Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Salam, Anugerah Ilahi

    Salam, Anugerah Ilahi

    Salam, Anugerah Ilahi
    Rate this post
    description post specs comment

    Ketika dua orang bertemu, tindakan pertama yang menunjukkan tanda persahabatan mereka adalah ucapan salam kemudian berjabat tangan. Memberi salam kepada sesama pada dasarnya merupakan salah satu agenda Islam untuk membangun manusia, di mana hal ini dapat menghilangkan sifat-sifat negatif seperti kedengkian dan permusuhan serta menggantikannya dengan cinta. Memberi salam dan berjabat tangan akan semakin mendekatkan hubungan antarsesama manusia. Dengan memberi salam kepada orang lain, kita berarti memastikan kepadanya bahwa kita ingin orang itu selalu dalam kondisi sehat dan selamat.

    Berjabat tangan dengan penuh kehangatan merupakan salah satu tanda sebuah keakraban dan cinta. Perbuatan ini dapat lebih mendekatkan hati dan menambah kecintaan. Pertanyaannya adalah di mana letak  rahasia kecintaan ini?

    Berdasarkan surat al-Hashr ayat 23, salam merupakan salah satu nama Allah Swt. Dengan demikian, sumber segala bentuk kebahagiaan dan keselamatan berasal dari Allah Swt. Allah Swt sebagai pencipta semua kebaikan memberikan salam yang penuh keberkahan kepada hamba-Nya. Ayatullah Javadi Amoli, seorang filsuf dan mufassir besar Iran dalam bukunya menulis, salam adalah penghormatan terbaik yang diberikan Allah Swt kepada para Anbiya dan hamba-Nya yang saleh. Salam ini ada yang tanpa perantara, seperti salam yang diberikan kepada Nabi Nuh dan Ibrahim as dan ada pula dengan perantara salah satu Auliya-Nya. Contohnya ucapan Nabi Musa as kepada hamba-hamba yang saleh.

    Salam dengan perantara ini tertera dalam surat Ta-ha ayat 47 yang berbunyi “….Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.” Tentunya salam ini tidak hanya khusus di dunia saja, tetapi juga di hari kiamat nanti ketika para hamba Allah Swt bertemu dengan-Nya. Salam ini adalah sebaik-baiknya hadiah dan penghormatan kepada para hamba yang saleh. Para malaikat menyambut penghuni surga  dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam jamuan besar dari nikmat Allah Swt sebagaimana di saat-saat ajal tiba, para malaikat mencabut ruh mereka dengan salam dan penghormatan Ilahi.

    Orang mukmin yang saleh akan mendapat penghormatan dan salam dari para malaikat, sahabat dan orang-orang yang bersamanya menuju surga. Selain salam, tidak ada yang dapat membelai telinga seorang mukmin. Karena telinga seorang mukmin telah berlepas diri dari ucapan sia-sia dan tak berguna. Al-Quran surat al-An`am ayat 127 menjelaskan surga sebagai Darussalam. Ayat tersebut berbunyi, “Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.”

    Darussalam diartikan sebagai rumah Allah Swt, sebab salam berasal dari Asmaul Husna. Untuk itu, sebagai penghormatan dan kemuliaan surga, maka tempat suci ini disebut dengan Darussalam. Hal tersebut seperti menyebut Kabah dengan nama Baitullah. Selain itu, Darussalam juga diartikan sebagai sebuah rumah yang di dalamnya keselamatan dan penghuninya selalu dalam kondisi selamat. Sebab, di dalam surga tidak ada penderitaan seperti sakit, kemiskinan, kesusahan, kematian, dan lain sebagainya.

    Memberi salam selain menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang di antara manusia, juga menandakan akan sebuah sifat tawadu dan jauh dari kesombongan. Manusia yang mempunyai sifat tawadu tidak akan merugi, bahkan akan mendapatkan kemuliaan dan penghormatan. Imam Jafar Shadiq as berkata, “Salah satu tanda tawadu adalah memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya.”

    Nabi Muhammad Saw selalu mendahului untuk memberikan salam kepada orang lain, bahkan tak seorang pun pernah mampu mendahului beliau untuk mengucapkan salam kepadanya. Hal itu juga dilakukan Rasullullah Saw kepada anak-anak. Beliau bersabda, selagi aku masih hidup, aku tidak akan meninggalkan untuk memberi salam kepada anak-anak hingga perbuatan ini berubah menjadi sunnah setelahku. Karakter yang sangat indah Nabi Muhammad Saw ini bersumber dari ahklak luhur dan hati bersih serta tawadu beliau.

    Untuk mendorong umat Islam kepada perbuatan baik ini dan memperkuat ikatan sosial,  Nabi Muhammad Saw bersabda, “Dalam satu salam dan satu jawaban yang diberikan, terdapat 70 kebaikan, di mana 69 kebaikan diberikan kepada pemberi salam dan satu kebaikannya diberikan kepada penjawab salam tersebut.” Beliau juga bersabda, “Orang yang kikir adalah orang yang bakhil dalam memberikan salam.”

    Salam merupakan bentuk permohonan keselamatan, keberkahan dan rahmat. Dalam surat an-Nur ayat 61, Allah Swt berfirman,”…. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”

    Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa salam merupakan bentuk penghormatan Allah Swt yang dipenuhi dengan berkah dan kesucian. Dari isi ayat ini dapat dijelaskan pula bahwa salam atas kalian berarti salam Allah Swt atas kalian, yang berarti keberkahan Tuhan atas dirimu. Dengan demikian, memberi salam dianggap sebagai salah satu bentuk pernyataan persahabatan dan perdamaian.

    Setiap masyarakat mempunyai berbagai bentuk penghormatan berdasarkan karakter dan pandangan mereka. Sebagian dengan cara membungkuk, menundukkan kepala, mengangkat tangan, dan melepaskan topi. Dalam Islam penghormatan biasanya dilakukan dengan memberi salam dan berjabat tangan. Nabi Muhammad Saw bersabda,”Setiap kalian saling bertemu, ucapkanlah salam dan berjabat tanganlah kalian.”

    Rasulullah Saw dengan penuh kesungguhan memberikan salam kepada orang lain. Bahkan ketika berjabat tangan, beliau menggengamnya lama hingga orang itu sendiri yang melepaskan genggaman beliau. Hal itu beliau lalukan untuk menyampaikan kecintaan hatinya. Sebab, cinta adalah harta karun yang terletak di dalam jiwa dan harus diungkapkan supaya dapat memanfaatkan keberkahannya. Kebaikan yang paling jelas dari harta karun yang tersembunyi ini adalah menguatkan persahabatan dan interaksi. Oleh karena itu, umat Islam diharuskan untuk saling mengungkapkan kecintaan di antara mereka ketika saling bertemu.

    Memberi salam merupakan salah satu faktor yang menguatkan ikatan sosial. Kurangnya perhatian terhadap masalah ini, seperti pelan dalam menyampaikan salam atau bahkan tidak menjawabnya, kemungkinan dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan. Oleh sebab itu, Islam selalu mengajarkan untuk selalu memberikan salam dengan suara keras dan menjawabnya dengan suara yang dapat didengar si pemberi salam.

    Ketika saling bertemu satu sama lainnya atau masuk ke dalam sebuah pertemuan umum, dan bahkan ketika sampai ke tempat pekerjaan, kita harus memberikan salam dengan suara yang jelas. Sebab, ada kemungkinan orang-orang yang ada di tempat tersebut tidak mendengarnya sehingga kita dianggap tidak mempunyai adab dan sopan santun atau sombong. Dalam menjawab salam pun kita harus menjawabnya hingga pemberi salam mendengarnya. Karena kalau pemberi salam sampai tidak mendengar jawaban kita, ada kemungkinan akan muncul kedengkian atau anggapan bahwa kita ini sombong. Dalam kasus ini, untuk mencegah kesalahpahaman dan pikiran negatif orang lain  maka kita harus menjaga perintah agama yaitu memberikan salam dengan jelas. Imam Jafar Shadiq as berkata, “Setiap salah satu dari kalian memberi salam, ucapkanlah salam dengan jelas.”

    Masalah lainnya adalah, meski salam merupakan perbuatan mustahab, namun menjawabnya hukumnya wajib. Jawaban tersebut harus lebih hangat dan dengan kecintaan yang lebih besar. Sebab, salam merupakan bentuk penghormatan dan hadiah dari seorang mukmin. Oleh karena itu, hadiah harus dibalas dengan yang lebih baik sebagai bentuk rasa terimakasih. Dalam surat An-Nisa ayat 86, Allah Swt berfirman,” Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (IRIB Indonesia/RA/NA)

    http://indonesian.irib.ir