Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 1-37

    Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 1-37

    Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 1-37
    Rate this post
    description post specs comment

    Tafsir Al-Quran, Surat Al-Isra Ayat 1-37

    Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 1-6

    Surat ini menempati urutan ke-16 dari rangkaian surat yang ada dalam al-Quran dan memiliki 128 ayat. Nama surat ini

    diambil dari penciptaan lebah yang disebutkan dalam surat ini. Selain surat ini masih terdapat beberapa surat lain dalam

    al-Quran yang namanya diambil dari nama sejumlah hewan atau sesuatu yang lain. Hal ini menunjukkan keserasian antara kitab

    suci ini dengan alam. Keduanya muncul dari satu sumber. Para mufassir berpendapat 40 ayat pertama surat ini turun di akhir

    periode Nabi di Mekah dan 88 ayat setelahnya turun di Madinah.

    Ayat ke 1-2

    أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (1) يُنَزِّلُ الْمَلائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاتَّقُونِ (2)

    Artinya:

    Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha

    Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (16: 1)

    Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-

    hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah

    kamu bertakwa kepada-Ku”.  (16: 2)

    Ayat ini ditujukan kepada musyrikin Mekah yang mengejek nabi dengan mengatakan, Kapan azab ilahi yang kamu janjikan kepada

    kami diturunkan ? Al-Quran sendiri melarang mereka untuk meminta segera penurunan siksa ini. Allah berfirman, telah pasti

    datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya. Selanjutnya Allah menambahkan, Dia

    menurunkan para malaikat dengan membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-

    Nya dan kalian tidak mempunyai peran apapun dalam masalah ini. Kalian juga tidak berhak menentukan kepada siapa wahyu

    diturunkan.

    Tugas para nabi tidak mengajak umat manusia untuk mengagungkan diri mereka, namun para nabi mengajak manusia untuk beriman

    kepada Allah Swt dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Poin penting adalah kalimat Ruhullah yang sebut dalam al-

    Quran digunakan untuk berbagai makna dan salah satunya adalah wahyu Tuhan. Karena wahyu menumbuhkan sisi religius manusia,

    seperti yang disebutkan dalam ayat 52 surat as-Syuura, Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Quran) dengan

    perintah Kami.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Menyikapi keputusan Tuhan kita tidak boleh tergesa-gesa, karena setiap perintah dan kehendak Tuhan sangat adil dan akan

    dikerjakan dalam waktu yang tepat.

    2. Konsekwensi kepada Tuhan Yang Esa adalah berusaha untuk tidak menentang perintah-Nya. Sikap ini dalam agama disebut

    takwa.

    Ayat ke 3-4

    خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (3) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ (4)

    Artinya:

    Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah daripada apa yang mereka persekutukan. (16: 3)

    Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (16: 4)

    Lanjutan ayat ini masih membahas masalah kaum Kafir Mekah. Ayat ini menyatakan, bukan hanya penurunan wahyu yang datangnya

    dari Tuhan, bahkan yang menciptakan langit dan bumi serta manusia adalah Allah Swt. Lantas bagaiman kalian menjadikan

    sesuatu yang tidak mempunyai peran dalam penciptaan kalian sebagai sekutu Allah Swt. Kemudian kalian menetang Allah dan

    mengingkari kekuasaan-Nya. Penciptaan kalian dari air sperma yang hina dilakukan oleh siapa ? Apakah yang menciptakan

    kalian tidak mampu menghidupkan kalian nanti di hari kiamat ? Lantas mengapa kalian mempertanyakan kebenaran Hari Kiamat.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Pemberian sekutu kepada Allah Swt adalah sia-sia, karena tidak ada manusia atau makhluk lainnya hingga kini yang

    mengklaim bahwa hasil karyanya dilakukan dengan orang lain.

    2. Sikap sombong manusia membuat mereka memusuhi penciptanya.

    Ayat ke 5-6

    وَالأنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ (5)وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ (6 –

    Artinya:

    Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat,

    dan sebahagiannya kamu makan. (16: 5)

    Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya

    ke tempat penggembalaan. (16: 6)

    Ayat ini secara global membicarakan manfaat dan kegunaan hewan dan binatang ternak bagi manusia. Kulit dan bulu binatang

    dapat dimanfaatkan untuk sepatu dan pakaian. Adapun daging dan air susunya dapat dijadikan makanan. Punggung hewan juga

    bisa dimanfaatkan untuk mengangkut barang atau melakukan perjalanan. Kaki binatang dapat digunakan untuk membajak sawah

    dan manfaat lainnya. Menakjubkan sekali bahwa binatang ternak yang mempunyai manfaat yang besar ternyata tidak merepotkan

    kita dan tidak membutuhkan biaya yang besar dalam memeliharanya. Al-Quran menilai gerakan serentak dalam proses produksi

    ini sebagai keutamaan para peternak. Selanjutnya Islam menganjurkan para petani untuk beternak.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Binatang ternak juga makhluk di alam ini yang diciptakan untuk manusia. dan manusia harus memanfaatkan nikmat ini

    secara benar.

    2. Kehormatan sebuah masyarakat terletak pada usaha dan kreativitas mereka dalam mengabdi kepada sesamanya dan bukannya

    hanya mementingkan diri mereka sendiri.

    Ayat ke 7-8

    وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلا بِشِقِّ الأنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (7) وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ (8) وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ

    أَجْمَعِينَ (9) هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ (10) يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (11)

    Artinya:

    Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-

    kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (16: 7)

    Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah

    menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.(16: 8)

    Pada pembahasan yang lalu telah dijelaskan bahwa setelah mengungkapkan tentang penciptaan langit, bumi dan manusia, Allah

    Swt menerangkan soal penciptaan binatang dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Ayat-ayat ini adalah kelanjutan dari

    ayat-ayat sebelumnya yang menyinggung soal manfaat dari penciptaan binatang. Di masa lalu, transportasi dan pengangkutan

    barang-barang dilakukan dengan menggunakan binatang ternak. Pada zaman kinipun meski sudah ada mobil, pesawat  dan kereta

    api,  binatang ternak masih digunakan sebagai sarana transportasi dan untuk mengangkut barang. Di daerah pegunungan sarana

    yang bisa digunakan untuk mengangkut dan membawa barang hanyalah binatang khususnya keledai. Yang menarik di zaman modern

    ini kuda masih dipandang sebagai kenderaan yang memiliki nilai perhiasan dan kemewahan.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Berkat kemurahan dan kebijaksanaan Allah, Dia telah menjadikan binatang yang secara fisik lebih kuat dari manusia

    tunduk dan patuh kepada manusia. Sehingga makhluk keturunan Adam ini dapat menunggangi dan memanfaatkan tenaga binatang.

    2. Allah memiliki kekuasaan yang luas tak terbatas. Dia menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya.

    Ayat ke 9

    Artinya:

    Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia

    menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).(16: 9)

    Ayat ini kembali mengingatkan akan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk nikmat hidayah dan

    petunjuk kepada jalan yang benar. Allah dalam ayat ini berfirman bahwa di hadapan manusia terbentang dua jalan. Pertama

    adalah jalan yang dihamparkan Allah kepada manusia yaitu jalan kesederhanaan dan jalan tengah yang membawa manusia kepada

    tujuan yang benar lewat sirath mustaqim. Jalan yang kedua adalah jalan menyimpang yang membawa manusia ke arah kesesatan.

    Siapa saja yang berlalu di jalan ini akan terjebak dalam mala petaka dan tak akan sampai ke tujuan yang benar.

    Setiap orang harus memilih dari kedua itu jalan manakah yang akan dia lalui. Allah Swt tidak pernah memaksa hambaNya untuk

    memilih jalan petunjuk dan hidayah ilahi. Sebab paksaan tidak akan ada gunanya. Allah Swt telah memberikan kebebasan

    kepada setiap orang untuk memilih.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Di antara hal yang oleh Allah dipandang sebagai keharusan bagi-Nya adalah memberi petunjuk dan hidayah kepada hamba-

    hamba-Nya. Namun manusialah yang harus memilih maukah ia menerima hidayah atau tidak

    2. Kebebasan dalam memilih telah diberikan kepada manusia dan inilah yang diinginkan oleh Allah Swt. Karena itu, tidak

    berhak untuk memaksa siapapun agar mengikuti Islam dan jalan petunjuk.

    Ayat ke 10-11

    Artinya:

    Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya

    (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.(16: 10)

    Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan.

    Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.(16: 11)

    Dua ayat ini menjelaskan nikmat Allah yang paling inti bagi kelangsungan hidup di muka bumi yaitu air hujan. Allah

    berfirman bahwa Allah-lah yang menurunkan air hujan untuk kalian. Air inilah yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk

    hidup di bumi. Dari air hujan yang membasahi tanah dan masuk ke dalamnya, tumbuh segala macam jenis tanaman dan pohon,

    yang menghasilkan buah-buahan dan makanan untuk manusia dan binatang. Jika kalian merenungkan nikmat ini, tentu kalian

    akan menyadari bahwa air adalah kebesaran dan keagungan serta rahmat Allah. Dalam ayat ini Allah menyebutkan beberapa

    contoh buah-buahan yaitu korma, anggur dan zaitun yang ketiganya oleh para pakar makanan adalah buah yang sangat

    bermanfaat bagi tubuh melebihi buah-buahan lainnya.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Air hujan adalah sumber kehidupan. Air menumbuhkan tanaman yang menjadi makanan bagi manusia. Sebab makanan manusia

    terdiri dari dua hal; tumbuh-tumbuhan atau dari daging hewan. Keduanya sangat tergantung pada air yang turun dari langit.

    Kekeringan akan menyebabkan paceklik dan kekurangan pangan.

    2. Manusia harus merenung dan memikirkan alam sehingga ia bisa menyaksikan bahwa dibalik  proses alamiah yang terjadi, ada

    tangan ghaib Yang Maha berkuasa. Tumbuhnya tanaman dan buah-buahan bukan pekerjaan petani. Semua itu diciptakan untuk

    manusia dan karena itu manusia harus beramal untuk kerdihaan Allah.

    Ayat ke 12-13

    وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (12)وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الأرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ (13

    Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan

    perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami

    (nya). (16: 12)

    Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada

    yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (16: 13)

    Dalam acara yang lalu, Allah Swt menyebut sebagian nikmat-Nya di bumi agar dapat dimanfaatkan oleh umat manusia. Ayat-ayat

    ini mengisyaratkan adanya matahari dan bulan serta peran keduanya dalam memunculkan siang dan malam. Ayat-ayat itu

    menyebut tidak hanya bumi dan penciptaan bumi, tapi juga bulan dan matahari diciptakan untuk melayani manusia. Bahkan

    segala yang dilangit telah ditundukkan untuk manusia. Tentunya ini adalah bukti kasih sayang Allah yang menundukkan segala

    ciptaan-Nya dan diserahkan kepada manusia untuk dimanfaatkan dengan tepat guna. Bila para ilmuwan mencermati masalah ini,

    niscaya dapat memahami rahmat dan kelembutan Allah di samping kekuatan dan kebijaksanaannya.

    Dalam ayat ketiga belas surat an-Nahl ini ada penjelasan mengenai beragamnya fenomena dan ciptaan Allah yang menunjukkan

    kekuasaan Allah, sekaligus menunjukkan keindahan ciptaan-Nya.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Allah menciptakan dunia, baik langit dan bumi untuk manusia, namun tetap saja kontrolnya berada di tangan-Nya.

    2. Beragamanya ciptaan Allah memanifestasikan keindahan dunia dan ini semua berkat kasih sayang Allah kepada manusia,

    bukan hal yang terjadi begitu saja.

    Ayat ke 14

    ذَلِكُمْ فَذُوقُوهُ وَأَنَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابَ النَّارِ (14

    Artinya:

    Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan

    kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu

    mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (16: 14)

    Ayat ke 14 dari surat an-Nahl ini menyebutkan tentang nikmat adanya laut dan pengaruhnya dalam berbagai kehidupan manusia.

    Berbeda dengan hewan-hewan darat yang memerlukan biaya dan usaha keras, nikmat yang terdapat dalam laut dapat diambil

    tanpa biaya pengembangbiakannya. Laut mengembangbiakkan berbagai ikan dan menyerahkannya kepada manusia secara gratis.

    Barang-barang berharga dan hiasan untuk manusia dapat dikelaurkan dari dalam laut. Luas bumi lebih didominasi oleh laut

    merupakan jalur transportasi paling murah baik untuk barang dan manusia. Semua ini membutuhkan pengaturan dan kekuatan

    Allah. Sementara manusia dituntut oleh Allah untuk memanfaatkan segala nikmat yang ada dengan baik dan benar serta tidak

    lupa mensyukuri-Nya.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Allah tidak hanya menjamin air dan makanan untuk manusia dan diletakkannya di laut, tapi juga sampai masalah perhiasan

    manusia.

    2. Satu keistimewaan laut adalah manusia dapat memanfaatkan perahu dan kapal untuk transportasinya dan ini merupakan

    perhatian Allah.

    Ayat ke 15-16

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمُ الأدْبَارَ (15) وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (16)

    Artinya:

    Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai

    dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (16: 15)

    Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. (16: 16)

    Sebagai lanjutan ayat sebelumnya dan penjelasan nikmat-nikmat Allah, ayat-ayat ini menjelaskan peran gunung dan bumi,

    kemudian bintang-bintang di langit. Dalam ayat-ayat lainnya al-Quran menyebutkan, gunung berperan untuk menormalkan dan

    menenangkan bumi. Gunung-gunung batu besar di seluruh dunia mencegah bergeraknya bumi akibat tekanan di dasar bumi dan

    menjadikannya tenang dan dapat didiami oleh manusia.

    Selain itu, gunung menjadi tempat cadangan besar penyimpangan salju di musim dingin dan mengalirnya air di musim semi dan

    panas. Sungai-sungai besar yang mengalirkan air dari lembah gunung memanjang hingga ke laut. Di bentangan sungai-sungai

    besar itu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan mendapatkan air minumnya.

    Dahulu ketika orang ingin bepergian dan tidak memiliki alat transportasi cepat seperti sekarang, gunung menjadi tanda bagi

    para musafir untuk menentukan tujuannya. Di malam hari, bintang-bintang menjadi petunjuk terbaik untuk menentukan arah dan

    tujuan perjalanan. Bahkan kini di tengah lautan atau di lembah yang luas, di mana tidak ada tanda-tanda bumi, bintang-

    bintang di langit menjadi petunjuk paling penting guna seseorang menemukan jalannya.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Adanya gunung-gunung tinggi di permukaan bumi tidak terjadi begitu saja, namun dengan pengelolaan dan kebijaksanaan

    Allah.

    2. Apakah mungkin manusia menerima ada Tuhan yang memberikan petunjuk-petunjuk lahiriah dan alamiah bagi manusia, tapi

    lupa menunjukkan spiritual mereka?

    فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (17) ذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ (18)إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ

    خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ (19

    Ayat ke 17-18

    Artinya:

    Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak

    mengambil pelajaran. (16: 17)

    Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar

    Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 18)

    Sejak awal surat an-Nahl hingga ayat ke 17 dan 18 menyebut sebagian nikmat Allah di bumi, langit, beragam tumbuhan dan

    hewan. Ayat-ayat ini menyebutkan, nikmat-nikmat Allah tidak dapat dibatasi dengan apa yang telah disebutkan. Karena nikmat

    Ilahi tidak terbatas dan tak ada seorangpun yang mampu menghitungnya. Namun tetap saja ada sebagian orang yang tidak sadar

    dan masih menyembah arca dan menerima penguasa-penguasa zalim.

    Apakah makhluk ciptaan Allah; baik yang bernyawa maupun tidak, yagn tidak mampu menciptakan sesuatu pun harus disekutukan

    dengan Allah dan disembah

    Mengingat salah satu kewajiban para nabi demi mengingatkan rakyat dan menyadarkan hati nurani dan fitrah mereka, ayat-ayat

    ini dengan gaya bertanya menjelaskan masalah ini agar orang-orang musyrik memikirkan masalah ini dan mencari jawaban atas

    sejumlah pertanyaan transparan ini.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Ketika kita ingin mengajak orang lain untuk mengenal Allah dan menyembah-Nya, yang harus dilakukan adalah menarik hati

    nurani mereka untuk menilai, hingga akal dan fitrah mereka sadar untuk tidak mencari selain Allah.

    2. Mengenal Allah merupakan masalah fitrah manusia yang membutuhkan perhatian dan pengingatan. Oleh karenanya, tidak harus

    kita menyakinkan orang lain untuk mengenal Allah lewat argumentasi rumit filosofis.

    Ayat ke 19

    Artinya:

    Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. (16: 19)

    Menyusul penjelasan mengenai berbagai nikmat dan keharusan mengenal pencipta nikmat-nikmat itu, ayat ini menjelaskan, Dia

    satau-satunya pencipta yang mengetahui segala sesuatu. Dia Zat yang mengetahui segala urusan ciptaan.Nya.

    Tidak demikian bahwa Allah menciptakan mahkluk-Nya lalu membiarkan mereka begitu saja, tapi Allah senantiasa memonitoring

    setiap gerakan mereka. Tidak ada yang tersembunyi di sisi-Nya. Khususnya terkait dengan manusia yang diciptakan melakukan

    pekerjaannya dengan pilihan dan kehendak. Allah mengetahui alas an dan tujuan mereka yang tidak diketahui oleh orang lain.

    Atas dasar pengetahuan-Nya akan segala perbuatan manusia, Allah membalas segala kebaikan dan keburukan yang mereka

    kerjakan.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Bila kita mengetahui bahwa Allah mengetahui segala perbuatan kita, tentunya kita harus meninggalkan perbuatan-perbuatan

    buruk.

    2. Sesuatu tampak dan tersembunyi tidak punya makna di sisi Allah. Segala sesuatu sama di hadapan-Nya.

    Ayat ke 20-21

    Artinya:

    Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu

    (sendiri) dibuat orang. (16: 20)

    (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan

    dibangkitkan. (16: 21)

    Ayat-ayat ini kembali menjelaskan poin utama ayat-ayat sebelumnya dan menyebutkan, mengapa orang-orang musyrik menyembah

    arca-arca padahal mereka adalah ciptaan Allah yang tidak punya kehendak dan ruh. Sesembahan mereka itu tidak punya

    kekuatan mencipta apa lagi memberikan kehidupan kepada sesuatu yang lain.

    Pertanyaannya, apakah mungkin sesuatu yang tidak memiliki kehidupan dapat memberikan kehidupan terhadap sesuatu yang lain?

    Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak memiliki jiwa dapat menentukan nasib manusia

    Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa ayat-ayat ini hanya terkait dengan orang-orang musyrik di masa nabi dan

    kini sudah tidak relevan lagi. Namun kenyataannya bahkan dalam dunia modern saat ini, sekitar ratusan juta manusia di

    India, Cina, dan di Negara-negara lain yang menyembah berhala dan tidak menyakini Allah dan Hari Kiamat.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Sesembahan yang layak untuk disembah adalah Zat yang punya ilmu, kekuatan dan kehidupan. Berhala-berhala yang disembah

    selama ini tidak punya kekhususan ini.

    2. Di Hari Kiamat berhala-berhala akan dibangkitkan untuk memberikan saksi kepada mereka yang menyembahnya.

    Ayat ke 22-23

    Artinya:

    Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari

    (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (16: 22)

    Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.

    Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (16: 23)

    Dalam acara sebelumnya telah dijelaskan bagaimana ayat-ayat al-Quran menjelaskan mengenai ketidakmampuan selain Allah

    dalam menciptakan sesuatu. Ayat-ayat yang sebelumnya kita dengarkan ini menyebutkan, Allah Yang Maha Esa lebih layak untuk

    disembah, bukannya sesembahan hasil fantasi kalian. Kelanjutan ayat menyebut kebencian, keras kepala di hadapan kebenaran

    dan kesombongan sebagai alasan utama mereka yang mengingkari Hari Akhir dan Kiamat. Sebaliknya, jalan untuk menemukan

    hidayah bagi mereka yang beriman adalah semangat untuk mencari kebenaran dan menerimanya.

    Benar, siapa saja yang melihat dirinya lebih baik ketimbang orang lain, tidak akan pernah mau menerima kebenaran dari

    mereka, bahkan berusaha mengingkari dan menolaknya. Padahal mereka tahu betul bahwa apa yang diucapkan dan dilakukan orang

    lain itu benar dan hak. Namun tampaknya orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa seluruh pikiran dan perbuatannya

    diketahui oleh Allah Swt dan tidak ada satu pun yang tidak diketahui-Nya.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Sumber utama kekufuran adalah kesombongan dan bukan kebodohan, pengingkaran atas kebenaran atau tidak tahu akan

    kebenaran.

    2. Iman akan Hari Akhirat membuat manusia merasa rendah hati, sebagaimana pengingkaran akan kiamata bersumber dari

    kesombongan.

    Ayat ke 24

    Artinya:

    Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Dongeng-dongengan orang-

    orang dahulu.” (16: 24)

    Kita tahu bahwa al-Quran merupakan kitab yang berisikan kumpulan ajaran ilahi mengenai awal penciptaan, hari kebangkitan

    dan hukum-hukum agama terkait kewajiban syariat setiap muslim. Selain itu, al-Quran juga mengandung pesan-pesan moral

    Islam dalam perilaku individu, keluarga dan social. Tentu saja sebagian dari ayat-ayat al-Quran mengisahkan sejarah umat-

    umat terdahulu.

    Orang-orang yang menyikapi al-Quran dengan cara keras kepala dan mengingkarinya, pasti mengabaikan ajaran-ajaran ilahi dan

    moral Islam. Mereka hanya tertarik dengan sejarah yang dibawakan al-Quran dan menyebutnya sebagai mitos belaka. Sama

    seperti cerita-cerita legenda bohong lainnya yang dibuat oleh sebuah kaum.

    Mereka tidak menyadari bahwa kisah-kisah mengenai umat-umat terdahulu yang dibawakan al-Quran sama dengan termaktub dalam buku-buku sejarah dan fakta-fakta sejarah mendukungnya. Memang kisah umat terdahulu yang paling menyita ayat al-Quran

    terkait dengan Bani Israel dan kisah Nabi Musa as dan Firaun. Tidak diragukan lagi, sebagian akidah dan pemikiran khurafat yang ada di sebagian pemeluk agama-agama ilahi seperti Islam tidak berdasar. Pada prinsipnya al-Quran menolak khurafat.

    Ada sejumlah khurafat dalam hadis-hadis palsu yang dibuat oleh musuh atau umat Islam sendiri secara tidak sadar.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Menghina dan mengecilkan kebenaran dan ajaran agama merupakan alamat buruknya sikap sombong.

    2. Para penentang kebenaran menyebut kisah-kisah al-Quran sebagai dongeng dan mitos belaka, sementara mayoritas rakyat

    Arab di masa Nabi Muhammad Saw sama sekali tidak mengetahui umat terdahulu yang diceritakan al-Quran. Oleh karenanya

    mereka tidak dapat menyebut kisah-kisah itu sebagai dongeng dan sekadar mitos.

    Ayat ke 25

    Artinya:

    (Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa

    yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka

    pikul itu. (16: 25)

    Orang-orang yang sombong bukan hanya tidak mengakui kebenaran kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit dan menaatinya,

    tapi malah berusaha menyelewengkan orang lain dari kebenaran. Mereka memanfaatkan kebodohan dan ketidamengertian mayoritas

    masyarakat lalu menyesatkan mereka. Jelas, orang-orang yang seperti ini di Hari Kiamat akan disiksa akibat dosa yang

    diperbuatnya dan juga harus menanggung dosa mereka yang telah disesatkan.

    Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa setiap orang yang menggagas pekerjaan baik, pahala mereka yang melakukan perbuatan

    baik itu juga akan diberikan kepadanya. Sebagaimana seseorang yang menggagas perbuatan buruk, ia juga terhitung berdosa

    bila perbuatan itu dilakukan oleh orang lain.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Siapa saja yang mengajak orang lain melakukan perbuatan dosa atau mempersiapkan segalanya agar orang lain berbuat dosa,

    ia juga turut dihitung sebagai pelakunya setiap kali orang tersebut melakukan dosa.

    2. Akar dari kebanyakan penyelewengan adalah kebodohan dan musuh biasanya dalam propagandanya memanfaatkan ketidaktahuan

    masyarakat.

    Ayat ke 26

    Artinya:

    Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka Telah mengadakan makar, Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari

    fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang

    tidak mereka sadari.

    Pada pembahasan sebelumnya kita telah paparkan sikap pemimpin orang-orang kafir terhadap ayat alquran. Mereka berupaya

    menyesatkan masyarakat dengan menghina ayat-ayat alquran dan ajaran Tuhan. Ayat ini menyebutkan bahwa sikap mereka

    tersebut serupa dengan para pendahulunya. Mereka berusaha mengadakan tipu daya untuk menghadapi ayat al-Quran. Namun

    mereka harus menyadari bahwa azab dan siksaan Tuhan menantinya baik di dunia maupun di akhirat.

    Namun yang pasti azab Tuhan tidak diturunkan dengan tanpa peringatan sebelumnya sehingga para pendosa tidak mempunyai

    kesempatan untuk bertaubat. Begitu juga azab Ilahi tidak diturunkan dari tempat tertentu sehingga manusia mampu untuk

    melepaskan diri dari azab tersebut. Oleh karena itu, alquran menyatakan azab Ilahi diturunkan dari tempat yang tidak

    terpikirkan oleh manusia.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Di saat agama dalam bahaya, Allah Swt segera turun tangan dan menyingkirkan ancaman tersebut.

    2. Mereka yang menggunakan tipu daya untuk menghadapi ayat alquran pasti mendapat siksa dari Tuhan dan orang-orang seperti

    ini tidak dapat lolos dari azab ini.

    Ayat ke 27

    Artinya:

    Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya)

    kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?” Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu:

    “Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir”. (16: 27)

    Penghinaan orang-orang Kafir terhadap orang beriman akan berakibat kehinaan orang Kafir pada hari kiamat. Hal ini ditandai

    dengan siksaan pedih bagi orang Kafir pada Hari Kiamat nanti. Mereka yang di dunia mengaku berilmu dan menyebut mukmin

    sebagai orang bodoh, pada Hari Kiamat nanti akan menyadari bahwa sebenarnya yang bodoh adalah mereka sendiri. Kesadaran

    tersebut dengan sendirinya merupakan siksaan yang pedih.

    Pengetahuan dan kebodohan dalam budaya alquran mempunyai arti yang luas serta tidak terbatas pada arti mengetahui dan

    tidak. Orang berilmu adalah mereka yang perbuatan dan pemikirannya selaras dengan kebenaran, meski ia tidak menguasai

    semua ilmu pengetahuan. Adapun orang jahil adalah mereka yang pemikiran dan perbuatannya senantiasa dibarengi dengan

    kebatilan meski ia menguasai beragam disiplin ilmu. Ayat ini menyebut orang yang berilmu adalah mereka yang melawan

    kekafiran dan syirik. Orang-orang ini mempunyai keyakinan terhadap tauhid.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Jika kita mengunggulkan seseorang atau sesuatu yang Allah Swt tidak memberikan kelebihan tersebut padanya maka kita

    harus bertanggung jawab atas sikap kita ini.

    2. Ilmu sejati adalah ilmu yang membawa manusia pada keimanan dan mendorongnya untuk berbuat baik. Ilmu ini adalah

    anugerah Allah Swt.

    Ayat ke 28-29

    Artinya:

    (yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka

    menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun”. (Malaikat menjawab): “Ada,

    sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. (16: 28)

    Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang

    menyombongkan diri itu. (16: 29)

    Ayat ini menggambarkan kondisi orang Kafir saat menjelang ajalnya dan di saat mereka akan memasuki alam kubur. Ayat ini

    menyebutkan, di saat para malaikat mencabut nyawa orang Kafir, mereka mulai menyadari akan kesalahannya dan menyatakan

    keislamannya. Tak hanya sampai di sini, menjelang ajalnya orang kafir juga mengingkari perbuatan buruknya. Namun sangat

    jelas bahwa pernyataan orang kafir yang bersedia beriman kepada Tuhan menjelang ajalnya tidak bermanfaat, karena hal ini

    mereka lakukan karena terpaksa dan bukannya dengan ikhtiar. Pengingkaran mereka terhadap perbuatannya selama di dunia

    tidak akan mengubah apapun, karena Allah Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-Nya selama di dunia dan tidak ada yang

    terlepas dari pengamatan-Nya.

    Poin penting lainnya yang patut di perhatikan adalah dalam pemikiran Islam kematian berarti terpisahnya ruh dari jasad.

    Pandangan ini berbeda dengan istilah fana.

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Dalam budaya Islam kematian bukan berarti kehancuran, namun awal dari kehidupan baru.

    2. Menzalimi diri sendiri adalah sebuah kezaliman. Dampak sikap ini tidak berbeda jauh dengan kezaliman lainnya.

    3. Akar utama kekafiran adalah sikap sombong terhadap kebenaran.

    Ayat ke 30-31

    Artinya:

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” mereka menjawab: “(Allah

    telah menurunkan) kebaikan.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya

    kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (16: 30)

    (yaitu) syurga “Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat

    segala apa yang mereka kehendaki. Demikian Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (16: 31)

    Dua ayat ini memusatkan pembicaraannya mengenai orang-orang bertakwa. Orang-orang yang meninggalkan keburukan dan bila

    melakukan perbuatan dosa, mereka langsung bertaubat dan mensucikan dirinya. Al-Quran menyebutkan, menurut kelompok orang

    mukmin, apa saja yang diturunkan oleh Allah Swt merupakan kebaikan dan kebahagiaan individu dan sosial. Menurut mereka

    tidak ada perbuatan baik yang tidak mendapatkan balasan baik di dunia atau di akhirat. Poin penting dan menarik dari dua

    ayat ini adalah ungkapan kata kebaikan yang dipakai untuk menjelaskan agama secara simpel, sekaligus universal. Ketika

    orang-orang menyebut kekayaan, posisi dan kekuasaan sebagai kebaikan, orang-orang bertakwa mengakui ajaran dan perintah

    ilahi sebagai sumber kebaikan dan kebahagiaan. Menurut mereka ajaran ilahi lebih mulia dari segala sesuatu.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Seruan Al-Quran adalah ajakan kepada perbuatan kebaikan. Orang-orang yang berbuat baik akan mencapai kebaikan di dunia

    dan akhirat. Karena berdasarkan sunnah ilahi setiap pelaku kebaikan pasti mendapat pahala.

    2. Orang yang meninggalkan berbagai kelezatan dunia yang haram akan mencapai kenikmatan tak terbatas ukhrawi.

    Ayat ke 32

    Artinya:

    (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):

    “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (16: 32)

    Orang-orang musyrik dalam surat an-Nahl 28 dianggap sebagai orang zalim, sementara ayat ini menilai Mukminin sebagai

    orang-orang baik. Ayat 32 menyebutkan, ketika kondisi sulit sakaratul maut mendatangi seseorang dan malaikat pencabut

    nyawa memisahkan jiwa dari badan, pada waktu itu orang-orang mukmin merasakan ketenangan. Karena mereka mendapat salam dan

    penghormatan dari para malaikat ilahi. Sejak awal mereka mendapat kabar gembira mengenai surga dan nikmat ilahi yang

    dijanjikan.

    Tentu saja tidak setiap orang yang mengaku beriman termasuk baik dan suci, tetapi orang-orang bertakwa adalah mereka yang

    memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Mereka suci dari setiap kejelekan dan

    keburukan, bahkan dalam hatinya tidak ada kebencian dan dengki.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Kematian bukan akhir dari kehidupan manusia, tetapi akhir dari kehidupan duniawi manusia dan awal kehidupan baru dalam

    kondisi yang lain. Berdasarkan sejumlah riwayat, kuburan merupakan lobang dari neraka atau taman dari surga.

    2. Mengucapkan salam saat bertemu dengan orang lain merupakan budaya langit dan ilahi yang ditegaskan berulang kali oleh

    Rasulullah saaw kepada umatnya. Salam merupakan kata yang pendek, namun disertai rahmat Ilahi.

    Ayat ke 33-34

    Artinya:

    Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah

    Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan

    tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. (16: 33)

    Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi oleh azab yang selalu mereka perolok-

    olokan. (16: 34)

    Orang-orang keras kepala yang tidak sudi mendengarkan kebenaran dan menerimanya, karena tidak berbicara berdasarkan

    argumentasi mereka meminta para nabi agar menurunkan azab kepada mereka di dunia ini. Mereka mengatakan: “Kami tidak akan

    beriman. Bila engkau mampu, mintakan kepada Tuhan-mu agar menurunkan azab kepada kami.” Namun sunnah Ilahi tidak akan

    membalas orang-orang Kafir di dunia. Karena bila hal itu dilakukan di dunia, sudah barang tentu masyarakat yang

    menyaksikan azab itu bakal beriman secara terpaksa. Beriman dengan cara ini tidak bernilai di sisi Allah.

    Allah dalam dua ayat ini berfirman bahwa sepanjang sejarah, sunnah Ilahi bagi orang-orang yang berbuat keburukan

    senantiasa demikian. Namun akhir dari kezaliman dan akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan di dunia akan dibalas di

    akhirat dan mayoritas mereka tidak menyadari hal itu.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Siksaan Ilahi tidak menunjukkan kezaliman Allah, tapi akibat dari kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang Kafir dan

    Musyrik.

    2. Hal-hal yang mendapat siksaan di dunia ini langsung adalah penistaan terhadap orang lain, khususnya penodaan terhadap

    kesucian agama.

    Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 35-37

    Ayat ke 35

    Artinya:

    Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia,

    baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin) Nya”. Demikianlah yang

    diperbuat orang-orang sebelum mereka; Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah)

    dengan terang. (16: 35)

    Di sepanjang sejarah salah satu hal yang dijadikan justifikasi oleh kaum musyrikin adalah masalah Jabr. Mereka mengatakan

    bahwa Tuhan yang menghendaki mereka untuk menyembah berhala karena jika tidak mereka pasti akan menyembah Tuhan. Klaim

    kaum musyrikin ini juga disebutkan pada ayat lain dalam al-Quran. Padahal Allah Swt memberikan manusia akal, kebebasan

    memilih, dan nurani bahkan mengutus para nabi untuk membimbing mereka menunjukkan kebatilan dan kebenaran. Untuk masalah

    kebebasan memilih, Allah Swt menghendaki manusia untuk bebas menentukan pilihan mereka dengan bantuan akal dan petunjuk

    dari para nabi. Dalam hal ini, manusia dapat memilih jalan kebenaran atau bahkan kebatilan.

    Dengan demikian, Allah tidak memaksa seorang manusia pun untuk beriman kepada Nya dan tidak memaksa manusia untuk menjadi

    musyrik. Pilihan iman, dan kesyirikan, sepenuhnya berada di tangan manusia sendiri. Selain itu, harus diperhatikan pula

    bahwa mengingat Allah Swt telah menyediakan seluruh faktor hidayah dan bimbingan bagi manusia, maka ini semua berarti

    bahwa Allah Swt tidak menghendaki satupun makhluknya yang menyimpang atau menyekutukan-Nya.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Justifikasi pemikiran dan perbuatan yang tidak benar, lebih berbahaya dari pemikiran dan perbuatan itu sendiri karena

    akan menutup pintu taubat dan menghancurkan jalan kembali.

    2. Tugas para nabi adalah menyampaikan dan dakwah, bukan memaksa masyarakat untuk beriman kepada Allah Swt.

    Ayat ke 36

    Artinya:

    Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah

    Thaghut itu”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-

    orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-

    orang yang mendustakan (rasul-rasul). (16: 36)

    Menyusul pernyataan kaum musyrik terkait kesyirikan mereka tersebut, Allah Swt dalam ayatnya menekankan bahwa Allah Swt

    telah mengutus para nabi untuk seluruh umat-Nya yang akan membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Jalan yang benar

    adalah penghambaan kepada Allah Swt bukan kepada para penguasa yang zalim. Jelas bahwa orang yang memilih jalannya seperti

    yang ditunjukkan oleh para nabi, maka mereka mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Namun ketika seseorang mengingkari

    kebenaran, maka ia akan tersesat dan menyimpang. Ini semua berhubungan langsung dengan manusia bukan dengan Allah Swt.

    Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Perlawanan terhadap kezaliman dan penguasa lalim, merupakan tugas utama para nabi.

    2. Agama dan politik bukan dua hal yang terpisah karena penerimaan agama tidak dapat menyatu dengan penerimaan kekuasaan

    zalim.

    3. Sunnah Allah tentang masyarakat dan sejarah berlaku di setiap masa. Oleh karena itu dengan perenungan mendalam kita

    dapat memilih jalan yang benar untuk masa depan kita.

    Ayat ke 37

    Artinya:

    Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang

    disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. (16: 37)

    Ayat ini adalah dalam rangka membesarkan hati para nabi dan orang-orang mukmin. Bahwa agar mereka tidak berharap semua

    orang beriman dan agar mereka tidak terlalu menyesali penyimpangan orang-orang Musyrik. Hal itu disebabkan kaum Musyrik

    menentang kebenaran dan bersikeras melawannya. Mereka bukan tidak memahami kebenaran melainkan menolak menerimanya, dan

    oleh sebab itu mereka dan perilaku mereka tidak patut untuk disesali.

    Ayat tadi ditujukan kepada orang-orang Kafir dan Musyrik yang memerangi hakikat dan kebenaran. Allah Swt juga tidak

    mengasihi kondisi dan perbuatan mereka. Namun perlu ditekankan pula bahwa kondisi orang-orang Kafir dan Musyrik dewasa ini

    tidak demikian. Kekufuran dan kesyirikan sebagian besar mereka diakibatkan oleh ketidaksadaran dan tidak adanya

    pengetahuan, dan ini merupakan tugas umat Islam untuk menyadarkan dan membimbing mereka. Pengalaman membuktikan bahwa jika

    kita menyampaikan kebenaran dengan cara yang proporsional, maka mereka akan beriman kepada Allah Swt.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Terkadang manusia sedemikian tersesat dan menyimpang sehingga tidak terbuka lagi pintu taubat bagi mereka. Oleh sebab

    itu, mereka tidak dapat diberi hidayah ketika di dunia dan tidak dapat tertolong di akhirat.

    2. Untuk orang-orang yang memang tidak bisa diberi hidayah, kita tidak boleh menyesalinya, namun untuk orang-orang kafir

    yang masih dapat dibimbing, kita harus berupaya menunjukkan jalan kebenaran kepada mereka.

    (islamic-sources/IRIB Indonesia)