Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. book

    3. Soal Jawab Fikih Kontemporer

    Soal Jawab Fikih Kontemporer

    • Muhammad Husain Fadhlullah
    • 1
    • Titian Cahaya
    download

      Download

    Soal Jawab Fikih Kontemporer
    4 (80%) 2 votes
    description book specs comment

    Soal – Jawab Fikih Kontemporer – Masalah Seks, Keluarga, Niaga, Politik, Negara, dan lain-lain

    Para Ulama harus dekat dengan orang – orang Universitas, sebab jika mereka meninggalkan para akademisi, dalam waktu yang singkat Agama Islam akan menjadi barang yang kuno dan ditinggalkan orang. Kita akan berbicara seperti bicaranya orang – orang terdahulu.”

    (Sayyid Husain Fadhlullah)

    Dalam berbicara beliau selalu berbahasa arab yang fasih, dalam arti menggunakan kalimat – kalimat yang sederhana namun terdengar indah. Begitu memancarkan kesejukan sekaligus kewibawaan.  Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah lahir pada tahun 1354 H/1933 M di kota Najaf al-Asyraf. Ayahnya, Sayyid Abdul Rauf Fadhullah adalah salah seorang ulama besar di Najaf kurang lebih selama tiga puluh tahun. Datuknya bernama Najibuddin Fadhlullah, adalah salah seorang ulama ternama pada masanya.

    Husain Fadhlullah melalui semua pengajian Muqaddimah dan Suthuh Hauzah di bawah bimbingan langsung ayahnya kecuali jilid kedua kitab Kifayatul Ushul yang ia pelajari dari Syeikh Mujtaba Lankarani. Manakala Bahtsul Kharij ia lalui di bawah bimbingan Sayyid Muhammad Ruhani. Setelah menyelesaikan paket penuh pelajaran Bahtsul Kharij di bawah bimbingannya, ia lalu dibimbing oleh Ayatullah Khu’i. Kumpulan pelajaran yang telah ditekuni oleh Husain Fadhlullah di bawah bimbingan Ayatullah Khu’i antara lain ialah; satu paket penuh ilmu Ushul Fiqh, bab Ba’i (jual beli) dan Khiyarat dari kitab al-Makasib, bab Taklid, bab Thaharah (bersuci), dan sebahagian bab Shalat. Di samping itu juga, ia juga pernah menghadiri pelajaran Syeikh Husain al-Hilli selama dua sampai tiga tahun, pelajaran Ayatullah Sayyid Mahmud Shahrudi selama dua tahun, dan pelajaran Ayatullah Hakim selama satu setengah tahun. Pelajaran Qawa’idul Fiqhiyah ia pelajari di bawah bimbingan Mirza Hasan Burujerdi pada hari-hari minggu.

    Melihat kekosongan gerakan sosial yang ada di kalangan para pelajar Hauzah Najaf, Husain Fadhlullah memberanikan diri untuk membentuk sebuah kegiatan sosial dan media massa. Akhirnya, pada tahun 1379 H/1958 M, ia bekerja sama dengan Ayatullah Muhammad Baqir as-Shadr dan Ayatullah Syeikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dan didukung oleh Jama’atul Ulama yang berpusat di kota Najaf. Ketika itu, gerakan mereka berhasil menerbitkan majalah al-Adhwa’. Kajian utama majalah ini pada tahun pertama diisi oleh artikel-artikel yang ditulis oleh Syahid Muhammad Baqir as-Shadr dengan judul Risalatuna (misi kami) selama setahun, pada tahun kedua selama enam tahun diisi oleh Sayyid Husain Fadhlullah dengan judul Kalimatuna (pesan kami). Artikel-artikel kedua ini akhirnya dibukukan dengan judul Qadhayana ‘ala Dhau’il Islam.

    Kerjasama antara Sayyid Muhammad Husain Fadhullah dan Syahid Muhammad Baqir as-Shadr ini tidak hanya terfokus pada bidang kebudayaan. Akan tetapi, hal ini juga meliputi bidang politik yang melahirkan sebuah partai revolusioner “Gerakan Islam Iraq” yang akhirnya berganti nama menjadi “Hizb ad-Da’wah al-Islamiyah”. Pada saat itu para pengikut revolusioner Iraq masih belum memiliki sebuah partai politik yang tersusun secara rapi.

    Pada tahun 1387 H/ 1966 M, berdasarkan permintaan kebanyakan para pengikutnya di libanon dan perintah ayah beliau yang ketika itu adalah seorang Marja’ di sana, Husain Fadhlullah kembali ke Libanon. Hingga kemudian ia berhasil mendidik para kaum muda berdasarkan ajaran-ajaran Al-Quran yang mulia. Kegiatan-kegiatan-kegiatannya hingga kini telah meluas meliputi bidang-bidang politik, kebudayaan, pendidikan serta keagamaan. Ia termasuk salah seorang ulama yang terbilang paling aktif dalam menyebarkan agama Islam.

    Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah disamping memiliki kedudukan yang khusus di kalangan ulama para pemikir, ia tidak pernah lalai membimbing masyarakat umum dan tidak pernah lupa menjalankan etika-etika Islam di tengah kehidupan mereka. Yang perlu diperhatikan di sini adalah kaedah yang digunakannya dalam mendidik para generasi muda khususnya para muslimah sebagai penentu masa depan sebuah masyarakat. Husain Fadhlullah meyakini bahwa Islam harus diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat dalam bentuk teori pemikiran yang dapat mempengaruhi logika dan cara berpikir manusia. Disamping itu, ia juga diterjemahkan dalam bentuk perasaan, naluri dan cinta yang dapat menusuk kalbu. Dan ketika kita boleh melakukan semua itu, niscaya kita akan dapat merealisasikan  kedua faktor tersebut (faktor pemikiran dan naluri) di dalam kepribadian, perilaku dan kehidupan manusia. Dengan kata lain, teori pemikiran Islam itu dapat kita ubah ke dalam bentuk amalan.

    Salah satu bentuk kecintaan beliau terhadap Islam dan tanda kecemburuan beliau terhadap non Islam yang sangat tinggi, dilihat pada fatwa terakhirnya sebelum meninggal dunia ialah peringatan kepada kaum muslimin tentang adanya judaisasi atau pengyahudian daerah – daerah Islam saat ini terutama di Palestina dia pun meminta perhatian penuh dari seluruh kaum muslimin tentang adanya proses judaisasi ini. Kecintaan beliau terhadap peninggalan – peninggalan Islam ini mulai tampak sejak masa kecil.

    • Muhammad Husain Fadhlullah
    • 1
    • Titian Cahaya
    • 2005
    • Cetakan Pertama
    • Jakarta