Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. book

    3. Kisah Surat al-Fatihah

    Kisah Surat al-Fatihah

    • Ali Mir Khalaf Zadeh
    • 1
    • Qorina
    download

      Download

    Kisah Surat al-Fatihah
    3 (60%) 3 votes
    description book specs comment

    Di Najaf al-Asyraf, ada seorang penjual minyak wangi yang sepanjang harinya, setelah menunaikan shalat Zuhur, selalu menasihati orang-orang di tokonya, dan toko itu tidak pernah sepi dari mereka.

    Salah seorang anak raja India, yang saat itu bermukim di Najaf al-Asyraf, berniat untuk pergi keluar kota. Oleh karena itu, sebelum pergi, dia menitipkan sebuah kotak yang berisi batu-batu mulia dan sangat berharga. Setelah itu, barulah dia meninggalkan kota tersebut.

    Sepulangnya dari bepergian, dia meminta kembali amanat yang dia titipkan padanya; si penjual minyak wangi itu mengingkarinya. Orang India itu bingung dan langsung meminta perlindungan pada makam Imam Ali—salam atasnya—seraya berkata, “Wahai Ali, telah kutinggalkan tempat asalku, ketenanganku, demi bermukim di sisimu. Aku telah titipkan seluruh hartaku pada si penjual minyak wangi itu, namun sekarang dia mengingkarinya. Hanya itulah harta yang kumiliki dan aku tak punya saksi yang dapat menguatkan pernyataanku; hanya engkaulah yang dapat menolongku dalam masalah ini.”

    Malam harinya, Imam Ali–salam atasnya–datang dalam mimpinya dan berkata, “Ketika pintu gerbang kota dibuka, keluarlah, dan mintalah amanatmu kepada orang pertama yang kau lihat, niscaya dia akan memberikannya padamu.”

                Begitu dia bangun dan keluar dari kota, orang pertama yang dilihatnya adalah seorang lelaki tua yang taat beribadah dan zahid. Dia sedang memikul kayu bakar di atas pundaknya dan kayu itu hendak dijualnya untuk menghidupi istri dan anaknya. Orang India ini merasa malu untuk meminta haknya kepada lelaki tua itu. Dia lalu kembali ke haram (makam) Imam Ali–salam atasnya. Malam berikutnya, sama seperti sebelumnya, dalam mimpinya Imam Ali mengatakan hal yang sama. Dan keesokan harinya dia juga melihat si lelaki tua itu dan tidak berkata apa-apa.

    Malam ketiga sama seperti malam-malam sebelumnya. Pada hari ketiga, dia melihat si lelaki tua itu lagi dan dia pun menceriterakan masalah itu padanya serta meminta amanat itu darinya.

    Lelaki tua itu berpikir sejenak kemudian berkata, “Esok setelah shalat Zuhur, datanglah ke toko si penjual minyak wangi itu, nanti amanatmu akan kukembalikan.” Esok harinya, ketika semua orang berkumpul di toko si penjual minyak wangi, si abid itu berkata, “Biarlah hari ini saya yang memberikan nasihat kepada mereka.” Si penjual minyak wangi pun menerimanya.

    Setelah itu, beliau berkata, “Ayyuhan nas, aku adalah si fulan putra si fulan. Aku sangat takut terhadap haqqun nas (hak manusia) dan karena taufik dari Allah Swt, di dalam hatiku tidak ada sedikit pun kecintaan kepada kekayaan duniawi. Aku adalah orang yang menerima rezeki yang Allah bagikan padaku dan aku suka mengisolasi diri. Dengan sifat yang kumiliki ini pernah terjadi padaku suatu peristiwa yang sangat tak mengenakkan. Hari ini aku ingin menceritakannya kepada kalian semua, agar aku dapat mengabarkan kepada kalian pedihnya azab Allah dan panasnya api Jahanam. Juga, aku dapat sampaikan sebagian di antara khabar-khabar hari pembalasan dan hari kiamat.”

    “Ketahuilah, suatu hari aku terpaksa harus berhutang kepada seseorang; aku berhutang sepuluh qiran kepada seorang Yahudi dan aku berjanji akan mengembalikannya dalam tempo 20 hari; setiap satu hari aku harus mengembalikan setengah qiran kepadanya. Pada hari kesepuluh, aku sudah mengembalikan separuh dari hutangku. Namun, setelah itu aku tak melihatnya lagi. Aku pun menanyakan kepada orang-orang tentangnya. Orang-orang berkata, ‘Dia sudah pergi ke kota Baghdad.’ Setelah beberapa malam, di dalam mimpi, aku melihat seakan-akan kiamat telah tiba dan semua manusia dihadirkan untuk dihisab.”

    “Dengan karunia Ilahi, aku termasuk orang yang selamat dan tergolong ahli surga. Aku langsung menuju ke surga. Sesampainya di Shirath, aku mendengar suara jeritan Jahanam dan kemudian aku melihat si Yahudi yang menghutangiku itu berwujud seperti kobaran api. Dia keluar dari Jahanam dan menghalangi perjalananku seraya berkata, ‘Berikanlah lima qiran, sisa hutang yang kuberikan padamu.’”

    • Ali Mir Khalaf Zadeh
    • 1
    • Qorina
    • 2007
    • Cetakan Ketiga
    • Jakarta