Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. book

    3. Hak-Hak Wanita dalam Islam

    Hak-Hak Wanita dalam Islam

    • Murtadha Muthahhari
    • 1
    • 978-979-24-3358-6
    download

      Download

    Hak-Hak Wanita dalam Islam
    4 (80%) 3 vote[s]
    description book specs comment
    Anda mungkin sering mendengar dalam pidato, ceramah, tulisan-tulisan dari para pengikut gagasan-gagasan barat bahwa mereka memandang hukum islam mengenai mahar, nafkah, perceraian, poligami, dan hukum-hukum lain seperti itu sebagai merendahkan dan menghina kaum wanita, mereka berusaha menciptakan kesan bahwa ketentuan-ketentuan itu hanya membuktikan bahwa kaum pria saja yang diutamakan, kaum pria itu lebih mulia dari kaum wanita dan bahwa wanita diciptakan semata-mata untuk kemanfaatan dan kegunaan kaum pria. Mereka mengatakan bahwa islam adalah agama untuk kaum pria, bahwa islam tidak mengakui wanita sebagai manusia yang sempurna. Jika sekiranya islam mengakui bahwa wanita itu sebagai makhluk yang sempurna, maka islam tidak akan membenarkan poligami, tidak akan memberikan hak cerai kepada pria, tidak akan menetapkan bahwa kesaksian dua orang wanita sama nilainya dengan kesaksian seorang pria, mereka mengatakan bahwa islam memberikan hak-hak diskriminatif dan memihak kepada kaum pria dan masih banyak lagi gagasan-gagasn barat yang melenceng tentang hak wanita dalam islam.

    apabila kita singkirkan peniruan dan pengikutan kepada falsafah barat dan membiarkan diri kita sendiri berpikir dan merenungkan gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan filosofis yang datang kepada kita dari barat, pertama-tama kita harus melihat apakah keidentikan hak itu merupakan suatu kemestian bagi persamaan hak?. Sedangkan persamaan itu berbeda dengan keidentikan. Persamaan berarti kesederajatan dan kesebandingan, sedangkan keidentikan berarti bahwa keduanya harus persis sama.

    Kuantitas berbeda dengan kualitas. Persamaan berbeda dengan keidentikan. Adalah pasti bahwa islam tidak memandang identik atau persis serupa hak pria dengan wanita. Tetapi islam tidak pernah menganut pengutamaan dan diskriminasi yang menguntungkan pria dan merugikan wanita. Islam juga menggariskan prinsip persamaan antara pria dan wanita, tetapi islam tidak setuju dengan keidentikan hak-hak keduanya. Kata “persamaan” telah memperoleh semacam kesucian karena kata ini mencakup pengertian keadilan dan tidak adanya diskriminasi.

    Yang pasti ialah bahwa islam tidak memberikan hak-hak yang identik kepada pria dan wanita dalam semua hal, sebagaimana islam juga tidak menentukan kewajiban dan hukuman yang sama bagi keduanya dalam segala hal.

    Al-Quran bukanlah semata-mata koleksi hukum. KItab suci ini bukan hanya berisi serangkaian perintah dan hukum yang kering tanpa komentar. Al-Quran berisi hukum sekaligus sejarah, seruan sekaligus interpretasi tentang penciptaan dan pokok-pokok lain yang tidak terhitung banyaknya. Sebagaimana al-Quran menetapkan aturan bagi tindakan dan perilaku dalam bentuk hukum, ia juga memberikan penafsiran tentang eksistensi dan wujud. Ia menerangkan rahasia hikmah penciptaan bumi dan langit, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, rahasia hidup dan mati, kebesaran dan penderitaan, pertumbuhan dan kemerosotan, kemakmuran dan kemiskinan.

    Salah satu hal yang dikomentari Al-Quran adalah masalah penciptaan wanita dan pria yang seringkali orang-orang salah menafsirkannya berdasarkan teori-teori mereka sendiri. Kita mesti melihat apakah Al-Quran memandang wanita dan pria sebagai satu hakikat esensi ataukah dua. Al-Quran dengan jelas mengatakan dalam beberapa ayat bahwa allah menciptakan wanita dari sifat dan esensi yang sama dengan pria. Mengenai Adam Al-Quran Mengatakan, “Tuhanmu telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan pasangannya” (Q. 4:1). Berkenaan dengan seluruh manusia, Al_Quran mengatakan, “Allah menciptakan pasanganmu dari jenismu sendiri.”

    Dalam Al-Quran tidak terdapat satu jejak pun tentang apa yang terdapat di dalam kitab-kitab suci lain: bahwa wanita diciptakan dari suatu bahan yang lebih rendah dari bahan untuk pria, bahwa wanita itu parasit dan rendah. Disamping itu, dalam islam tidak ada satu pandangan pun yang meremehkan wanita berkenaan dengan watak dan struktur bawaannya. Suatu pandangan menghina lainnya yang terdapat di masa lampau dan masih meninggalkan bekasnya dalam kesusasteraan dunia adalah bahwa wanita adalah asal segala dosa dan bahwa kehidupan wanita adalah sumber segala dosa dan godaan. Mereka mengatakan bahwa iblis tidak dapat menggoda pria secara langsung, hanya melalui wanitalah iblis dapat menjerumuskan pria. Iblis menggoda wanita dan wanita menggoda pria . Mereka mengatakan bahwa adam yang dibuang dari surga yang penuh bahagia, ditipu melalui hawa yang telah digoda oleh iblis dan hawa pun menggoda adam. Al-Quran mengisahkan kisah Adam di surga, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa iblis atau ular menggoda Hawa dan Hawa menggoda Adam. Al-Quran tidak menggambarkan Hawa sebagai terdakwa utama, tidak pula membela kesuciannya dari dosa. Al-Quran mengatakan “Hai Adam, bertempat tinggallan kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua kapan dan bagaimana saja kamu sukai” (Q. 7:9). Al-Quran mengatakan “Fa waswasa lahuma-sy-syaithanu” (maka syaiton menggoda keduanya – Q. 7:20); “Fa dallahuma bi ghururin” (Dan ia membujuk keduanya dengan tipu daya – Q. 7:22); “Fa qasamuhuma inni lakuma laminan nasihin” (dan dia bersumpah kepada keduanya, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua – Q. 7:21)

    • Murtadha Muthahhari
    • 1
    • 978-979-24-3358-6
    • Penerbit Lentera
    • 2009
    • Cetakan Pertama
    • Jakarta