Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. SYAHADAH PUTERA KA’BAH

    SYAHADAH PUTERA KA’BAH

    SYAHADAH PUTERA KA’BAH
    Rate this post
    description post specs comment

    Ketika bulan suci Ramadhan tiba, Imam Ali AS memanjatkan doa dan berkata, “Ya Allah, berilah kami keselamatan, keimanan, kesehatan, keyakinan akan Islam, rezeki berlimpah saat kami memasuki bulan Ramadhan. Ya Allah, jadikanlah bulan Ramadhan rela terhadap kami dan kami rela terhadapnya. Ya Allah, berilah kami keselamatan sehingga dengan berakhirnya bulan ini Engkau telah mengampuni segala dosa dan kesalahan kami.”

    Bulan Ramadhan tahun 40 hijriyyah belum berakhir, saat pedang Abdurrahman bin Muljam mendarat di kepala putra Abu Thalib ini yang kala itu sedang berada di mihrab masjid Kufah dan tengah menunaikan shalat Subuh. Tiga hari berikutnya, pribadi agung bergelar Amirul Mukminin ini gugur syahid. Kaum muslimin merasa bahwa kata-kata Ali mengenai bulan suci Ramadhan masih mengiang-ngiang di telinga mereka. Ali AS pernah mengatakan, “Puasa Ramadhan adalah pemisah antara seorang hamba dengan api neraka.”

    Ali adalah sosok pribadi agung yang sering mendapatkan pujian Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an. Beliau telah berhasil meraih derajat tertinggi makrifah, keberanian, kepemimpinan, keadilan dan ketaqawaan. Kesemua itu menunjukkan betapa Ali bin Thalib adalah manusia sempurna dengan segala kemuliaan yang mengundang decak kagum semua orang.

    Dalam beribadah, Ali adalah contoh teladan sufi yang selalu berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Saat berada di tengah masyarakat dan terjun di pemerintahan, beliau tetap menjaga sisi kesufiannya. Selama kurang lebih lima tahun Ali menjabat sebagai khalifah dan pemimpin di dunia Islam. Saat itu, seluruh kekuasaan atas negeri-negeri Islam dan kas negara ada di tangannya. Meski demikian, di bawah terik matahari Jazirah Arabia yang membakar, beliau tetap menggarap kebun kurmanya untuk menghidupi keluarganya dan kaum fakir miskin. Kecintaan Ali kepada masyarakat dan ketinggian derajat taqwanya berakar dari pandangan beliau terhadap kehidupan dunia. Beliau mengatakan, “Dunia tempat berlalu bukan tempat tinggal.” Manusia di mata Ali ada dua, mereka yang hancur karena tunduk kepada hawa nafsu dan manusia yang tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan melepaskan diri dari hawa nafsunya.

    Pandangan beliau berkenaan dengan masalah hukum peradilan di tengah masyarakat sangat dalam. Keputusan hukum yang diambil Ali menjadi buah bibir umat Islam sepanjang sejarah. Mereka yang hidup sezaman dengan manusia suci ini banyak yang mengatakan, “Jika tidak ada Ali, tentu kami binasa.” Suatu kali, khalifah Umar berniat merajam seorang wanita hamil karena berzina. Ali mencegah dengan menjelaskan bahwa yang telah melakukan dosa adalah wanita itu, bukan anak yang dikandungnya. Karenanya biarkan wanita melahirkan bayinya sebelum menjalani hukuman.

    Kekuatan, keberanian, dan kepahlawanan merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki Imam Ali AS. Beliau adalah contoh nyata dari kaum mukmin yang oleh Al-Qur’an disifati sebagai penyayang sesama dan keras terhadap kaum kafir. Kaum fakir dan anak yatim memandang Ali sebagai ayah mereka yang penyayang. Tetapi saat masuk ke medan perang melawan kaum kafir dan untuk membela keadilan, tidak ada yang bisa menandingi keberanian dan kegagahan Ali. Salah satu kisah menarik tentang kepahlawanan Ali adalah kisah perang Khaibar yang terjadi di masa hidup Rasul SAW. Nabi SAW berulang kali mengirimkan pasukan untuk menduduki benteng yang merupakan tempat pertahanan kaum yahudi Khaibar yang menjadi musuh Islam saat itu. Namun semua ekspedisi itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya Nabi SAW bersabda, “Besok akaan kuserahkan panji kepemimpinan pasukan muslimin kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai oleh Allah serta Rasulnya. Keesokan harinya, Nabi menyerahkan panji tersebut kepada Imam Ali bin Abi Thalib AS. Di tangan putra Abu Thalib ini, benteng Khaibar berhasil ditaklukkan.

    Imam Ali AS memiliki jiwa yang lembut. Tak ada yang beliau cari kecuali keredhaan Allah. Anda mungkin pernah mendengat kisah duel antara Imam Ali AS dengan seorang jagoan dari kaum Musyrikin bernama Amr bin Abdi Wadd pada Perang Ahzab atau yang juga dikenal dengan nama “Perang Parit”. Sesaat setelah berhasil membanting Amr ke tanah dan siap untuk menusukkan pedang, Amr meludahi muka Ali. Mendapat perlakuan dari musuhnya itu, beliau bangkit dan mundur beberapa langkah. Setelah itu beliau kembali bertarung dan menebas leher Amr. Dengan mundur beberapa langkah, Imam Ali AS menetapkan hati untuk membantai musuhnya hanya karena Allah, bukan karena dendam pribadi akibat penghinaan yang dilakukan Amr terhadapnya.

    Doktor Miuhammad Michael Ghoreib dalam salah satu bukunya menyatakan, “Aku sangat kagum terhadap sifat kemanusiaan dan kerendahan hati Ali. Belum ada pandangan dan ide-ide seorangpun sepanjang sejarah yang mampu membuatku sedemikian kagum seperti kekagumanku kepada beliau. Kebesaran jiwa dan keikhlasan Ali-lah yang telah mengantarkan orang Kristen sepertiku menjadi seorang muslim.”

    Kepemimpinan dan kebijakan beliau dalam memerintah dunia Islam mengandung banyak pelajaran berharga yang membuat kagum semua orang. Dalam menjalankan roda pemerintahan, beliau menjunjung tinggi prinsip keadilan. Dukungan keluarga dan kedekatan seseorang dengannya tidak pernah bisa mempengaruhinya dari prinsip tersebut. Pesan-pesan beliau kepada para gubernur Islam yang ditugaskannya ke berbagai penjuru, menunjukkan betapa keadilan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pribadi Ali. Dalam salah satu pesan kepada salah seorang gubenurnya, Imam Ali AS mengatakan, “Bersikaplah adillah terhadap semua orang sampai dalam masalah cara memandang dan memberi isyarat. Jangan sampai orang-oranga yang zalim terpacu untuk lebih berbuat zalim dan kaum tertindas merasa pesimis untuk memperoleh keadilan.”

    http://www.alhassanain.com