Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Menentang Asyura, Intoleransi Menolak Kebhinekaan

    Menentang Asyura, Intoleransi Menolak Kebhinekaan

    Menentang Asyura, Intoleransi Menolak Kebhinekaan
    Rate this post
    description post specs comment

    Menentang Asyura, Intoleransi Menolak Kebhinekaan

       Oleh: Purkon Hidayat

     

    Hari Kamis, 14 November jutaan orang dari berbagai penjuru dunia memperingati hari kesyahidan Imam Husein. Di Indonesia, ribuan orang menggelar acara duka “Asyura” di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Makassar. Tapi ironisnya, acara mengenang pengorbanan Imam Husein membela ajaran Islam yang diselewengkan oleh rezim Yazid ketika itu justru mendapat penentang dari segelintir kalangan intoleran. Di Makassar, selesai acara, sejumlah orang menyerang peserta acara duka itu yang menyebabkan beberapa orang cidera serius.

     

    Di Jakarta sekelompok orang yang mengatasnamakan “Aliansi Sunnah untuk kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi” bergerombol di luar area Balai Samudra, Jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka berambisi membubarkan ritual Asyura. Gerakan penolakan tersebut dikomandoi oleh Abu Jibril yang dikenal sebagai ayah dari pemimpin situs Arrahmah. Pemimpin situs Islam garis keras itu sempat ditahan polisi karena terlibat kasus terorisme.

     

    Jauh hari sebelum acara peringatan Asyura digelar, media-media garis keras yang mengklaim sebagai “Pembela kemurnian ajaran Islam” menghembuskan kampanye hitam terhadap acara duka mengenang perjuangan Imam Husein di padang Karbala. Situs-situs Islam seperti Arrahmah, jauh-jauh hari menggembar-gemborkan penyesatan ajaran Syiah dan menilai peringatan Asyura sebagai bidah yang harus diberangus. Padahal peringatan hari Asyura telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari budaya Islam Muslim dunia, dan bangsa Indonesia sendiri.

     

    Pertama, hari Asyura yang diperingati Muslim Syiah di seluruh penjuru dunia merupakan momentum untuk mengenang perjuangan seorang Imam Husein dan pengikutnya yang membela agama Islam dari penyimpangan penguasa lalim. Cucu Rasulullah Saw itu mengorbankan dirinya sendiri dan keluarga serta pengikutnya demi tegaknya kebenaran. Penolakan keras oleh segelintir kelompok intoleran yang mengatasnamakan “Aliansi Sunnah untuk kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi” terhadap peringatan Asyura yang digelar penganut Syiah di Tanah Air menunjukkan inkonsistensi kaum intoleran itu terhadap Sunnah Nabi yang diperjuangkan dengan darah oleh Imam Husein. Padahal isu yang diusung dalam peringatan Asyura mengangkat relevansi kepahlawanan Imam Husein dan hari pahlawan di Indonesia, “Dari 10 Muharram hingga 10 November”.

     

    Kedua, tudingan klise yang tidak valid terhadap Muslim Syiah terus-menerus dihunjamkan kelompok intoleran yang diwujudkan dengan menentang peringatan “Hari Pengorbanan dan Pengabdian terhadap kebenaran”. Bagi kaum intoleran, hanya pemahaman milik mereka sendirilah yang benar dan yang lain pasti salah. Akibatnya apapun yang dianggap berbeda harus diberangus dan dimusnahkan, termasuk Syiah. Ketua PB NU, Said Aqil Siradj menyebut kaum intoleran itu sebagai Muslim “antibudaya”.

     

    Mereka meneriakan puritanisme dan hendak melenyapkan segala bentuk budaya Islam. Pemikiran demikian muncul karena mereka buta terhadap budaya. Padahal Islam di ranah budaya telah menunjukkan dinamikanya yang unik. Asyura sebagai tradisi kebudayaan Islam Nusantara hendak diberangus oleh kalangan intoleran seperti yang mereka tampilkan hari Kamis, 14 November. Padahal selama bertahun-tahun tradisi Asyura telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Orang Jawa menyebut bulan Muharram sebagai Suro. Demikian juga masyarakat Pasundan. Di Sumatra ada budaya Tabut dan Tabuik yang mengenang episode perjuangan Imam Husein di padang Karbala. Selain itu, terdapat banyak kesamaan budaya antara Syiah dan Sunni Indonesia seperti tradisi tawasul, maulid dan lain-lain.

     

    Penolakan terhadap peringatan Asyura yang dilancarkan kubu intoleran di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dipengaruhi oleh gerakan Wahabisme yang berniat menjadi “penafsir tunggal” terhadap ajaran Islam. Entah sadar atau tidak, mereka sedang merobek persatuan Islam dengan mengusung agenda Zionisme global dalam bentuk penyesatan sesama muslim.

     

    Di Tanah Air, gerakan intoleran ini sedang mencabik-cabik keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari dalam yang perlu diwaspadai. Inilah yang dipertontonkan secara telanjang oleh kelompok-kelompok garis keras yang menolak kebhinekaan di Indonesia dengan menentang peringatan Asyura.[islamic-sources/IRIB Indonesia]