Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 38-124

    Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 38-124

    Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 38-124
    Rate this post
    description post specs comment

    Tafsir Al-Quran, Surat An-Nahl Ayat 38-124

     

     

    Ayat ke 38-39

    Artinya:

    Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (16: 38)

    Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. (16: 39)

    Sebelumnya, kita telah bahas bersama bahwa kekafiran, kesyirikan, dan kesesatan, yang berdasarkan pada permusuhan, tidak akan dapat diharapkan untuk mendapatkan hidayah kebenaran. Bahkan Allah Swt menyatakan telah menutup pintu hidayah-Nya bagi orang-orang yang melakukannya.

    Dua ayat ini menyebutkan, mereka menilai kematian sebagai akhir dari kehidupan mereka dan mengatakan, Tuhan menghukum orang-orang yang telah mati dengan tidak menghidup mereka kembali dan kematian menutup rapor setiap orang di dunia ini. Yang menarik adalah bahwa mereka mengatakan ini dengan menyatakan sumpah atas nama Tuhan. Ketika manusia tidak memiliki pengetahuan yang tepat terhadap Allah Swt, maka ia akan menggambarkan Allah di dalam benaknya seperti sebuah wujud yang disembah melalui arca-arca, dan berhala itu menjadi tidak berperan dalam kehidupan dan hanya rekayasa benak manusia saja. Tuhan seperti ini tidak dapat mengatur urusan dunia dan sebab itu pula setelah kematian pun Tuhan seperti itu juga tidak memiliki program atau rancangan apapun.

    Namun Allah Swt berfirman, pada Hari Kiamat akan diketahui apakah para nabi yang menjanjikan surga dan neraka adalah pembohong atau mereka yang mengingkari seruan tersebut? Di sanalah hakikat akan terbukti, namun apa daya karena sudah tidak ada jalan kembali.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Kiamat dan penghidupan kembali orang-orang yang telah mati adalah janji Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan terhadap Allah Swt.

    2. Sekelompok orang dengan sengaja mengingkari kiamat berdasarkan permusuhan dan keras kepala. Namun sebagian besar manusia menolaknya karena kebodohan dan tidak adanya pengetahuan yang benar.

    Ayat ke 40

    Artinya:

    Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, Maka jadilah ia. (16: 40)

    Manusia ketika menggambarkan sesuatu dalam benaknya, hanya dengan menginginkannya saja manusia dapat mewujudkannya dalam benaknya dan tidak memerlukan hal atau sarana lain. Ini merupakan contoh pendekatan untuk menjelaskan seperti itu pula lah Allah ketika hendak menciptakan sesuatu. Allah Swt hanya cukup menginginkannya, maka terciptalah sesuatu tersebut. Sekali lagi contoh tersebut hanya dalam rangka pendekatan nalar kita dengan penjelasan mengenai kun fayakun.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Tidak ada artinya kita meragukan kiamat, karena kekuatan Allah Swt jauh melampaui hanya sekedar menghidupkan makhluk yang telah binasa.

    2. Allah Swt yang menciptakan makhluk hanya dengan menginginkan saja, apakah Ia juga tidak mampu menghidupkan kembali makhluk yang telah hancur berubah dalam unsur lain.

    Ayat ke 41-42

    ??????????? ????????? ??? ??????? ???? ?????? ??? ???????? ?????????????????? ??? ?????????? ???????? ?????????? ??????????? ???????? ???? ??????? ??????????? (41) ????????? ???????? ??????? ????????? ?????????????? (42)

    Artinya:

    Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempata yang bagus kepada mereka di dunia, dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. (16: 41)

    (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal. (16: 42)

    Salah satu perintah dalam agama Islam adalah berhijrah di jalan Allah demi menjaga agama, keyakinan, serta keselamatan keluarga. Manusia yang mukmin tidak boleh tergilas dalam masyarakat yang zalim atau membiarkan dirinya dihina dan dizalimi. Ia harus melawan kezaliman itu atau meninggalkan tempat tersebut demi menjaga keyakinannya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah dan kaum Muslim yang berhijrah dari Mekah ke Madinah. Rasulullah dan sahabat beliau bersabar menghadapi berbagai kesulitan dan masalah, serta bertawakal kepada Allah Swt. Akhirnya mereka dapat mengatasi seluruh kesulitan tersebut. Dalam ayat tersebut Allah Swt berfirman, ” Orang yang berhijrah di jalan Allah, akan hidup dalam kondisi yang lebih baik dan di akhirat juga akan mendapatkan pahala karena telah bertawakal kepada-Nya.”

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Jika kita tidak dapat melawan kezaliman, kita juga tidak boleh menerimanya dan mengatakan bahwa kita tidak memiliki jalan keluar apapun. Karena solusinya adalah berhijrah.

    2. Di hadapan orang-orang zalim, kita harus bertawakal kepada kekuatan Allah bukan kekuatan asing.

    3. Meski berhijrah adalah hal yang sulit, namun hal tersebut akan membawa kebahagiaan dan ketenangan, dan ini adalah janji Allah Swt.

    Ayat ke 43-44

    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44)

    Artinya:

    Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (16: 43)

    Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab, dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (16: 44)

    Sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat sejarah, sejumlah orang-orang Musyrik meragukan mengapa Allah mengutus manusia sebagai nabi. Mereka berharap bahwa yang diutus Allah itu seperti malaikat.

    Ayat-ayat ini sejatinya menjadi jawaban atas keraguan mereka. Ayat menyebutkan, ini bukan pertama kalinya Allah mengutus manusia sebagai rasul-Nya, namun tetap saja kalian menganggap hal ini sebagai satu hal yang mengherankan dan bersikeras untuk tidak menerimanya. Oleh karenanya, tanyakan kepada pengikut agama lain dan Ahlul Kitab. Mereka akan menjawab bahwa para nabi yang diutus kepada mereka juga manusia dan sepanjang sejarah memang demikian. Para nabi besar seperti Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa as juga adalah manusia yang bertugas menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia dan setiap dari mereka mengeluarkan mukjizat untuk membuktikan kenabiannya.

    Nabi Muhammad Saw juga sama dengan para nabi sebelumnya diutus dengan membawa Kitab Allah dan mukjizat guna membuktikan kenabiannya. Mukjizat paling penting beliau adalah al-Quran. Sebuah kitab Allah yang diturunkan untuk menunjukki manusia dan nabi sendiri punya kewajiban untuk menjelaskannya kepada mereka.

    Ayat ini juga mengisyaratkan satu prinsip umum mengenai para ilmuan dan ahli ilmu harus menjadi referensi. Berdasarkan berbagai riwayat, bukti paling penting mengenai masalah ini adalah Ahlul Bait Nabi sebagai ahli ilmu yang menjadi rujukan. Ilmu yang dimiliki Ahlul Bait berasal dari sumber ilmu Nabi yang bertaut dengan ilmu tak terhingga Ilahi.

    Dari dua ayat tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Para nabi ilahi sejak dahulu berasal dari manusia, bukan jin atau malaikat agar menjadi bukti bagi masyarakat semua. Dengan demikian mereka tidak lagi beralasan bahwa apa yang dibawa oleh para nabi tidak dapat dilakukan.

    2. Urusan yang berhubungan dengan agama harus ditanyakan kepada mereka yang benar-benar mengetahuinya dan tidak kepada setiap orang yang memiliki sedikit pengetahuan mengenainya.

    3. Para nabi agung ilahi memiliki Kitab dan mukjizat agar masyarakat tidak bingung dalam memilah mana yang benar dan batil.

    4. Risalah dan tugas Nabi Muhammad Saw adalah menjelaskan al-Quran dan kewajiban masyarakat adalah menerima dan memikirkannya.

    Ayat ke 45-47

    أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ (45) أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ (46) أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَى تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (47)

    Artinya:

    Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. (16: 45)

    Atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu). (16: 46)

    Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (16: 47)

    Sesuai dengan logika al-Quran yang mengajak para penentang dan orang-orang musyrik agar memikirkan sejarah umat-umat terdahulu, sekaligus mengambil pelajaran dari mereka yang menentang ucapan para nabi, ayat-ayat yang telah dibacakan sebelumnya menyebutkan, siksaan para penentang kebenaran tidak hanya di Hari Kiamat.

    Sangat mungkin sekali di dunia ini Allah menurunkan azab dan siksanya kepada orang-orang zalim yang menolak kebenaran. Ketika malam tiba dan orang-orang tengah beristirahat atau di siang hari ketika tengah bekerja tiba-tiba azab ilahi turun dan atau azab ilahi menimpa mereka dari tempat yang tidak pernah mereka sangka-sangka. Ketika azab telah diturunkan, tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Benar, Allah dengan kelembutannya tidak cepat-cepat mengazab orang-orang kafir dan memberikan mereka kesempatan melepaskan diri dari sikap keras kepala dan menerima kebenaran.

    Dari tiga ayat tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Azab dan siksaan ilahi diturunkan setelah semua bukti telah sempurna. Ketika bukti-bukti kebenaran belum sempurna tidak akan diturunkan azab.

    2. Baik orang kafir dan mukmin harus mengetahui bahwa perbuatan makar orang-orang zalim di hadapan ilmu dan kekuatan Ilahi tidak berarti apa-apa. Tidak ada satu apa pun yang mampu mencegah kemarahan Allah.

    3. Kemarahan Allah di dunia tidak dapat diperkirakan. Oleh karena itu tidak mungkin lari dari azab ketika telah diturunkan.

    4. Kemarahan dan siksa Allah bertujuan untuk mendidik manusia dan bukan karena kedengkian dan balas dendam. (IRIB Indonesia)

    Ayat ke 48

    أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ (48)

    Artinya:

    Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang Telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri? (16: 48)

    Ayat ini menyamakan bayangan sesuatu yang jatuh ke tanah dan tertunduk dengan kondisi sujud. Allah berfirman, tidak hanya seluruh makhluk-Nya yang bersujud kepada-Nya, tapi juga bayangan mereka tunduk dan sujud di hadapan-Nya. Jelas, seluruh ciptaan Allah mengikuti undang-undang dan aturan ilahi dan tidak mungkin terjadi kesalahan padanya. Dengan kata lain, mereka taat mutlak kepada Sang Pencipta dan tidak mungkin menyimpang dari jalur yang telah ditetapkan. Itulah mengapa bayangan segala sesuatu mengikuti zat aslinya yang mengikuti sunnah ilahi.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Sistem yang menguasai alam ini seluruhnya mengikuti dan taat perintah Allah.

    2. Semua wujud dalam keadaan sujud dan bertasbih kepada Allah. Lalu mengapa manusia ingin keluar dari sistem harmonis ini dan tidak ingin bersujud di hadapan Allah?

    Ayat ke 49-50

    وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (49) يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (50)

    Artinya:

    Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. (16: 49)

    Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (16: 50)

    Kelanjutan ayat dari sebelumnya mengenai sujudnya para makhluk ditambahkan bukan hanya makhluk hidup di alam, tapi juga mencakup para malaikat. Mereka taat, tunduk dan sujud kepada Allah Swt, tidak pernah sombong dan menentang-Nya. Karena mereka senantiasa merasakan kehadiran Allah dan pengawasan-Nya.

    Sekaitan apa makna sebenarnya dari sujud para makhluk ada dua pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama melihat sujud pada makhluk sebagai penyerahan diri di hadapan hukum alam dan sunnah ilahi. Sementara pendapat kedua memahami arti sujud yang dimaksudkan muncul dari kesadaran dan pengetahuan, sekalipun memahami hal ini di luar dari kemampuan manusia.

    Mencermati sejumlah ayat al-Quran lain menunjukkan al-Quran sependapat dengan pandangan kedua. Karena al-Quran di ayat lain menyebutkan, “Kalian tidak mampu mengetahui tasbih dan sujudnya makhluk ciptaan Allah.” Bila menurut pendapat pertama, jelas kita memahami dan mengetahui tasbih dan sujud mereka. Oleh karenanya, bentuk sujud yang dilakukan berdasarkan kesadaran yang dilimpahkan Allah kepada manusia dan bukan kesadaran yang bisa dicapai dengan usaha.

    Dari dua tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Makhluk hidup tidak hanya tinggal di atas bumi ini tapi juga ada di tempat lain seperti yang diisyaratkan dalam surat as-Syuuraa ayat 29.

    2. Ketakutan kita terhadap Allah akibat perbuatan dosa yang kita lakukan, namun ketakutan para malaikat dari Allah bersumber dari keagungan Allah, sama seperti ketakutan para nabi dan wali Allah kepada-Nya.

    3. Para malaikat adalah para pelayan suci ilahi yang melakukan pekerjaannya dengan benar dan sempurna.

    Ayat ke 51

    وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ (51)

    Artinya:

    Allah berfirman: “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; Sesungguhnya dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”. (16: 51)

    Setelah menjelaskan penyerahan diri semua makhluk di hadapan Allah, ayat ini menyebutkan, “Wahai manusia! Mengapa kalian mensyirikkan Allah dan mendudukkan sebagian makhluk atau manusia sejajar dengan Allah? Padahal pencipta kalian adalah Dia Yang Esa. Tidak ada selain Allah yang layak untuk disembah. Bila manusia hanya melihat Allah dan menyembahnya, jelas saja ia tidak punya rasa takut dengan selain-Nya. Ia hanya takut kepada Allah Sang Pencipta. Ketakutan ini berdampak pada keseriusannya untuk melaksanakan segala kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya. Ini semua akan menumbuhkembangkan segala potensi yang dimilikinya dan menjadi sempurna.

    Dari tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Keyakinan akan adanya dua sumber; kebaikan dan keburukan yang mengatur dunia merupakan kepercayaan yang salah. Karena segala sesuatu berasal dari Allah, sekalipun kita melihatnya adalah keburukan.

    2. Takut kepada selain Allah sebenarnya termasuk bentuk syirik dan seorang mukmin tidak takut kepada apa dan siapa pun selain Allah.

    Ayat ke 52

    وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ (52)

    Artinya:

    Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka Mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah? (16: 52)

    Sebagai lanjutan ayat sebelumnya, ayat ini menyebutkan, “Baik sistem takwini (cipta) dan sistem tasyri’i (tinta), kedua-duanya berasal dari Allah.” Tidak satu pun selain Allah yang mampu mencipta dan tidak satu pun selain-Nya yang berhak membuat undang-undang dan kewajiban. Bila memang demikian, lalu mengapa masih saja ada orang yang tidak bertakwa kepada-Nya dan masih memperhitungkan orang lain.

    Dari tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Penyembahan hanya kepada Allah Yang Maha Esa dan taat kepada selain-Nya tidak diperbolehkan, kecuali kepada mereka yang diperintah oleh Allah.

    2. Yang berhak menentukan undang-undang alam hanya sang pencipta.

    Ayat ke 53-54

    وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (53) ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (54)

    Artinya:

    Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (16: 53)

    Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). (16: 54)

    Kedua ayat tersebut yang kandungannya seringkali diulang dalam ayat-ayat al-Quran lainnya, menekankan dua poin. Pertama, seluruh kenikmatan baik raga dan jiwa, serta kenikmatan alam seperti air, tanah, tumbuh-tumbuhan, binatang, bumi dan langit berasal dari Allah Swt, semua itu berasal dari Allah Swt. Lantas mengapa sebagian kalian menjadikan sederet kenikmatan tersebut sepadan dengan Allah Swt dan mematuhi selain-Nya? Mematuhi atau mentaati selain Allah Swt sebagai ganti dari ketaatan kepada Zat Yang Maha Kuasa, sama halnya dengan melakukan syirik atau menyekutukan Allah Swt.

    Adapun poin kedua menyebutkan, saat terjadi musibah, kalian menghadapi kondisi sedih, yang kemudian menjadikan Allah Swt sebagai tempat mengeluh dan mengadu. Kalian meminta kepada Allah Swt supaya menyelesaikan problema kalian. Namun uniknya, saat problema itu dapat diselesaikan, sebagian dari kalian melupakan Allah Swt, bahkan menyebut selain Allah Swt sebagai pihak yang menyelesaikan problema tersebut. Ini adalah salah satu bentuk syirik atau penyekutuan kepada Allah Swt.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kita harus bersikap waspada bahwa kenikmatan dapat melupakan Allah Swt dan menyebabkan syirik kepada-Nya.

    2. Menjaga keimanan dan meminta pertolongan kepada Allah Swt harus terus dipertahankan. Hal itu tidak hanya dilakukan saat menghadapi kesulitan.

    Ayat ke 55

    لِيَكْفُرُوا بِمَا آَتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (55)

    Artinya:

    Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenag-senanglah kamu. Kelak, kamu akan mengetahuinya (akibatnya). (16: 55)

    Ayat ini menjelaskan kelanjutan ayat sebelumnya, menyekutukan Allah Swt di saat gembira dan berakhirnya masalah dapat dilihat pada seseorang yang tidak mensyukuri kenikmatan Allah Swt dan mengingkari apa yang diberikan-Nya. Sangatlah jelas bahwa seseorang yang tak mensyukuri kenikmatan akan dihadapkan pada kemungkaran Allah Swt di dunia dan akhirat. Meski ia menggunakan kenikmatan tersebut, tapi hal itu tak membahagiakannya. Bahkan kenikmatan itu membuat orang tersebut mendapat azab.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Tidak mensyukuri kenikmatan Allah Swt adalah bentuk dari kesyrikan dan kekafiran yang membuat Allah Swt murka.

    2. Meski banyak manusia yang mengingkari Allah, namun Allah Swt tidak memutuskan nikmat yang diberikan-Nya dan membiarkan mereka untuk tetap bersenang-senang. Namun sebenarnya, hal itu merupakan kesempatan yang diberikan kepada Allah Swt, supaya manusia sadar.

    Ayat ke 56-57

    وَيَجْعَلُونَ لِمَا لَا يَعْلَمُونَ نَصِيبًا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ تَاللَّهِ لَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَفْتَرُونَ (56) وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ (57)

    Artinya:

    Dan mereka sediakan untuk berhala-berhala yang mereka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bahagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. (16: 56)

    Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). (16: 57)

    Kedua ayat tersebut menyinggung keyakinan dan perbuatan khurafat serta perilaku tidak layak orang-orang Musyrik. Kaum Musyrik menyisakan sebagain dari kenikmatannya untuk berhala. Pada saat yang sama, mereka harus mempertanggungjawabkan  tindakannya ini. Lantas atas dasar hak yang mana mereka melakukan hal tersebut dan menggunakan kenikmatan ilahi di jalan syirik?

    Kelanjutan ayat tersebut menjelaskan bahwa kaum Musyrik menduga para malaikat sebagai anak-anak Tuhan. Berdasarkan keyakinan ini, mereka mempunyai tiga penyimpangan mendasar. Pertama, mereka menyatakan bahwa Tuhan mempunyai anak. Padahal Tuhan tidak mempunyai anak. Kedua, mereka mengganggap para malaikat sebagai anak-anak perempuan Tuhan. Padahal tidak ada laki-laki dan perempuan di kalangan malaikat. Ketiga, orang-orang Musyrik menyebut perempuan sebagai hal yang hina. Bahkan mereka mengubur anak perempuan secara hidup-hidup. Dengan kondisi seperti ini, mereka mengaitkan hal tersebut dengan Tuhan.

    Semua itu adalah kebohongan semata. Untuk itu, kaum Musyrik harus mempertanggungjawabkan sikap mereka. Dapat dipastikan bahwa mereka tak dapat menjawab hal itu.

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kita tidak berhak memanfaatkan nikmat ilahi untuk sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah Swt.

    2. Bergantung pada sesuatu atau pihak-pihak yang mereka sendiri tidak mengetahui apa   yang akan terjadi, dapat dikatakan sebagai bentuk khurafat.

    3. Kasih sayang materi dan duniawi Allah Swt mencakup semua orang, termasuk orang-orang yang menyeleweng.

    Ayat ke 58-59

    وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)

    Artinya:

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (16: 58)

    Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (16: 59)

    Sebelumnya telah disebutkan bahwa orang-orang musyrik menganggap malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah. Ayat ini menyebutkan, “Mereka menisbatkan hal yang tidak benar mengenai para malaikat dan Allah, padahal mereka sendiri menilai anak perempuan menistakan mereka. Bila seseorang mengabarkan kepada mereka bahwa isterimu melahirkan anak perempuan, kontan wajahnya merah menanggung malu dan menyembunyikan dirinya dari masyarakat. Orang seperti ini selalu berpikir mampukah ia menanggung kehinaan ini. Untuk keluar dari kondisi kejiawaan yang semacam ini, ia bahkan tega menguburkan anak perempuannya dalam keadaan hidup.”

    Disebutkan dalam sejarah bahwa alasan terpenting orang-orang Arab menganggap hina anak perempuan dikarenakan mereka hidup di lingkungan padang pasir biasanya tidak pernah terlepas dari perang. Tentu saja di medan perang anak perempuan tidak punya kemampuan untuk berperang. Selain itu, bila sebuah kabilah kalah dalam berperang, anak-anak perempuannya bakal ditawan oleh musuhnya yang menang dan akhirnya menjadi budak wanita yang diperlakukan semena-mena.

    Namun di masa jahiliyah itu, al-Quran dan Islam menganugerahkan nilai yang tinggi kepada anak perempuan. Nabi Muhammad Saw sendiri banyak memperingatkan umatnya mengenai berbuat baik kepada anak perempuan dan beliau sendiri memberikan perhatian khusus kepada anak perempuannya Fathimah Zahra as.

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Bila sampai kini disebagian masyarakat mengunggulkan anak laki-laki ketimbang perempuan, dapat dikatakan bahwa mereka masih melestarikan pemikiran jahiliyah.

    2. Peran khurafat dan pemikiran yang tidak benar di sebagian manusia masih kuat, sehingga terkadang mereka siap mengacuhkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang paling jelas sekalipun. Sebagaimana yang terjadi di masa jahiliyah, seorang ayah yang dipengaruhi pemikiran khurafat sampai hati menguburkan anak perempuannya dalam keadaan hidup.

    3. Agama-agama langit, khususnya Islam mengutuk keras berbagai kepercayaan khurafat terkait anak perempuan dan wanita.

    Ayat ke 60

    لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (60)

    Artinya:

    Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (16: 60)

    Setelah menjelaskan akidah khurafat orang-orang Musyrik dalam ayat sebelumnya, ayat ke-60 surat an-Nahl ini menyebutkan, “Sumber semua keburukan dalam kepercayaan dan perbuatan akibat dari menjauhi keimanan dan hari akhirat. Tidak ada manusia yang beriman akan membolehkan dirinya menilai makhluk Allah sebagai sumber kehinaan dan juga tidak akan berani merampas kehidupannya. Karena kehidupan merupakan anugerah ilahi. Sementara segala sifat kebaikan itu berasal dari Allah. Setiap mukmin dalam segala urusannya selalu berniat untuk mendekatkan dirinya dengan sifat-sifat baik Allah dan mengembangkannya dalam dirinya.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Syirik dan kufur sumber segala keburukan, sementara keimanan dan keikhlasan menjadi sumber segala kebaikan.

    2. Kemuliaan, kekuatan dan segala kesempurnaan hanya bagi Allah semata dan manusia untuk sampai pada kesempurnaan harus memiliki sifat-sifat Allah.

    Ayat ke 61

    وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ (61)

    Artinya:

    Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (16: 61)

    Ayat ini menjelaskan mengenai dua kaidah universal mengenai sunnah ilahi. Ayat 61 ini menyebutkan, “Pemberian waktu kepada manusia pendosa merupakan sunnah ilahi. Karena bila Allah berkehendak untuk membalas langsung setiap dosa yang dilakukan manusia, niscaya tidak akan ada satu manusia pun yang hidup di muka bumi dan kehidupan manusia bakal musnah. Oleh karenanya, kesempatan yang diberikan ini bagi sebagian orang di dunia dan sebagian lainnya di akhirat.”

    Sunnah ilahi lainnya, Allah memberikan kesempatan kepada manusia pada waktu yang telah ditentukan. Saat tiba waktunya diturunkan azab atau tiba ajalnya, hal ini tidak akan dimajukan atau dimundurkan dan tidak ada yang mampu menghalangi kehendak Allah.

    Ayat ini juga menjelaskan peran dosa yang merusak dan menyebutkan, “Dosa tidak saja membinasakan manusia, tapi juga mengancam seluruh makhluk hidup. Ini merupakan tanda bahaya dari manusia kepada seluruh makhluk hidup.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Setiap dosa atau kezaliman kepada diri sendiri atau orang lain akan menjadi sumber kebinasaan manusia sesuai dengan sunnah ilahi, sekalipun ditangguhkan terjadinya kecuali ia bertaubat dan menebus masa lalunya.

    2. Kesempatan yang diberikan Allah kepada orang-orang zalim dan pendosa bukan berarti Allah lalai akan hal tersebut. Karena siksa Allah akan diturunkan pada waktunya.

    Ayat ke 62

    وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَى لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُمْ مُفْرَطُونَ (62)

    Artinya:

    Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan. Yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya). (16:62)

    Sebelumnya kita telah menyimak bagaimana orang-orang Musyrik berdasarkan pemikiran dan akidah khurafat dan menyeleweng menilai anak-anak perempuan sebagai sumber kehinaan, sementara pada saat yang sama mereka menganggap para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan menisbatkannya kepada Allah. Ayat yang baru saja kita baca ini mengatakan, “Bagaimana mungkin mereka menisbatkan kebohongan besar ini kepada Allah dan menilai dirinya sebagai yang terbaik di bandingkan lainnya?

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Apa saja yang tidak kita terima, jangan dinisbatkan kepada orang lain, apa lagi disandarkan kepada Allah Sang Pencipta.

    2. Jangan sampai menilai diri sendiri lebih dibandingkan yang lain dan jangan membayangkan bahwa nasib baik itu milik kita.

    Ayat ke 63

    تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (63)

    Artinya:

    Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tapi setan menjadikan umat-umat ini memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (16: 63)

    Perilaku orang-orang Musyrik terhadap Nabi Muhammad Saw sangat buruk dan tidak dapat diterima, sementara pada saat yang sama seruan Rasulullah Saw agar mereka memeluk Islam tidak dipedulikan. Kenyataan ini sangat menyiksa Rasulullah Saw. Ayat ini diturunkan untuk menghibur beliau dan mengatakan, “Sepanjang sejarah memang demikian dan semua para nabi menghadapi hal yang sama. Oleh karenanya, jangan memikirkan sikap mereka itu.”

    Tentu saja ayat ini juga mengisyaratkan akan bahaya yang selalu mengancam manusia. Disebutkannya, “Setan menjadikan perbuatan-perbuatan buruk menjadi indah agar orang-orang melakukannya dan tidak akan meninggalkannya dengan mudah.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Pengutusan para nabi kepada berbagai umat merupakan sunnah ilahi sepanjang masa.

    2. Cara setan untuk mempengaruhi manusia dengan memutarbalikkan hal yang buruk terlihat indah dan membernarkan hal-hal yang buruk.

    Ayat ke 64

    وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (64)

    Artinya:

    Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (16: 64)

    Ayat ini memperkenalkan al-Quran sebagai kitab hidayah. Sebuah kitab yang dipersiapkan untuk menuntun manusia menuju kebahagiaan dan menyelamatkan mereka. Dengan al-Quran manusia dapat meraih rahmat ilahi.

    Jelas, konsekwensi dari hidayah adalah menunjukkan jalah kebenaran dari kebatilan, memilah ciri-ciri keduanya dan menjelaskan nasib orang yang menjalani jalan ini. Bila masyarakat mampu mengenal kebenaran dan kebatilan berdasarkan al-Quran, niscaya sampai pada sumber hidayah dan menjadi orang-orang yang beriman.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Tolok ukur kebenaran dan kebatilan dalam bingkai teori adalah al-Quran dan kewajiban nabi adalah menjelaskan masalah ini berdasarkan al-Quran.

    2. Syarat untuk mendapatkan rahmat ilahi adalah menerima hidayah-Nya. Sementara siapa yang tidak menerima hidayah-Nya, bagaimana berharap mendapatkan rahmat-Nya?

    Ayat ke 65

    وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (65)

    Artinya:

    Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya para yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (16: 65)

    Menyusul ayat sebelumnya yang membicarakan mengenai hidayah manusia lewat diturunkannya kitab dari langit, ayat ini menyebutkan, “Allah menghidupkan tanah yang mati dengan menurunkan hujan. Benar, diturunkannya al-Quran diserupakan dengan turunnya hujan sebagai sumber kehidupan dan penyelamat manusia. Tentu saja bagi orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat ilahi dan bertadabbur serta mengamalkan pesan-pesan al-Quran dalam kehidupannya.”

    Tibanya musim semi merupakan satu dari tanda-tanda kebesaran Allah. Karena pohon dan tumbuh-tumbuhan menemukan kembali kehidupannya yang baru dan tanah yang mati kembali subur. Di Hari Kiamat manusia yang mati bakal dibangkitkan dengan kehendak Allah dan menemukan kembali kehidupannya yang baru.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kehidupan manusia dan semua makhluk hidup merupakan nikmat ilahi paling besar. Turunnya hujan dan fenomena alam lainnya terjadi akibat kehendak Allah.

    2. Membaca dan mendengarkan ayat-ayat al-Quran dapat menghidupkan hati dan jiwa manusia dan menyampaikannya pada sebuah pengetahuan dan pengenalan kepada Allah.

    Ayat ke 66

    وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ (66)

    Artinya:

    Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (16: 66)

    Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa nikmat hujan menjadikan bumi hidup kembali. Ayat yang baru saja kita dengarkan menjelaskan nikmat Allah yang lain dan itu adalah susu. Benar, Allah menurunkan air sebagai sumber kehidupan dari sela-sela awan di langit, sementara susu sebagai sumber segala produk dari olahan susu tercipta dari segala macam makanan yang telah dicerna yang keluar di antara kotoran dan darah. Namun susu yang dihasilkan hewan demikian bersih dan murni yang tidak berbau dan berwarna darah.

    Seakan-akan Allah menciptakan sebuah mesin kilang susu agung dalam diri setiap hewan ternak yang dengan memakan rumput-rumputan mampu menghasilkan susu putih dan murni kepada manusia. Susu yang dihasilkan menjadi minuman yang lezat karena terdiri dari air dan makanan serta sangat bermanfaat bagi pertumbuhan manusia.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Sistem produksi susu di dalam tubuh hewan dan keluarnya di antara darah dan kotoran menunjukkan kekuasaan dan keagungan ilahi dan rahmat-Nya yang tak terhingga kepada manusia. Oleh karenanya, masalah ini seharusnya menjadi pelajaran bagi manusia.

    2. Konsekwensi ikhlas adalah seseorang bergerak sedemikain rupa di tengah masyarakat dan melewati faktor-faktor baik dan buruk yang ada dalam lingkungan, namun tidak terpengaruh oleh lingkungan.

    Ayat ke 67

    وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (67)

    Artinya:

    Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rejeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (16: 67)

    Setelah menjelaskan dua nikmat Allah; air dan susu sebagai minuman alami dan ilahi, ayat ke-67 surat an-Nahl ini menjelaskan tentang minuman yang dihasilkan dari perasan buah-buahan. Ayat ini menjelaskan, “Kalian membuat minuman dari perasan korma dan anggur, namun sebagian minuman memabukkan dan sebagian lainnya menjadi sumber kegembiraan dan keselamatan. Hal ini juga hendaknya menjadi pelajaran bagi kalian bahwa apa yang diberikan Allah semuanya suci dan murni. Kalian yang membuatnya tidak suci dan ternoda.”

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Di antara buah-buahan, korma dan anggur punya posisi istimewa dalam memenuhi kebutuhan pangan manusia. Keanekaragaman produk dari dua nikmat ilahi ini juga sangat banyak.

    2. Apa yang diciptakan oleh Allah semuanya baik. Kita sebagai manusia yang terkadang menyalahgunakan dan tidak benar dalam mengkonsumsinya.

    Ayat ke 68-69

    وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69)

    Artinya:

    Dan Tuhamu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohonkayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (16: 68)

    Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (16: 69)

    Dua ayat ini menjelaskan satu lagi dari nimat besar Allah kepada manusia, yaitu madu. Dijelaskan, “Allah menciptakan mesin produksi agung dalam tubuh lebah sedemikian rupa sehingga apa yang dimakannya dapat diubahnya menjadi obat penyembuh bagi manusia.”

    Bila manusia menzalimi dirinya dengan menjadikan perasan buah menjadi cairan yang memabukkan, sebaliknya lebah madu  memproduksi madu, cairan penyembuh dari buah-buahan. Sebuah materi yang tidak dapat dirusak oleh sesuatu apa pun dan bermanfaat bagi semua orang. Sungguh menarik bagaimana hewan kecil ini selain memproduksi madu yang mampu menyembuhkan juga memiliki racun yang berbahaya. Kenyataan ini membuat manusia harus berpikir mengenai kekuasaan dan kebijaksanaan Allah dan memanfaatkan nikmat-Nya dengan tepat.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Perilaku hewan berdasarkan naluri yang diciptakan Allah untuknya. Naluri itu sama dengan wahyu ilahi kepada para nabi yang menuntun perilaku mereka. Naluri yang ada dalam setiap hewan menjadi penuntunnya di alam.

    2. Kemampuan hewan kecil seperti lebah madu dalam membuat sarang dan madu di samping racun merupakan tanda akan kekuasaan ilahi.

    Ayat ke 70

    وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (70)

    Artinya:

    Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (16: 70)

    Untuk menjelaskan kenikmatan-kenikmatan ilahi seperti hujan, susu dan madu yang disinggung dalam ayat sebelumnya, ayat tadi kali ini menyinggung penciptaan manusia, masa tua dan kematian di penghujung umur, dan menyebutkan bahwa Dzat yang menciptakanmu, akan menjadikan kamu meninggal dunia. Sebab, sunnah Ilahi tidak menetapkan manusia untuk hidup selamanya di dunia. Manusia ketika berumur panjang, akan terus melemah dari masa ke masa, bahkan hingga pada tahap melupakan hal-hal yang pernah diketahui atau menjadi pikun. Untuk itu, upayakan memperkaya bekal di akhirat pada umur yang pendek.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kematian dan kehidupan ada di tangan Allah Swt, sedangkan manusia yang merupakan makhluk Allah Swt, tidak mempunyai peran dalam hal itu.

    2. Umur panjang bukan berarti mempunyai nilai hidup. Berapa banyak manusia yang mempunyai umur pendek, tapi banyak berkhidmat. Namun sebaliknya, berapa banyak orang yang berumur panjang, tapi merugikan dirinya dan masyarakat.

    Ayat ke 71

    وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ (71)

    Artinya:

    Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama merasakan rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah. (16: 71)

    Perbedaan rezeki di tengah masyarakat adalah di antara hikmah Allah Swt. Jika semua masyarakat seragam dalam segala sesuatunya, tidak akan terbentuk hubungan sosial di kalangan manusia, yang berlandaskan pada beragamnya kebutuhan setiap manusia. Dalam kondisi seperti itu, tak akan tersedia fasilitas untuk kesempurnaan manusia dan pencapaian keutamaan-keutamaan ilahi seperti kedermawanan, sedekah, pengorbanan, kesabaran, kerendahan diri dan lain-lain. Untuk itu, perbedaan potensi dan kemampuan setiap orang akan menimbulkan perbedaan rezeki yang didapatkannya. Fenomena tersebut tidak dapat diartikan kezaliman orang-orang kuat terhadap orang-orang yang lemah. Namun sebaliknya, perbedaan yang ada harus mendorong seseorang membantu orang-orang yang lemah dan menjadi sarana rasa cinta dan lemah lembut sesama manusia.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Luas dan sempitnya rezeki merupakan konsekuensi alam sesuai dengan kemampuan manusia yang berbeda-beda. Akan tetapi Islam mengajak orang-orang yang mampu supaya tetap menjalin persaudaraan dengan orang-orang yang lemah. Selain itu, agama ini menyatakan bahwa ada hak orang-orang lemah dalam harta orang-orang kaya.

    2. Meninggalkan infak terhadap orang-orang yang lemah di sebut sebagai bentuk kekufuran kepada nikmat Ilahi, bahkan berdampak buruk.

    Ayat ke 72

    وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ (72)

    Artinya:

    Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan curu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah. (16: 72)

    Untuk membahas penciptaan manusia, masa hidupnya hingga mati dan keterangan pembagian rezeki oleh Allah Swt, ayat tadi menyinggung masalah pembentukan keluarga dan menjelaskan bahwa Allah Swt adalah Zat yang memberikanmu seorang pasangan dan menjadikannya sebagai orang yang mencintai kami, kemudian menganugerahkan kasih sayang melalui anak dan cucu. Meski keluarga adalah komunitas sosial terkecil di tengah masyarakat, tapi keluarga merupakan pondasi masyarakat. Semua tatanan sosial berlandaskan pada kontrak antara manusia.

    Namun satu-satunya sistem penciptaan bagi manusia adalah tatanan keluarga. Dari situlah manusia lahir dan dewasa yang kemudian membentuk keluarga lagi. Untuk itu, segala sesuatu yang menyebabkan kehancuran sistem keluarga, akan menghancurkan sistem sosial manusia. Untuk itu, Islam sangat menganjurkan dan menekankan pernikahan dan pembentukan keluarga yang kemudian melahirkan generasi manusia dan mendidiknya. Bahkan disebutkan, ibadah seseorang yang sudah berkeluarga lebih bernilai dari seseorang yang belum berkeluarga. Dengan demikian, terdapat hubungan pernikahan dan ibadah.

    Sangat disesalkan bahwa hubungan ilegal diluar pernikahan di sejumlah kalangan masyarakat, menyebabkan sejumlah besar pihak memilih tidak menikah dan menghindari dari pembentukan keluarga. Selain itu, kondisi itu menyebabkan kehancuran sistem keluarga karena pengkhianatan baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Melalui pernikahan, Allah Swt selain menjamin kebutuhan materi dan lahiriah, juga memenuhi kebutuhan spiritual dan batin.

    2. Meninggalkan pernikahan dan menghindar dari mempunyai anak adalah bentuk kekufuran pada kenikmatan Allah Swt.

    Ayat ke 73-74

    وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ (73) فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (74)

    Artinya:

    Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun). (16: 73)

    Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (16: 74)

    Sebelumnya  telah dijelaskan mengenai sebagian nikmat Allah yang diberikan kepada manusia dan menjelaskan juga bagaimana sebagian orang mengingkari dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat ini. Ayat ini menyebutkan, orang-orang Musyrik menyembah berhala dengan anggapan bahwa berhala-berhala tersebut punya pengaruh dalam kehidupan dan masa depan mereka. Padahal satu dari masalah kehidupan manusia paling penting terkait rezekinya. Maksud dari rezeki di sini lebih umum dari yang diturunkan dari langit, yang tumbuh dari dalam bumi atau yang dikeluarkan dari dalam bumi. Semua tahu bahwa semua bentuk rezeki ini tidak dimiliki oleh berhala-berhala yang mereka sembah.

    Berhala-berhala itu adalah ciptaan Allah yang lemah dan tidak bernilai karena tidak memiliki kehendak. Sayangnya orang-orang musyrik hanya dikarenakan pengaruh khurafat dan kebodohan membayangkan berhala-berhala ini memiliki peran. Sejatinya, satu dari tanda-tanda bahwa manusia tidak mengenal kebenaran adalah menyetarakan sesuatu tidak bernyawa dengan Allah Swt dan memposisikannya sebagai pencipta. Mereka bahkan menggambarkan Allah seperti raja dan berhala-berhala tersebut sebagai menteri-menteri-Nya. Semua ini tentu saja bersumber dari ketidaktahuan dan kebodohan orang-orang musyrik.

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Selain Allah, apa dan siapapun tidak punya peran dalam kehidupan dan rezeki manusia dan tidak mungkin punya peran yang demikian. Bila memang demikian, mengapa manusia masih saja mencari sesuatu selain Allah?

    2. Sikap congkak dan sombong terhadap kebenaran sumber dari kekufuran sebagian manusia. Selain itu, kebodohan dan ketidaksadaran merupakan faktor kekafiran dan syirik sekelompok lain.

    3. Tidak boleh membanding-bandingkan sifat-sifat Allah dengan hamba atau ciptaan-Nya dan jangan menyamakan-Nya dengan satu apapun. Karena Allah adalah Zat yang tak berhingga.

    Ayat ke 75-76

    ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (75) وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (76)

    Artinya:

    Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (16: 75)

    Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi bebas atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan dan dia berada pula di atas jalan yang lurus? (16: 76)

    Dalam ayat sebelumnya telah disebutkan betapa orang-orang Musyrik memberikan perumpamaan mengenai Allah dan menyebut-Nya sebagai raja dan berhala-berhala sebagai menterinya. Ayat ini menyebutkan, namun mereka menyebutkan perumpamaan lain tentang Allah dengan membandingkan antara orang yang merdeka dan budak. Orang yang merdeka pemilik kekayaan dan modal yang setiap saat dikehendaki akan dimanfaatkannya atau memberikannya kepada orang lain. Sementara seorang budak yang tidak memiliki hak atas dirinya bagaimana ia mampu menyampaikan kebaikan kepada orang lain?

    Perumpamaan ini mencontohkan posisi Allah di alam. Allah adalah pemilik dan pemberi rejeki kepada seluruh makhluk dan seluruh ciptaan-Nya adalah milik-Nya. Dalam contoh lain yang dijelaskan oleh Allah, berhala-berhala diperumpamakan bak manusia yang bisu dan tuli. Ia tidak dapat memahami sesuatu dan tidak pula dapat memahamkan sesuatu kepada orang lain. Sementara Allah adalah Zat yang mendengarkan dan mampu memenuhi kebutuhan makhluk-Nya serta memberikan perintah berdasarkan keadilan. Karena jalan-Nya adalah jalan yang lurus.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Dalam menjelaskan urusan agama dan spiritual, harus menggunakan perumpamaan yang tepat dan benar agar masyarakat tidak memahami lain yang dari yang diinginkan.

    2. Metode yang dipakai Allah berdasarkan prinsip keadilan dan itulah jalan yang lurus.

    Ayat ke 77

    وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (77)

    Artinya:

    Dan kepunyaan Allah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamt itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (16: 77)

    Sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya, ayat ini menyebutkan, bila kalian mengetahui sebagian sedikit dari apa yang ada di langit dan bumi, maka ketahuilah bahwa masih banyak hal di langit dan di bumi yang belum tersingkap oleh akala kalian dan hanya Allah yang mengetahuinya. Akhir dari segala urusan kalian setelah mati ada di tangan Allah dan kekuatan-Nya sedemikian rupa sehingga mampu menghadirkan semua lebih cepat dari kejapan mata setelah menghidupkan mereka untuk hadir dalam pengadilan ilahi.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Allah satu-satunya Zat yang mengetahui hal yang gaib, bahkan memiliki kegaiban dan tidak ada yang keluar dari kekuasaan-Nya.

    2. Allah mengetahui apa yang di langit dan bumi dan bahkan baik lahiriah dan batin. Allah mengetahuhi apa yang ada dalam batin manusia.

    Ayat ke 78

    وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (78)

    Artinya:

    Dan Allah mengeluarkan kamu dariperut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (16: 78)

    Allah dalam ayat ini mengisyaratkan ciri khas manusia yang paling penting dan paling bernilai, yakni kemampuan berpikir dan mencerna sesuatu. Allah berfirman, ketika kamu lahir dari perut ibumu, kamu tidak mengetahui sesuatu pun dan apa yang kamu ketahui saat ini dicerap dengan bantuan mata, telinga dan akal yang diberikan oleh Allah kepada kamu. Lalu mengapa kalian tidak mensyukurinya?

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Mengingat kembali kekurangan di masa lalu dapat menghidupkan kembali semangat manusia untuk bersyukur. Oleh karenanya, kita diperintahkan untuk menengok masa lalu agar selalu bersyukur.

    2. Rasa syukur sejati akan nikmat mata, telinga dan akal adalah dengan menuntut ilmu. Karena Allah berfirman, “Kalian tidak mengetahui, Aku yang memberikan mata, telinga dan akal agar kalian bersyukur, yakni tuntutlah ilmu.”

    Ayat ke 79:

    أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (79)

    Artinya:

    Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain dari pada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (16: 79)

    Setelah menjelaskan tentang nikmat mata dan telinga bagi manusia, ayat ini mengingatkan kembali nikmat-nikmat ilahi, salah satunya adalah nikmat burung-burung. Allah berfirman, terbangnya burung-burung di langit merupakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Allah menciptakan makhluk yang dapat terbang di langit. Terkadang terbang bersama kelompoknya dan kadang-kadang terbang sendirian, begitu juga kadang terbang secara teratur dan kadang tidak. Allah menciptakan burung-burung memiliki sayap yang sesuai dengan berat badan dan kondisinya sudah disesuaikan sedemikian rupa agar dapat terbang dengan mudah.

    Bila kini manusia mampu membuat pesawat kecil dan besar yang terbang di langit, semua itu berkat burung. Kebanyakan teknik yang dipakai dalam pembuatan alat-alat untuk terbang, baik itu helikopter, pesawat tempur dan lain-lainnya semuanya meniru struktur tubuh burung.

    Sekalipun ayat ini mengatakan bahwa Allah menahan burung-burung di langit, namun maksudnya adalah Allah menetapkan hukum alam yang menyiapkan kondisi sedemikian rupa agar burung-burung dapat bertahan terbang di langit dan tidak jatuh ke bumi.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Berpikir dalam penciptaan alam termasuk burung adalah keinginan Allah dan Dia meminta manusia agar berpikir dalam sistem penciptaan ilahi.

    2. Semua manusia dapat menyaksikan terbangnya burung-burung. Namun hanya mereka yang beriman yang dapat memahami kekuasaan Allah dengan menyaksikan semua itu dan keimanan mereka semakin bertambah.

    Ayat ke 80

    وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (80)

    Artinya:

    Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) di waktu kamu berjalan  dan waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (16: 80)

    Ayat ini menjelaskan mengenai nikmat kulit dan bulu binatang berkaki empat dan fungsi dari keduanya dalam kehidupan manusia. Sekalipun kini banyak bahan sistetis yang diproduksi, namun sampai saat ini produk yang berasal dari bahan alami, dari kulit dan bulu binatang masih menjadi primadona dan yang terbaik.

    Tenda terbaik saat ini adalah yang dibuat dari kulit atau bulu binatang, bahkan bahan pakaian dan sepatu yang paling disukai adalah yang terbuat dari kulit alami binatang. Selain itu, permadani yang punya nilai tinggi dibuat dari bulu hewan. Para peternak tidak hanya memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah, tapi juga dengan menjualnya mereka bisa menghidupi diri dan keluarga.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Hewan punya banyak manfaat bagi kehidupan manusia, sementara manusia tidak punya banyak peran dalam kehidupan mereka. Karena tanpa manusia mereka bisa hidup dan melanjutkan kehidupannya.

    2. Nikmat ilahi harmonis dan sesuai dengan kebutuhan manusia di alam dan kenyataan ini sendiri merupakan kelembutan Allah kepada manusia dan tanda dari kebijaksanaan-Nya.

    Ayat ke 81

    وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلَالًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ (81)

    Artinya:

    Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (16: 81)

    Setelah Allah menyebut nikmat-nikmat-Nya dalam ayat-ayat yang telah dijelaskan dalam pertemuan sebelumnya, ayat ini masih juga menyebut nikmat Allah yang lain. Nikmat pertama yang disebut dalam ayat ini adalah tempat bernaung. Nikmat tempat bernaung dapat dikenal dengan baik ketika ia tidak ada. Masalah ini kembali pada kekhususan benda-benda materi, selain kaca dan semacamnya, di mana cahaya tidak dapat melewatinya dan manusia saat istirahat dapat memanfaatkannya untuk melindungi dirinya dari panasnya matahari. Dengan kata lain, peran tempat bernaung dalam kehidupan manusia tidak kurang dari cahaya itu sendiri.

    Nikmat kedua yang disebutkan dalam ayat ini mengenai goa kecil maupun besar yang berada di perut gunung. Ayat sebelum ini telah mengisyaratkan akan nikmat rumah bagi mereka yang tinggal di kota dan tenda bagi mereka yang tinggal di alam terbuka, sementara ayat ini menyebutkan satu tempat tinggal lain dan itu adalah goa di gunung. Di masa lalu manusia memanfaatkan goa sebagai tempat tinggalnya dan kini hanya dimanfaatkan oleh para penggembala untuk melindungi binatang gembalaan mereka dari sengatan terik matahari.

    Nikmat ketiga yang disebutkan oleh ayat ke-81 surat an-Nahl adalah pakaian; baik itu pakaian biasa yang mampu melindungi manusia dari panas dan dingin atau pakaian militer yang melindungi manusia dari panah atau peluru musuh. Semua ini adalah nikmat ilahi. Karena materi awalnya diciptakan oleh Allah dan kemampuan manusia dalam menjahitnya juga berasal dari Allah.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Semua yang ada di dunia ini adalah nikmat Allah; cahaya, tempat bernaung, rumah, pakaian dan lain-lain. Menyaksikan semua nikmat besar ini semestinya tidak membuat kita lalai akan nikmat Allah yang kecil.

    2. Mengingat nikmat Allah akan menghidupkan semangat berserah diri dalam diri manusia kepada Allah.

    Ayat ke 82-83

    فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (82) يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ (83)

    Artinya:

    Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebaskan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (16: 82)

    Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. (16: 83)

    Setelah menyebut tiga nikmat yang dapat melindungi manusia dari panas dan dingin, dua ayat ini kepada Nabi Muhammad Saw berkata, kewajibanmu hanya menyampaikan pesan-pesan ilahi. Bila ada sekelompok orang yang tidak mau menerima pesan yang engkau sampaikan, janganlah bersikap sedih. Karena mereka adalah orang-orang yang keras kepala, padahal mereka telah mengenal kebenaran dan nikmat-nikmat ilahi, namun masih tetap saja kepas kepala dan tidak bersedia menerima pesan ilahi yang engkau sampaikan. Sikap mereka ini membuat mereka kafir.

    Dalam ayat-ayat lain juga telah ditegaskan mengenai masalah ini bahwa sumber kekafiran mayoritas masyarakat bukan karena tidak mengenal kebenaran dan hakikat, tapi bersumber dari kesombongan, kebencian dan sikap keras kepala yang memaksa mereka untuk menyembunyikan kebenaran dan tidak mau menerimanya.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Allah membebaskan manusia dalam mengenal kebenaran, menerima dan memilihnya. Tentu saja setiap jalan yang dipilih punya konsekwensi khusus.

    2. Ilmu dan pengenalan tidak cukup, tapi harus ditambah dengan iman dan amal.

    Ayat ke 84

    وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (84)

    Artinya:

    Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf. (16: 84)

    Ayat ini menjelaskan dua hal yang berhubungan dengan hari kiamat; pertama mengenai para saksi dan kedua penyesalan. Sekaitan dengan masalah pertama ayat ini menyebutkan bahwa antara setiap rakyat akan ada orang yang dibangkitkan menjadi saksi atas perbuatan dan perkataan mereka. Para saksi ini dibangkitkan untuk menjawab segala alasan yang mungkin mereka sampaikan. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, para Imam Maksum sebagai Ahlul Bait Nabi Muhammad saw akan menjadi saksi di Hari Kiamat. Karena mereka menyaksikan dan mengawasi perbuatan umat ini dan keberadaan mereka juga menjadi bukti bagi manusia.

    Sementara terkait masalah kedua, ayat ini mengatakan bahwa para pendosa tidak diperkenankan berkata untuk meminta maaf atau bertaubat demi menutupi perbuatan salah mereka. Karena catatan setiap perbuatan manusia telah ditutup dan tidak akan pernah dibuka kembali. Taubat dan permintaan maaf dapat diterima sebelum manusia menemui ajalnya dan dengan kematian perbuatan manusia telah berakhir.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Di pengadilan ilahi sekalipun Zat Allah dengan sendirinya cukup untuk mengadili manusia, namun sama seperti pengadilan di dunia, Allah mempersiapkan saksi agar lisan para pendosa tidak dapat mencari alasan lagi.

    2. Di hari kiamat tidak mungkin orang yang berdosa meminta maaf apa lagi bertaubat dan diterima permintaan maafnya.

    Ayat ke 85-86

    وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ (85) وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَاءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا مِنْ دُونِكَ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَاذِبُونَ (86)

    Artinya:

    Dan apabila orang-orang zalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak puIa mereka diberi tangguh. (16: 85)

    Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau”. Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang dusta”. (16: 86)

    Ayat tersebut menjelaskan kondisi orang-orang musyrik dan zalim di Hari Kiamat. Tidak ada keringanan azab bagi mereka. Disebutkan, segala alasan untuk kemusyrikan dan kekafiran mereka sama sekali tidak dapat diterima. Bahkan, berhala-berhala yang menyebabkan orang-orang musyrik terjebak dalam kesyirikan, di hari kiamat menyatakan lepas tangan dari mereka. Berhala-berhala tersebut kepada mereka mengatakan, “Kalian berbohong menyebut kami sebagai alasan penyebab kesyirikan. Tetapi sikap keras kepala dan hawa nafsu kalianlah yang menyebabkan berpaling dari ajaran Rasulullah saaw dan mengikuti kami. Pada dasarnya, kalian menyembah hawa nafsu kalian bukan menyembah kami.”

    Berdasarkan riwayat, kondisi-kondisi di hari kiamat beraneka ragam. Ada yang mulutnya ditutup dan seluruh anggota tubuhnya bersaksi terhadap perbuatannya selama di dunia. Ada kondisi yang mempersilahkan seseorang untuk berbicara, namun segala upayanya untuk memohon ampunan, tidak dapat diterima. Ada yang menyalahkan setan dan menudingnya sebagai penyebab melakukan perbuatan dosa. Namun setan berkata, “Saya tidak memaksa kalian untuk berbuat dosa. Saya hanya sekedar membuat kalian was-was.”

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kezaliman dan kekufuran manusia adalah penyebab azab Ilahi. Allah Swt tidak mengazab seseorang tanpa alasan.

    2. Berhala-berhala bersaksi di hari kiamata berlepas tangan dari perbuatan orang-orang musyrik, bahkan tidak ada alasan bagi mereka untuk berlindung.

    Ayat ke 87-88

    وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (87) الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ (88)

    Artinya:

    Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah. Pada hari itu hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (16: 87)

    Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Kami tambah-tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (16: 88)

    Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya, dua ayat ini menyinggung nasib akhir orang-orang musyrik di Hari Kiamat. Dikatakannya, lepas tangan berhala-berhala dari perilaku orang-orang musyrik membuat mereka tidak mempunyai solusi lain, kecuali harus mengakui perbuatan mereka. Orang-orang musyrik saat itu, sama sekali tidak menemukan tempat berlindung untuk menghindari azab ilahi.

    Penjelasan tadi mengenai nasib orang-orang musyrik biasa. Adapun mereka yang mengajak masyarakat ke jalan kekufuran dan kesyirikan akan mendapat azab yang lebih besar dari orang-orang musyrik biasa. Sebab, selain diri mereka musyrik, juga menjadi penyebab kemusyrikan orang lain. Tentunya, perbuatan mereka akan mendapat azab dua kali lipat.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Mereka yang tak patuh terhadap perintah-perintah Allah Swt, akan tunduk di Hari Kiamat. Namun ketundukan mereka pada hari akhir tidaklah berguna.

    2. Kekufuran dan kemusyrikan adalah penyebab kerusakan masyarakat. Para perusak di dunia bukan hanya orang-orang yang membuat kerusuhan dan menimbulkan instabilitas sosial, tapi juga termasuk orang-orang yang merusak pemikiran dan keyakinan seseorang, yakni penyebab kesesatan masyarakat. Menurut al-Quran, mereka tergolong orang-orang perusak di muka bumi atau mufsidin fil ardh.

    Ayat ke 89

    وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (89)

    Artinya:

    Dan ingatlah akan hari ketika Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (16: 89)

    Ayat tersebut menjelaskan dua poin penting. Pertama, kesaksian Rasulullah Saw di antara para saksi di Hari Kiamat menunjukkan posisi Rasulullah Saw di tengah para nabi dan para wali Allah Swt. Para nabi dan wali dengan izin Allah Swt menjadi saksi. Kedua, keagungan al-Quran dan peran besar kitab suci ini dalam membimbing umat manusia. Allah Swt menjadikan al-Quran sebagai penjelas segala masalah yang diperlukan untuk membedakan kebenaran dan kebatilan. Ini merupakan rahmat Ilahi bagi manusia. Akan tetapi hanya ummat Islam yang mengimani kitab al-Quran dan menggunakan kitab suci ini sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Pengawasan para wali terhadap perilaku hamba-hamba Allah Swt di dunia adalah perangkat mereka di Hari Kiamat.

    2. Al-Quran adalah kitab sempurna dan komprehensif yang dibutuhkan manusia untuk mendapat petunjuk di kehidupan ini.

    Ayat ke 90

    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90)

    Artinya:

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebijakan, memberi kepada kamu kerabat, dan Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (16: 90)

    Ayat tersebut termasuk salah satu ayat yang paling komprehensif di kitab al-Quran, karena dalam ayat digambarkan hubungan manusia dan sosial kaum Mukmin  di dunia yang berlandaskan pada keadilan, kebaikan dan menjauh dari segala kezaliman dan arogansi. Bahkan hal itu disebut sebagai nasehat ilahi yang harus dijaga oleh semua orang. Adil dan keadilan merupakan landasan ajaran Islam dan  syariat agama ini. Allah Swt tidak berbuat zalim kepada siapapun dan tidak memperbolehkan seseorang berbuat zalim kepada orang lain dan menginjak hak orang lain. Menjaga keadilan dan menjauh dari segala perilaku ekstrim kanan dan kiri menyebabkan keseimbangan diri manusia dalam perilaku individu dan sosial.

    Tentunya, etika Islam atau akhlak mendorong manusia berperilaku lebih dari tutunan standar atau keadilan, dalam menyikapi problema sosial dan memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan manusia bisa melakukan lebih dari hak orang lain, yang ini semua menunjukkan kebaikan atau ihsan. Allah Swt yang memperlakukan manusia dengan landasan ihsan, mengajak manusia untuk berperilaku baik dengan orang lain di atas standar keadilan.

    Dari sisi lain, Allah Swt melarang beberapa hal untuk  menjaga keselamatan jiwa dan keamanan masyarakat. Hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt disebut sebagai perbuatan tercela dan buruk. Manusia pun mengakui bahwa perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt adalah tindakan yang buruk dan tercela.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Di samping keadilan, ihsan atau kebaikan juga dianjurkan. Sebab, ihsan akan menjaga ketulusan di tengah  masyarakat.

    2. Ajaran agama selaras dengan akal dan fitrah manusia. Kecenderungan pada keadilan dan ihsan serta jauh dari perbuatan munkar adalah tuntutan-tuntutan semua manusia yang sekaligus perintah Allah Swt.

    Ayat ke 91-92

    وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (91) وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (92)

    Artinya:

    Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (16: 91)

    Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (16: 92)

    Dalam ayat sebelumnya dijelaskan prinsip-prinsip universal akhlak Islam dalam perilaku sosial serta keadilan, ihsan dan menjauhi kezaliman yang berdasarkan hubungan sosial. Sedangkan ayat selanjutnya menyebutkan bahwa menjaga janji baik kepada Allah Swt maupun manusia adalah kewajiban setiap manusia mukmin yang mempercayai Allah Swt. Jika kalian bernazar, maka tepatilah nazar tersebut setelah hajatnya terkabulkan. Jika kalian melakukan perjanjian dalam urusan ekonomi dan sosial, maka harus berkomitmen sesuai dengan perjanjian yang ada dan tidak boleh melanggarnya. Kemudian, janganlah bersumpah bukan pada tempatnya. Jika kalian bersumpah dan menyebut nama Allah Swt, maka janganlah melanggar sumpah tersebut dan janganlah menghancurkan kesakralan nama Allah Swt dan norma-norma lainnya.

    Jika kalian mencapai kekuasaan, jangan menzalimi hak-hak orang lemah dan kelompok sosial yang lebih rendah. Sebab, semua itu merupakan bukti kezaliman. Berkomitmen kepada Allah Swt juga tercermin pada perilaku mengikuti dan menaati para wali Allah Swt yang merupakan wakil-Nya di muka bumi ini.

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Melanggar janji bukan hanya pekerjaan yang tidak etis, tapi pelanggar janji juga akan mendapat balasan azab ilahi di hari kiamat.

    2. Janganlah mempermainkan nilai-nilai sakral.

    3. Kekuasaan adalah salah satu sarana berbuat zalim kepada orang lain. Untuk itu, kita harus bersikap waspada dan bertanggungjawab di hadapan Allah Swt. Selain itu, kita harus menyadari bahwa kekuasaan itu adalah ujian ilahi.

    Ayat ke 93

    وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (93)

    Artinya:

    Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (16: 93)

    Ayat tersebut memaparkan sebuah landasan dan kaidah umum yang menyangkut hubungan Allah Swt dengan manusia lewat firman-Nya, Allah Swt tidak berkehendak memaksa manusia untuk beriman kepadanya, tapi Allah menginginkan manusia memilih akidah dan ajaran atas kehendak dan pilihan mereka sendiri. Tapi karena manusia tidak memilih agama dan akidah yang satu, mereka memiliki beragam agama dan kepercayaan. Meski demikian, Allah Swt telah memberikan sarana yang dapat menjadi petunjuk bagi manusia, yaitu petunjuk fitrah dan akal yang berasal dari dalam diri manusia dan para nabi dan kitab suci. Manusia dapat memilah antara kebenaran dan kebatilan lewat sarana tersebut.

    Allah Swt tidak akan menghalangi orang-orang yang memilih jalan kesesatan dan berpaling dari jalan kebenaran. Demikian juga, orang-orang yang memilih jalan kebenaran, Allah akan membantu mereka meniti jalan yang benar ini. Perlu diketahui bahwa kehendak dan kebebasan untuk memilih ini bukan berarti bentuk penistaan atas tanggung jawab. Manusia harus bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih. Manusia tidak dipaksa untuk memilih sesuatu. Setiap orang berhak menentukan pilihannya; baik itu jalan kebenaran atau kesesatan. Tapi tanggung jawab, pahala dan siksa tetap pada posisinya.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Di antara Sunnah Ilahi adalah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan dan mereka juga bebas memilih jalan hidupnya masing-masing.

    2. Semua perbuatan dan tingkah laku manusia baik itu kecil atau besar akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Kiamat.

    Ayat ke 94-95

    وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (94) وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا إِنَّمَا عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (95)

    Artinya:

    Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar. (16: 94)

    Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (16: 95)

    Ayat ini menjelaskan tentang haram dan pentingnya sumpah dan janji. Allah Swt berfirman, penyalah gunaan ajaran-ajaran sakral agama seperti sumpah untuk kepentingan dunia akan berdampak pada melemahnya keyakinan dan kepercayaan masyarakat terhadap agama dan akan menyebabkan mereka menyimpang dari jalan kebenaran. Orang-orang yang telah menghalangi manusia dari jalan kebenaran akan mendapat kesulitan dan masalah pertama mereka di dunia. Mereka juga akan mendapat siksa yang pedih di Hari Kiamat. Oleh sebab itu, jangan menjual nama Allah sebagai sumpah untuk memperoleh kepentingan dunia dan materi di dunia.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Sebagian dosa dapat menjadi pendorong untuk melakukan dosa-dosa lain. Kita harus mengenal dosa-dosa tersebut guna mencegah merebaknya perbuatan dosa itu di tengah masyarakat.

    2. Setiap perbuatan yang bertujuan melemahkan pondasi agama harus kita cegah, meski perbuatan itu tergolong kecil.

    Ayat ke 96

    مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (96)

    Artinya:

    Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16: 96)

    Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang yang runtuh imannya karena godaan harta dan dunia. Mereka juga mempermainkan nilai-nilai suci agama dan menjual akhirat yang kekal dengan dunia yang bersifat sementara. Allah berfirman, mungkin saja perbuatan tersebut akan memenuhi keinginan duniawi mereka, tapi bukankah kalian mengetahui bahkan kalian tidak hidup kekal di dunia ini. Dan apa yang telah kalian peroleh juga akan hilang begitu cepat. Padahal, jika kalian melakukan transaksi dengan Allah, perbuatan baik kalian akan terjaga dan kekal di sisi-Nya.

    Namun semua mengetahui bahwa meninggalkan perbuatan haram dan merasa cukup dengan hal-hal yang halal dibutuhkan kesabaran dan kemampuan menahan diri. Orang-orang yang mampu menahan diri dari perbutan haram, mereka tidak diberikan balasan biasa, tapi Allah akan memberikan balasan terbaik untuk mereka.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Ketabahan untuk menjaga janji-janji dengan Allah Swt dan menjauhi perbuatan haram, merupakan perbuatan yang sulit dan harus siap melawan hawa nafsu. Namun ketabahan dan kesulitan ini akan mendatangankan kebahagiaan dan kesuksesan di akhirat.

    2. Allah Swt adalah sebaik-baik pembeli manusia. Dia akan membeli barang yagn sedikit dengan harga yang sangat tinggi dan menjadikan manusia sukses.

    Ayat ke 97

    مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97)

    Artinya:

    Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16: 97)

    Ayat ini meski pendek namun memiliki peran penting dalam menggambarkan kehidupan orang-orang Mukmin baik di dunia maupun di akhirat. Pertama-tama, ayat ini menyatakan bahwa iman merupakan tolok ukur keutamaan di sisi Allah Swt. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Mereka sama dalam pandangan Allah. Yang membedakan di antara mereka adalah tingkat keimanan yang mereka miliki. Dalam pandangan Allah, jenis kelamin tidak berpengaruh dalam meraih derajat keimanan, meski utusan Allah atau para nabi adalah laki-laki, namun kenabian ilahi adalah tanggung jawab dan tugas suci yang harus disampaikan ke seluruh umat manusia.

    Tugas ini tidak mungkin dibebankan kepada kaum wanita mengingat keterbatasan kapasitas yang mereka miliki. Oleh karena itulah, Allah Swt menunjuk utusan-Nya dari golongan kaum laki-laki, namun untuk meraih derajat keimanan dan religius yang tinggi kaum wanita tidak mendapat batasan. Artinya, mereka juga mampu meraih derajat keimanan yang sempurna, seperti Sayidah Maryam yang berhasil mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Swt, sehingga mendapat pelayanan istimewa berupa hidangan dari langit. Atau Sayidah Fathimah az-Zahra as yang berhasil mencapai derajat keimanan yang tinggi, hingga kedudukannya disamakan dengan Ali bin Abi Thalib as.

    Keimanan saja tidak cukup untuk menentukan kesempurnaan dan derajat yang tinggi, namun diperlukan juga amal saleh. Iman dan amal saleh adalah tolok ukur kesempurnaan seseorang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Amal saleh tidak terbatas pada tindakan tertentu, namun setiap perbuatan yang pada dasarnya memiliki kebaikan dan pelakunya meniatkan kebaikan saat mengerjakannya juga dapat disebut amal saleh, meski perbuatan tersebut sangat remeh dan kecil.

    Dalam lanjutannya ayat ini mengatakan, mereka yang beriman dan beramal saleh akan mendapat kehidupan yang bersih di dunia. Mereka bebas dari segala kejelekan dan perbuatan nista. Selain itu Allah Swt menjaga mereka dari segala perbuatan yang menyeleweng dan maksiat. Adapun di akhirat mereka akan mendapat pahala lebih dari apa yang mereka perbuat di dunia. Karena Sunnatullah dalam pembalasan perbuatan maksiat berdasarkan keadilan, namun dalam hal pahala Allah mendahulukan kemurahan dankasih sayang. Dan hal ini telah disinggung dalam ayat ini.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Usia, jenis kelamin, etnis dan kedudukan sosial tidak mendapat perhatian di sisi Allah. Tolok ukur utama di sisi Allah adalah iman dan amal saleh.

    2. Orang-orang Kafir tidak memiliki kehidupan yang bersih dan suci di dunia. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang mati. Karena kehidupan sejati hanya milik orang-orang beriman.

    Ayat ke 98

    فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (98)

    Artinya:

    Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (16: 98)

    Meski ayat ini ditujukan kepada Rasulullah Saw, namun jelas bahwa seluruh Mukminin juga termasuk di dalamnya. Mengingat urgensitas masalah ini, maka yang menjadi obyek pembicaraan utama adalah Rasulullah Saw. Di dalam sebuah riwayat disebutkan, di saat Rasulullah Saw membaca al-Quran, beliau senantiasa mengucapkan kalimat “Audzu billahi minas Syaithanirrajim”, baik itu saat menunaikan shalat maupun tidak. Setiap perbuatan, baik bisa juga mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, seperti membaca al-Quran. Terkadang perbuatan baik ini dibarengi dengan riya dan upaya untuk mengunggulkan diri atau adakalanya seseorang terjerumus kepada pemahaman yang salah dan berani menafsirkan al-Quran sesuai dengan pemikirannya sendiri atau sering disebut tafsir birrayu.

    Oleh karena itu, di saat manusia membaca al-Quran, ia dianjurkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari segala godaan setan karena hawa nafsu atau fanatik yang tidak pada tempatnya, kerap menghalangi manusia untuk memiliki kesiapan maknawi saat membaca al-Quran.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kita harus waspada dari godaan setan, meski di saat kita melakukan perbuatan baik seperti membaca al-Quran.

    2. Kita harus meminta lindungan dari Allah dari godaan setan yang terkutuk.

    Ayat ke 99-100

    إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (99) إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (100)

    Artinya:

    Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (16: 99)

    Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (16: 100)

    Dua ayat ini merupakan kelanjutan pembahasan ayat sebelumnya yang menggambarkan kepada kita untuk meminta perlindungan Allah Swt dari godaan setan. Ayat ini menyatakan, meski setan berusaha menguasasi hati orang-orang Mukmin, namun mereka yang bertawakal kepada Allah dan meminta perlindungan-Nya akan selamat dari godaan setan. Lanjutan ayat ini menyebutkan, sebenarnya setan hanya mampu menguasai mereka yang mempersekutukan Allah atau orang-orang Muslim yang mengikuti petunjuk setan. Karena tindakan orang muslim tersebut telah memberikan kesempatan setan menguasai dirinya. Dengan kata lain, orang-orang seperti ini, menganggap setan sebagai temannya dan menerima setiap petunjuk dan perintah setan. Karena jika tidak, maka Allah tidak akan mengizinkan setan untuk menguasai orang-orang Mukmin.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Awalnya setan tidak memiliki daya untuk menguasai manusia, namun manusia sendiri yang telah membimbing setan untuk menguasai diri mereka.

    2. Orang mukmin sejati tidak akan dikuasai oleh setan. Iman adalah tameng yang kuat bagi seorang mukmin untuk mempertahankan dirinya dari serbuan setan.

    Ayat ke 101

    وَإِذَا بَدَّلْنَا آَيَةً مَكَانَ آَيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101)

    Artinya:

    Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang mengada-adakan saja.” Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. (16: 101)

    Berdasarkan maslahat, Allah secara perlahan-lahan menurunkan hukum sebagian perbuatan. Hal ini dapat disaksikan dalam hukum pengharaman minum minuman keras yang diturunkan secara bertahap. Mereka yang menentang kebenaran Al-Quran menjadikan alasan bahwa perubahan hukum ini menjadi bukti hukum tersebut tidak diturunkan dari Allah, tapi Nabi Muhammad Saw yang mengeluarkan sendiri hukum tersebut. Oleh karenanya, setiap kali Nabi berkehendak, hukum itu pasti diubahnya.

    Ayat ini mengatakan, “Setiap kali ayat baru yang memuat hukum baru diturunkan, para penentang yang tidak mengenal maslahat hukum ilahi bakal menuduh Nabi Muhammad Saw. Padahal Allah Swt lebih mengetahui dalam kondisi bagaimana menurunkan hukum dan bila kondisinya memungkinkan akan diubah.” Dalam syariat Islam perubahan hukum ini disebut “naskh” dan tidak ada yang berhak mengubah hukum Allah.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Perubahan sejumlah hukum di masa permulaan Islam berdasarkan maslahat dan kebijakan dari sisi Allah.

    2. Manusia tidak mengetahui rahasia hukum dan undang-undang ilahi. Oleh karenanya, mereka menyampaikan kritikan dan pertanyaan.

    Ayat ke 102

    قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (102)

    Artinya:

    Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bari orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (16: 102)

    Sebagai jawaban atas tuduhan orang-orang musyrik yang disebutkan di ayat sebelumnya, di mana mereka menuduh Nabi  Muhammad Saw ikut campur tangan dalam perubahan ayat-ayat dan hukum ilahi, ayat ini mengatakan, “Jawablah kepada mereka secara transparan bahwa semua ayat-ayat al-Quran diturunkan dengan benar dan jujur oleh Jibril, malaikat wahyu dan tidak ada kekurangan dan penyimpangan dalam al-Quran. Bila ada perubahan parsial di sejumlah hukum, hal itu untuk mempersiapkan orang-orang yang beriman mengamalkan kewajiban sementara agar lebih mudah melaksanakan kewajiban yang asli. Begitu juga penurunan hukum secara bertahan guna memperkuat keimanan mereka dan orang-orang yang keimanannya belum kuat dapat memperoleh hidayah dan kabar gembira dengan cara ini.”

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kandungan al-Quran berisikan kebenaran dan hakikat. Kebenaran itu mulai dari model penurunan ayat-ayat al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw hingga penyampaiannya kepada masyarakat. Semuanya berlangsung secara benar dan kokoh agar kebatilan tidak masuk ke dalamnya.

    2. Derajat keimanan manusia berbeda-beda. Sekelompok orang beriman sebatas lisan dan sebagian lainnya merasuk hingga ke dalam hatinya. Al-Quran diturunkan kepada semua orang dan menjadi sumber hidayah dan kabar gembira.

    Ayat ke 103

    وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (103)

    Artinya:

    Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahawa Ajam (non Arab). Sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. (16: 103)

    Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya tentang pelbagai tuduhan orang-orang yang menentang Rasulullah Saw, ayat ini mengatakan, “Sebagian orang yang mengingkari malah bertindak lebih jauh. Mereka tidak hanya mengatakan bahwa hanya ayat-ayat yang diubah saja yang termasuk buatan Nabi Muhammad Saw, tapi juga seluruh sl-Quran merupakan karya Nabi Muhammad Saw, bahkan isi dan bahasanya malah dinisbatkan kepada selain nabi. Mereka mengatakan, “Muhammad terlebih dahulu mempelajari masalah-masalah ini lalu kemudian mengaku sebagai nabi.”

    Pertanyaannya, mengapa orang yang mengajar Muhammad tidak mengaku dirinya sebagai nabi tetapi hanya muridnya yang mengaku nabi? Kedua, mereka yang disebut oleh orang-orang musyrik sebagai pengajar nabi seluruhnya berasal dari luar jazirah Arab dan mereka tidak mengenal bahasa Arab dengan fasih. Oleh karenanya, mereka tidak mampu membawakan yang sama seperti al-Quran, yang oleh teman dan musuh menyebut al-Quran sebagai mukjizat, bahkan sampai pada susunan katanya.

    Mukjizat al-Quran malah membuat para pengingarnya menyebutnya sebagai sihir dan syair, sementara Nabi Muhammad saw dijuluki penyihir dan penyair. Untuk itu mereka menasihati masyarakat agar tidak mendengar ayat-ayat al-Quran yang dibacakan oleh Nabi Muhammad Saw. Karena tanpa sadar mereka yang mendengarnya langsung terpengaruh dan seperti tersihir.

    Bila memang ada orang yang menjadi guru bagi nabi dan mengajarkan pelbagai masalah ini, pertanyaannya mengapa ia tidak memperkenalkan dirinya agar masyarakat mengenalnya dan mengimaninya. Pada prinsipnya bagaimana mungkin pernyataan tantangan yang disampaikan al-Quran bahwa “Tidak ada satu orang pun yang mampu mendatangkan satu surat seperti al-Quran”, sampai sekarang tidak terjawab oleh seorang pun? Bagaimana dapat membayangkan sebuah kitab yang semua orang Arab non muslim tidak mampu membawakan satu surat, sementara seorang non Arab mengajarkan semuanya kepada Nabi?

    Ini adalah sebagian dari pertanyaan-pernyataan yang sampai kini belum terjawab. Karena al-Quran juga tidak mirip dengan ucapan Nabi Muhammad Saw yang dikumpulkan dalam buku-buku hadis. Bila dibandingkan secara teliti, ayat-ayat al-Quran benar-benar berbeda dengan hadis nabi.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Mengenal pertanyaan dan ucapan orang-orang yang menentang Islam, harus disertai dengan memberikan jawaban yang tepat dan sesuai kepada mereka.

    2. Kita harus waspada akan dampak propaganda luas para musuh agar tidak terjadi masalah dalam keimanan kita akan al-Quran. Kita harus berusaha agar menghilangkan setiap kerancuan yang ada dengan jawaban yang logis dan tepat.

    Ayat ke 104-105

    إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (104) إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ (105)

    Artinya:

    Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Quran) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (16: 104)

    Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (16: 105)

    Sebelumnya telah dijelaskan bahwa satu dari sejumlah tuduhan yang dialamatkan para penentang kepada Rasulullah Saw menyebutk beliau memiliki seorang guru yang mengajarkan semua ini. Nabi Muhammad Saw diajarkan agar memperkenalkan ayat-ayat ilahi kepada masyarakat. Ayat ini mengatakan, “Orang kafir dan tersesat tidak dapat memanfaatkan hidayah. Oleh karenanya, ia tidak mampu memindahkan pengertian-pengertian tentang pemberian hidayah kepada Nabi Muhammad saw agar disampaikan kepada masyarakat. Sementara ayat-ayat al-Quran seluruh isinya memberi tuntunan kepada manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan mencapai kebahagiaan. Namun bagaimana orang yang tidak dapat memanfaatkan ajaran-ajaran tinggi ini mampu menjadi guru Nabi Muhammad Saw?”

    Ayat selanjutnya mengatakan kepada nabi, “Tidak perlu bersedih dan gundah menghadapi tuduhan dan kebohongan semacam ini. Karena sumber dari tuduhan bohong itu kembali pada ketidakpercayaan mereka kepada Allah. Itulah mengapa mereka tidak akan pernah melepaskan diri dari menyatakan kebohongan.”

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Hidayah hakiki yang dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan hanya ada pada kitab langit dan iman kepada ayat-ayat ilahi. Hidayah hakiki tidak dapat ditemukan di tempat lain.

    2. Seorang pembohong selalu membayangkan orang lain sama seperti dia suka berbohong dan berdasarkan khayalannya ia memperkenalkan orang lain sebagai pembohong.

    Ayat ke 106

    مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (106)

    Artinya:

    Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap terang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (16: 106)

    Di masa permulaan Islam, para pemuka orang-orang Kafir Mekah melakukan penyiksaan keras terhadap mereka yang baru masuk Islam agar segera meninggalkan agama ini. Begitu berat siksaan yang dihadapi sehingga ayah dan ibu Ammar bin Yasir menjadi syahid pertama di jalan Islam. Ketika tiba giliran Ammar bin Yasir untuk disiksa, ia mengucapkan kekafiran, sementara dalam hatinya penuh keimanan yang kokoh kepada Nabi Muhammad Saw. Apa yang dilakukannya itu berhasil menyelamatkan nyawanya.

    Menyaksikan kejadian ini, sebagian umat Islam menyudutkan dan menyebutnya telah keluar dari Islam. Tidak tahan mendengar pernyataan-pernyataan itu, Ammar bin Yasir menemui Rasulullah dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Mendengar semua itu Rasulullah Saw kemudian berkata, “Bila jiwamu kembali berada dalam bahaya, ucapkan lagi kalimat tersebut demi menyelamatkan nyawamu. Seluruh tubuhmu dipenuhi keimanan.”

    Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa perbuatan ini, demi melindungi nyawa dan tidak menyatakan akidah sesungguhnya disebut taqiyah. Pengertian taqiyah ini sejatinya adalah taktik untuk menyembunyikan perbuatan atau keimanan di hadapan musuh. Oleh karenanya, dalam riwayat-riwayat taqiyah diserupakan dengan tameng yang dapat menyelamatkan seorang manusia dari panah dan pukulan musuh.

    Tentu saja bahwa dalam melindungi agama seseorang harus mengorbankan nyawanya. Hal mana yang dilakukan oleh Imam Husein as, anak-anak dan para sahabatnya. Oleh karena itu, taqiyah dilakukan saat prinsip agama tidak berada dalam bahaya dan tidak merusak agama. Sama seperti kalimat yang diucapkan oleh Ammar bin Yasir saat disiksa oleh orang-orang Kafir Mekah sama sekali tidak merugikan Islam dan umat Islam.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Manusia senantiasa berada dalam bahaya. Mereka yang ahli iman tidak boleh sombong. Karena banyak orang mukmin yang pada akhirnya menjadi kafir dan mati dalam keadaan demikian.

    2. Kewajiban seseorang saat terpaksa bisa berubah. Bila ia dipaksa dan dibawah penyiksaan, ia boleh mengatakan yang bertentangan dengan keyakinannya dan itu tidak berarti ia telah mengikuti ucapannya.

    Ayat ke 107

    ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآَخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (107)

    Artinya:

    Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk  kepada kaum yang kafir. (16: 107)

    Bila di ayat sebelumnya membagi mereka yang mengingkari Allah dalam dua kelompok; pertama mereka yang menyatakan kekafiran akibat tekanan dan siksaan, namun hati mereka penuh dengan keimanan. Kedua, mereka yang memilih kekafiran dengan wajah tersenyum dan tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Sementara ayat yang baru saja kita simak bersama berbicara kepada kelompok kedua yang mendapat kemarahan Allah. Ayat menyebutkan, “Mereka sendiri yang menginginkan nasib yang demikian. Karena kehidupan sementara di dunia lebih mereka pilih ketimbang kehidupan abadi di akhirat. Mereka bergabung dengan orang-orang kafir dan tidak mendapat hidayah.”

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Faktor utama kekafiran dan meninggalkan keimanan adalah terjerat akan kehidupan dunia.

    2. Mereka yang menyembah dunia dan hanya mencari kesenangan tidak akan mendapatkan hidayah yang hakiki dan nasib mereka pada akhirnya adalah buruk.

    Ayat ke 108-109

    أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (108) لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآَخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (109)

    Artinya:

    Mereka Itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka Itulah orang-orang yang lalai. (16: 108)

    Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (16: 109)

    Pada pertemuan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa salah satu pokok kekafiran yang disebutkan oleh al-Quran adalah ketamakan terhadap dunia dan memuja kenikmatan. Dalam ayat tadi, Allah Swt berfirman, “Orang yang terjebak dalam mentalitas seperti ini, dipastikan mata, telinga, dan hatinya, akan dipenuhi oleh kilau dunia dan hawa nafsu sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran. Orang-orang seperti ini tidak akan mengetahui masalah-masalah non-materi dan non-duniawi. Karena itu, mereka adalah orang-orang yang terlena oleh dunia dan lalai. Mereka tidak memiliki bekal untuk di kehidupan akhirat kelak dan mereka termasuk orang-orang yang merugi. “

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Jika perhatian terhadap dunia sedemikian besar hingga membuat orang lupa pada kehidupan akhirat, maka manusia akan terjauhkan dari rahmat dan hidayah Allah Swt.

    2. Orang-orang yang merugi adalah mereka yang kehilangan dunia mereka dan bangkrut. Namun sesungguhnya orang yang paling merugi adalah mereka yang bangkrut di akhirat kelak dan mereka tidak memiliki kekayaan dan harta apapun di sana.

    Ayat ke 110

    ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (110)

    Artinya:

    Dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 110)

    Ayat ini berkenaan dengan masa pada awal munculnya Islam dan kepada kaum Muslim Mekkah yang berhijrah ke Madinah setelah menghadapai berbagai kesulitan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh kaum musyrik. Dalam ayat sebelumnya, Allah Swt berfirman bahwa orang-orang yang karena menghadapi gangguan dari musuh terpaksa mengingkari Allah Swt secara verbal, pada hakikatnya mereka bukan orang kafir dan Allah Swt tidak akan menghukum mereka.

    Dalam ayat ini Allah Swt berfirman: Allah Swt akan mengampuni orang-orang yang tidak tetap tinggal di Mekkah guna menghindari gangguan dari musuh dan ucapan ucapan kekufuran. Dalam kondisi ini mereka harus berhijrah dan menjaga iman mereka. Jelas dalam hijrah mereka harus menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan serta harus bersabar.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Ketika kita mendapatkan kesulitan untuk menjaga keyakinan kita di satu tempat, maka kita harus berhijrah ke tempat lain. Hukum ini menafikan alasan orang-orang yang mengaku terpaksa meninggalkan tugas-tugas agamanya karena kondisi.

    2. Syarat untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Swt adalah kesabaran, komitmen, perjuangan, dan resistensi.

    Ayat ke 111

    يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَنْ نَفْسِهَا وَتُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (111)

    Artinya:

    (ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan). (16: 111)

    Seringkali manusia lupa akan hakikat eksistensinya dalam menggapai kesejahteraan dan kenikmatan dunia. Namun di akhirat nanti, manusia tidak memiliki apa-apa. Oleh karena itu, perhatian semua orang akan terpaku pada bagaimana mereka menyelamatkan diri mereka sendiri. Di akhirat kelak, manusia tidak memiliki apapun kecuali bekal amal ibadah mereka di dunia. Dan hanya karena amal di dunia pula mereka akan dihisab oleh Allah Swt.

    Sebagian orang melemparkan dosanya kepada orang lain dan menilai para tokoh atau pemimpin masyarakat sebagai penyebabnya. Namun hal ini tidak dapat diterima karena setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Sejumlah orang lainnya menilai setan sebagai pihak yang bersalah. Padahal setan menolak tudingan tersebut dan mengatakan bahwa ia hanya membuat manusia was-was dan tidak pernah memaksa manusia untuk melakukan perbuatan dosa. Kesimpulannya adalah bahwa di akhirat nanti, manusia tidak dapat meminta bantuan dari siapapun dan apapun. Hanya amalnya yang akan menentukan nasibnya.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Pada Hari Kiamat nanti, setiap orang hanya akan memikirkan dirinya untuk mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya atau mencari jalan keluar. Namun upaya manusia itu akan sia-sia.

    2. Seluruh perbuatan kita, kecil atau besar dan baik atau buruk, tidak akan hilang, semuanya tercatat dan akan kita saksikan kelak di hari kiamat.

    Ayat ke 112-113

    وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (112) وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (113)

    Artinya:

    Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (16: 113)

    Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya, karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (16: 113)

    Allah di ayat-ayat terakhir surat an-Nahl yang disebut surat pelbagai nikmat mengisyaratkan desa dan daerah yang memiliki banyak nikmat materi dan spiritual. Sebuah desa yang aman dari serangan musuh dengan rezeki yang melimpah. Sementara Allah juga mengutus nabi kepada mereka agar mendapat petunjuk dapat memilah hak dan batil. Namun masyarakat daerah itu malah mengingkari nikmat-nikmat ilahi yang ada. Mereka tidak memanfaatkan nikmat-nikmat yang ada secara benar, bahkan menggunakannya untuk bermaksiat dan berbuat dosa. Akhirnya mereka ditimpa azab ilahi yang sangat pedih.

    Kini mereka tidak lagi memiliki nikmatnya merasa aman dalam kehidupan, sementara kelaparan senantiasa menghantui. Mereka juga menentang nabi yang diutus Allah guna menunjuki mereka ke jalan yang benar. Nabi Allah ditentang dan didustai. Oleh karenanya, Allah menurunkan azab-Nya berkali-kali lipat di dunia dan akhirat.

    Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Sejarah punya aturan dan sunnah ilahi tidak pernah berubah baik dahulu, sekarang dan akan datang. Oleh karenanya, manusia harus mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu dan senantiasa bergerak di jalan Allah.

    2. Mengingkari nikmat Allah akan disiksa di dunia ini dan mengakibatkan lenyapnya nikmat tersebut.

    3. Kemiskinan dan ketidakamanan merupakan dampak dari ketidakpedulian masyarakat akan ajaran-ajaran agama.

    Ayat ke 114

    فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (114)

    Artinya:

    Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (16: 114)

    Sebagai lanjutan ayat sebelumnya yang menjelaskan nasib orang-orang yang meningkari nikmat dan utusan Allah, ayat ini mengatakan, “Kalian harus mengambil pelajaran dari kelompok itu dan memanfaatkan nikmat-nikmat ilahi secara benar dan tepat. Pertama, karena makanan yang telah diharamkan kepada kalian harus ditinggalkan sama seperti meninggalkan minuman keras dan daging babi. Tidak memakai harta orang lain tidak pada tempatnya dan hanya makan dari makanan yang halal dan suci yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Kedua, bersyukurlah kepada Allah akan nikmat-nikmat yang telah diberikan. Jadilah seorang hamba yang taat beribadah, berinfak kepada orang lain dan jangan biarkan orang-orang miskin begitu saja tanpa pertolonganmu.”

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Islam agama yang sempurna dan tidak hanya memperhatikan masalah-masalah peribadatan. Islam punya program mengenai makanan hingga pakaian manusia.

    2. Makanan tidak hanya untuk dinikmati, tapi untuk membantu manusia melaksanakan tanggung jawabnya. Bersyukur akan setiap nikmat berarti memanfaatkannya secara tepat guna.

    Ayat ke 115

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (115)

    Artinya:

    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 115)

    Al-Quran dalam ayat ini mengajak manusia untuk menjaga keseimbangannya dalam memakan makanan. Tidak ekstrim kiri dan kanan. Oleh karenanya Allah menyebut makanan apa saja yang dapat dimakan. Al-Quran berdasarkan kebutuhan manusia mengatakan, “Kalian diperkenankan memakan daging, namun tidak setiap daging. Jauhkan diri kalian dari memakan daging yang dicekik, mati (bangkai) dan daging hewan yang tidak disembelih. Begitu juga kalian haram memakan daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.”

    Dalam surat lain ada ayat yang isinya sama dengan ayat yang baru saja kita baca ini dan menjelaskan secara terperinci hewan yang halal dan haram dimakan.

    Lanjutan ayat 115 surat an-Nahl ini berbunyi, “Bila kalian berada dalam kondisi sulit dan untuk mempertahankan hidup yang membuat kalian terpaksa memakan daging hewan yang diharamkan, Allah akan mengampuni kalian. Namun syaratnya kalian tidak memakannya melebihi batas darurat.”

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Filsafat pengharaman sebagian makanan tidak terbatas pada masalah kesehatan, tapi menjauhkan diri dari kekotoran seperti syirik dan ini menjadi tolok ukur utama pengharaman ilahi. Artinya, seorang muslim dalam hal makan juga harus dalam jalur tauhid.

    2. Islam tidak pernah menemui jalan buntu. Dalam kondisi darurat, perbuatan dosa mendapat pengampunan.

    Ayat ke 116-117

    وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)

    Artinya:

    Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (16: 116)

    (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. (16: 117)

    Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Allah Swt mengharamkan memakan sejumlah daging binatang. Kali ini, dua ayat ini kembali menyinggung orang-orang Musyrik. Ayat tadi menjelaskan, mengapa setiap sesuatu yang keluar dari mulut kalian berusaha menilai hukum Allah serta menghukumi halal dan haram sesuai dengan kehendak kalian? Bukankah kalian mengetahui bahwa perbuatan ini sama halnya dengan berdusta kepada Tuhan. Barangsiapa yang berdusta kepada Allah Swt, tidak akan mendapatkan keuntungan di dunia dan akherat. Tempat bagi orang-orang yang berdusta kepada Allah Swat adalah api neraka.

    Pada dasarnnya, penjelasan ayat tersebut tidak hanya ditujukan pada orang-orang Musyrik di Mekah. Di dunia moderen saat ini, ada sejumlah pihak berupaya menyusun dan memutuskan undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah Swt. Kelompok seperti ini juga termasuk golongan yang menghalalkan hal yang diharamkan Allah Swt dan mengharamkan hal yang dihalalkan oleh Tuhan. Ayat yang dibacakan tadi juga mencakup kelompok ini. Kelompok seperti ini sama sekali tidak mencapai kebahagiaan dan ketakwaan.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Penentuan halal dan haram merupakan hak penuh Allah Swt. Sementara itu,

    segala pendapat yang bertentangan dengan hukum Allah Swt adalah bidah.

    2. Sumber bidah dan kebohongan pada hukum ilahi adalah berambisi mendapatkan kenikmatan dunia.

    Ayat ke 118

    وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (118)

    Artinya:

    Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami harapkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetap merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (16: 118)

    Seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya yang menyingggung sejumlah hal yang haram dimakan, surat al-An’am ayat 147 juga menyebutkan binatang-binatang lainnya yang haram bagi umat Yahudi. Ayat tadi juga menyebutkan bahwa segala hal haram yang ditambahkan bagi orang-orang Yahudi adalah hukuman bagi mereka. Untuk itu, kami tidak mengharamkannya bagi selain Yahudi. Dengan ungkapan lain, hal-hal tersebut pada dasarnya tidaklah haram, namun itu menjadi haram sebagai peringatan terhadap perilaku orang-orang Yahudi. Untuk itu, hal itu tidak diharamkan bagi umat selain Yahudi.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Hukuman Tuhan tidak akan menyebabkan kezaliman bagi hamba-hamba-Nya. Sebab, resiko perbuatan dosa dan kezaliman hanya dikenakan pada hamba-hamba yang melakukannya.

    2. Pengharaman Allah Swt mempunyai dua bentuk. Bentuk pertama adalah pengharaman permanen untuk seluruh ummat di setiap masa, sedangkan bentuk kedua adalah pengharaman permanen yang berlaku untuk kelompok tertentu di masa terbatas.

    Ayat ke 119

    ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (119)

    Artinya:

    Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu mengampuni bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan kerena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki dirinya; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16: 119)

    Ayat yang baru saja dibacakan termasuk ayat-ayat kunci al-Quran mengenai taubat dan pengampunan dosa-dosa. Dalam ayat itu disebutkan, Allah Swt memberika kabar gembira kepada seluruh hamba-Nya bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan tercela karena kebodohan dan hawa nafsu, maka pintu taubat terbuka baginya. Jika seoarang hamba melakukan kesalahan seperti ini dan kemudian menyatakan penyesalannya di hadapan Allah Swt dan melakukan perbuatan baik dengan tidak mengulangi kesalahannya, maka Allah Swt pasti akan mengampuninya. Rahmat ilahi akan mencakup bagi orang-orang yang berbuat salah karena kebodohannya dan bertaubat tidak akan mengulanginya.

    Hal yang menarik, istilah kebodohan disinggung dalam ayat ini dan dua ayat lainnya yang menyinggung masalah ini. Sangatlah jelas bahwa maksud dari kebodohan tersebut mempunyai pengertian tersendiri. Yang dimaksud adalah perbuatan tercela yang dilakukan manusia karena pengaruh hawa nafsu dan bisikan luar yang kemudian terlilit dalam dosa, dan setelah itu, disesalinya. Akan tetapi, seseorang yang terus melakukan dosa dan tidak menunjukkan rasa penyesalan akan dosanya tidak mencakup pengertian ayat ini yang menjelaskan rahmat ilahi bagi para pendosa.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Dalam ajaran Islam, tidak ada istilah jalan buntu. Allah Swt selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya.

    2. Taubat yang sebenarnya harus dibarengi dengan pembenahan diri. Untuk itu, tangisan dan penyesalan akan dosa tidaklah cukup.

    Ayat ke 120

    إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (120)

    Artinya:

    Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (16: 120)

    Sebagai kelanjutan dari penyebutan nikmat-nikmat Allah Swt dalam surat an-Nahl, ayat-ayat terakhir dalam surat ini menyebutkan hamba-hamba Allah yang bersyukur. Nabi Ibrahim adalah salah satu contoh dari hamba Allah yang senantiasa mensyukuri nikmat-Nya. Ia adalah sosok yang tawadhu dan taat akan perintah-Nya. Selama hidupnya Ibarahim as belum pernah terperosok ke dalam jurang kesyirikan.

    Pada mulanya ayat di atas menyebut Ibrahim dengan sebutan umat. Hal ini disebabkan beliau memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki sebuah umat atau dikarenakan perjuangannya menyeru umatnya untuk menyembah Allah Swt.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Kuantitas tidaklah menjadi hal yang sangat penting. Terkadang satu orang beriman dan kokoh mempunyai nilai seperti sebuah umat.

    2. Nilai manusia adalah penghambaan ikhlas kepada Allah Swt yang didasari kesadaran dan pengetahuan serta mentaati segala bentuk perintah dan menjahui larangan-Nya.

    Ayat ke 121-122

    شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (121) وَآَتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (122)

    Artinya:

    (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (16: 121)

    Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (16: 122)

    Ayat ini membicarakan kenabian dan ajaran Nabi Ibrahim as. Ayat di atas menyatakan, Ibrahim adalah hamba yang bersyukur. Allah memilihnya di antara para hambaNya dan membimbingnya ke jalan yang lurus. Wajar pribadi seperti ini akan memiliki kehidupan yang mulia di dunia dan akhirat. Jelas sekali kedudukan yang diberikan Allah kepada Ibrahim dikarenakan kesempurnaan yang diraihnya. Kepatuhan, kesucian dan rasa syukur adalah kriteria khusus yang tidak mudah diraih. Namun Ibrahim telah berhasil mencapai derajat tersebut sehingga menjadi hamba pilihan Allah Swt.

    Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Anugerah khusus diberikan Allah berdasarkan kapasitas dan kelayakan yang dimiliki manusia.

    2. Sifat bersyukur membuat manusia mendapat perhatian khusus Allah dan membuatnya tidak terjerumus ke jalan kesesatan.

    Ayat ke 123

    ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (123)

    Artinya:

    Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (16: 123)

    Keutamaan yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as adalah menjadikan ajarannya bersifat universal dan memerintahkan seluruh umat manusia serta para Nabi termasuk Nabi Muhammad untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, kita mendapatkan berbagai ajaran Islam memiliki hubungan khusus dengan ajaran Nabi Ibrahim. Di sisi lain, Nabi Muhammad sendiri menekankan hal itu.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Metode dan tujuan para utusan Allah adalah satu. Oleh karena itu, para nabi setelah Ibrahim diperintahkan untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim.

    2. Syirik sangat berbahaya dan untuk mengetahuinya kita cukup memperhatikan penekanan berulangkali Allah Swt terkait kebersihan Nabi Ibrahim dari syirik.

    Ayat ke 124

    إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (124)

    Artinya:

    Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari Kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan. (16: 124)

    Ayat sebelumnya menyatakan bahwa seluruh nabi setelah Ibrahim diperintahkan mengikuti sunnahnya dan peliburan hari Jum’at juga termasuk sunnah Ibrahim. Lantas muncul pertanyaan, mengapa umat Yahudi diperintahkan libur di hari Sabtu ? Pertanyaan di atas dapat diberikan jawabannya sebagai berikut: pengharaman dan larangan bekerja di hari Sabtu adalah hukuman bagi kaum Yahudi karena mereka berselisih. Artinya sebagian menerima bahwa bekerja di hari Sabtu dilarang dan sebagian menolaknya serta tetap melanjutkan kerja di hari tersebut.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

    1. Sejumlah hukum dan perintah Allah terhadap umat terdahulu adalah hukuman dan murka-Nya. Oleh karena itu, perintah tersebut tidak bersifat universal sehingga mengikat umat setelahnya.

    2. Hakim sejati adalah Allah Swt dan proses peradilan sebenarnya ada di Hari Kiamat.

     

    (islamic-sources/irib indonesia)