Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Imam Ridho di Mata Syi`ah dan Sunnah

    Imam Ridho di Mata Syi`ah dan Sunnah

    Imam Ridho di Mata Syi`ah dan Sunnah
    Rate this post
    description post specs comment

    Nama lengkapnya adalah Ali bin Musa bin Ja`far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib . Lahir di Madinah al-Munawarah (tahuh 148 H), meninggal (tahun 203 H) dan dikuburkan di kota Thus (Masyhad) Iran. Menurut Syiah Imamiyah, beliau adalah Imam yang ke delapan dari Ahlul Bayt Rasulullah saw.

    Secara nasab, beliau adalalah keturunan Rasulullah saw. Hal itu ditegaskan pula oleh Al-Hakim An-Naisaburi As-Syafi`I; “Salah satu kebesaran nasab Ali bin Musa Ar-ridlo adalah beliau keturunan sebaik-baik manusia Muhammad al-Mustofa saw. Ini adalah pandangan Ahlussunnah waljama`ah dan ijmak para ulama Hijaj. Barangsiapa menolak pendapat ini, maka berarti telah menolak al-Kitab dan as-Sunnah, memerangi kebenaran dan melakukan permusuhan terhadap pemimpin dua pemuda penghuni surga (Hasan dan Husain) serta keturunananya hingga hari kiamat” .  Penegasan ini seakan jawaban terhadap aliran-aliran yang memusuhi Ahlul Bayt Nabi saw yang berusaha memisahkan mereka dari garis keturunan Rasulullah saw sepanjang sejarah.

    Nama aslinya adalah Ali, dan Ar-Ridlo adalah nama panggilannya. Sebagian Ahlussunnah menduga bahwa orang pertama yang memberi gelar Ar-Rdlo adalah Kholifah Abbasiyah. Hal itu terjadi pada tahun 201 H,  tatkala beliau rela diangkat sebagai putra mahkota Khilafah Abbasiyah. Berbeda dengan Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr al-Bizinthi yang menukil dari Imam al-Jawad as, bahwa dugaan tersebut dianggap tidak beralsan. Ibnu Abi Nashr al-Bizinhti pernah bertanya kepada Imam al-Jawad as: Ada sekelompok kaum yang menduga bahwa ayahmu diberi gelar Ar-ridlo oleh al-Makmun (kholifah Abbasiyah) karena  menerima jabatan sebagai putra mahkota. Imam Jawad as menjawab: “Sungguh, demi Allah mereka telah berbohong. Allahlah yang memberinya gelar Ar-ridlo, sebab beliau adalah kekasih Allah di langit dan kekasih Rasul-Nya serta para Imam setelahnya di muka bumi”.  Lalu aku bertanya: Tidakkah masing-masing dari ayah-ayahmu terdahulu adalah kekasih-kekasih Allah, Rasul dan para Imam as? Beliau menjawab: “Benar”. Lalu kenapa hanya Ayahmu yang mendapat gelar Ar-Ridlo? Imam al-Jawad as menjawab: “…sebab para penentang dari musuhnya telah ridlo kepadanya, sebagaimana para kekasih dan pendukungnya…”

    Pendapat ini diperkuat pula oleh sebagian tokoh Ahlussunnah, seperti al-Juwaini as-Syafi`I dan Abdurrahman al-Jami al-Hanaf. Di antara mereka ada yang sempat menyusun syair sebagai berikut:

    Imam Ali pemilik nasab tinggi nan agung

    Penghulu para `Ajam dan pemimpin para Arab

    Sungguh ridlo sang Pencipta Alam kepadanya

    Dan karenanya dia diberi gelar Ar-Ridlo.

    Imam Ridho as di Zaman Harun Ar-Rasyid

    Imam Ridlo menggantikan posisi ayahnya sebagai imam pada tahun 183 H, tepat pada saat beliau berusia 35. Yaitu setelah ayahnya, Imam al-Kazdim, meninggal di dalam penjara Harun Ar-Rasyid. Dalam kepemimpinan, beliau as sezaman dengan Kholifah Harun Ar-Rasyid dan kedua putranya, Al-Amin dan Al-Makmun. Sepuluh tahun berada di bawah kekuasaan Harun Ar-Rasyid, lima tahun di bawah pemerintahan Al-Amin dan lima tahun berikutnya di bawah pemerintahan Al-Makmun.

    Setelah ayahnya Syahid, secara tegas dan terang-terangan beliau as menyatakan diri sebagai Imam, pemimpin umat, menggantikan ayahnya. Tanpa ragu dan takut, hal tersebut terus beliau dengungkan. Padahal secara politik, masyarakat di zaman pemerintahan Harun Ar-Rasyid berada dalam tekanan, sehingga nyaris tidak seorangpun bisa lepas dari hukumannya. Sikap berani dan tegas ini, membuat  para sahabat dan kawan dekat khawatir akan keselamata beliau as. Sebab, hampir tidak ada beda antara kekuasaan Abbasiyah dan Umaiyah dalam visi dan misi. Hanya metode dan strategi yang membedakannya. Mereka sama-sama berusaha menyingkirkan peran Ahlul Bayt dari umat. Tapi Umaiyah lebih cenderung brutal dan sadis, sedang Abbasiyah lebih lembut, tapi licik dan agama sebagai bentengnya.

    Shofwan bin Yahya menceritakan; setelah ayahnya syahid, secara lantang dan tegas Imam Ridlo berbicara yang membuat kami khawatir akan keselamatan jiwanya. Kami katakan kepadanya: “Sungguh engkau telah menampakkan sesuatu yang sangat besar dan kami khawatir atas keselamatanmu dari penguasa zalim (Harun) ini. Dengan tenang Imam Ridho menjawab: “Apapun yang dia inginkan, silahkan dia berusaha. Sungguh tiada jalan baginya untuk mencelakai diriku”. Beliau menngatakan: “Sesungguhnya yang membawa aku melakukan ini adalah sabda Rasulullah saw; “Andaikata Abu Jahal bisa memotong sehelai rambut dari kepalaku, maka saksikanlah oleh kalian bahwa aku pasti bukanlah nabi”. Dan kemudian beliau menegaskan kembali; “Andaikata Harun bisa memotong sehelai rambut dari kepalaku, maka saksikanlah oleh kalian bahwa aku pasti bukanlah Imam”.

    Apa yang dipredeksikan Imam, benar-benar terjadi. Selama berkuasa, Harun Ar-Rasyid tidak pernah bisa menyentuh kehidupan Imam sama sekali. Berbagai gejolak politik telah menyibukkan Harun Ar-Rasyid, sehingga kesempatan untuk mengancam Imam pun tidak ada. Di Iran Timur telah terjadi pemberontakan besar-besaran yang akhirnya memaksa Harun Ar-Rasyid pergi memimpin pasukan sendiri menuju Khurasan. Di tengah perjalanan, Harun Ar-rasyid terkena penyakit dan kemudian meninggal di daerah Thus pada tahun 193 H. Dengan demikian, Imam terbebas dari kekejaman Harun Rasyid dan aman dari pembunuhan.

    Imam di Zaman Al-Amin

    Setelah kematian Harun, terjadi perebutan kekuasaan antara Al-Amin dan Al-Makmun yang mengakibatkan gejolak besar. Sebelum meninggal, Harun Arrasyid telah menunjuk Al-Amin sebagai kholifah, menggantikan posisinya. Harun Ar-Rasyid telah membuat perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan dengan Al-Amin. Di antaranya; setelah kekuasaan Al-Amin berakhir, maka kekuasaan harus diberikan sepenuhnya kepada Al-Makmun dan diangkat sebagai kholifah. Dan di saat Al-Amin berkuasa, hendaknya pemerintahan wilayah Khurasan diserahkan kepada Al-Makmun. Namun setelah kematian Harun, Al-Amin justru mengisolasi Makmun dari jabatan putra mahkota dan mencalonkan putranya sendiri, Musa.

    Pergolakan akhirnya tidak bisa dihindarkan. Perang dahsyat dan berdarah di antara dua saudara tidak bisa dihentikan. Sehingga pada tahun 198 H, Al-Amin terbunuh dan jabatan khilafah diambil alih sepenuhnya oleh Al-Makmun.

    Di saat terjadi perebutan kekuasaan, Imam Ridlo as justru  memanfaatkan kondisi ini untuk membina, menggembleng dan mendidik para pengikutnya agar tetap kuat dan solid. Beliau tidak ingin masuk dalam percaturan politik praktis penguasa yang justru akan melemahkan posisi beliau di tengah umat dan memecah soliditas para pengikutnya. Dan inilah strategi seorang Imam yang layak dikaji lebih jauh.

    Imam di Zaman Al-Makmun

    Di antara sekian Kholifah Abbasiyah, yang paling berbobot dan berilmu adalah Al-Makmun. Menguasai berbagai bidang ilmu, terutama agama, fikih dan kalam (theologi). Sering terlibat dalam berbagai pertemuan dan kajian ilmiah dengan para ulama. Namun di balik ini semua, Makmun juga dikenal sebagai orang yang cerdik, licik, banyak makar dan tipu muslihat. Kemampuannya dalam menguasai ilmu modern menjadi modal terbesar dalam menjalankan arah politiknya. Meskipun telah terjadi pemberontakan di beberapa daerah, namun kekuasaan Al-Makmun tetap kuat. Pendekatan persuasive terhadap para tokoh dan ulama secara intensif dilakukan, syiar agama terus didengungkan guna memperkokoh kekuasaannya. Bahkan tak jarang Makmun mengundang para ulama dari berbagai madhab ke pusat kerajaan untuk berdialog.

    Ad-Dumairi As-Syafi`I mengatakan: “Tidak seorang pun dari Bani Abbas yang lebih alim daripada Makmun…menguasai ilmu, cerdas dan pandai berpolitik”

    Ibnu Nadim: “Sungguh dia adalah penguasa Abbasiyah yang paling menguasai fikih dan ilmu thiologi”

    As-Suyuthi As-Syafi`i: “Dia adalah sebaik-baik pemimpin Bani Abbas, tegas, tegar, berilmu, cerdas, berwibawa dan pemberani..”

    Imam Ali bin Abi Tolib pernah mempredeksi tentang kejadian gaib, beliau mengatakan: “Celaka bagi umat ini dari para pemimpinnya! Mereka adalah pohon terkutuk yang disebutkan Tuhanmu, yang pertama berwarna hiaju dan yang terakhir adalah berlesung pipit, berikutnya urusan umat mahamma ini akan dikuasai oleh orang-orang, yang pertma….dan yang ketujuh adalah yang paling alim di antara mereka…”

    Meskipun menguasai ilmu agama dan fikih, namun Al-Makmun seakan merasa tidak terikat dengan Islam sama sekali. Kedekatan Al-Makmun dengan Al-Qodli Yahya bin Aktam, seorang manusian rendah, adalah bukti nyata akan kefasikan dan kemunafikannya. Di tengah masyarakat, Yahya dikenal sebagai orang yang paling jahat, bahkan pena pun malu untuk menceritakannya. Orang seperti ini dijadikan Makmun sebagai sahabat karibnya, baik di dalam masjid, di kamar mandi bahkan di kebun sekali pun. Lebih daripada itu, orang seperti ini diangkatnya sebagai Hakim Agung bagi umat Islam dan dijadikan tempat rujukan dalam urusan penting pemerintahan.

    Tidak dipungkiri bahwa pada masa kekuasaan Makmun, secara lahiriyah, ilmu dan pengetahuan semakin berkembang. Banyak ulama di undang ke pusat pemerintahan dan didorong untuk melakukan penelitian dan kajian. Hal itu dilakukan sebagai langkah mulus untuk mencari simpati dan dukungan.

    Makmun juga berusaha menarik hati para pecinta Ahlul Bait dan pengikut Imam Ridho as dengan berbagai tindakan. Misalnya, dia berbicara bahwa Ali adalah orang yang layak menjadi kholifah Nabi saw. Bahkan secara resmi dia mengeluarkan maklumat yang mengutuk tindakan Muawiyah dan mencaci-maki perbuatannya. Mengembalikan Fadak kepada Alawiyin dan bersikap simpatik terhadap mereka.. Semua ini dilakukan sebagai upaya membersihkan diri dari warisan kejahatan yang diterima dari para leluhur sebelumnya.

    Rekayasa di Balik Jabatan Putra Mahkota

    Meskipun Makmun sudah berkuasa dan bahaya Al-Amin, saudaranya, telah dilenyapkan, akan tetapi pengikut Al-Amin masih belum bisa menerimanya. Mereka menilai bahwa pemerintah yang berkuasa dianggap tidak berpihak  kepada mereka. Di sisi lain, perlawanan Alawiyin telah menjadi ancaman serius bagi pemerintahan Al-makmun. Sebab, pada tahun 199 H, Muhammad bin Ibrahim, salah satu tokoh Alawiyin yang disegani, telah bangkit dan membantu Abu Saraya melakukan perlawanan. Perselisihan antara Al-Amin dan Makmun dalam perebutan kekuasan, dimanfatkan oleh para pemberontak untuk memperluas gerakan. Akibatnya, kekacauan terjadi di mana-mana, di Hijaj, Irak dan tempat-tempat lain. Bahkan diperkirakan, orang-orang Iran juga akan bangkit membantu kelompok Alawiyin, karena meraka meyakini bahwa hak syar`I  kepemimpinan berada di tangan Ahlul Bayt. Dan ini adalah ancaman tersendiri bagi kekuasaan Al-Makmun.

    Melihat situasi seperti ini, Makmun merasa lumpuh dan tidak akan bisa mengusai keadaan. Untuk antisipasi, langkah setrategis dan praktis harus segera diambil. Di mata Makmun, tokoh utama yang bisa meredam kelompok Alawiyin adalah Imam Ridho as. Di samping sebagai ulama yang disegani, beliau juga keturunan Nabi yang sangt dicintai semua orang. Akhirnya, surat pernyataan Makmun untuk meletakkan jabatan khilafah dan rencana menyerahkannya kepada Imam Ridho as segera di layangkan ke Madinah. Diharapkan langkah antisipatif ini dapat meredam emosi kelompok Alawiyin dan orang-orang Iran yang setia kepada Ahlu Bayt as. Namun, dengan tegas Imam Ridho as menolaknya. Dalam surat yang kedua, Makmun menulis: ..”ketika kamu menolak permohonanku yang pertama, maka kini kamu harus menerima jabatan sebagai putra mahkotaku”. Permohonan yang kedua ini pun ditolak oleh Imam Rho as.

    Tidak ada jalan lain bagi Makmun selain memaksa Imam Ridho as. Akhirnya, dari Madinah beliau didatangkan ke Marwa (pusat pemerintahan) untuk melakukan pertemuan khusus. Dalam pertemuan terbatas ini, hadir pula Fadl bin Sahal Dzirriyasatain. Makmun berkata: “Pendapatku tidak berubah, khilafah dan urusan kaum muslimin aku serahkan kepadamu”. Pendirian Imam pun tidak berobah, beliau tetap menolak.

    Ketika, Makmun mengulangi permohonannya yang ke sekian kalinya dan Imam as tetap menolak, maka dengan tegas Makmun mengatakan: “Umar bin Khottob telah menentukan khalifah sesudahnya dengan membentuk dewan syura yang anggotanya terdirti dari enam orang, salah satunya adalah kakekmu, Ali bin Abi Talib. Umar mengeluarkan perintah agar membunuh setiap orang yang melawannya. Sekarang, tidak ada jalan lain bagimu kecuali menerima apa yang aku inginkan. Sebab, tidak ada jalan dan alternative lain yang bisa aku temukan”

    Di bawah ancaman, Imam terpaksa menerima jabatan tersebut, dengan syarat. Dalam jawabannya, Imam as  berkata: “Aku siap menerima jabatan sebagai putra mahkota dengan syarat; aku tidak akan mengeluarkan perintah dan tidak mengelaurkan larangan, tidak mengelaurakan fatwa, tidak mengelaurakan keputusan, tidak melakukan pemecatan atau mengangkat seseorang, tidak mengubah orang dan atau menggantinya”. Makmun menyetujui persyaratan ini.

    Ini adalah taktik dan rekayasa politik yang sangat matang. Jabatan penting ditawarkan, tanpa perduli dampak negative di internal Bani Abbasiyah. Kalau bukan karena perhitungan matang  dengan keuntungan politik yang besar, maka langkah ini sulit dilakukan olah Makmun. Resiko perpecahan di internal Abbasiyah adalah taruhannya. Sulit dipercaya, orang yang membunuh saudaranya sendiri untuk merebut kekuasaan dan hidup dalam kezaliman, tiba-tiba berubah darstis menjadi agamis, zuhud dan menjauhi kekuasaan. Oleh sebab itu, wajar jika Imam Ridho menolak tawaran tersebut karena di dalamnya terselubung makar, tipu muslihat dan konspirasi.

    Bukti bahwa langkah tersebut adalah makar, dapat dilihat dari pernyataan Al-Makmun sendiri yang termuat dalam surat yang disampaikan kepada Hamid bin Mahram salah satu pejabat tinggi kerajaan:

    “….pria ini bersembunyi dan jauh dari kita. Dia berdakwah untuk dirinya sendiri. Kita angkat sebagai putra mahkota karena kita menginginkan agar dia berdakwah untuk kepentingan kita, mengakui kerajaan dan kekhilafahan kita. Dengan demikian, maka para pengagumnya akan memahami bahwa apa yang diklaimnya sebagai miliknya adalah kosong. Khilafah adalah khusus milik kita dan tiada bagian apapun untuknya. Kita khawatir, apabila kita biarkan dalam posisinya yang semestinya, akan terjadi gejolak di dalam negeri yang kita tidak akan mampu menghadapinya. Jika itu terjadi, akan ada kondisi yang membuat kita lumpuh untuk menghadapinya…”.

    Muhammad bin Arafah bertanya kepada Imam: “Wahai putra Rasulullah, apa alasan kamu menerima jabatan putra mahkota? Imam menjawab: “Karena alasan yang sama seperti alasan yang mendorong kakekku, Ali, bergabung dalam dewan syura”.

    Yasir, salah seorang pembentu Imam, bercerita; Setelah penyerahan jabatan putra mahkota, dia mengunjungi Imam ke rumahnya. Yasir menemukan Imam dalam keadaan mengangkat tangan ke langit, dan berkata:

    “Tuhanku, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku menerimanya karena terpaksa, maka jangan Engkau siksa aku sebagaimana Engkau tidka menyiksa hamba-Mu dan Nabi-Mu, Yusuf, ketika menerima kekuasan Mesir”

    Imam pernah menegur salah satu sahabat khususnya karena terlihat bergembira atas penerimaan Imam sebagai putra mahkota: “Kamu jangan bergembira, masalah ini tidak akan pernah selesai, dan keadaannya tidak akan pernah tetap seperti ini”.

    Jalan Pintas yang Harus Diambil Makmun

    Segala macam cara telah dilakukan Makmun untuk meredam gerakan Imam Ridlo dan pengikut-pengikutnya, namun tidak memberikan hasil. Dari sisi lain, Bani Abbas yang lain terus mengkritik dan mengolok-olok sepak terjang Makmun karena memberikan  posisi jabatan putra mahkota kepada Imam Ali Ridlo as. Itu artinya, masa depan mereka terancam. Tidak ada pilihan bagi Makmun, kecuali mengakhiri hidup sang Imam. Akhirnya, racun yang maha dahsyat ditaburkan dalam makanan dan diberikan kepada Imam yang mengakibatkan kesyahidannya.

    Dengan cara ini, Makmun merasa aman dan terbebas dari ancaman. Dengan senang dan bangga, dia menulis surat kepada Bani Abbas: “Kalian telah mengkritik aku karena menyerahkan jabatan putra mahkota kepada Ali bin Musa Ar-Ridlo. Ketahuilah bahwa kini ia telah mati. Dengan demikian, kalian harus tunduk dan patuh kepadaku”.

    Komentar Seputar Penyerahan Jabatan Putra Mahkota?

    Secara umum, pandangan tentang penyerahan jabatan putra mahkota oleh Makmun kepada Imam Ali Ar-Ridho as, dapat disimpulkan dalam tiga katagori:

    1- Makmun menyerahkan jabatan putra mahkota secara jujur dan tulus, tanpa tendensi politik, makar maupun rekayasa.

    Di antara yang mendukung pandangan ini adalah At-Tobari dan Ibnu Astir serta lainnya: “Sesungguhnya, makmun melihat Bani Abbas dan Bani Ali secara keseluruhan,namun tidak menemukan seseorang yang lebih baik, lebih bertakwa dan lebih alim daripada Imam Ar-Ridho”. Abu al-Faraj al-Isfahani: “Selama Makmun berperang melawan saudaranya Al-Amin, dia telah bersumpah kepada Allah untuk memindahkan kekhilafahn ini kepada keluarga Abu talib yang terbaik, sementara Ali Ar-Ridho adalah yang terbaik dari kelompok Alawiyin… Suyuthi As-Syafi`I: Makmun melakukan hal itu karena kecintaannya yang berlebihan, hingga dikatakan: dia hendak melepaskan dirinya dan menyerahkan jabatan khilafah kepada (Ali Ar-Ridho)”. Ibnu Toq-toqi mengatakan: “Makmun berpikir tentang masa depan khilafah setelah dia wafat. Dia ingin agar khilafah berada di tangan orang yang layak untuk menghapus dosanya. Dia melihat di kalangan Bani Abbas dan bani Ali, namun tidak menemukan orang yang lebih baik dan lebih bertakwa serta lebih Alim daripada Ali Ar-Ridho”

    2 – Makmun tidak jujur dalam menyerahkan jabtan, tapi ada tujuan tertentu. Dan di antara yang berpendapat seperti ini adalah:

    Dr Ali Sami Bassyar: “Makmun paham betul bahaya dakwah yang dilakukan kelompok Ismailiyah, maka dia berusaha menghabisinya. Sementara Imam Abdullah Arrodi telah melakukan aktifitasnya secara luas. Oleh sebab itu, Makmun mendekati Ali Ar-Ridho dan dibai`at untuk dijadikan sebagai putra mahkota)Dr Kamil Mustafa As-Syaibi: “Makmun menjadikan Ali Ar-Ridho sebagai putra mahkota adalah langkah untuk meredam gejolak para pendukung saudaranya yang melawan Bani Abbas dari”

    3- Pada awalnya penyerahan jabatan itu dilakukan secara jujur dan tulus. Namun dalam perjalanannya, Makmun berubah arah dan membunuh Imam Ridho. Hal itu dijelaskan oleh Al-Khonaji al-Isfahani al-Hanafi: “Sebagian berpendapat bahwa Makmun adalah orang alim yang ingin mengembalikan khilafah dari Abbasiyah kepada putra-putra Ali, bukan karena makar atau rekayasa atau tendensi politik lain. Hal itu dilakukan semata-mata menyampaikan amanat kepada ahlinya. Sayangnya, setelah Ali Ar-Ridho memegang jabatan, Bani Abbas tidak senang, lalu mereka keluar dari pemerintahan. Mereka menuduh bahwa Makmun adalah anak zina…. Ketika Makmun melihat kondisi yang kacau balau ini, dia lebih memilih kekuasaan dunia fana dan meracuni Imam Ridho”. Wallahu A`lam bisshowab

     

    Oleh. Miqdad Turkan
    http://www.ikmalonline.com