Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Syiah Secara Akademisi

    Syiah Secara Akademisi

    Syiah Secara Akademisi

    download

      Download

    Syiah Secara Akademisi
    Rate this post
    description post specs comment

    Daftar Isi

    Awal Kelahiran Syiah……………………………………………………………………………………………………….3

    Perubahan Sistem Politik Islam………………………………………………………………………………………..4

    Ulama Kendalikan Politik…………………………………………………………………………………………………6

    Persamaan Dalam Tasawuf………………………………………………………………………………………………9

    Awal Kelahiran Syiah

    Dalam kenyataan, antara ahlu Syiah dengan ahlu Sunnah, lebih banyak persamaannya ketimbang perbedaannya. Sedikit perbedaan hanya menyangkut hal yang tidak prinsipil.
    Misalnya, mengenai imamah (kepemimpinan) mau pun dalam hal fiqhiyah, perbedaan dalam hal furu’iyah (ranting), bukan pokok. Karena itu, Syiah tidak bisa disebut sekte (diluar Islam, menjadi agama tersendiri).

    Untuk memahami Syiah, harus mengetahui akar sejarahnya. Secara sederhana, dalam bahasa Arab, syiah berarti golongan, kelompok, atau partai. Dalam pengertian istilahi, mengacu kepada kelompok atau golongan yang mendukung Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Terutama setelah terjadinya peristiwa politik pada masa sahabat. Mungkin ironis, kelahiran Syiah terkait kepada persoalan politik ketimbang persoalan keagamaan. Jadi umat Islam sejak awalnya bertikai karena persoalan politik bukan persoalan yang murni bersifat keagamaan. Banyak orang berpendapat bahwa ini sifat dari politik atau kekuasaan yang memang panas. Membuat orang cenderung tidak terkendali dan terpecah. Ditulis oleh Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.A, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Mubaligh. Naskah ini berasal dari Majelis Pengajian Ahad Pagi, pada tanggal 3 Juni 2001 di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta.

    Kelahiran Syiah berkaitan dengan pertikaian antara para pendukung Ali bin Abi Thalib dengan Utsman bin Affan. Pada masa khalifah yang ketiga, Utsman bin Affan, dikalangan umat Islam sudah mulai terjadi perpecahan dan pertikaian, terutama disebabkan Khalifah Utsman ini dipandang terlalu lemah. Saya (penulis) tidak begitu yakin apakah Khalifah Utsman sengaja melakukan praktik nepotisme. Tapi saya kira hal ini lebih disebabkan Khalifah Utsman seorang yang sangat wara’, ‘alim, dalam kepemimpinannya lurus. Kelurusan dan keikhlasan dia dimanfaatkan kerabatnya untuk merebut posisi kekuasaan yang ada. Dan inilah yang menimbulkan protes dari Muslim lain. Sehingga akhirnya terjadilah perlawanan dan penentangan terhadap Khalifah Utsman, kemudian Khalifah Utsman dikepung dirumahnya dan beliau akhirnya dibunuh.

    Saat itu juga Ali bin Abi Thalib dikukuhkan oleh sebagian sahabat sebagai khalifah keempat. Pengangkatan dan pembaiatan Ali bin Abi Thalib ditentang oleh dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Siti Aisyah, istri Rasulullah s.a.w., dengan alasan belum waktunya Ali diangkat sebagai khalifah. Kelompok kedua dari keluarga Umayyah, dipimpin oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Putra Abi Sufyan yang dulu pernah menjadi musuh Rasulullah s.a.w. Mu’awiyyah bin Abi Sufyan berasal dari keluarga Utsman yang secara umum disebut keluarga Umayyah. Sehingga pada akhirnya untuk pertama kali, terjadilah peperangan diantara pendukung Ali (yang kemudian dikenal dengan Syiah) dengan orang-orang yang dibawah pimpinan Siti Aisyah. Siti Aisyah memimpin perang Jamal. Beliau mengendarai unta. Diantara pendukungnya, termasuk Thalhah dan Zubair bin Awwan. Siti Aisyah dikalahkan oleh Ali bin Abi Thalib dan dikembalikan ke rumahnya, tidak diapa-apakan.

    Tapi yang lebih sengit lagi adalah peperangan diantara para pendukung Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Puncaknya pada perang Siffin. Para pendukung Ali hampir menang tapi dengan tipu muslihat tertentu, para pendukung Mu’awiyyah mengangkat tahkim (tanda perdamaian) sehingga pendukung Ali tertipu sehingga Khalifah Ali dalam sebuah pertemuan (kesepakatan) diturunkan dan pada saat yang sama Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dikukuhkan menjadi khalifah baru. Inilah masa awal bangkitnya sebuah dinasti, yaitu dinasti Umayyah.

    Perubahan Sistem Politik Islam

    Pada waktu itu pulalah terjadi pergantian dan perubahan sistem politik Islam dari sistem khilafah (sistem pemilihan, siapa yang paling ‘alim, taat, baik akhlaknya). Dengan munculnya Mu’awiyyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah maka gelar khalifah tetap dipakai tetapi bukan Khalifaturrasul, melainkan khalifatullah fil ardh dhillullah fil ardh (pengganti wakil Allah dimuka bumi, bayang-bayang Allah dimuka bumi). Jadi, Mu’awiyyah lebih hebat lagi. Kalau Abu Bakar Siddik yang sangat dekat dengan Rasulullah s.a.w. hanya menyebut dirinya khalifaturrasul (wakil Rasulullah), tapi Mu’awiyyah bin Abi Sufyan mengklaim sebagai khalifatullah fil ardh dhillullah fil ardh. Dari sinilah asal kemunculan Syiah, jelas merasa diliciki, dan memang diliciki oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Mereka kemudian menjadi kelompok yang kuat, yang dikenal dengan Syiah.

    Karena itulah konsep Syiah yang paling menonjol dan khas sebetulnya dalam bidang politik. Yang menjadi perbedaan antara aliran Syiah dengan Sunnah adalah dalam bidang pemikiran politik. Hak kekhalifahan bagi Ali bin Abi Thalib dan keturunannya, yang disebut Imam. Jadi imam berbeda-beda dalam Syiah, karena dalam Syiah juga muncul berbeda-beda, ada Syiah moderat (mayoritas), ada juga kelompok ekstrem (ghulat). Kelompok ekstrem bahkan ada yang berpendapat (sebagian kecil), tidak hanya menolak kepemimpinan Mu’awiyyah, tapi juga kepemimpinan khulafaurrasyidin lain seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bahkan mengatakan bahwa hak kerasulan adalah hak Ali bin Abi Thalib bukan hak Muhammad s.a.w. karena sebetulnya wahyu dipesankan oleh Allah melalui Jibril untuk disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib, bukan kepada Muhammad s.a.w. Yang ektrem sangat sedikit, antara lain berada di Yaman. Yang paling banyak Syiah duabelas, Itsna As’ariyah, atau Syiah Imamiyah, yaitu imamnya dua belas.

    Imam-imam Syiah itu ada duabelas. Pertama Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Ali bin Husein Zainal Abidin, Sayidina Muhammad bin Ali Al-Baqir, Imam Ja’far Muhammad Shadiq, Imam Musa bin Ja’far Al-Qadhim, Imam Muhammad bin Ali Jawwad, Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi, Imam Hasan bin Muhammad Al-Askari, Imam Muhammad bin Hasan Al-Qaim (yang disebut sebagai imam yang ghaib) Imam Al-Muntadhar, imam yang ditunggu. Dalam tradisi Syiah, imam mempunyai posisi politik yang tinggi, terutama sebelum munculnya kembali Imam Al-Muntadhar. Imam bukan hanya sebagai orang yang memiliki otoritas dalam keagamaan, imam shalat, tetapi sekaligus sebagai pemimpin politik. Dan oleh karena itu, politik atau kekuasaan adalah milik imam. Dan imam adalah orang yang ma’shum (bebas dari dosa).