Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Seri Kisah Al-Quran: Belajar Kesabaran dari Peristiwa Ashab Ukhdud

    Seri Kisah Al-Quran: Belajar Kesabaran dari Peristiwa Ashab Ukhdud

    Seri Kisah Al-Quran: Belajar Kesabaran dari Peristiwa Ashab Ukhdud
    Rate this post
    description post specs comment

    Berkorban demi menjaga keimanan, sejak dahulu kala, memiliki pengaruh yang sangat besar. Sejarah telah membuktikan betapa banyak orang-orang yang mengorbankan jiwanya secara suka rela di jalan ini. Mereka telah mengajarkan resistensi kepada orang lain. Dari sisi lain, merupakan sunnah ilahi bahwa para pezalim pasti akan merasakan akibat perbuatan buruknya dan mencapai kehancuran.

    Kali ini kita akan menelaah kisah tentang Ashab Ukhdud, para pembuat lubang berapi.

    Seorang laki-laki dari arah utara bergegas menuju kota. Dia telah melewati padang sahara yang panas membakar kemudian melewati gerbang masuk kota Sanaa menuju istana Raja Yaman, Dzu Nuwas. Raut wajahnya menunjukkan akan kekhawatirannya. Ia datang membawa pesan penting. Ketika sampai di istana, ia ingin lansung masuk tapi para penjaga melarangnya. Dzu Nuwas sedang keluar dari istananya bersama para pendampingnya. Melihat laki-laki itu memaksa masuk, Dzu Nuwas memberikan isyarah untuk mendekatinya lalu bertanya, “Ada apa sehingga kamu galau seperti ini?”

    Dengan napas tersengal-sengal laki-laki itu menjawab, “Yang Mulia! Para penduduk Najran telah menerima dan memeluk agama Kristen. Hanya segelintir orang saja yang tetap mempertahankan agama Yahudinya!”

    Berita ini betul-betul membuat Dzu Nuwas marah sehingga mengurungkan niatnya untuk berburu. Dengan segera ia kembali ke istana. Seperti biasanya ia duduk di singgasananya dengan sombong. Ia menghadap kepada orang-orang sekitarnya dan berkata, “Yahudi adalah agama resmi kita. Tidak ada agama apapun yang boleh menggantikannya. Di mana saja aku akan melakukan perlawanan terhadap agama baru. Bila para penganut agama Kristen tidak mau menerima agama Yahudi, maka akan aku penggal leher mereka. Sekarang pergilah dan siapkan pasukan besar!”

    Tidak berapa lama kemudian, berita sampai ke telinga penduduk Najran bahwa pasukan besar-besaran sudah berada di dekat kota datang untuk menyerang penduduk Najran. Nama Dzu Nuwas yang terkenal sebagai sosok pribadi kejam dan bengis membuat masyarakat khawatir dan ketakutan. Namun ketika mendengar bahwa kesalahan mereka adalah  menyembah Allah Yang Esa dan mengikuti nabi Allah, mereka menyiapkan dirinya untuk mempertahankan diri.

    Dzu Nuwas memblokade kota dan sebelum melakukan penyerangan ia memanggil para pembesar Najran dan bekata, “Aku mendengar masyarakat kalian telah meninggalkan agama Yahudi karena ajakan seorang Kristen. Aku mengusulkan agar kalian bermusyawarah dan meminta mereka kembali kepada agama mereka sebelumnya, yaitu Yahudi. Kalau tidak, maka aku akan menyerang kalian dan tidak akan tersisa seorangpun!”

    Dzu Nuwas sedang berkhayal bahwa karena kekuatannya, dengan mudah masyarakat akan  menyerah padanya. Dengan sombong ia memandang kebesaran pasukannya. Tiba-tiba para pembesar Najran mengoyak khayalannya dan berkata, “Kami tidak butuh musyawarah. Dengan kedatangan utusan Allah Nabi Isa as, masa agama Yahudi telah berakhir. Kami telah menemukan kebenaran dan siap mengorbankan jiwa dan anak-anak kami untuk mempertahankannya!”

    Dzu Nuwas benar-benar marah karena tidak menyangka akan mendapatkan jawaban telak seperti itu. Ia berjalan menuju ke barisan pasukannya dan berteriak seraya berkata, “Galilah lubang dan nyalakan api di dalamnya! Aku ingin berdiri menyaksikan manusia-manusia yang serius menyembah Allah!”

    Kondisi kota menjadi kacau dan tidak karuan. Para pasukan Dzu Nuwas menyereti orang-orang dan memasukkannya ke dalam lubang. Selain itu orang-orang Yahudi membantu para pasukan dengan cara melaporkan identitas orang-orang Kristen kepada mereka.

    Dzu Nuwas berdiri di tepi lubang sambil tertawa terbahak-bahak mengejek orang-orang Mukmin. Namun ketika ia menyaksikan sebagian orang mukmin secara sukarela masuk ke dalam kobaran api demi menyelamatkan keimanannya, Dzu Nuwas semakin marah dan memperparah siksaannya.

    Dengan penuh kekejaman Dzu Nuwas telah membakar banyak orang dan membunuh sebagian yang lainnya. Agama Yahudi kembali berjalan di Najran. Dzu Nuwas yang mabuk kemenangan kembali ke Yaman.

    Dzu Nuwas lupa bahwa pada akhirnya Allah akan membinasakan orang-orang zalim. Salah seorang Kristen telah melarikan diri dari kerusuhan yang terjadi di Najran dan pergi menuju istana kerajaan Romawi. Ia menceritakan peristiwa pembantaian penduduk Najran yang dilakukan oleh Dzu Nuwas kepada Kaisar Romawi.  Mengingat jauhnya jarak dan perjalanan, Kaisar Romawi mengirim surat kepada raja Habasyah dan memintanya agar melakukan balas dendam atas kejahatan yang dilakukan oleh Dzu Nuwas.

    Dalam waktu singkat pasukan Habasyah pergi menuju Yaman dan berhasil mengalahkan pasukan Dzu Nuwas. Yaman jatuh ke tangan Negus dan masyarakat memeluk agama baru.

    Al-Quran menyebut Dzu Nuwas dan para sahabatnya sebagai Ashab Ukhdud dan menceritakan kisah kebinasaan mereka dalam surat Buruj. Selain itu, untuk menguatkan semangat orang-orang Mukmin dan perjuangannya al-Quran menyebutkan:

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.”(QS. Buruj: 10-11)

    (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)