua peristiwa yang genting dan menentukan selalu mengincar Rasul Saw, dengan demikian beliau mempersembahkan jiwa raganya untuk Rasul Saw.

    Gangguan dan siksaan-siksaan ini sampai pada batas Rasul Saw. beserta sanak kerabatnya diasingkan di Syi’ib Abi Thalib selama tiga tahun. Setelah kembalinya Rasul Saw. dan beberapa sahabat setianya dari pengasingan, untuk menjauhkan gangguan dan siksaan untuk kaum muslimin Makkah, maka untuk menghindarkan dari tujuan-tujuan penyiksaan, beliau memerintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Dari satu sisi, Rasul Saw. sendiri pun sudah ada niat untuk berhijrah ke Madinah, dan dikarenakan beliau adalah utusan Allah, maka dengan tanpa ijin dari Allah Swt. tidak dapat meninggalkan tempat dakwahnya. Namun dikarenakan terjadi suatu peristiwa maka dengan sendirinya peristiwa inipun dapat merubah ketentuan sebelumnya dan Allah Swt pun merealisasikan hirjahnya Rasul Saw. Peristiwa ini adalah para gembong Quraisy berkumpul di sebuah tempat yang rahasia guna menteror Rasul Saw. dengan menetapkan bahwa setiap dari kabilah di malam hari mengirim seorang utusan untuk menyergu rumanya Rasul Saw. dan membunuh beliau di tempat tidurnya selagi tidur, dimana perencaan ini akhirnya dibeberkan oleh Allah Swt dan diperbolehkan untuk berhijrah pada malam hari itu juga. Supaya orang-orang Quraisy tidak mengetahui kepergian beliau, maka beliau memerintahkan seseorang untuk tidur di tempat tidurnya. Namun adakah orang yang mau tidur di tempatnya Rasul Saw. dan menjadikan dirinya sebagai sasaran serangan dan makanan pedang orang-orang Quraisy? Ya, dia adalah seorang pemuda berumur 23 tahun dimana dijuluki sebagai manifestasi Abu Al-Ajaib. Ali (a.s) lah yang bersedia untuk tidur di tempatnya Rasul Saw. dan menyiapkan syahadah bagi dirinya. Ala kulli hal, setelah penteroran ini gagal maka orang-orang Quraisy, untuk menangkap beliau maka mereka tetap melanjutkan penteroran ini dan Rasul Saw pun berlindung di Goa Hira dengan ditemani Abu Bakar dengan perlindungan Allah Swt, kemudian baru memasuki Madinah.

    Beberapa hari kemudian, Ali (a.s) bersama ibunda tercintanya dan juga puteri Rasul Saw. dan dua wanita lainnya serta para dzuafa’ muslimin lainnya berhijrah ke Madinah dan pada tahun ke 2 Hijriah beliau akhirnya dinikahkan dengan satu-satunya puteri belahan jiwa Rasul Saw. dan dikarenakan dakwah dan nasihat-nasihat Rasul Saw. selama empat belas tahun berlandaskan argumentasi dan logika, maka hidayah beliau dihadapan para pendosa dan para penyembah berhala Arab pun tidak berbekas dan tidak memiliki pengaruh. Akhirnya dalam bentuk ayat-ayat, perintah jihad pun diturunkan dan dari tahun ke 2 Hijriah sampai Sembilan tahun masa hayat beliau, kaum muslimin melakukan peperangan dengan orang-orang kafir, musyrikin dan Yahudi Arab sebanyak 80 kali, dimana dalam semua peperangan ini Ali (a.s) adalah orang yang paling pemberani dan paling baiknya manusia, yang mana keberanian beliau yang menjelaskan akan kesetiaan dan khidmat militernya telah dituturkan dalam kitab-kitab yang beraneka ragam. Dan titik temu diantara peperangan yang ada ini adalah Rasul Saw sampai akhir masa melakukan nasihat dan petunjuk, dan tidak pernah sebagai pemula dan yang mengawali peperangan, sedangkan pihak musuhnya adalah sebagai pemula, perintis, pembangun dan penyebab peperangan-peperangan ini.

    Ya, Imam terkadang berbicara dengan untaian kata murninya dan terkadang juga beliau bebicara dengan diamnya. Terkadang beliau memberi pelajaran dengan kemenangan dan terkadang pula dengan kekalahan. Perkataan beliau ditujukan kepada kita dan risalah kita juga sudah jelas yaitu mengenal pelajaran-pelajaran yang ada ini, membaca untaian-untaian mutiara beliau, mendengarkan diamnya beliau dll.

    Oleh: Abah Haura

    http://hauzahmaya.com