Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. book

    3. PERGUMULAN HUKUM ISLAM DAN BUDAYA SASAK

    PERGUMULAN HUKUM ISLAM DAN BUDAYA SASAK

    • MASNUN TAHIR, M.Ag
    • SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) NURUL HAKIM KEDIRI LOMBOK BARAT
    download

      Download

    PERGUMULAN HUKUM ISLAM DAN BUDAYA SASAK
    3.5 (70.53%) 38 votes
    description book specs comment

    Tulisan ini membahas masalah pergumulan hukum Islam dengan budaya Sasak tepatnya dengan Islam Wetu Telu, sebuah varian Islam di daerah Sasak Lombok. Pembahasan dimulai dengan melihat peta, pola dan praktik keagamaan pada masyarakat Sasak yang terbagi menjadi dua varian yaitu Islam Waktu Lima dan Islam Wetu Telu. Dari kedua kelompok ini terdapat Islam dengan karakteristik yang membedakan keduanya, meskipun menempati wilayah yang sama. Perbedaan yang amat mencolok adalah dalam hal pengamalan-pengamalan fiqih, doktrin Islam Waktu Lima lebih cenderung berkomitmen pada ideal Islam, sementara Islam Wetu Telu ajaran yang mereka jalankan banyak diwarnai oleh kepercayaan terhadap ketuhanan anismistic leluhur dan benda-benda antromorfis lainnya. Dalam hal ini mereka dapat dikatakan panteis. Adapun secara umum mengenai ajaran Islam, kelompok Islam Wetu Telu mengenal tiga rukun Islam saja, yaitu syahadat yang hanya dilakukan waktu akad nikah saja,serta solat dan puasa yang hanya merupakan kewajiban dan dilakukan oleh kyai saja, sementara orang awam tidak wajib melakukannya. Hal ini karena mereka berpandangan bahwa kiai adalah orang suci dan bebas dari dosa dan mampu menanggung segala urusannya di akhirat. Adapun kewajiban bagi masyarakat hanyalah taat dan membayar zakat pad kyai.

    Dalam hal perkawinan, tradisi Kawin Lari masyarakat Islam Wetu Telu adalah sebuah tradisi yang secara turun-temurun masih dipertahankan oleh masyarakat Sasak secara umum. Kawin Lari dipandang sebagai sebuah konsep perkawinan yang utuh dengan tahapan prosesi yang panjang, sakral. Dikatakan menarik karena setiap ritual yang dijalankan, sarat dengan simbol-simbol dengan filosofi yang sarat makna.

    Sebagai kelompok minoritas Islam Wetu Telu, baik secara langsung maupun tidak langsung keberadaannya semakin ditekan oleh tiga lapis “penindasan” sekaligus, yakni arus modernitas, penetrasi aktif dakwah Islamiyah yang tak kunjung surut, dan implikasi massif dari kebijakan politik khususnya program transmigrasi. Mereka yang tersisa kini kian terpencil dari komunitas besar etnis Sasak dan distigma sebagai segmen masyarakat yang “ketinggalan zaman” dan secara teologis “sesat” dan karenanya perlu didakwahkan.

    • MASNUN TAHIR, M.Ag
    • SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) NURUL HAKIM KEDIRI LOMBOK BARAT