Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Kebebasan dan Rahasia Karbala

    Kebebasan dan Rahasia Karbala

    Kebebasan dan Rahasia Karbala
    Rate this post
    description post specs comment

    Kebebasan dan Rahasia Karbala

     

    By: Allamah Muhammad Iqbal*

     

    Siapa pun yang merapat kepada Yang Satu

    maka telah dibebaskan dari penindasan

    setiap berhala menuju di mana cinta berada

    mukmin sejati, dan cinta baginya

    cinta membuat segala sesuatu mungkin bagi kita

    Akal tak mengenal belas kasihan; Cinta bahkan lebih,

    lebih suci, lebih hidup, dan lebih berani

    Tersesat dalam labirin sebab dan akibat

    Itulah akal; Cinta dengan pasti hadir dalam medan

    Aksi. Akal bulus merancang sebuah jebakan;

    Cinta menaklukkan mangsa dengan senjata yang tepat dan kuat.

    Akal kaya akan ketakutan dan keraguan; tetapi Cinta

    telah memantapkan keputusan, keyakinan yang tak terkalahkan.

    Akal bangkit untuk menciptakan sebuah keliaran;

    Cinta membuang jauh-jauh kesia-siaan, untuk menjadikan segala sesuatu berbeda.

    Akal itu murah, berlimpah layaknya udara;

    Cinta sangat sedikit ditemukan, dan dengan harga yang mahal.

    Akal berlindung di balik fenomena,

    Tetapi Cinta telanjang dari jubah-jubah materi.

    Akal berkata, “Percayakan dirimu sendiri kepada yang tampak”

    Cinta menjawab, Ujilah hatimu, dan buktikan sendiri”

    Akal melalui pemerolehan diberi tahu

    tentang yang lain; Cinta dilahirkan dengan rahasi kemuliaan

    dan menciptakan hubungan dengan Diri. Akal menyatakan

    jadilah kaya dan berbahagialah; Cinta menjawab

    jadilah seorang hamba, hingga engkau dapat bebas

    Kebebasan menghasilkan kebahagiaan paripurna kepada jiwa Cinta

    Kebebasan, sang pengarah kekuatan-pengendali Cinta

    Apakah engkau tidak mendengar bahwa pada masa perang

    Cinta dibenturkan dengan akal yang liar? Aku akan berbicara

    tentang pemimpin besar dari segala manusia yang mencintai

    Tuhan sejati, dialah pohon cemara yang tegak

    di taman Rasul, dialah Anak Ali,1

    yang ayahnya mengawali pesta pengorbanan

    hingga ia dapat mendemonstrasikan sebuah sembelihan yang besar2

    dan bagi pangeran dari umat terbaik itu

    Rasul terakhir menyerahkan punggungnya

    Untuk dinaiki, sebuah kafilah unta tengah melaju,3

    Memerah darahnya karena keberanian Cinta yang cemburu

    (tema itu menghiasi bait puisiku dalam keberanian yang indah)

    kedudukannya sangat sentral dalam komunitas kami

    seperti Katakanlah, Dia-lah Allah puji Kitab suci.4

    Musa dan Firaun, Shabbir dan Yazid-5

    dari kehidupan muncullah pontensi-potensi yang bertentangan itu

    Kebenaran hidup dalam kekuatan Shabbir; ketidakbenaran adalah

    kekejaman itu, penderitaan terakhir dari kematian yang memalukan.

    Dan ketika Khilafah pertama kali memutuskan benangnya

    dari al-Quran, maka ke dalam kerongkongan kebebasan telah dituangkan

    sebuah racun yang mematikan, bak hujan yang menghapus awan

    Suatu cahaya terang dari manusia terbaik telah bangkit

    bukan dari Barat, untuk menumpahkan darah di Karbala,

    dan tanah itu, yang sebelumnya kering kerontang,

    ditaburi, saat ia gugur, oleh bunga-bunga tulip dari darah.

    Di sana, hingga Hari Kebangkitan, tirani

    telah dikalahkan untuk selama-lamanya; sebuah padang rumput

    diciptakan ketika sumber hidupnya ditumpahkan.

    Karena kebenaran itu sendiri adalah darahnya yang menetes ke tanah,

    Mengapa ia menjadi benteng

    keimanan kepada Tuhan yang satu. Apakah memang

    ambisinya tertuju kepada kekuasaan duniawi,

    bukanlah perbekalan seperti itu yang ia rencanakan

    pada perjalanan terakhirnya, memiliki musuh-musuh

    dalam jumlah yang tak terbatas seperti debu-debu padang pasir,

    sementara sahabat-sahabatnya sama dengan jumlah nama-nama Tuhan.

    Suatu misteri yang dilambangkan

    dalam Ibrahim dan Ismail seluruh hidup

    dan matinya tegak sampai akhir dalam pengabdian yang utuh.

    Kuat bak sebuah gunung adalah solusinya,

    keras, tak tergoyahkan menuju tujuannya

    Mengangkat pedang untuk kejayaan agama

    dan ia terhunus untuk mempertahankan Hukum (Tuhan)

    Seorang Muslim, hanyalah hamba kepada Tuhan

    sebelum seorang firaun memenggal kepalanya.

    Darahnya memberi tafsir kepada misteri-misteri tersebut,

    dan membangunkan umat kita yang tengah terlelap.

    Pedangnya menuliskan Tidak ada tuhan selain Allah

    dan menumpahkan darah mereka yang mengungkapkan kebohongan;

    mengukir di gurun pasir, selamatkan Agama

    Dia menetapkan bagi semua untuk membacakan kata-kata pujian

    atas pengorbanan kami. Dari Husain kita belajar

    rahasia kitab suci, dan dengan sinarnya

    menyalakan obor-obor kita. Mungkinkini telah jauh dari pikiran

    kejayaan Damaskus, kemuliaan Baghdad,

    serta keagungan Granada, semuanya hilang dari ingatan;

    namun senar-senar yang ia petik bersama jiwa kita

    tetap bergetar, bahkan iman kita tetap segar

    berkat seruannya, Allahu Akbar, yang berhembus dengan lembut.

    Duhai utusan dari mereka yang jauh,

    bawalah air mataku ini kepada debunya yang suci.

     

     

    Catatan:

     

    1. Husain bin Ali bin Abi Thalib terbantai bersama 72 pengikutnya oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad di Karbala, Irak, pada tahun 61 Hijriyah / 640 Masehi
    2. QS. Ash-Shaffat: 107
    3. Sebuah hadis Nabi saw
    4. QS. Al-Ikhlash: 112
    5. Shabbir adalah panggilan Rasulullah saw kepada Imam Husain

     

     

    Muhammad Iqbal adalah filsuf-penyair Muslim kenamaan yang lahir pada 9 November 1877 di Sialkot, Punjab, Pakistan. Puisi di atas dikutip dari karyanya Rumuz-i Bekhudi (1918). Secara singkat, puisi Iqbal tentang Imam Husain as ini pernah diulas oleh Islamolog Prof. Anne-marrie Schimmel dalam artikel berjudul Karbala and The Imam Husayn in Persian and Indo-Muslim Literature.

    [islamic-sources/maulanusantara]