Rujukan Islam

  • features

    1. home

    2. post

    3. Tangan itu Tangan ….

    Tangan itu Tangan ….

    Tangan itu Tangan ….
    Rate this post
    description post specs comment

    Tangan itu Tangan ….

     

    Kang Jalal

    Di  tengah sahara yang terhampar sangar
    Dalam terik matahari siang yang membakar
    Sepasang tangan suci menyapu lahan
                di bawah pepohonan
    Ia menghadap Ka’bah dan mengangkat kedua tangan

    “Allahu Akbar”

     

    Kedua tangan itu tangan Muhammad Rasulullah

    Di atas tumpukan pelana kuda dan unta
    Di depan pandangan ratusan ribu mata
    Ia memandang jauh ke depan
    Dengan air mata yang mengelegak  dalam genangan
    Tangan kanannya mengangkat  tangan kiri anak muda
              yang berdiri di sampingnya

     

    Tangan kanan itu tangan Muhammad Rasulullah
    Menakjubkan,  dari bibir yang suci kalimat lembut memancar
    Menyebar di sahara yang terhampar
    Bergulung-gulung membentuk awan
              Meledakkan gelegar halilintar
    Dalam genggaman tangan suci, suara indah terdengar
    “Man kuntu mawlah fa ‘Aliyyun mawlah.”

     

    Tangan yang menggengam itu tangan Muhammad Rasulullah

    Mereka berjalan di pinggiran kota Madinah
    Di sekitar kota, seperti pagar hidup, ada taman-taman indah
    “Taman kamu di surga lebih indah lagi”
    Tiba-tiba kedua tangan Nabi memagut Ali
    dan dari wajahnya mengalir airmata ke pundak Ali
    “Aku menangis karena kedengkian  orang banyak kepadamu
    Segera setelah aku meninggalkan kamu”

     

    Kedua tangan  yang memagut itu tangan Muhammad Rasulullah

    Di masjid, Ali tertidur dengan tubuh kelabu tertutup debu
    “Biarkan ia tidur, karena sepeninggalku nanti
    Ia tak kan sempat beristirahat lagi”
    Dengan penuh kasih, tangan itu  membersihkan debu-debu di punggungnya
    “Duduklah Ya Aba Turab, wahai Sang Bertabur Debu”
    Ali terbangun dan kedua pasang mata saling menatap mesra
    “Engkaulah pemimpin orang miskin dan orang miskin membanggakan kamu sebagai pemimpin mereka”

     

    Tangan yang menyapu debu itu tangan Muhammad Rasulullah  

    Di atas pangkuannya, diiringi senyum syahdu
    roh suci itu terbang lepas menuju Kekasih Sejati
    kedua tangan itu menyapu muka Sang Nabi
    Dan mengusapkannya ke  mukanya yang sendu
    “Kau tetap indah, semasa ada dan setelah tiada”
    Air mata melimpah keluar dari sela-sela jari tangannya

     

    Kedua tangan itu tangan Ali Amirul Mukminin

    Di pinggir jalan, ia menemukan anak kecil menangis sendirian
    Ia mendekatinya, mendekapnya dan mengusap airmatanya
    “Kenapa kau menangis, sayang?”
     “Tadi aku datang ke sini untuk bermain bersama,
    Teman-teman mengusirku dan berkata: Kau tak punya bapak!”
    Tangan yang  kekar mencecar musuh di Badar sekarang bergetar
    Tangan yang  kuat memegang pedang di medan perang sekarang berguncang
    Dengan  gelegak air mata yang tak tertahan
    Kedua tangannya memeluknya erat-erat
    “Bawa uang ini. Bermainlah dengan mereka. Jika mereka bertanya siapa bapakmu? “
    Katakan:  Ayahku Ali bin Abi Thalib!

     

    Kedua tangan itu tangan Ali Amirul Mukminin

    Imam Hasan membagikan makanan
    Pada barisan orang yang kelaparan
    Setiap orang memperoleh jatah satu bungkusan
    “Bolehkah aku meminta satu bungkus tambahan
    Buat seorang kakek yang  berbalut peluh
    Pekerja kasar di ladang perkebunan.”
    “Boleh saja,” kata Imam Hasan pembagi makanan
    “Tidakkah kamu lihat tangan buruh  itu
    Kalau tidak berkeringat basah  ia bersimbah darah
    Dari aliran keringatnya  kami bagikan makanan
    Dari simbahan darahnya kami tegakkan keadilan
    Tangan orang tua itu  tangan ayahku Ali Amirul Mukminin”

    [Islamic-Sources/majulah Ijabi]