Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. book

    3. Mahdiisme dalam Perspektif AhlulBayt as

    Mahdiisme dalam Perspektif AhlulBayt as

    • Abdul karim al Bahbahani
    • 1
    • 964-529-134-8
    download

      Download

    Mahdiisme dalam Perspektif AhlulBayt as
    1 (20%) 1 vote[s]
    description book specs comment

    Berpolemik dan berbeda pendapat merupakan tabiat manusia. Sebagai Sang Pencipta, Allah swt. menghen-daki fitrah itu tetap berjalan dalam koridor keimanan yang benar. Oleh karena itu, adanya sebuah tolok ukur yang menjadi rujukan semua pihak adalah satu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan lagi. Allah swt. telah menurunkan kitab pedoman dengan kebenaran yang akan menjadi penengah bagi umat manusia dalam berbagai hal yang diperselisihkan (QS.2:213).

    Tanpa kenyataan ini, kehidupan yang sehat tidak akan dapat berlangsung. Ini adalah ketentuan yang telah ditegaskan oleh Al-Quran yang berlandaskan pada asas Tauhid yang absolut. Lalu, penyimpangan, mitos dan kebohongan terus menerus dilakukan oleh anak cucu Adam, hingga akhirnya mereka mulai menjauh dari asas yang kuat ini.

    Dari sini jelas, bahwa manusia tidak akan sanggup menjadi penengah antara kebenaran dan kebatilan selagi mereka masih menjadi abdi hawa nafsu dan budak kesesatan. Al-Quran telah datang, namun hawa nafsu telah mencabik-cabik manusia dari berbagai arah. Ambisi, obsesi, keresahan dan kesesatan telah jauh menyeret manusia untuk dapat menerima hukum dan arahan Al-Quran dan memalingkan mereka dari meru-juk kepada kebenaran yang telah jelas.

    Menurut Al-Quran, kedurhakaan adalah hal yang telah menggiring manusia kepada polemik, kecong-kakkan dan ketidakacuhan (Ibid). Di samping itu, kebodohan juga merupakan faktor lain dari timbulnya polemik dan perpecahan. Hanya saja, bukankah telah dipesankan bahwa seorang jahil hendaknya bertanya kepada orang yang tahu, sebagaimana Allah swt. berfirman:

    Maka bertanyalah kalian kepada Ahlul kitab jika kalian tidak mengetahui.” (QS.21:7, 16:43).

    Oleh karena itu, tindakan menerjang yang dilakukan oleh seorang yang bodoh terhadap asas yang diterima akal dan diterapkan oleh para akil ini adalah pelanggaran terhadap kaidah dan metode paling jelas dalam rangka menutup celah perselisihan.

    Islam adalah agama yang abadi yang terangkum dalam teks-teks Al-Quran dan sunah Rasulullah; sosok yang tak pernah mengucapkan satu kata pun dari mulutnya kecuali wahyu Tuhan semata. Allah swt. dan Rasul-Nya telah mengetahui bahwa umatnya akan berbeda pendapat setelah kepergian beliau, sebagaimana hal tersebut telah terjadi saat beliau masih hidup dan berada di tengah-tengah mereka.

    Atas dasar ini, Al-Quran telah menurunkan obor kepada umat yang dapat digunakan selepas kepergian Rasulullah; pelita yang dapat menuntun manusia sehing-ga mengikuti jejak yang pernah ditinggalkan oleh beliau, dan dapat membantu mereka dalam rangka memahami dan menafsirkan arahan-arahannya. Obor itu tak lain adalah Ahlul Bait a.s. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah disucikan dari segala kotoran dan noda, manusia-manusia yang kepada kakek mereka Al-Quran diturunkan. Mereka menerima langsung ajaran ilahi dari beliau dan memahaminya dengan penuh kesadaran dan amanah Dan mereka telah dianugerahi hal-hal yang tidak diberikan kepada siapa pun.

    Sebagaimana Rasulullah saw. telah menegaskan kepemimpinan mereka secara global dalam hadis Tsaqalain yang sangat masyhur, mereka telah berupaya semaksimal mungkin menjaga syariat Islam dan Al-Quran dari pemahaman dan interpretasi yang keliru. Mereka juga tekun menjelaskan konsep-konsep agung agama. Maka itu, mereka adalah rujukan umat Islam.

    Ahlul Bait a.s. telah menepis segala kerancuan, menyambut pertanyaan, meredam berbagai provokasi dengan penuh ketabahan dan kemurahan hati. Sejarah dan perilaku dermawan mereka adalah bukti perlakuan mereka yang luar biasa baiknya terhadap para penanya dan tukang omong, sebagaimana sejarah juga menun-jukkan ketajaman dan kedalaman jawaban-jawaban mereka sebagai bukti kepemimpinan unggul mereka di bidang intelektualitas.

    Khazanah Ahlul Bait a.s. yang tersimpan utuh di dalam madrasah mereka dan hingga sekarang tetap ter-pelihara dengan baik, merupakan universitas lengkap yang meliputi berbagai cabang ilmu-ilmu Islam. Mad-rasah ini telah mampu mendidik jiwa-jiwa yang siap menggali pengetahuan dari khazanah itu dan mengete-ngahkannya kepada umat dan ulama-ulama besar Islam. Madarasah ini pula yang tampil sebagai pembawa risalah Ahlul Bait a.s. yang mampu menjawab secara argumentatif segala keraguan dan persoalan yang dilon-tarkan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun dari luar Islam.

    Berangkat dari tugas-tugas mulia yang diemban, Majma Jahani Ahlul Bait (Lembaga Internasional Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemuliaan risalah dan hakikatnya dari serangan berbagai golongan dan aliran yang memusuhi Islam; dengan cara mengikuti jejak Ahlul Bait a.s. dan penerus mereka yang senantiasa berusaha menjawab berbagai tantangan dan tuntutan, serta berdiri tegak di garis depan perlawanan sepanjang masa.

    Khazanah yang terpelihara di dalam kitab-kitab ulama Ahlul Bait a.s. itu tidak ada tandingannya, karena kitab-kitab tersebut disusun di atas landasan logika dan argumentasi yang kokoh, bebas dari sentuhan hawa nafsu dan fanatisme buta. Kepada kalangan ulama dan pakar, Mereka pun mengetengahkan karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang bersih.

    Berbekal kekayaan pengalaman, Lembaga Interna-sional Ahlul Bait berupaya mengajukan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang komit pada khazanah Ahlul Bait a.s., dan oleh para penulis yang telah mendapatkan karunia Ilahi untuk mengikuti ajaran mulia tersebut.

    Di samping itu, Lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dan karya ulama Syi’ah terdahulu, agar kekayaan ilmiah ini men-jadi mata air bagi pencari kebenaran yang mengalir ke segenap penjuru dunia, di era kemajuan intelektual yang telah mencapai kematangannya, sementara interaksi an-tarindividu semakin terjalin demikian cepatnya, hingga terbuka pintu hatinya dalam menerima kebenaran tersebut melalui madrasah Ahlul Bait a.s.

    Akhirnya, kami mengharap kepada para pembaca yang mulia; kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan, gagasan dan kritik konstruktif demi ber-kembangan lembaga ini di masa-masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan khazanah Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini, melimpahkan taufik-Nya, serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya, Imam Mahdi afs. di muka bumi ini.

    Perlu disinggung di sini bahwa seri kajian ini telah disusun oleh panitia khusus yang dipimpin oleh Yang Terhormat Hujjatul Islam Syeikh Abul Fadhl Al-Islami beserta para ulama lain seperti: Sayyid Mundir Al-Hakim, Syeikh Abdul Karim Al-Behbahani, Sayyid Abdur Rahim Al-Musawi, Syeikh Abdul Amirul Mu’minin As-Sulthani, Syeikh Muhammad Al-Amini, Syeikh Muhammad Hasyim Al-Amili, Sayyid Muhammad Ridha Aal Ayub, Syeikh Ali Behrami, Husain Ash-Shalihi dan Aziz Al-Uqabi.

    Demikian juga kami sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Sirajuddin yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia. Tak lupa, kami sampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi di dalam penerbitan buku ini.

    • Abdul karim al Bahbahani
    • 1
    • 964-529-134-8
    • 2006
    • Qom-Iran