Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Makna “Arwâh allati hallat Bifinaik” daam Ziarah Asyura

    Makna “Arwâh allati hallat Bifinaik” daam Ziarah Asyura

    Makna “Arwâh allati hallat Bifinaik” daam Ziarah Asyura
    Rate this post
    description post specs comment

    Makna “Arwâh allati hallat Bifinaik” daam Ziarah Asyura

     

     

    Yang dimaksud dengan redaksi kalimat “Arwâh allati hallat Bifinaik” adalah para syahid (martyr) yang mencapai kesyahidan bersama Imam Husain As di Karbala. Berikut ini adalah beberapa dalil yang menyokong hal tersebut:

    1.     Umumnya para peziarah dan orang-orang yang masih hidup tidak dapat disebut sebagai arwâh.

    2.     Ziarah ini adalah ungkapan yang disampaikan oleh peziarah dan galibnya antara yang berbicara dan obyek yang diajak berbicara tidaklah satu.

    3.     Tidak satu pun narasi ziarah yang dinukil untuk Imam Husain As yang memberikan salam kepada para peziarah.

    4.     Ziarah Asyura disebutkan sebelum penguburan orang-orang yang sekarang ini dikubur di Karbala. Karena itu yang dimaksud dengan “arwâh” bukanlah semua orang yang dikuburkan di tempat itu.

    5.     Dari beberapa indikasi yang terdapat pada ziarah ini, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan arwâh yang mendapatkan salam adalah para syahid yang menyertai Sayid al-Syuhadâh (Imam Husain As) di padang Karbala. Sebagaimana pada satu tempat secara jelas diberikan salam bagi orang-orang yang menyertai Imam Husain As, “Al-Salâm ‘ala al-Husain wa ‘ala ‘Ali bin al-Husain wa ‘ala Aulâd al-Husain wa ‘ala Ashâb al-Husain.” Di samping itu, kandungan umum ziarah Asyura berupa salam kepada Imam Husain As, putra-putranya, para sahabatnya bermakna proklamasi kecintaan dan kesetiaan kepada Imam Husain As demikian juga kebencian terhadap musuh-musuhnya.

    6.     Dalam nukilan lain ihwal ziarah Asyura disebutkan, “Al-Salâm ‘alaika wa ‘ala al-Arwah allati hallat bifinaik wa anakhat bisahâtik wa jahadat fiLlah ma’aka wa syarrat nafsahabitigha’a mardhatiLlâh fika.”[1] Dalam alinea ziarah ini disebutkan sifat-sifat seperti berjihad di jalan Allah dengan Sayid al-Syuhadâ As dan kesyahidan di jalan keridhaan Tuhan bersama Sayid al-Syuhadâ setelah sifat yang terdapat pada Sayid al-Syuhadâ As (hulul [menyatu] dan anâkhat [tunduk]) yang dapat dipahami bahwa[2] “arwâh” yang dimaksud secara jelas adalah para syahid yang menyertai Imam Husain As.

    7.     Dalam narasi ziarah Asyura lainnya (ghaira ma’rufah)[3] disebutkan demikian, “Al-Salâm ‘alaika Ya Aba Abdillah al-Husain wa ‘ala man sa’adak wa ‘awanak wa wasaka binafsihi wa badzala mahajjatahu fi al-dzib ‘anka… al-salâm ‘alaika yaa maula wa ‘alaihim wa ‘ala ruhika wa ‘ala arwaihim wa ‘ala turbatika wa ‘ala turbatihim. Al-salam ‘alaika yabna Sayid al-‘Âlamin wa ‘ala al-Musytasyhidina ma’ak.” Dari penggalan redaksi ziarah Asyura ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan arwah di sini adalah para syahid yang menyertai Sayid al-Syuhadâ (Imam Husain As).

    8.     Dalam narasi ziarah lainnya yang disebutkan untuk Sayid al-Syuhada As setelah ziarah atas Imam Husain As dan Ali Akbar As dianjurkan kepada peziara untuk menghadap ke arah para syahid Karbala dan membaca ziarah ini. Tidak disebutkan dalam satu narasi ziarah sekalipun yang dibacakan untuk Sayid al-Syuhadâ berupa salam kepada para peziarah atau seluruh orang yang dikuburkan di tempat itu.

    Sebagai kesimpulannya dari sekumpulan ziarah Asyura dan ziarah-ziarah lainnya dapat dikatakan dengan tegas bahwa yang dimaksud dengan arwah yang mendapat salam pada ziarah Asyura ini adalah para syahid yang gugur menyertai Imam Husain As. [IQuest]

    [1]. Iqbâl al-A’mal, jil. 3, hal. 70.

    السلام علیک و علی الارواح التی حلّت بفنائک و اناخت بساحتک و جاهدت فی الله معک و شرت نفسها ابتغاء مرضات الله فیک.

    [2]. Secara lahir mengedepannya penjelasan hulul dan anâkhah yang bermakna turun menunduk atas penjelasan mujâhadah dan syahâdah dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan arwah adalah para syahid yang gugur pada hari Asyura bersama Sayid al-Syuhadâ.

    [3]. Sebuah narasi ziarah yang sama ganjarannya dengan ziarah Asyura, bagi orang-orang yang memiliki kesulitan tidak dapat menunaikan seluruh adab ziarah Asyura (seperti takbir, seratus laknat, seratus salam, sujud, shalat, doa pasca ziarah). Mafâtih al-Jinân.

    السلام علیک یا ابا عبد الله الحسین و علی من ساعدک و عاونک و واساک بنفسه و بذل مهجته فی الذّب عنک… السلام علیک یا مولای و علیهم و علی روحک و علی ارواحهم و علی تربتک و علی تربتهم السلام علیک یابن سید العالمین و علی المستشهدین معک.

     

    [IslamicSources/IQuest]